
Awalnya Dean merasa seperti ada yang memperhatikannya. Setelah ia melihat-lihat, di ujung sana ada lima wanita yang cukup ia kenali. Dean coba memperhatikan lagi diam-diam agar mereka tidak curiga, dan benar saja, salah satu dari mereka adalah Gia, gurunya di sekolah.
Deandra memincingkan mata melihat kedua wanita yang seperti ia kenali juga, yaitu kakak beradik yang telah menabrak dirinya. "Lah! Bukannya itu Kepsek sama Managernya? Kok mereka bisa jalan barengan?" Batin Dean cukup penasaran dengan kedekatan mereka.
"Kamu lagi liatin apa?" Tanya wanita yang sedari tadi bersama Rajendra membuat yang di tanya hanya bisa menggeleng untuk menjawab pertanyaan itu, tidak mau memberitahunya.
Tidak lama setelah itu, mereka berdua beranjak dari tempat lantas mencari-cari sesuatu yang wanita itu inginkan. Sedangkan Dean hanya bisa diam dan mengikuti arahannya. Sebenarnya Dean sangat bosan jika menemani wanita berbelanja, bisa dilihat dari raut wajahnya.
"Dean, aku pengen ke toilet sebentar. Ayo!" Ajaknya, lantas menarik pergelangan tangan Dean yang sedari tadi berada di gandengannya.
Setelah wanita itu menyelesaikan urusannya di toilet. Ia malah menarik tangan Dean menuju tangga darurat dan langsung mendorongnya ketepi dinding dengan kedua tangannya mengelus pipi Dean, lembut. Deandra tersentak kaget menerima perlakuan sang wanita, tidak bisa menepis hanya bisa diam. Karena Dean tahu, wanita iti pasti tidak akan menerima penolakan.
Kedua tangannya sudah melingkar di leher Dean. Matanya menatap dengan penuh nafsu. Merasa tidak dapat menahan gejolaknya, wanita itu menempelkan badannya ke badan Dean, perlahan wajahnya mendekat dan langsung mengecup bibir. Awalnya, itu hanyalah kecupan lembut. Merasa tidak puas, ia ******* bibir atas dan bawah Dean secara bergantian.
Ciuman yang sangat agresif, dan Dean yakin wanita yang sedang mencumbunya sangat penuh dengan gairah dan nafsu pada saat ini. Lagi, Dean hanya bisa diam mematung, seluruh badannya terasa tidak berdaya dibuat aksi memanas yang wanita itu berikan.
Deandra berusaha mengimbangi, melancarkan permainan nya dengan sesekali ******* bibir bawahnya. Tak jarang membuka mulut untuk memberikan akses untuknya mencicipi setiap inci rongga mulut Dean. Ia mengakui wanita itu sangat pandai dalam hal bercumbu. Dengan santai sang wanita memasukkan lidahnya untuk menjelajah lebih dalam. Dean yang menerima, sekali lagi hanya bisa kaget mendapati wanita yang sangat berani memulai duluan hal yang mungkin akan mereka pertimbangkan dua kali.
Mungkin sudah sampai beberapa menitan mereka melakukan aksi panas di tangga darurat. Karena Deandra mulai cemas kalau-kalau ada yang akan lewat, sesekali ia mencoba melirik dengan ujung matanya tanpa melepas cumbuan mereka. Dean melirik kesamping kiri, menemukan sekilas ada yang mencoba bersembunyi tapi sesekali memperhatikan apa yang mereka lakukan. Dean cukup penasaran akan seseorang dibalik dinding itu, tak mau sampai kelolosan, ia terus memantaunya. Tidak lama setelah itu, orang dibalik dinding yang membuat Dean penasaran berjalan meninggalkan toilet.
"Dia, si Kepsek itu? Madam yang super duper judes. Apa dia tau kalau gue yang disini? Njir! Bisa-bisa gue di hukum lagi ini. Kesekian kalinya nih, gue keliatan buruk di mata dia." Dean membatin.
Keesokan harinya di Sekolah.
"Hello guys!" Teriak Gara dari arah depan pintu. Pagi yang begitu indah, dengan cuaca yang sedang; Tidak mendung, dan tidak panas juga.
Iyan menoleh cepat kearah pintu, matanya menyipit tidak melihat keberadaan Dean yang biasanya masuk mengekori Gara. "Dean mana?"
"Lo pikir gue Bapaknya?" Sahut Gara sambil meletakkan ranselnya dilaci meja.
