MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
DEANDRA DI KELUARKAN DARI SEKOLAH?



JANE POV FLASHBACK.


Hari ini aku memutuskan untuk rapat dengan Dewan Guru. Mengingat perlakuan seenaknya dari salah satu siswa disini yang sudah berapa hari tidak masuk.


"Saya sedikit pusing menghadapi siswa itu," Ucapku yang membuat Dewan Guru kebingungan. Bisa kulihat jika mereka tidak mengerti dengan apa yang aku maksud.


"Saya juga sedikit mengeluh dengan anak itu. Apa lagi ini sudah kelas 12 yang sebentar lagi mereka akan mengadakan ujian," Komentar Jovanka, sang guru Fisika.


Bagus akhirnya ada yang mengerti dengan apa yang aku maksud dan pendapatnya juga sama sepertiku. Wakil Kepala Sekolah terkesiap. Mulutnya ternganga siap mengatakan sesuatu.


"Akh, iya Bu! Saya mengerti sama apa yang anda maksud," Tebakkan ku benar. Ternyata beliau mengerti juga. "Tapi dia sedang sakit sekarang,"


"Saya tidak peduli, dia sakit atau tidak, yang jelas saat ini saya ingn meminta pendapat dengan kalian," Semua yang berada diruangan sejurus terdiam.


"Pendapat bagaimana maksud anda?"


Aku menoleh kearah wanita paruh baya yang bertanya kepadaku. Beliau adalah Guru Biologi jika aku tidak salah.


"Saya akan ambil jalan tengah, yang dimana saya akan memindahkan dia di sekolah lain atau jika dia tidak mau dia bisa memilih untuk keluar!"


Ruangan kembali sunyi. Tetapi raut wajah mereka yang berbeda saat ini. Aku tahu jika mereka akan kaget dengan apa yang sudah aku rencanakan.


"Apa anda yakin dengan keputusan itu?" Gia mulai membuka suara, ia lebih terlihat tenang dari yang lain. "Maksud saya dia seorang anak perantau yang kami disini semua tidak tau dia berasal dari keluarga mana, dia mungkin tidak bisa mengurusi dirinya sendiri,"


Pernyataan dari Gia membuatku sedikit goyah. Jujur jika seperti ini aku juga tidak tega harus mengeluarkannya. Tetapi sekali lagi Sekolah ini punya aturan.


"Hum.. Baiklah saya rasa rapatnya cukup sampai disini." Aku memutuskan untuk mengakhirinya saja. Karena perlu memikirkan sangsi apa yang harusnya aku berikan untuk Deandra.


Ternyata, sampai diruangan aku juga belum bisa memutuskan hal itu. Malah semakin membuatku pusing. Tetapi aku harus konsisten dengan apa yang sudahku rencanakan.


"Jane, apa kamu yakin sama keputusan kamu itu?" Aku kaget dengan apa yang ditanyakan Grace. Karena memang dari tadi kami saling diam sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


"Sekarang aku lagi gak mau mikirin soal itu,"


Aku terpaksa berbohong agar Grace tidak mengetahui jika aku sama saja memikirkan anak itu. Tetapi sepertinya aku perlu pendapat Grace.


"Ehem! Menurut kakak, apa yang harus aku lakukan?"


Grace menghentikan aktivitasnya yang sedari tadi sibuk menatap Laptop. la menghadap kearahku.


"Kenapa gak kamu paksa aja dia belajar?" Ucapnya yang membuatku mengerutkan kening. "Maksudku carikan guru les atau aku bisa mengajarinya," Tambahnya sedikit mengodaku.


Aku terdiam, memikirkan apa yang Grace katakan. Setelah beberapa saat aku mulai mendapatkan ide. Karena jujur aku juga merasa kasihan terhadap anak itu kalau-kalau jadi gelandangan di kota orang jika aku memberhentikan Sekolahnya.


JANE POV FLASHBACK END.


"Apa kau tetap ingin sekolah disini?"


"Sialan! Si Madam bener bener ngusir gue." Batin Dean.


Tanpa menjawab pertanyaan itu Dean pun yang tadinya duduk sekarang bangkit berdiri. Tanpa sepengetahuan Jane, ia berjalan sedikit demi sedikit meninggalkan tempat itu. Mungkin saat ini dipikiran nya lebih baik diam dari pada harus melawan Kepada sekolah itu. Terlihat dari raut wajahnya Dean benar-benar sedih.


Jane yang masih sibuk dengan handphonenya sambil membelakangi pintu tidak tahu sama sekali jika Dean diam-diam meninggalkan ruangannya sampai akhirnya Grace pun masuk.


