MY LOVE IS MADAME

MY LOVE IS MADAME
KEDATANGAN AYAH DEANDRA



Sesampainya diluar, Deandra langsung masuk kemobil dan mengambil arah pengemudi.


"Kamu gak mikirin omongan karyawan-karyawan mu itu Jane?" Ujar Dean, raut wajahnya sedikit tegang. Sedangkan Jane yang ditanya hanya memberikan tampang masa bodoh.


Tak mendapat jawaban, Deandra menjalankan mobil dengan rasa kesal. Dia mendengus beberapa kali, kadang berdecak. Jalanan yang padat dan macet membuat rasa kesalnya menjadi-jadi. Dirinya juga tak habis fikir, kenapa wanita itu begitu santai ingin terlihat memiliki hubungan di depan para pekerja nya. Sedangkan dirinya sudah hampir mati-matian menyembunyikan semua itu.


Lagi-lagi Dean hanya bisa merutuki dirinya karena nekad menghampiri wanita itu di kantornya, padahal ia mengira jika Janessa yang akan mencoba menyembunyikan hubungan mereka. Tetapi sekali lagi dirinya salah, sungguh ia menyesal jika ia masih mengira wanita itu masih seperti yang dulu.


"Kita makan dulu Cari restoran Seafood! Aku pengen makan cumi, kata Gia cumi bakar enak banget."


Deandra tidak menjawab, rasa kesalnya masih ia pendam. Dia juga tidak mengerti kenapa Janessa ingin makan di restoran Seafood. Satu tahun bersama Deandra, membuat ia lumayan mengerti makanan-makanan apa saja yang disukai wanita itu.


Jane melirik Dean dengan ekor matanya. la tidak mau menatap langsung, karena ia tahu jika Dean sedang kesal kepada dirinya. Untuk menghilangkan rasa canggung, Janessa lebih memilih mainkan handphone nya. Dia tersenyum gembira setelah mengetahui Dress yang ia pesan satu minggu yang lalu sudah dikirim.


Sampai membuatnya tidak sadar, jika mereka sudah sampai di restoran Seafood yang ia inginkan. la baru merasa jika mobil mereka sudah tidak berjalan lagi.


Jane menoleh kearah kemudi dan tidak mendapati Dean disana, sehingga membuatnya menghela nafas panjang.


Dean memang sudah keluar lebih dulu. Tadinya ia ingin memberitahu wanita itu, tetapi ia mengurungkan niatnya karena melihat Janessa sedang asyik dengan handphone nya.


"Pesan cumi bakar dua porsi! Emm..." Dean membalik menu, ia mencoba mencari minuman apa yang kiranya akan diterima Jane. "lce Lemon Tea dua!" Tambah Dean, pleayan itu dengan sigap mencatat semua pesanan nya. Pelayan itu pergi bertepatan dengan kedatangan Jane.


Restoran dengan interior casual dining, Deandra tidak henti-hentinya melirik kesana kesini. Dia baru menyadari jika pelanggan kebanyakan para pekerja, terlihat dari pakaian formal yang mereka kenakan.


"Bang Dean!" Teriak histeris seorang gadis membuat Dean mendongkak lalu senyumnya mengembang menyadari jika ia mengenal gadis itu.


"Eca!" Ujar Dean. Membuat Janessa menoleh kepada gadis yang Dean panggil dengan sebutan Yeri itu. Ada rasa tidak asing bagi Jane, dan ia baru menyadari jika pemilik nama Eca, yang pernah mengirim pesan WhatsApp kepada Dean untuk menemaninya ke toko buku.


"Astaga! Kok kita bisa ketemu disini," Heboh Eca dan tanpa meminta izin ia langsung mengambil duduk di kursi kosong yang memang dalam satu meja sudah disediakan empat kursi.


Deandra melirik Jane sekilas. Ingin mengetahui apa respon dari wanita itu. "Eca sama siapa kesini?" Jane hanya bisa menghela nafas menyadari dirinya akan segera menjadi orang tidak dianggap diantara Deandra dan teman wanitanya.


"Sendiri Kak, tadinya mau ngajakin Mama tapi dia pergi arisan ke cafe sebrang sana!" Eca baru sadar jika Deandra tidaklah sendirian. Dia menoleh kearah Janes yang sekarang sedang melipat kedua tangan nya didada. Dia memberikan senyum kepada Jane, tetapi Jane hanya memberikan senyum tipis.


Eca mengulurkan tangan nya kepada Jane. "Hai Kak, aku Eca!"


Jane melirik Deandra sebelum memerima uluran tangan itu. Deandra menunjuk tangan Eca dengan bibirnya. Mengisyaratkan Jane untuk menerimanya. "Jane!" Singkat Jane sedingin mungkin, ia menjabat tangan Eca yang beberapa saat tadi mengantung.


Eca memperhatikan wajah Jane sangat intens. Dia sampai melotot karena menyadari sesuatu.


"Eh? Kakak model kan? Yang dulu dijuluki Princess Jane?" Eca benar-benar heboh, seketika suasana yang tadi mencengkram karena Jane dan Deandra saling mendiamkan berubah. Denada sampai tekekeh melihat antusias Eca, ia tahu jika gadis yang salah satu temannya dikampusnya itu sempat mengidolakan seorang Jane, karena bentuk tubuh dan wajah imutnya.