Gara yang telat lima menit. Untung saja guru yang masuk di kelasnya ternyata berjalan di belakangnya. Jadi setidaknya Gara sampai lebih dulu dari guru itu.
"Anak-anak, sekarang kalian buka bab satu halaman sepuluh!" Titah guru yang memasuk di kelas mereka.
Jam pertama mereka diisi dengan pelajaran Biologi. Seluruh murid di kelas itupun hening seketika setelah melihat Dean yang sedari tadi mencoba masuk diam-diam. Selangkah demi selangkah ia memasuki kelas tanpa suara injakkan kaki. Deandra juga memberi kode untuk jangan ada yang ribut atau melaporkan kelakuannya.
"Kamu sapu halaman dulu!" Ujar sang Guru Biologi. Dia sama sekali tidak menoleh kebelakang karena sedang sibuk menulis materi di papan tulis.
Dean ternganga, bagaimana tidak. Tanpa menoleh Guru usia empat puluhan keatas itu tahu jika dirinya sedang mengendap-endap. "Bu guru, kok bisa tau?"
Guru Biologi itu menoleh kearah Dean dengan tatapan dingin. "Di sekolah ini banyak yang seperti kamu! Sapu halaman sebelum lbu tambah hukuman mu!"
Dean terkesiap. Ia berjalan meninggalkan ruangan kelas dengan kekesalan, sambil sedikit memberi senyum kepada siswi-siswi yang berada di setiap koridor, sedang tersenyum kepada nya.
Sedangkan disisi lain. Jane sedang sibuk melihat nilai-nilai semua murid di sekolah itu. Dengan teliti, dia terus membuka setiap halaman pada buku besar yang di pegangnya.
"Kak Grace, apa yang harus kita lakukan?" Jane menghela nafas setelah melihat nilai-nilai yang tertera dalam buku besar itu. Ditatapnya Grace, berharap Managernya itu tahu apa yang dia maksud.
Grace cukup tahu jika Jane sudah begini artinya ada sesuatu yang menganggu pikirannya. "Apa harus kita kumpulin mereka yang gak sesuai kriteria?" Jane mengangguk karena itulah yang ada dipikiran nya sekarang.
Di Tempat Lain.
"Jihan, kondisi cowok itu udah kamu tanyain apa belum?" Tanya Irene sambil fokus memperhatikan jalan. Sekarang mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju kantor.
Jihan terbelalak, dia baru sadar akan hal. "Akh, iya! Aku tanyain sekarang deh," Ucapnya sambil menarik keluar handphone di dalam tas miliknya.
Jihan menatap kembali pesan yang dia kirim. Merasa tidak ada tanda-tanda pesan itu dibaca oleh Dean, dia menyimpan kembali benda pipih itu. "Kayaknya dia lagi gak megang hp, Kak." Irene hanya menatapnya sekilas di kaca dalam mobil.
Kembali ke Sekolah.
Gia yang sedang sibuk dengan kertas-ketas diatas mejanya. Merupakan lembar jawaban ulangan harian para siswa-siswi disekolah itu.
"Ibu Gia, apa semuanya sudah anda beri nilai?" Tanya Wakil Kepala sekolah. Tangan nya sibuk mengotak-atik Komputer miliknya.
Gia menoleh cepat. "Iya Pak, tinggal dikit lagi," Diruangan Dewan Guru, yang sekarang sibuk dengan Komputer dan Laptopnya masing-masing. Tidak sadar dengan kedatangan Kepada Sekolah mereka.
"Apa nilai Matematika sudah keluar?" Tanya Jane, yang sekarang sudah berada di depan meja Gia.
Gia tahu siapa yang berbicara dengan nya. Tetapi dia tidak menoleh dan lebih fokus kelayar Komputernya. "Iya Bu! Kebetulan lagi saya ketik untuk hasil ulangan nya dan tinggal di print,"
"Tolong nanti bagi kelas 12 yang nilainya kurang dari KKM segera menghadap keruangan saya secara bergantian, perkelas." Titah Jane, lantas berjalan meninggalkan ruangan Dewan Guru.
Gara yang baru selesai dengan ritualnya dikantin, menghampiri bangku Dean. "Lo gak ada bosen-bosennya ya, di hukum," Ledeknya sambil mengelus-ngelus rambut Rajendra.
