
Satu Bulan Kemudian.
Hari-hari Deandra di penuhi dengan tugas deadline, dan manggung di cafe setiap malam selasa, kamis, dan sabtu bersama Brayen. Gajinya juga lumayan untuk biaya makan dan sewa kontrakannya.
Tapi sifat dinginnya semakin menjadi, dia masih belum bisa menerima orang baru di kehidupan nya. Padahal banyak wanita yang mendekatinya terang-terangan. Bahkan ada yang lebih cantik daripada Jane, wanita yang dicintainya.
Sekarang Dean sedang menikmati sore hari di tempat biasa yang dia datangi selama tinggal di Jogja. Lagi-lagi dia hanya bisa melamun. Sambil menikmati angin yang berhembus, tak jarang bibirnya mengukir senyuman kecil.
"Astaga.. Kamu hampir tiap hari kesini yaa," Ucap seorang nenek, pemilik kontrakan.
Dean menoleh nenek itu, lalu tersenyum. "Tempatnya bagus Nek!"
Tempat itu memang bagus, dari situ terlihat atap-atap perumahan. Karena lokasinya di dataran tinggi. Jika malam, lampu-lampu rumah akan terlihat indah.
"Apa kamu gak mau berbagi cerita sama Nenek?" Goda nenek itu.
Dean tersenyum lebar, nenek disamping nya selalu berusaha untuk membuat Deandra mau terbuka.
"Kamu tau?" Ucap nenek itu lagi. "Kata orang, ada tiga hal yang gak ada di dunia ini," Refleks Deandra menatap nenek itu. "Hal-hal yang gratis, jawaban dan rahasia,"
"Jadi Nenek gak akan maksain kamu buat berbagi rahasia itu, karna itu milik kamu!" Tambah sang nenek.
Deandra menatap lurus kedepan. "Nenek tau gak, kalau aku sekarang lagi bahagia?" Dean memejamkan matanya, sambil menikmati hembusan angin. "Karena angin ini, seolah olah memberi pesan sama aku kalau dia di sana lagi tersenyum bahagia,"
Nenek itu tersenyum, lantas tangannya menepuk-nepuk bahu Dean. "Orang itu sangat beruntung," Tutur nenek, yang usianya kira-kira enam puluh delapan tahun keatas.
"Jane! Apa kamu udah bahagia sekarang? Apa kamu juga udah lupain aku? Akh! Harusnya aku gak nanyain soal itu kalau udah tau jawabannya apa!" Batin Dean.
Hari-hari Jane sekarang diwarani oleh Andry, dan pekerjaan. Hampir setiap malam mereka pergi Dinner. Entah bagaimana, mungkin Jansssa sudah melupakan Dean. Terlihat dari wajah nya yang selalu memancarkan senyuman bahagia.
Seperti saat ini, ia sedang jalan-jalan ke taman bersama Andry. Tangan yang sedari tadi berpegangan seperti tidak mau lepas.
"Kamu mau es krim gak!" Tanya Andry, Jane mengangguk menyetujui.
Lantas Andry membeli dua es krim, lalu memberikan nya kepada Jane. Wanita itu tak henti-hentinya memperhatikan es krim yang di berikan Andry. Sang pria menatap bingung kenapa kekasihnya itu tidak juga memakannya.
"Kamu gak suka?" Penasaran Andry menyadarkan Jane.
"Akh! Suka kok Mas," Jane memakan es krim itu, pikiran nya melayang entah kemana.
"Lain kali kamu harus coba makan es krim sendiri kalau aku gak ada!"
Jane seketika teringat kata-kata Deandra. Bagaimana cara Dean tersenyum manis mengatakan hal itu.
"Tanpa sadar aku slalu ngingat pesan kamu!" Batin Jane.
"Jane! Mas mau ngajak kamu tunangan, menurut kamu gimana?" Pipi Jane merona mendengar ucapan kekasihnya itu.
"Mas serius?" Tanya Jane, Andry mengangguk mantap.
"Apa kamu mau?" Jane mengangguk malu. "Ututu! Kamu masih aja suka malu malu gini yaa sama Mas. Dua bulan lagi kita wujudin yaa," Beritahu Sean.
Dua Bulan Kemudian.
Deandra POV.
Sudah tiga bulan aku berada disini. Tetapi jiwa ku masih tetap juga berada disana. Rasanya semakin hari semakin sering aku mikirkannya. Apa dia sudah makan? Apa dia tidur cukup? Apa dia sehat? Apa dia bahagia? Apa dia tahu jika aku disini selalu mendoakan kebahagiaan nya?
Jika kamu pikir aku sudah melupakan mu, kamu salah Jane. Aku tidak akan pernah melupakan mu, karena biar bagaimana pun aku berusaha tetap itu tidak akan berhasil. Aku hanya bisa mengiklaskan, bukan melupakan.
"Kalau kamu tau, aku sekarang jadi makin cengeng! Tiap kali inget kamu pasti air mata ku jatuh sendirinya," Aku selalu bermonolog.
"Angin, tolong kasih tau dia kalau aku lagi lagi kangen banget sama dia!"
Ternyata nenek pemilik kontrakan. Beliau memang sering menemaniku disini, beliau sangat baik dan juga ramah. Kehadirannya selalu bisa menghiburku, tak henti-hentinya beliau mencoba membuatku terbuka, tapi aku tidak bisa membagi dan menceritakan semua keluh kesah ku.
