MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
GARA SUKA IRENE



Alvin sedang berbaring terlentang. Sambil memandang handphone miliknya, dengan selimut yang sengaja menutupi seluruh tubuh sampai ke kepalanya.


"WhatsApp gak yaa?" Monolog cowok itu, ia memiringkan badannya kesamping kiri. Berharap otaknya bisa bekerja dengan baik saat ini. Jujur ia sangat tidak paham dalam hal mendekati wanita.


Alhasil Alvin hanya mengetik dan menghapus pesan itu beberapa kali. Hampir 5 menit ia melakukan itu, mencari kata-kata yang bagus untuk menyapa Jihan.


"Aish! Bodoamat dah chat aja, kapan lagi coba?!" Sampai pada akhirnya ia pun membulatkan tekat untuk mengirim pesan singat itu.


"Hai Kak Jihan.." Isi Pesan Alvin pada sang pujaan hati.


"Ini siapa ya?"


Alvin yang tadinya berbaring langsung terduduk mantap. Matanya membulat, hatinya ingin melompat-lompat setelah Jihan tidak lama membalas pesan singkat itu.


"Duh di bales dong.. Cepet banget dia balesnya?" Merasa sangat bahagia Alvin sampai loncat-loncat di ranjang miliknya. Tapi ia kembali bingung, kata apa kiranya yang bagus untuk membalas pesan dari Jihan.


"Huft! Oke kalem Vin, ini bukan waktu nya lo excited kayak gini!" Alvin kembali duduk untuk mengetik beberapa kalimat pesan WhatsApp yang harus dia berikan kepada Jihan.


"Ini Alvin, sahabatnya Deandra Kak." Hanya itu yang bisa Alvin ketik untuk balasan pesannya.


Di sisi lain.


Deandra sudah menyelesaikan Lesnya. Kini mereka sudah berada di dalam perjalanan bersama Jane. Wanita itu tidak jadi pulang sendirian, karena Gia juga menahannya. Tetapi ada satu hal yang tidak berubah, yaitu mereka masih saja saling membisu. Jane yang lebih asyik menoleh ke jendela mobil. Dalam fikiran Dean, kenapa wanita itu tumben tidak mengomel? Sejak kapan ia menjadi pendiam? Tapi menurut Dean, lebih manis jika Janessa bersikap seperti ini.


Deg!


"Njirr! Sabar jantung, bentar lagi kita sampai. Hadeh! Mana haus lagi," Batin Dean, ia melirik sekilas Jane lewat kaca dalam mobil.


"Ekhem!" Dean Berdehem nyaring. Tetapi tidak juga membuat wanita itu berpaling. "Hum.. Bu Kepsek! Anda haus gak?"


"Gak sih!" Jawab Jane dengan intonasi nada dinginnya. la juga masih tetap fokus memperhatikan keluar jendela.


Dean memelankan mobilnya. la mulai menimba-nimba, akan kah Jane membolehkan nya jika harus berhenti sebentar.


"Saya boleh beli minum sebentar gak?" Tanya sang cowok dengan penuh berhati-hati.


"Belilah!" Perintah Jane, dia masih tidak mau menatap Dwan.


Mendengar itu, Deandra langsung memberhentikan mobilnya didepan Indomaret. Tanpa izin lagi, ia keluar dari mobil itu.


Tidak lama dari itu, Dean keluar sambil membawa dua botol Cola dingin. Setelah memasuki mobil. Ia langsung membuka satu Cola dan menyodorkan nya kepada Jane. "Nih, minum dulu!"


"Saya gak haus," Tolak Jane.


"Gapapa minum aja, gak boleh nolak pemberian orang!" Paksa Dean halus.


Jane kembali luluh dengan perlakuan Deandra. Anak itu memang sedari kedatangannya di Apartment, membuat Jane semakin terkesima. Lantas tanpa menjawab lagi ia langsung meraih Cola dari tangan Dean yang sempat menggantung karena ulahnya. Deandra mengulum senyum melihat Kepada Sekolah nya itu yang menegguk Cola dengan sedikit tergesa-gesa.


Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan nya. Sesekali Dean melirik Jane dengan ekor matanya. Kebetulan wanita itu memutuskan untuk pindah di kursi depan.