Dean tidak menghiraukan Gara, ia lebih memilih mengecek handphone miliknya. Dean mengerutkan kening melihat ada notifikasi dari nomor baru. Lalu setelah itu dia tersenyum tipis melihat pengirim pesan itu menyebutkan nama, Jihan.
"Sekarang udah mendingan, tapi gak tau deh kalau besok." Setelah mengetik itu Dean lantas menekan tombol kirim. Ia tersenyum sekali lagi setelah membalas pesan dari Jihan, menyadari dirinya akan mengerjai wanita itu.
Gara menatap heran, melihat Dean sedang tersenyum kearah handphone. "Lagi chatan sama siapa lo? sampe senyam-senyum gitu," Gara penasaran, ia mencoba melirik ke layar benda pintar itu.
Bersamaan dengan itu, bel masuk jam kedua pun dibunyikan. Seluruh siswa-siswi berhamburan ke kelasnya masing-masing.
Gia langsung memasuki kelas yang di huni Dian dan teman-temannya. "Anak-anak, hari ini kalian ada sedikit hadiah," Ucapnya sambil menebarkan senyuman kesetiap murid di kelas itu.
"Nanti yang namanya di panggil langsung pergi ke ruangan Kepala Sekolah, ya! Soalnya hadiahnya ada disana," Gia sengaja berbohong, agar mereka yang di panggil tidak kabur. "Jose Perdana, Deandra Malik dan terakhir Gara Mahesa. Kalian bertiga langsung ke ruangan Kepala Sekolah!"
Semua murid di kelas itu langsung menoleh kearah Dean dan kedua sahabatnya. Pikir mereka kenapa harus murid yang bandel mendapatkan hadiah? Sedangkan mereka bertiga, keluar dengan penuh sumringah. Tetapi dalam hati terus bertanya-tanya, hadiah apa yang kiranya akan mereka dapatkan?
Mereka pun berjalan secara berdampingan dengan Dean jadi penengah, menuju ruangan Kepala sekolah itu dan terlihat beberapa murid baru keluar beranjak dari ruangan Jane.
"Kalian dari kelas berapa?" Tanya Grace, datar. Ia membukakan pintu setelah Dean mengetuknya beberapa kali.
"Kami dari kelas 12 Sains 4," Jawab Jose mantap.
"Apa kalian tau maksud kalian di panggil kesini?" Lagi, Grace bertanya.
"Saya taunya mau di kasih hadiah," Jawab Dean seenaknya. Membuat Winnie menahan tawa.
Jane menghela nafas gusar mendengar ucapan Dean. "Biar aku yang jelasin, Kak!" Dia menoleh dan menyadari ketiga siswa di depannya masih berdiri. "Kalian duduk dulu!"
"Apa kalian tau nilai ulangan harian kalian sangat jelek?! Kenapa kalian begitu bodoh tidak mengunakan otak kalian dengan baik?" Bentak Jane, dia menoleh kearah Deandra setelahnya. "Dan kamu!" Tunjuknya.
Dean yang sedari tadi menunduk langsung menegakkan badannya karena Gara menyenggol tangannya, mengisyaratkan jika Jane menunjuknya.
"Saya?" kata Dean sedikit bergetar.
"Saya perlu berbicara secara pribadi denganmu! Karena hasil ulanganmu di setiap pelajaran sangat buruk. Pergilah keruangan saya setelah bel pulang nanti!" Titahnya kepada Dean, lantas Jane menoleh kearah Gara dan Jose secara bergantian.
"Dan untuk kalian berdua, saya harap ini ulangan jelek yang terakhir kalinya untuk kalian! Karena saya tidak mau murid-murid di sekolah ini terlihat bodoh! Ini juga demi kebaikan kalian semua." Tambah Jane yang membuat mereka berdua mengangguk seperti anak kecil.
Setelah berpamitan, mereka bertiga meninggalkan ruangan Jane dengan penuh ke kecewaan dan kekesalan. Bagaimana tidak, mereka pikir awalnya memang akan di beri hadiah tetapi nyatanya malah berbalik saratus delapan puluh derajat.
"Anjirlah! Si Madam," Pekik Jose, setelah mengetahui jika Jane wanita yang kejam, beberapa hari yang lalu. Mereka lantas memberi Jane dengn Julukan Madam.
"Gue aduin lo!" Gara mengancam.
"Dih! Apaan dah lo," Jose tidak terima, dia mendengus kesal.