"Kamu harus yakin," Ucap nenek sambil mengelus bahuku. "Kalau Tuhan slalu punya hal baik, untuk setiap hamba-Nya. Nanti, akan datang kebahagiaan, buah dari kesabaran kamu. Saat air mata kamu jatuh bukan karna kesedihan lagi, melainkan karena kebahagiaan yang tak tertahankan," Tambahnya, aku hanya bisa menatap bangga pada nenek ini. Lagi-lagi ia selalu pandai berkata-kata dan memotivasi.
"Nenek liat cuma kamu yang gak pernah bawa cewek kesini," Penasaran nenek.
Aku hanya bisa menggeleng. "Hati ku masih di miliki Jane seorang," Andai aku bisa mengatakan itu, tapi sayang itu hanya bisa ku katakan dalam hati.
"Aku pengen fokus sama pendidikan ku dulu Nek! Belum saatnya buat mikirin cewek," Ucap ku.
Memang benar, di lain sisi hati ku masih dimiliki Jane, dan disisi lain nya aku ingin fokus mengejar gelar Sarjana tingkat satu ku. Aku harus mempertahankan beasiswa ku.
Deandra POV END.
Di tempat lain. Jihan mengela nafas, melihat Jane yang sedari tadi melamun diruang tamu. Sebenarnya ia malas untuk mengobrol dengan Jane, sejak kejadian waktu Jane lebih memilih pria lain dari pada mempertahankan Deandra. Karena jujur saja Jihan sempat menyukai Dean, dan menurut Jihan, Janessa sudah menyia-nyiakan anak itu.
Jihan duduk di sofa, tangan nya memegang remot televisi lantas segera menghidupkan nya. Janessa langsung merespon kedatangannya.
"Kakak!" Rengek Jane. "Kamu mau kayak gini terus?"
Nihanmenatap nya datar. "Udahlah! Lagian percuma juga kalau terus terusan ngomelin kamu. Dean nya udah gak disini,"
Jane menatap sendu kakaknya itu, dia tau Jihan mencari Deandra sampai sekarang. Tapi tidak dengannya, dia hanya teringat Deandra sesekali. Itupun jika mengenai hal-hal yang berhubungan dengan Deandra. Tapi jauh dilubuk hatinya, ia masih mencintai Dean meskipun sudah terbagi. Jane melihat boneka pemberian Dean, yang sengaja disimpan dekat televisi.
"Maafin aku, Ndra!" Batin Jane.
"Bukan nya besok malem acara tunangan kamu sama Mas Andry?" Tanya Jihan.
"Iya Kak!" Jane sumringah.
"Huft! Aku gak percaya kalau kamu akhirnya milih Mas Sean," Lirih Jihan, Jane menatapnya bingung. "Kamu mau tau gak Jane? Apa yang Deandra bilang pas dia mergokin kamu di club sama Mas Andry?"
Jihan menghela nafas, lalu menatap Jane. "Dia nitip pesan sama Kakak, buat jagain kamu slalu!" Sekilas raut wajah Jane berubah.
"Ckck! Dia bodoh banget, mau aja berkorban demi kebahagiaan kamu," Kesal Jihan.
Jane kesal. "Kak, Please! Jangan bahas dia lagi! Kalau dia emang cinta sama aku, harusnya dia pertahanin aku! Bukan malah nyatuin aku sama cowok lain, dan untungnya sekarang cowok itu orang yang aku cintai. Lagian kami juga pisahnya baik-baik!" Maki Jane sungguh dia kesal jika Jihan selalu menyalahkan nya atas kepergian Deandra.
"Huft! Terserah kamu deh, kakak udah capek bilangin nya!" Celetuk Jihan lantas dia pergi meninggalkan Jane yang masih di selimuti kekesalan.
Keesokan harinya. Hari ini, tepat hari pertunangan Jane dan Andry pun tiba, yang diadakan di gedung mewah. Ratusan orang yang ikut memeriahkan acara tersebut, mengundang penyanyi terkenal Ibu Kota.
Semua orang nampak bahagia, begitu juga dengan Jane dan tunangan nya. Pemasangan cincin pun selesai, semua orang yang mendatangi acara bersorak-sorai.
Aryna duduk bersama Jihan. "Jane gak ngundang Deandra ya?" Tanyanya kepada Jihan.
Ibunya itu memang tidak tahu jika Deandra sudah tidak di Jakarta, bahkan sudah tidak di Jakarta lagi menurut Jihan.
"Gak mungkin dia bisa dateng Mi!" Lirih Jihan membingungkan Aryna. "Sejak perpisahannya sama Jane, dia ngilang tanpa jejak!"
Aryna menghela nafas panjang. "Huft! Mami udah kepikiran soal itu semua, terbukti setelah dia pamitan sama Mami,"
Jihan melirik Ibunya. "Dia juga pamitan sama Mami? Apa dia ada bilang mau pergi kemana?" Heboh Jihan.
Aryna menggeleng. "Dia cuma bilang kalau dia udah putus sama Jane, padahal Mami suka sama dia orangnya baik gitu,"
"Perhatian-perhatian!" Andry ingin memberi pengumuman di depan podium. "Saya berdiri disini ingin menyampaikan. Jika saya akan menikahi Janessa lima bulan lagi," Seluruh tamu bersorak.
Andry berlutut di depan Jane. "Jane! Kamu mau kan menikah sama Mas?" tanyanya sambil menggenggam tangan Jane.
Jane mengangguk mantap sambil tersenyum manis. Lalu Andry berdiri dan langsung memeluknya erat.