MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
PENYESALAN DATANG TERAKHIR



Sudah satu minggu sejak Janessa dan Deandra bertemu di taman. Selama satu minggu juga Jane menyempatkan diri datang ketaman, berharap bertemu dengan Dean. Tetapi usahanya tidak membuahkan hasil, karena Deandra enggan bertemu dengannya. Dean sudah tidak pernah menghabiskan waktu ketaman itu lagi.


Entah apa yang membuat Jane ingin sekali bertemu Dean, mungkin dia benar-benar merasa bersalah.


Seperti hari ini, dia pergi ketaman tempat dia bertemu dengan Deandra. "Apa kamu benar-benar udah gak mau ketemu aku lagi?" gumam Jane, wajahnya memancarkan kesedihan.


Sedangkan Deandra sebenarnya ia diam-diam melihat Jane, dari dalam mobil. Dean selalu mengawasi dalam seminggu itu. Tetapi ia enggan untuk menghampirinya.


Pengecut, itulah yang Deandra pikirkan tentang dirinya. Brayen yang selalu bersamanya kebingungan melihat Deandra yang selalu menatap lirih wanita disebrang sana. Brayen mulai jengkel, Dean enggan juga bercerita. Matanya tertuntun mengikuti arah tatapan Deandra.


"Apa dia cewek yang slalu lo pikirin?" Tanya Brayen.


"Masa iya?" respon Dean mencoba mengalihkan.


Brayen menatap Dean jengkel. "Mau sampai kapan lo kayak gini, nyembunyiin semua nya dari gue?"


Deandra menghela nafas panjang. "Dia udah jadi istri orang," Brayen menganga mendengar ucapan Deandra.


"Lah, bodo banget lo!" Dean menyonyor kepala Brayen. "Ngapain juga lo doyan istri orang?"


Deandra menatap Brayen dengan ekspresi wajahnya penuh permusuhan. "Maka dari itu bego, gue gak mau ketemu dia! Lo liat sendiri, dia slama seminggu ini dateng ke taman buat nyamperin gue dan gue belum siap buat bicara banyak hal sama dia, takut nya ntar jiwa cengeng gue keluar," kesalnya, mencoba menjelaskan.


Brayen menepuk-nepuk bahu sahabatnya itu. "Tapi harusnya lo temuin dia deh!" Deandra mengela nafas berat mendengar ucapan Brayen. "Lo harus nyamperin dia, biar masalah kalian cepet kelar dan lo bisa mulai hidup baru lo,"


"Gak!" tolak Dean, matanya kembali menatap Jane disebrang sana. "Masalah kami udah selesai, jadi buat apa lagi kami ketemu? Kalau buat jadi temennya, gue bisa tapi gak sekarang,"


Brayen mendengus kesal, melihat sahabatnya yang keras kepala itu. "Mana tau dari dia nya pengen bilang something sama lo!"


Deandra menggeleng. "Gak tau juga deh!" Ucapnya asal, tidak mau lagi membahas masalah itu lagi. Deandra menatap Jane yang berada jauh disana. mencoba memperhatikan wajah Jane dengan seksama.


Hari ini, Brayen datang ketaman tempat Janessa biasanya menunggu Deandra. Ia bertekat ingin berbicara kepada Jane. Cukup lama ia menunggu, tetapi Jane tak juga kunjung datang. Hari sudah semakin sore, hari ini ia ingin manggung di cafe bersama Deandra.


Brayen mondar-mandir, kakinya tidak berhenti melangkah, putar balik dan melangkah lagi. Ia menghela nafas lelah Jane tidak juga kunjung datang dan akhirnya dia menyerah, berjalan meninggalkan tempat itu. Tapi beberapa langkah kemudian, dia berpaspasan dengan Jane. Brayen menyipitkan matanya mencoba mengingat-ingat apakah benar itu wanita yang ia ingin temui.


Setelah Jane melewatinya, Brayen mencoba mencari cara untuk menyapanya. "Permisi!" Refleks Brayen mengeluarkan satu kata itu.


Jane berputar, ia kebingungan dengan orang yang menyapanya. "Siapa?" Tanyanya.


Brayen panik seketika harus mulai dari mana. "Akh, itu! Apa anda mencari Deandra?" Jane semakin kebingungan.


Sejurus kemudian Jane terkesiap. "Anda siapanya Deandra?" Brayen tersenyum, dia tidak salah orang.


"Saya sahabatnya Deandra, " Jane melotot mendengar pengakuat orang didepan nya. "Nama saya Brayen!" Tangan nya terulur.


Jane menerima uluran tangan nya. "Jane!" ucapnya seraya menerima uluran tangan Brayen.


Kini mereka sudah duduk dikursi taman, Brayen lagi-lagi bingung harus memulai dari mana.


"Anda mau tau apa kebiasaan Dean di Jogja?" Dengan cepat Jane menatap Brayen. "Dia sangat cengeng. Tiap hari nangis, tiap hari ngediamin diri di kamar," Brayen terkekeh mengingat Deandra yang selalu bertingkah seperti anak kecil.