Dean hanya mendengarkan perdebatan kedua sahabatnya itu tanpa mau ikut campur. "Hadeh! Kenapa juga gue harus keluar masuk ruangan harimau betina itu? Lagian kenapa pake acara pulang sekolah segala coba? Apa jangan-jangan gue mau di keluarin?" Batin Dean, betapa gelisah nya dia sekarang.
Merasa kesal Deandra memilih memain kan handphonenya. Kebetulan ada pesan masuk dari Jihan.
"Apa perlu kita periksa lagi?" Begitulah isi pesan Jihan yang membuat Dean tersenyum karena menyadari wanita itu sangat mudah dikerjai.
"Haruskah? Tapi kayaknya gue pengen makan apa gitu." Dean membalas.
"Jadi kamu mau nya di ajak pergi makan?" Deandra terkekeh mendapati pesan dari Jihan, lagi. Ternyata cukup beberapa detik baginya untuk menunggu Jihan membalas pesan itu.
"Boleh, nanti gue kabarin lagi." Setelah membalas pesan dari Jihan, ia langsung menyimpan kembali handphonenya.
Bel pulang Sekolah sudah dibunyikan 'sejak lima menit yang lalu. Terihat semua siswa-siswi sudah memenuhi koridor dan sebagian sudah berada ditempat parkir mengambil kendaraan masing-masing. Deandra dan teman-teman nya sedang berada di kantin sekolah, mereka sedang berbincang-bincang. Tidak lama setelah itu Rajendra berpamitan kepada mereka untuk segera menuju lantai empat, memenuhi panggilan sang Madam; Kepala Sekolah mereka yang memintanya berbicara secara pribadi.
Setelah kedatangan Dean. Ruangan itu pun seketika sunyi karena tidak ada dari mereka berdua yang mau angkat bicara setelah kepergian Grace.
"Apa yang harus saya lakukan dengan nilaimu?" Akhirnya Jane membuka suara tetapi tatapannya masih tertuju pada handphone yang sedari tadi dia mainkan.
"Hum, Anda cukup tidak mengusir saya dari sekolah ini," Jawab Dean yang lebih terdengar seperti bergumam. Ia juga mencoba untuk tersenyum, walaupun sangat terlihat paksaan.
Jane meletakan ponselnya, ia menatap Dean dari atas sampai bawah. "Haruskah? Saya pikir kamu tidak cukup bodoh karna saya lihat kamu cukup pintar untuk mempermainkan wanita,"
Dean menghela nafas, lalu mendongkak. "Karena itu menghasilkan uang dan pekerjaan saya,"
Jane sedikit kaget, sontak menatap Dean dengan tatapan tajam. "Maksudmu? Apa orangtuamu sudah tidak ada untuk membiayai hidupmu?"
Deandra terkekeh geli. Ia sangat tidak ingin mendengar ada orang yang menyangkut pautkan dirinya dengan orangtuanya. "Apakah harus tidak punya orangtua untuk membiayai hidup sendiri? Itu hanya kebiasaan yang menurut saya nyaman," Dean membalas tatapan tajam Jane.
Jujur Jane sangat tidak mengerti dengan jalan pikiran Dean. Kenapa cowok itu lebih memilih bekerja dari pada belajar dirumah. Karena sangat tidak mungkin jika orangtua nya tidak mampu. Semua orang tua murid di sekolah miliknya termasuk kalangan atas dan menengah. Mulai dari Anggota Dewan, Pengusaha, Menteri, Dokter, Polisi, Tentara dan Pegawai Negeri Sipil (PNS).
"Saya akan peringatkan nilai ulanganmu selanjutnya harus di atas KKM karna saya akan terus memantau itu!" Bentak Jane, dia merasa tersudutkan oleh tatapan tajam dari Dean.
"Dan satu hal lagi tolong buang sikap seenakmu itu! Jangan menatap saya dengan tatapan seperti itu karena saya ini pemilik yayasan di sekolah ini dan kamu harus lebih sopan!" Setelah Jane mengatakan itu, refleks Deandra memalingkan wajahnya.
Tidak mau berlalu lama, Dean meninggalkan ruangan Jane tanpa permisi. Baginya, wanita itu merupakan serigala yang dianugrahi wajah imut, dan ia sangat tidak suka dengan wanita itu.
"Apa yang kamu lakukan, Jane? Kenapa juga aku harus peduliin tatapannya itu? Sedangkan selama ini aku gak pernah permasalahin kalau ada orang yang menatap ku tidak suka, malahan aku pengen banget." Monolog Jane, dia terus saja mengoceh sambil berjalan menuju parkiran.