
Waktu yang di tunggu-tunggu bagi anak kelas 12 pun tiba. Yaitu ujian nasional. Hubungan Deandra dan Janessa semakin lengket, orangtua Jane juga sudah mengetahuinya. Meskipun Deandra yang masih enggan untuk berbicara masalah keluarga kepada Jane. Tapi bagi Jane, dia tidak mempermasalahkan itu, baginya cukup Dean disisinya itu sudah sesuatu yang sangat berharga.
Keempat sahabat Deandra juga sudah mengetahui hubungan Dean dengan Jane. Meskipun sebelum nya mereka tidak percaya, tapi setelah melihat dengan mata mereka masing-masing, Deandra dan Jane bermesraan.
Kini mereka sedang berkumpul bersama setelah ujian nasional berakhir. Ponsel Dean bergetar, dia mengecek ada notifikasi pesan masuk di ponselnya.
"Apa kamu bisa nemenin aku sekarang? Aku bakal bayar kamu dengan harga tinggi!"
Isi pesan itu. Dean menimbang-nimbang, apakah ia harus ambil atau tidak.
"Huft! Gue lagi perlu uang banyak buat nambah tabungan masuk kuliah," Batin Dean.
Tapi ia masih berfikir keras. Karena jujur saja ia takut jika Jane mengetahui apa yang ia kerjakan.
"Tapi cuma nemenin doang sih, gak sampe macem-macem juga," Dean terus membatin.
Memang selama Dean bekerja diam-diam ia tidak memberikan kontak fisik kepada pelanggannya. Hanya sebatas menemani saja dan membawakan belanjaan mereka, karena kebanyakan para wanita itu hanya shopping.
"Oke, ini bakal jadi yang terakhir!" Batin Dean lagi.
Lalu ia berdiri dari duduknya. "Guys! Gue duluan yaa!" Ucapnya lalu beranjak dari tempat itu.
Sedangkan di tempat lain. Jane bingung dengan dirinya, entah kenapa ia sangat ingin pergi ke mall. Sepulang kerja ia memberhentikan mobilnya di depan mall besar di Jakarta, dan tanpa sadar ia membawa mobilnya masuk ke basement mall tersebut.
Jane menghela nafas. "Huft! Buat apa aku kesini ya?" Monolognya.
Cukup lama ia berfikir, belum juga keluar dari mobil. "Akh, iya! Beli minum aja deh." Lalu membuka pintu mobilnya.
Jane memasuki mall, mencari tempat dan tidak lama dari itu ia sudah duduk ditempat tongkrongannya bersama Jihan dulu. Tempat itu ramai dipenuhi anak muda, penasannya pun datang.
Mata Jane refleks melihat sekeliling. Ia menoleh ditempat pojok belakang, matanya menyipit mencoba memperjelas orang dipojok belakang. Cukup satu detik ia sudah melihat dengan jelas orang tersebut, Deandra duduk bersama seorang wanita.
Jane mengambil ponsel di tas lalu mengotak-atik benda persegi itu dan mencari nama Dean disana lalu segera menghubunginya.
Tut! Tut! Tut!
Berulang kali Jane mencoba menghubunginya. Jane yang nampak emosi pada saat ini masih tidak menyerah untuk menghubungi Deandra.
"Hallo!" Suara Deandra diseberang sana, Jane mencoba menenangkan sakit hatinya.
"Kamu dimana?" Tanya Jane sesantai mungkin Matanya terus melihat Dean, mencoba mengetahui reaksi anak itu, apakah ia akan jujur atau tidak. Deandra mulai gelisah dilihatnya.
"Hum.. Aku lagi sama temen-temen ku, kenapa emangnya?" Ketahuan sudah kebohongan Dean.
Jane menghela nafas, matanya sudah berkaca-kaca. "Coba kamu liat sekeliling kamu!" Perintah Jane dengan intonasi sesantai mungkin.
Refleks Deandra melihat sekelilingnya, dan langsung menemukan Janessa, matanya melotot tidak percaya, tamat sudah riwayatnya kali ini.
"Sayang ak-"
Janessa langsung memutus panggilan tanpa memperdulikan penjelasan Deandra. Setelah membayar minuman ia pergi dari tempat itu secepat mungkin.
Deandra mengejarnya sampai ke basement. "Aku bisa jelasin, sayang!" mohon Dean setelah ia berhasil menangkap pergelangan tangan Jane.
Jane hampir saja menangis, tapi ia masih bisa mempertahan kan air mata itu.
Jane menghela nafas, lalu berbalik menghadap cowok yang masih berstatus sebagai pacarnya. "Mau jelasin apa lagi, hah?! Aku gak butuh penjelasan kamu!" Teriak Jane tepat di depan wajah Rajendra. Jatuh sudah air mata Jane yang sedari tadi di tahannya.
