
Jane POV.
Perasaanku tidak enak. Apa mungkin Dean akan berpapasan dengan Irene? Aku harus segera turun sebelum sesuatu yang tidak di inginkan terjadi. Dengan sedikit tergesa-gesa aku berlari. Berkali-kali aku menekan Lift ini, kenapa sangat lama? Apa aku harus turun tangga?
Ternyata aku tidak perlu turun tangga. Syukurlah, Lift ini bisa mengerti juga dengan keadaan. Terasa lama untuk sampai di lantai satu. Membuatku semakin gelisah.
Ting! Segera aku keluar. Kecurigaanku benar, didepan sana Irene sedang berusaha ingin melihat wajah Dean.
Jane POV end.
"Kamu-" Kata Irene sambil berusaha ingin melihat wajah cowok di samping.
"Kak Irene!" Refleks Irene menoleh cepat kearah suara yang memanggil namanya.
Dilihat Jane berlari kecil. Irene menurunkan tangannya yang sedari tadi bertengger di bahu cowok yang belum ia ketahui itu. Dean tidak menyia-nyiakan kesempatannya, ia berjalan cepat untuk menjauh menuju Basement.
"Ngapain kamu lari-lari gitu?" Tanya Irene setelah Jane berhasil mendekat.
Jane belum lagi bersuara, ia sedang berusaha mengatur nafas nya yang sedikit memburu karena berlari kecil. Irene terlihat mencari-cari sesuatu. mendapati diujung sana, cowok yang berjalan tinggal kelihatan punggungnya.
"Jane! Di area apartemen kamu ini, aman gak?" Irene sedikit gelisah, karena ia mencurigai pemuda barusan yang belum ia ketahui adalah Dean sebagai orang jahat.
Jane mulai mencari alasan. "Akh itu! Kakak tenang aja, apartemen disini aman kok," jawab Jane jujur, memang benar jika Apartment di area tempat ia tinggal itu sangat aman.
"Btw, Kak Irene kenal orang yang sama Kakak tadi?" Penasaran Jane.
Irene menghela nafas. "Nggak! Lagian Kakak belum sempet liat muka dia,"
Jane menghela nafas pelan. Ia merasa lega untuk saat ini.
"Huft! Untung Kak Irene belum sempet liat Jendra." Batin Jane, dia sangat bersyukur akan hal itu.
"Yaudah ayo ke unitku!" Ajak Jane sambil meraih tangan kiri Irene. Mereka pun beranjak dari tempat itu menuju Lift.
Sudah seminggu sejak kejadian Deandra hampir saja ketahuan Irene. Kejadian itu juga membuat mereka Dean, dan Jane lebih hati-hati. Mereka juga sekarang jarang ada waktu untuk berkencan, karena Dean yang sibuk Les dan sesekali bekerja. Tidak bisa membagi waktunya untuk berkencan, dan Jane pun juga begitu. Jadwal pemotretan nya yang memang penuh dan padat.
Sejak Dean menetapkan hatinya untuk Jane, ia berusaha untuk mengubah pola pikirnya, yang dulunya tidak mementingkan sekolah, sekarang lebih bersemangat untuk sekolah demi bisa masuk ke Universitas ternama di kota Jakarta.
Sekarang Dean sedang Les privat, dengan Gia sebagai gurunya.
"Nilai kamu udah lumayan bagus, nih!" Ucap Gia sambil fokus menatap buku tugas Dean yang ada di tangan nya. "Pertahankan ya! Ibu yakin nanti kamu bisa ngerjain ujian nasional," Gia tersenyum manis kepada Dean.
Wajah Dean sumringah mendengarkan ucapan Gia. Matanya berbinar seperti anak kecil yang baru dikasih permen. "Siap, Bu Cantik! Apa sekarang saya boleh pulang?" Gia mengangguk merespon pertanyaan Dean.
Sedangkan Di Tempat Lain.
Entah sejak kapan, Gara dan Irene tiba-tiba dekat. Tidak ada yang tahu kedekatan mereka, Deandra yang notabene nya sahabat Gara saja, tidak diberitahu sahabatnya itu. Kini mereka sedang di Restoran. Gara menawari Irene untuk menemaninya makan siang. Karena kebetulan hari ini sekolah mereka libur.
"Emang kenapa sekolah kalian di liburin?" Tanya Irene mencoba memulai percakapan.