"Saya baru tau sekarang kalau anda cewek yang udah bikin dia ngelamun tiap hari," Brayen menghela nafas, berusaha melanjutkan ucapannya. "Jujur, dia gak pernah cerita apapun masalahnya, yang udah bikin dia jadi pendiam kayak sekarang. Banyak cewek yang pengen deket sama dia tapi dengan sengaja dia ngejauh dan malah milih pacaran sama tugas-tugasnya itu,"


Jane menunduk, ia merasa semakin bersalah kepada Deandra. "Tapi setelah mutusin buat kembali ke Jakarta, dia bener-bener udah berharap dan yakin buat buka lembaran baru," irih Brayen. Jane meneteskan air matanya, betapa ia merasa bersalah, jauh dilubuk hatinya terasa sangat sakit.


"Apa anda ingin ketemu Dean?" Tanya Brayen sambil menatap Jane.


Jane menyeka air matanya kasar, lalu dia mengangguk. "Iya!"


Dilain sisi, Deandra yang ssedang sibuk berbelanja di Supermarket. Troli belanja yang sedari tadi ia dorong sudah hampir penuh. Matanya membelalak melihat dompet seorang wanita jatuh. Dengan langkah cepat dia mendekati dompet itu dan langsung meraihnya.


Matanya melihat-lihat mencari keberadaan sang pemilik dompet. Didepan sana ada seorang wanita yang tidak jauh dari jatuhnya dompet.


"Mbak!" Panggil Dean, kakinya melangkah cepat. Orang yang dipanggil menoleh, dan ternyata Jihan. Dia speechless melihat orang yang ia cari bertahun-tahun sekarang ada dihadapannya. Begitu juga dengan Deandra.


"Heh!" ucap Jihan tidak mampu berkata-kata. "Kamu!" Tunjuknya pada Deandra.


Deandra tersenyum manis. "OMG!" Jihan mendekati Deandra dan langsung memeluknya. "Kamu kemana aja sih? Huh?" tanyanya.


Deandra mengelus-ngelus punggung Jihan. "Aku gak pergi jauh kok, Kak!" jawabnya santai, lalu melepaskan pelukannya. Jihan menatap Dean kesal, rasanya ingin sekali ia memukul-mukul orang di depannya itu. Tetapi itu malah membuat Deandra terkekeh melihat wajah kesal Jihan.


"Kak Jihan sibuk gak?" Jihan menggeleng. "Ikut Dean yuk, mau?"


Jihan bingung, dia menatap Deandra penuh selidik. "Ikut aja dulu! Nanti kita ngobrol banyak hal," tambah Dean, ia tahu jika orang di depannya itu perlu penjelasan.


Di sebuah Caffee Shop dengan desain yang membuat anak muda betah tetap berada didalamnya. Jane bingung, Cafe itu nampak asing baginya karena dia belum pernah datang ke Cafe itu. Cafe yang mendominasi lebih ke peminat anak sekolah atau mahasiswa/i.


Somebody's Pleasure - Aziz Hedra


I've been so busy, ignoring, and hiding..


About what my heart actually say..


Jane speechess, suara yang sedang bernyanyi itu nampak tidak asing baginya.


Stay awake while I'm drowning on my thoughts..


Sometimes a happiness is just a happiness..


I've never been enjoyin' my serenity..


Even if I've got a lot of company..


That makes me happy..


Janessa terenyum haru, setelah mendapati Deandra sedang bernyanyi sangat merdu didepan sambil memainkan gitar.


Soul try to figure it out..


From where I've been escapin'..


Running to end all the sin..


Get away from the pressure..


Wondering to get a love that is so pure..


Gotta have to always make sure..


That I'm not just somebody's pleasure..


Sungguh bagi Jane, ia sangat menikmati nyanyian Deandra. Terhipnotis dengan cara Dean menyanyikan lagu itu. Sampai membuat matanya berkaca-kaca, antara bahagia bercampur sedih dan terharu.


I always pretending and lying..


Like I'm used to feel empty..


'Cause all I got is unhappy..


Happiness, can't I get happiness?..


I've never been enjoyin' my serenity..


Even if I've got a lot of company..


That makes me happy..


Mata Jane tak pernah berpaling dari Dean, ia baru menyadari cinta pertamanya itu punya suara yang sangat merdu.


Soul try to figure it out..


From where I've been escapin'..


Running to end all the sin..


Get away from the pressure..


Wondering to get a love that is so pure..


Gotta have to always make sure..


That I'm not just somebody's pleasure, oh-ho-oo...


Jane menitihkan air matanya. Ia sangat terharu mendengar dan melihat pembawaan Deandra bernyanyi sangat mendalami.


It was in a blink of an eye..


Find a way how to say goodbye..


I've got to take me away..


From all sadness..


Stitch all my wounds, confess all the sins..


And took all my insecure..


When will I got the love that is so pure?..


Gotta have to always make sure..


That I'm not just somebody's pleasure..


Gotta have..


Gotta have to always make sure..


That I'm not just somebody's pleasure..


Semua orang yang ada di Cafe bersorak untuk pertunjukkan Deandra, yang mampu menghiphotis semua pengunjung Cafe itu. Setelah Dean menyelesaikan lagunya, dia turun dari panggung dan langsung kebelakang.


Brayen menghampiri Jane, dilihatnya pipi Jane yang basah, ia menatap sayu Jane. Lantas Jane sadar akan kehadiran Brayen, ia menyeka air matanya kasar.


"Mau ketemu Deandra?" Jane diam tidak menanggapi pertanyaan Brayen, ia masih mengumpulkan nyalinya untuk menemui cowok itu.