Setelah sampai, Deandra mendengus kesal setelah melihat Jane yang keluar terlebih dahulu setelah dirinya memarkir mobil. Satu hal lagi yang membuatnya keheranan, wanita itu sengaja mempercepat langkahnya. Menurut Dean, entah apa yang terjadi dengan Kepala Sekolah malam ini?


"Bu Kepsek, kunci mobil anda ketinggalan!" Teriak Dean.


"Bu Kepsek!" Teriak Dean lagi. Kali ini Jane lah yang mendengus. la sampai memutar bola mata jenggah.


"Apa lagi sih?"


"Makasih buat malam ini,"


Bibir Jane terangkat. Mengukir senyuman kecil. Senyuman yang sangat manis, jarang ia tunjukkan kepada orang. Tetapi sayangnya Deandra juga tidak melihatnya, karena jarak mereka yang lumayan jauh dan Jene tidak menoleh kearahnya sama sekali.


"Ish! Aneh banget dia pake makasih segala." Gumam Jane, tetapi hatinya sudah berdesir karena ulah cowok itu.


"Dasar cewek! Bukannya bilang masama malah pergi gitu aja, ckck!" Gerutu Dean, lantas dia berjalan menuju sepeda motor miliknya.


Pagi yang cerah di *Weekend* kali ini. Hari sabtu dimana surganya para pelajar. Banyak murid yang mulai berdatangan, pintu gerbang sekolah yang mulai di padati siswa-siswi. Koridor yang mulai di penuhi, dan kantin sekolah yang mulai ditongkrongi.


Begitu juga dengan Deandra dan para sahabatnya karena waktu sudah menunjukan tepat pukul tujuh, jadi sekarang mereka sudah berada didalam kelas, bersiap-siap menunggu Bel masuk.


Deandra nampak sibuk dengan handphone nya terlihat sedang berbalas pesan, ia menyeringai ketika mendapatkan pesan dari nomor baru. la sangat paham jika itu pasti dari pelanggan nya.


Gara yang sangat peka dengan apa kelakuan para Sahabatnya. la mengendap-endap mendekati Dean. "WOI! Chatan sama siapa lo?"


Deandra yang memang memiliki jantung yang kuat. Tidak merasa goyah ketika Gara mengagetkan nya. "Kepo banget lo jadi cowok!"


Setelah ia mengirim pesan terakhir kepada pelanggannya, Dean langsung menyimpan handphonenya. Gara yang sekarang sudah berkacak pinggang.


"Yaa ATM berjalan gue lah," Jawab Dean seenaknya. Memang mereka menyebut jika apa yang dikerjakan Dean 'itu' adalah ATM berjalan baginya.


"Malem minggu dapet job, enak banget jadi lo,"


"lo mau?" Tanya Dean cepat.


Gara menggeleng sampai mendramatis. la memang suka iri dengan pekerjaan Dean, tetapi dirinya yang tidak mau kalau-kalau hanya menjadi mainan wanita.


"Gak! Cukup iri aja deh gue, gak mau terjun lapangan," Deandra terkekeh melihat reaksi Gara. la tahu jika dua sahabatnya yaitu Gara dan Alvin tidak ingin melakukan pekerjaan itu.


"Ohiyaa.. Lo punya nomor WhatsApp nya Kak Irene gak" Bisik Gara.


Refleks Dean menoleh. "Gak ada! Kenapa? Lo suka sama dia?" Heboh Dean membuat Gara berusaha menutupi mulut sahabatnya itu.


"Stt! Pelan-pelan napa kalau ngomong," Gara melirik kiri kanan, berharap tidak ada yang mendengar perkataan Dean.


"Santai aja kali! Lo cuma nanyain nomor cewek bukan ngajak gue jadi bandar!" Kata Deandra seenaknya setelah ia berhasil menyingkirkan tangan Gara.


"Yaa gak gitu juga maksudnya," Gara mendengus, ia hanya tidak mau jika para sahabatnya nya tahu soal Irene. Bisa-bisa nanti malah jadi rebutan dan dirinya tidak mau itu terjadi.


"Lo suka sama dia?"


"Kenapa emang kalau gue suka? Masalah buat lo?" Pekik Gara balik bertanya.


"Gak sih! Yaudah kejar sono,"


"Itu yang mau gue lakuin begoo.. Makanya gue nanyain nomor nya."