Mata Jane mencari keberadaan Dean. la menghela nafas setelah tidak melihat keberadaan cowok itu. "Kapan dia keluar?"


"Mungkin dia udah di gerbang sekarang,"


"Ckck! Dia bodoh banget, aku belum selesai bicara jadi gak seharusnya dia langung pergi gitu aja!" Pekik Jane. la benar-benar dibuat marah Deandra sekali lagi.


Sedari tadi Deandra hanya bisa meratapi nasibnya. Matanya sudah hampir berkaca-kaca. Tapi ia tidak bisa menjatuhkan air matanya saat ini. Itulah Dean, orang yang sangat kuat mampu menahan luka dihatinya. Duduk ditaman sambil menimati hembusan angin yang melewati wajahnya.


"Tuan.. Sepertinya dia tidak masuk sekolah hari ini. Maksud saya sepertinya dia sedang membolos." Seorang pria berpakaian serba hitam sedang berbicara lewat telepon. Matanya fokus memperhatikan Dean.


"Apa yang anak itu coba lakukan? Saat ini, itu tidak penting. Tetap awasi dia jangan sampai dia membatalkan rencana ku selama ini." Titah orang yang ditelepon. Lantas ia memutuskan panggilan secara sepihak.


Kembali Ke Sekolah.


Setelah Bel istirahat dibunyikan. Gara, Iyan, Jose dan Alvin langsung berlari keluar kelas untuk mencari keberadaan Dean. Tetapi usaha mereka sia-sia karena Dean tidak juga ditemukan. Mereka sudah mengelilingi seluruh bagian sekolah itu. Gara yang sambil terus menghubunginya tetap percuma karena handphone Dean yang di nonaktifkan.


Bruk! Iyan menabrak Grace sehingga mengakibatkan Grace hampir terjatuh tapi masih bisa diselamatkan oleh Iyan. Karena pada saat itu ia langsung memegang kearah pinggang Grace. Sedangkan Grace langsung dengan cepat berpegangan di bahu Iyan. Kejadian itu membuat mereka saling menatap cukup lama.


Deg! Iyan menelan salivanya susah payah. Setelah ia menyadari jantungnya berdetak. la sampai cegukkan karena hal itu.


"Jangan menatap ku seperti itu! Lepasin aku cepat!" Grace meninggikan nada bicaranya yang langsung membuat Iyan tersadar.


"Akh! Ii-iyaa kak," Cicit Iyan, setengah grogi.


Setelah sedikit membereskan penampilannya. Grace langsung beranjak meninggalkan tempat itu tapi langsung ditahan oleh Iyan.


Grace melihat kearah tangan nya yang di pegang Iyan. "Kakak ada ngeliat Deandra gak?"


"Hum.. Mungkin dia sedang dirumah meratapi nasibnya," Ujar Grace dengan acuh. Kakinya melangkah meninggalkan Iyan.


"Njir! Sombong banget tuh orang," Pekik Iyan, di rabanya tempat dimana area jantung nya berada. "Tapi kenapa jantung gue?"


Jose yang memperhatikan Iyan dari kejauhan. Tiba-tiba sebuah ide muncul dikepalanya setelah melihat Iyan dengan tatapan kosong. Lalu ia mendekat kearah Iyan dengan cara mengendap-endap.


"WOI!!" Teriaknya tepat ditelingga Iyan. Sampai-sampai membuat Iyan memasang kuda-kuda.


"Sialan! Awas lo yaa.." Jose sudah tertawa lepas dibuat reaksi Iyan.


"Haduh ngakak banget anjir!" Iyan sudah mencibir, ingin sekali dia menghabisi sahabatnya itu sekarang juga. "Gimana? Lo liat Dean gak?"


Iyan menepuk jidatnya karena sampai lupa jika dirinya sedang mencari Dean. "Bego! Bisa bisanya gue lupa kalau lagi nyariin Dean,"


"Lo bego banget sumpah! Pikun lo gak ilang-ilang heran," Celetuk Jose, ia mendengus beberapa kali.


"Yaa.. Maaf atuh, tapi tadi kata dayang nya si Madam kalau Dean nya mungkin sekarang lagi merenungi nasib di rumah," Beritahu Iyan, untungnya dia masih ingat sama apa yang di katakan Grace.


Jose menoleh cepat. "Maksudnya merenungi nasib?"


"Jangan bilang?" Iyan sekilas refleks menutup mulutnya.


"Dia di keluarin?" Tambah Jose untuk melanjutkan kalimat dari sahabatnya itu.