MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
MADAM MENYEBALKAN



Mereka bertatapan sangat intens. Jane yang dari tadi menatap Jendra terlihat dia masih dalam lamunannya. Kebetulan Deandra lah yang menyelamatkan wanita itu.


"Jangan natap saya kayak gitu kalau gak mau nantinya sampai suka," Ucapan Dean berhasil membuat Jane tersadar dari lamuanannya.


Refleks Jane mendorong cowok itu, yang masih menguncinya ditembok. "Dih!" respon Jane yang sedang salah tingkah. Sambil memperbaiki penampilannya.


Dean hanya menggeleng melihat tingkah Jane. Ia melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat itu.


"Jangan tinggalin saya, ish!"


Jane yang melihat Deandra tidak berhenti juga. Memutuskan untuk berlari kecil mengejarnya.


"Akh!" Jane menjerit karena luka dilututnya. Luka itu terlihat lumayan besar.


Dean memberhentikan langkahnya tetapi tidak menoleh kearah Jane. "Saya gak akan mengendong anda!"


Lalu setelah mengatakan itu Deandra melanjutkan langkahnya. sekarang ia benar-benar berada jauh dari Jane. Karena wanita itu masih terdiam menahan rasa sakit dilututnya.


"Huft! Ganggu banget!" Gumam Dean, sampai akhirnya ia memutuskan untuk berbalik arah. Melangkahkan kakinya mendekati Jane.


Deandra menghela nafas kasar melihat luka yang didapatkan Jane. Tanpa berfikir panjang, ia pun mendekat kearah Jane lalu mengendongnya dengan gaya Bridal Style.


"Iihh.. Apa-apaan ini?!" Jane membrontak, dia cukup kaget dengan apa yang dilakukan Rajendra.


"Diamlah! Anda berat,"


Jane mendengus kesal mendengar apa yang diucapkan cowok itu. Tetapi hatinya tidak menolak perlakuan Dean.


Kali ini Jane benar-benar di buat luluh oleh cowok yang usianya cukup jauh di bawahnya. Bagaimana tidak ia yang dari dulu tidak membiarkan seorang pria menyentuhnya kecuali ayahnya. Walaupun awalnya membrontak tetapi dengan cepat dia menerima gendongan itu. Lalu dengan sadarnya Jene melingkarkan tangannya di leher Deandra.


"Aku kenapa deh? Tapi dia bikin aku gak bisa berenti natap dia. Ini juga jantung kenapa? Ish! Bodoh banget." Bantin Jane mengerutu.


Beberapa Saat Berlalu.


"Akh.. IHH! Pelan-pelan dikit dong," Rengek Jane. Sekarang Rajendra sedang mencoba mengobati Luka dilututnya.


Dengan telatan Dean mengoleskan Alkohol. "Kenapa anda kesini?"


"Emang nya kenapa? Gak boleh? Ini jalan umum," Deandra hanya bisa berdehem mendengar jawaban dari Jane.


"Tuh! Udah selesai, udah bisa pulang juga!"


Dean berdiri dari jongkoknya yang tadi mengobati lutut Jane. Lantas ia beranjak dari tempat itu.


"Kau tega ninggalin seorang cewek ditempat sepi kayak gini?" Teriak Jane membuat langkah kaki Dean terhenti.


Lagi, Deandra hanya bisa menghela nafas menghadapi sikap wanita itu. Mau tidak mau ia harus kembali dihadapan Jane. Tanpa berpikir panjang Dean langsung menarik tangan Jane sehingga membuat empunya tersentak kaget. Ia merangkul wanita itu, membantunya masuk kedalam mobil.


Jujur Jane merona dengan sikap Deandra yang mencoba lembut terhadapnya. Cowok itu langsung membukakan pintu bagian pengemudi. Lalu membantu Jane untuk segera duduk.


"Apa anda masih bisa nyetir sendiri? Kalau gak bisa, telepon Manager anda!" perintah Dean yang sekarang sedang berada diluar sambil memegangi pintu mobil.


Deandra yang mendengar perkataannya itu hanya bisa menghela nafas malas. Lalu langsung menutup pintu mobil itu dan pergi begitu saja. Sedangkan Jane tidak bisa apa-apa lagi jika sudah seperti ini. Mau memanggil Deandra kembali juga dirinya punya gengsi yang tinggi.


