
Alhasil karena mengikuti ajakkan dari sekumpulan karyawan cantik itu. Deandra menjadi topik hangat dikantor. Sebagian karyawan pria menatapnya tidak suka karena telah menganggu pekerjaan. Bukan nya apa, karyawan wanita malah menghentikan pekerjaan nya dan lebih memilih memandangi Dean yang kini sedang duduk manis dengan beberapa karyawan lainnya.
"Ada apa ini? Kenapa malah bersantai? Kerjakan pekerjaan kalian!"
Beberapa karyawan yang tadinya menemani Dean, langsung pergi ke meja kerjanya masing-masing. Mereka mendengus tidak suka, mendapati kedatangan sang Manager itu. Sedangkan karyawan yang sedari tadi sibuk memandangi Dean, mulai pura-pura sibuk dengan pekerjaannya.
Manager dengan badan atletis itu menatap Deandra dengan tatapan tidak suka. "Siapa anda? Ada perlu apa kesini? Jangan menganggu pekerjaan para karyawan disini!"
Jangan kira Dean akan takut. Dia malah memeberikan smirk kepada pria yang Dean tebak usianya tiga puluh tahun ke atas.
" Aaa... Saya lagi nungguin Ibu Presdir, kebetulan saya ingin bertemu dengannya," Dean dapat melihat perubahan ekspresi Manager itu.
"Atas dasar apa anda ingin menemuinya?! Beliau sedang sibuk sekarang!" Manager itu meninggikan nada bicaranya.
Dean mendongkak menatap intens wajah Manager yang masih berdiri di depannya. Deandra sempat berpikir mungkin orang di depan nya itu dulunya perajurit Tentara.
"Om! Begini, hum... Ini urusan pribadi, Haruskah saya kasih tau semua orang disini?" Mendengar itu, Manager yang sedari tadi tidak melepas tatapannya kepada Dean. Mulai memalingkan wajahnya, matanya menyincing mendapati seluruh karyawan di devisi itu sedang memperhatikan mereka.
"Urusan pribadi apa? Saya Manager kantor disini dan saya berhak tau!"
Apa-apaan pikir Manager itu. Siapa pemuda didepan nya ini, yang ingin bertemu secara pribadi dengan bos besarnya itu? Sedangkan dirinya saja yang berstatus sebagai Manager tidak pernah diberi izin untuk bertemu secara pribadi. Bahkan dirinya sempat menawari wanita itu untuk Dinner, dan penolakkan yang ia dapatkan.
"Ada apa ini?"
Baru saja Dean ingin berbicara lagi. Tetapi Jane sudah muncul. Deandra memiringkan kepalanya untuk melihat Jane. Karena terhalang tubuh Manager meyebalkan menurut Dean. Dia memberikan senyuman kepada Jane yang sekarang nampak kaget mendapati kedatangannya.
"Kamu!" Jane yang tadinya kaget mulai mendekati Dean. Bibirnya membentuk senyuman manis. Tangan nya menarik pergelangan tangan Deandra untuk segera berdiri. "Ngapain kesini?" Tanyanya setengah berbisik, agar tidak terdengar oleh karyawan yang lain.
Jane sangat sadar jika Dean akan menjadi gossip dikantor nya. Dia bisa mengetahui lewat tatapan para karyawan yang sekarang menatap kearah mereka dengan penuh tanda tanya.
"Apa Ibu kenal dengan anak ini? Dia sangat menganggu pekerjaan karyawan disini," Adu Manager itu, tidak mau tinggal diam.
"Apa-apaan deh," Dean berkacak pinggang. Dia yakin jika Manager menyebalkan itu mempunyai rasa suka terhadap Jane. "Kamu lihat, dialah yang nyebelin dari tadi gangguin aku. Semua orang disini juga tau itu," Jika diadakan pemilihan, pasti sebagian besar karyawan itu lebih memilih Dean.
Jane sangat percaya jika Deandra lah yang benar. Karena dia juga mengecap Manager nya itu menyebalkan. Baginya, dia tidak suka jika Dean yang berstatus sebagai kekasihnya diremehkan secara tidak langsung. "Sekarang anda kembali ke pekerjaan anda! Anda tidak perlu khawatir dia akan menganggu disini, karena saya kenal baik dengannya."
Sang Manager hanya bisa ciut. Sebelum berlalu kembali ke pekerjaan nya, ia menatap Dean dengan tatapan tidak suka. Sedangkan Deandra sendiri hanya bisa bersikap biasa saja tidak mau bersikap seperti anak kecil.