"Bang Dean kenapa gak pernah bilang kalau temenan sama Kak Jane sih?" Pekik Eca.


"Eca kan gak pernah nanyain itu."


"Bang Dean sama Kak Jane?" Tanya Eca, ia menyatukan kedua ujung jari telunjuknya untuk mengisyaratkan pertanyaan nya.


"Eum..." Deandra mencari cara, jujur ia tidak ingin jika ada yang mengetahui hubungan mereka sebelum Dean resmikan nya kembali.


"Ya! Saya pacarnya!" Jane menunjuk Deandra. Memberitahu jika dirinya adalah kekasih Deandra.


"Wah, keren!" Eca sampai menutup mulutnya tidak percaya. Dia melihat kearah Deandra berharap itu tidak mungkin, tetapi setelah melihat wajah datar dari Deandra membuatnya yakin. "Keren banget!" Gumamnya.


Beberapa Saat Berlalu.


"Masuk dulu! Pas itu Mami marah banget sama aku gara gara gak bawa kamu masuk dulu." Ujar Jane, ia sampai memasang mimik imut yang membuat Deandra ingin mencubit pipinya.


Sekarang mereka sudah berada didepan rumah Janessa. Padahal tadi Dean sempat memarahi wanita itu karena telah berterus-terang kepada teman kampusnya. Tetapi Janessa yang punya cara tersendiri untuk mengilangkan rasa kesal Dean, membuat Dean mau tidak mau mengakhiri amarahnya.


"Ini mobil siapa?" Penasaran Dean karena mobil Jaguar keluaran terbaru berwarna Silver didepan nya yang tidak pernah ia lihat sebelumnya dihalaman rumah Jane.


Janessa mempoutkan bibirnya, ada rasa penasaran juga dibenaknya. "Hum... Kayaknya punya kak Irene deh! Soalnya kemarin dia bilang mau beli mobil baru." Deandra mengangguk. la menerima alasan dari Janessa tentang kepunyaan mobil di depan mereka. "Ayo kita masuk!" Antusias Jane. Dia meraih lengan Deandra untuk segera ia peluk.


Mereka pun masuk seperti pasangan yang tidak akan terpisahkan. Jane yang sedari tadi menebar senyum kebahagiaannya, membuat Deandra ikut tersenyum. Bagi Dean sudah lama ia tidak melihat senyuman manis dari wanita dengan wajah judes itu.


Deandra menghentikan langkahnya setelah melihat orang yang tidak asing sedang duduk disofa ruang tamu keluarga Sempani. Janessa yang ikutan terhenti menatap bingung. la melihat reaksi Dean yang kini berubah tegang.


"Kalian udah datang Jane!" Janessa tersenyum kepada Aryna yang menyambut kedatangan Deandra.


Jane menarik tangan Deandra yang tidak mau diajak berjalan. la sangat kebingungan kenapa anak itu tiba-tiba bersikap aneh.


"Aku pulang aja yaa!" Ucap Dean dengan ekspresi memohon.


"Jangan!" Hardik Jane dengan wajah judesnya. la menggeleng beberapa kali.


Aryna menyipitkan mata mencoba mencari informasi atas apa yang dilakukan Jane dan Deandra.


"Kenapa masih disitu? Ayo duduk sini. Ini ada teman Papi." Ucapan Aryna membuat Ario Sempani dan teman nya itu menoleh secara bersamaan kearah tatapan Aryna. Deandra menelan salivanya susah payah ketika bertatapan dengan bola mata orang yang sangat ia kenal, didepan sana sedang duduk dengan wajah kaget.


Deandra mengigit bibir bawahnya setelah mendengar beberapa kata yang berbahasakan Medan dari Mario, ayahnya sendiri. Ario sampai menganga ketika sahabat bisnisnya itu berbahasa asalnya.


Sedangkan Jane menatap Deandra penuh selidik, ia mencoba mencari penjelasan lewat tatapan matanya. Karena ia tidak mengerti apa yang di katakan oleh Mario. Ucapan yang kedengaran lumayan panjang menurut Janessa.


Menurut Deandra, ia benar-benar harus ekstra mencari alasan. Sebenarnya ada rasa ingin jujur jika orang didepan sana adalah ayahnya. Tetapi ia juga tidak yakin jika sang ayah sudah merestui niatnya itu. Meskipun ayah dan ibu nya sudah menerimanya kembali tetapi belum tentu jugakan jika ayahnya akan membeberkan dirinya didepan teman-teman kerja dan bisnisnya.


"Dia, Putra bungsuku!" Tutur Mario, ia mengerti jika sahabat serta istri dan putrinya penasaran, apa yang membuatnya harus berbahasa asalnya.


Mario masih menatap sendu kepada Deandra yang sekarang ikut tersendu. Jujur Mario merindukan putra bungsunya itu, apa lagi sudah hampir tujuh tahun mereka tidak bertatap muka. la menyadari jika perubahan Deandra sangat drastis, yang dulunya terlihat acak-acakkan. Sekarang sudah terlihat agak dewasa. Mario juga yakin jika anak itu sudah berubah, tidak pembangkang lagi seperti dulu waktu di Medan.