"Ish! Apa-apaan deh? Harusnya kan dia nungguin dulu sampai aku jalan." Kesal Jane, dia memukul Setir mobil.


Tanpa Jane ketahui kakinya tidak berdaya untuk menginjak pedal karena luka dilututnya lumayan besar dan akhirnya mobilnya masih tidak bergerak sehingga membuatnya frustasi sendiri bercampur takut kejadian tadi akan terulang lagi. Jane hanya bisa memeluk setir mobil sekarang, meratapi nasib nya akan seperti apa.


Deandra POV


Aku sekarang sudah berada didepan pagar rumahku. Tidak tahu kenapa rasanya berat untuk segera masuk. Karena sedikit memikirkan nasib Nenek Sihir itu. Memangnya dia kira bisa bawa mobil sendiri dengan keadaan seperti itu? Dasar keras kepala. Aku pun lantas membuka kunci pagar untuk segera masuk. Tetapi hati nuraniku berulah lagi, dan akhirnya membuatku balik menemuinya.


Dari jauh mobilnya masih tetap tidak bergerak sedikitpun dalam keadaan menyala. Entah apa yang dilakukan Nenek Sihir itu? Aku mendekat dan langsung membuka pintu bagian pengemudi. Kulihat dia yang sedang memeluk Setir langsung menegapkan badannya, yang pastinya kaget. Tidak mau berlama-lama. Aku langsung menarik tangannya untuk segera keluar dan merangkulnya menuju tempat penumpang bagian depan. Setelah itu aku lantas masuk untuk segera mengemudikannya.


Didalam perjalanan, aku sangat tahu jika dia masih kebingungan dengan apa yang aku lakukan sekarang.


"Saya cuma takut kalau terjadi hal yang gak dinginkan. Apa lagi anda Kepala Sekolah, bisa jadi saya dituduh macam-macam karna kebetulan ada cctv." Ku lihat dia hanya bisa mendengus kesal.


Tidak memerlukan waktu lama untuk sampai. Aku lansung keluar dari mobil, dan mencoba membukakan pintu untuknya. Tidak mau banyak urusan dengan Nenek Sihir ini, aku memutuskan untuk langsung pergi saja tanpa membantunya benar-benar masuk di unitnya.


"Saya perlu berbicara sebentar! Kenapa kau gak sopan langsung pergi gitu saja?" Teriaknya lagi yang membuat langkahku lagi-lagi harus terhenti.


"Ada apa lagi? Bukannya anda sudah sampai dengan selamat?"


"Saya berhutang budi denganmu. Jadi saya harap anda bisa kembali kesekolah lagi!" Ucapnya yang lebih terdengar bergumam.


Aku memberikan Smirk. "Sudahlah lupain aja! Anda tidak perlu membalas budi kepada saya,"


"Ckck! Sebenarnya itu bukan karna balas budi. Tapi karena memang dari awal saya tidak bermaksud mengeluarkan anda. Salah anda sendiri kenapa tidak sopan langsung meninggalkan ruangan saya waktu itu," Lagi-lagi Nenek Sihir ini membentakku. Aku hanya bisa menghela nafas panjang dibuatnya.


"Kembalilah lagi kesekolah karena saya sudah menyiapkan sesuatu untuk anda. Saya tidak mau tau anda harus kembali besok!" Tambahnya yang lebih terdengar memerintah.


Aku hanya bisa acuh tak acuk mendengar apa yang ia ucapkan. "Untuk apa saya kembali?" setelah mengatakan itu, aku memutuskan untuk melanjutkan langkahku.


"Tunggu! Yaa.. Karena saya memang tidak berniat untuk mengusir anda. Jadi saya mohon kembalilah besok!" Aku tersenyum penuh kemenangan mendengar kata mohon darinya.


"Akhirnya Nenek Sihir itu memohon," Gumamku.


Deandra POV END


Nampak seorang pria sedang tergesa-gesa mencoba menghubungi seseorang lainnya.


"Tuan! Ada seorang wanita yang telah tau gerak gerik saya," Ia melaporkan kepada orang diseberang sana.


"Kau sangat bodoh! Kembalilah besok! Saya akan mengirim orang lain,"


Setelah menyampaikan perintah. Pria itu langsung memutuskan sambungan teleponnya.


"Anak itu jangan sampai mengagalkan rencanaku." Ucap pria itu. Beliau adalah Ayah Deandra.