Seluruh karyawan di devisi itu hanya bisa mengeluarkan ekspresi kagetnya masing-masing. Bahkan karyawan pria yang sedari tadi memilih diam ikut mengeluarkan ekspresi. Bagaimana tidak Bos besar mereka dengan santainya berbicara informal kepada pemuda yang tidak mereka kenali itu. Apa lagi Jane sangat lembut berbicara kepada pemuda itu. Sedangkan selama ini Bos mereka dikenal tegas dengan wajah datarnya.
"Gilaa... Kalian dengar kata-kata terakhir dari Bu Presdir?"
"Aku yakin mereka pasti punya hubungan special. Beruntung sekali Bu Presdir dapetin cowok itu."
"Anak itu yang beruntung! Dapetin Bu Presdir yang jelas-jelas punya perusahaan sendiri dan dewasa. Sedangkan anak itu, kalian bisa lihat sendiri dari tampilannya." Salah seorang karyawan pria yang memang tidak menyukai kehadiran Deandra mulai ikut berkomentar.
"Dih! Itu nama nya style. Wajar dia berpenampilan kayak gitu, dia masih muda dan saya yakin dia masih kuliah."
"Yaa... Bener! Dia masih sangat muda Itu artinya Bu Presdir punya hubungan sama cowok yang lumayan jauh dibawahnya. Apa jangan-jangan dia frustrasi gara-gara batal nikah dulu?"
"Stt! Jaga bicaramu, gak mungkin orang secantik Bu Presdir itu frustrasi hanya gara-gara satu cowok dan lagi, cewek lebih tua dari cowok nya itu udah biasa dalam menjalin hubungan. Bukan tabu lagi!"
Alhasil hubungan Dean dan Jane yang belum sempat diketahui itu menjadi gossip hangat dikalangan karyawan.
Deandra takjub melihat dalam ruangan kerja Jane. Dengan sisi belakang berdindingkan kaca bening, yang cukup bisa melihat keindahan kota. Ruangan yang sangat luas bernuansa putih dan abu-abu.
"Pantesan kamu betah di ruang kerja." Mata Dean masih asyik menyusuri setiap inci ruangan itu.
Jane hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya. Dia sekarang sudah duduk dikursi kebanggaan nya, sudah siap memeriksa pekerjaan nya. Dean berjalan kearah belakang Jane. Dia cukup penasaran ingin melihat keindahan kota yang berdindingkan kaca itu. Seperti kamar hotel dan design yang menarik pikir Dean.
"Kamu ada perlu apa kesini?" Akhirnya Jane bertanya. Apa lagi bertanya hal yang menurut Jendra dia tidak tahu kenapa bisa berakhir menemui Jane di kantor.
"Gak harus punya alasan juga," Gumam Deandra. Jane hanya bisa tersenyum mendengar orang dibelakangnya sedang bergumam tetapi masih bisa terdengar olehnya.
"Jane!" Deandra sengaja tidak melanjutkan ucapan nya. Dia memutar kursi putar Jane. Sekarang mereka sudah saling berhadapan. Dean menatap lekat ke manik mata wanita di depannya. "Kamu harus tau! Semua yang berhubungan tentang kamu, ada didalam perencanaanku."
Deandra tidak mengerti kenapa ia bisa mengucapkan kata-kata itu. Yang dia tahu, jia dia ingin Jane mengerti bahwa dirinya masih sangat mencintai wanita itu. Karena isi pesan Gara selalu menganggu nya, apa lagi sahabatnya itu berfikir jika Jane akan mengira mempermainkan nya.
Jane terkesima, merona. Di tatapnya Dean yang kini sedang menatapnya sendu. Lantas Jane memberikan senyuman semanis mungkin kepada Dean. Sungguh dia sangat terharu mendengar perkataan Dean yang terdengar dewasa sekaligus romantis itu.
"EHEM!" Deandra menegakkan badannya yang tadi sempat membungkuk agar sejajar dengan Jane yang masih nyaman duduk dikursinya. "Aku haus, minuman buat tamu nya mana?"
Jika kalian diposisi Jane sekarang, pasti ikutan kesal. Bagaimana tidak, lagi suasana romantis-romantis nya malah dihancurkan oleh orang yang membuat suasana romantis itu sendiri. Tapi Jane juga sadar, mereka sedang dikantor. Dia tidak ingin satu orangpun mengetahuinya bahkan sekretarisnya sendiri, Gia. Jadi Jane lebih menyimpan kekesalan itu dan membuangnya jauh-jauh.