Irene mengulum senyum, melihat tingkah Gara. Padahal Gara lah yang mengajaknya bertemu tapi Gara juga yang malu-malu.
"Hum gitu.. Bentar lagi lulus dong ya? Jadi nanti Gara mau lanjut dimana?" tanya Irene sedikit menggoda Gara.
Gara mengigit bibir bawahnya refleks. Ia berusaha tidak menatap Irene. Lantas ia berdehem supaya nyawanya terkumpul kembali. "Ekhem! Itu belum Gara pikirin sih Kak, hehe.."
Tingkahnya itu membuat Irene semakin semangat untuk mengoda Gara. "Kakak taun depan mau keluar negeri, buat mimpin cabang perusahaan disana," Ucapnya sambil tersenyum manis.
"Kemana?" Respon Gara dengan cepat. Irene tekekeh di buatnya yang langsung ingin tahu kemana Irene akan pergi dan menetap untuk beberapa tahun kemudian.
Disisi lain. Deandra sekarang berada di pantry studio pemotretan Jane. Membuat semua karyawan heboh akan kedatangannya yang pura-pura menjadi pengantar makanan. Terutama para karyawan wanita yang jelas-jelas mengoda nya.
"Saya kesana dulu ya, bye!" Ucap Dean kepada karyawan-karyawan yang mencoba mnengodanya.
Karyawan-karyawan itu pergi meninggalkan pantry. Jane datang belum mengetahui jika Dean ada di tempat studio pemotretannya.
Jane menuju pantry, karena mendapat kabar ada kiriman makanan dan sudah di simpan di pantry. Ia kaget melihat Dean berada didepan pintu.
"Ngapain kamu kesini?" Tanya Jane sambil menarik tangan Dean untuk masuk menuju tempat menyeduh kopi.
Deandra terkekeh pelan melihat tingkah Jane yang ketakutan akan kedatangan nya. Jane melihat-lihat keadaan, setelah dirasanya sepi, ia langsung berdiri menghadap Dean.
"Aku bawain makanan buat kamu,"
Jane menghela nafas, ia masih kaget dengan kedatangan Deandra bercampur takut kalau-kalau kepergok. "Kenapa gak ngabarin aku dulu sih? Chat kan bisa. Kamu tau kan ini tempat umum? Pulang gih!" Celetuk Jane yang setengah berbisik.
Deandra mendekati Jane, sehingga membuat Jane mundur dan terpojok di balik pintu. Ada suara beberapa orang yang akan masuk ke pantry. Jane melotot mendengar suara itu, sedangkan Dean pura-pura menyeduh kopi.
"Eh, kamu! Bukannya yang tadi nganterin makanan ya?" Tanya salah satu wanita. Ada tiga orang wanita, dan untung nya Jane tidak terlihat karena ia bersembunyi di balik pintu.
"Iya Mbak! Saya di suruh bikin kopi nih. Mbak-Mbak duduk aja, biar saya yang nyeduhin kopi buat kalian!" Alasan Dean, karena jika ketiga wanita itu membuat sendiri mereka akan melihat Jane.
"Oalah baiknya.. Makasih yaa!" Kata wanita yang sudah berdiri di ambang pintu, dia berbalik untuk menuju kursi yang memang disediakan.
Ketiga wanita itu pun duduk setelah mendengarkan ucapan Deandra, mereka berbincang-bincang. Sedangkan Jane ngomel-ngomel tanpa suara memarahi Dean, bibirnya terus berusaha mengucapkan kalimat.
Deandra yang melihat itu gemas, ia mendekati Jane cepat dan langsung menyatukan bibirnya dengan bibir Jane.
Jane kaget, tapi menerima ciuman itu. Jantungnya berkerja lebih cepat, wajahnya sudah merona. Dean melumut bibir bawahnya membuat Jane refleks memejamkan matanya dan membalas lumutan itu.
"Ohiyaa, kamu suka rasa apa?" Tanya salah satu wanita tadi pada Dean.
Tapi Deandra masih berusaha mencium mesra Jane. Setelah ia rasa kehabisan oksigen, Dean menghentikan ciuman itu. Lalu menatap Jane dengan jarak beberapa centi, Deandra tersenyum manis kepada Jane.
"Manis! Aku suka, manis!" Deandra menjawab pertanyaan wanita itu sambil masih tetap fokus menatap Jane dengan senyuman manisnya.