"Lepasin! Aku mau pulang!" Bentaknya mencoba melepas cengkraman Dean ditangannya. "Mending kita ud-" Pembicaraan Jane terpotong karena Dean membekap mulutnya dengan tangan.
Ia menarik Jane ke dalam pelukannya. Jane sudah tidak bisa menahan kesedihannya, air mata itu terus mengalir dan membuatnya terisak. Ia memukul-mukul punggung Dean kuat.
"Plis sayang, jangan nangis, hm? Jangan pernah bilang kayak gitu lagi!" Tandas Dean berbicara dengan intonasi selembut mungkin. Ia masih berusaha memeluk Jane, meskipun wanita itu membrontak.
"Hiks! Tapi kamu udah nyakitin aku, Ndra! Kamu bohong sama aku. Aku udah gak percaya sama kamu lagi dan itu semua bikin aku gak suka sama kamu, tau gak!?" Teriak Jane di dalam isakannya, ia memukul-mukul dada Dean.
"Aku bisa jelasin semuanya sama kamu," Kata Dean, ia masih berusaha mempertahankan Jane di dalam pelukkan nya.
"Aku gak butuh penjelasan kamu, Deandra! Lepasin aku, hiks!" Jane terus saja membrontak.
Deandra meringis menahan sakit pada punggung nya tetapi semua itu tidak seberapa baginya.
"Kalau gitu biarin aku tetap bersama kamu, sampai kamu nemuin orang yang tepat buat gantiin aku," Air mata Deandra meleleh dengan sendirinya, setelah mengucapkan kata-kata itu.
Jane sudah bisa berhenti membrontak, mungkin ia kecapean. Apalagi tangisnya yang semakin terisak dan rasa sakit dihatinya. Tidak mudah baginya untuk memaafkan Deandra, tapi dengan Dean memeluknya dia sudah bisa merasakan ketenangan dan nyaman.
Beberapa waktu berlalu. Sudah satu minggu Dean mencoba mengembalikan *mood* Jane tetapi tidak juga berhasil. Janessa masih tidak bisa memaafkan nya, meskipun hubungan mereka belum berakhir.
Kali ini Dean nekad pergi kerumah Jane, memang selama satu minggu Jane mendiamkan diri dirumah, tidak mau bekerja dan pulang ke apartment nya. Padahal ia juga salah ngotot tidak mau mendengarkan penjelasan Dean.
"Jane! Kamu gak kasian sama Dean, hm? Dia dari tadi nungguin kamu di luar rumah lho, gak mau masuk. Apa lagi di luar kan hujan gitu," Teriak Aryna di balik pintu kamar Jane.
Jane tidak merespon ucapan Ibunya, ia masih dengan ego dan rasa sakit dihatinya. Hujan yang deras dari satu jam tadi tidak juga berhenti, malahan makin deras.
"Kamu udah buat aku sakit hati, Ndra!" Batin Jane tanpa sadar lagi-lagi air matanya menetes.
Jane menyeka air mata di pipinya, lalu bangkit dari tempat tidur, dan berjalan keluar. Aryna yang melihat itu larngsung menghela nafas lega.
"Samperin dia gih! Selesaikan masalah kalian berdua, kasian lho dia dari tadi kehujanan!"
"Jane gak mau, Mi! Gak peduli juga!" Kesal Jane lalu segera keluar rumah.
Diluar rumah, Deandra yang nekad mendiamkan dirinya diguyur hujan, berharap cara itu membuat Janessa memaafkannya, dan memang benar saja, karena Jane masih mencintainya.
Deandra tersenyum melihat Jane. "Plis! Maafin aku. Aku bisa jelasin semuanya sama kamu," Teriak Dean, sambil menahan rasa dingin di tubuhnya.
Ada rasa kasihan di batin Jane melihat Dean yang kedinginan, tapi lagi-lagi ego menguasainya.
"Udah aku bilang, aku gak butuh penjelasan kamu!" Ketus Jane.
"Kalau gitu, kamu biarin aku tetep ada di sisi kamu. Sampai nanti kamu nemuin orang lain. Aku sayang banget sama kamu, Jane!" Lirih Dean, air mata yang menetes tidak terlihat karena derasnya hujan.
"Buktiin! Tapi jangan harap aku bisa memperlakukan kamu kayak sebelumnya! Rasa sakit di hatiku gak bisa semudah itu buat di obati!" Berakhirnya ucapan Jane disambut oleh gemuruhnya petir.
Bagi Deandra, itu semua sudah cukup. Asalkan ia masih bisa bersama Jane, dia akan menyembuhkan rasa sakit hati Jane. Itulah janjinya. Tapi dibalik semua itu, ia punya janji yang lebih besar.
"Biarkan aku tetap ada sisi kamu, sampai nanti kamu menemukan orang lain." Ucapannya itu terus terngiang-ngiang di kepala Deandra.