
"Aku nggak salah liat kan? Disini beneran tempatnya? Atau kamu sengaja bawa aku kerumah nenek dulu?" Tanya Jane bertubi-tubi.
"Hum... Gak tau yaa... Aku dulu tinggal di sekitaran sini soalnya,"
"Hah? Kamu serius Ndra?" Jane menatap tidak percaya, ia mencari kebohongan dimata Dean, tetapi tidak mendapatinya.
Deandra bercakak pinggang sambil berdecak kesal dibuat reaksi kaget Jane. Bagi Janessa, ia masih tidak bisa percaya jika Dean tinggal di perumahan milik neneknya. Seharusnya ia bertemu Dean sebelumnya waktu dulupernah sempat menemui neneknya.
"Aku dulu pernah liat kamu sama cowok itu kesini." Akhirnya Dean mengakuinya. Dia berjalan meninggalkan Jane yang speechless setelah mendengar pengakuan nya.
"Aishh.. Tungguin aku!" Teriak Janessa, ia berjalan hati-hati menaiki tangga jalanan perumahan milik neneknya karena mengunakan heels. "Ndra! Kamu beneran ada liat aku sama si bajingan itu?!" Lagi Jane berteriak tetapi tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Dean dan membuat Jane harus menyimpan kekesalan nya lagi.
Deandra benar-benar tidak memperdulikan wanita itu. Ia malah semakin berjalan cepat meninggalkan Janessa yang sekarang jauh dari pandangan nya. Tidak perlu waktu lama baginya untuk sampai di atas, dirumah nenek Puspa yang sudah ia rindukan.
Dean mengetuk pintu beberapa kali. Muncul seorang wanita paruh baya yang dulu sering membawakan nya makanan. "Deandra!" Wanita paruh baya itu langsung berhambur memeluk Dean.
"Bibi apa kabar?" Dean tersenyum manis kepada wanita paruh baya pengasuh nenek Puspa itu.
"Baik-baik saja. Ayo masuk Nenek lagi nonton siaran televisi di dalam." Ajaknya, ia membuka pintu lebar-lebar.
"Ishh nyebelin banget kamu! Malah ninggalin aku." Jane yang kini nafasnya sedang mengebu-gebu karena kelelahan menaiki anak tangga.
Bagaimana tidak, karena tangga yang lumayan panjang. Perumahan nenek Puspa yang sangat unik dan pernah menjadi tempat syuting serial Televisi. Tak jarang banyak orang yang kadang mengambil Foto di tempat itu.
"Non Jane!" Pekik wanita paruh baya itu. la benar-benar dibuat kaget hari ini, karena kedatangan Deandra dan Jane secara bersamaan.
"Nenek ada didalam?" Tanya Janessa, yang hanya menerima anggukkan dari orang yang ditanya.
Jane masuk terlebih dahulu. la sengaja meninggalkan Dean, kali ini biarkan ia yang berkuasa. la masih kesal dengan Dean.
"Nenek..." Teriak Jane, ia berlari mendekat dan langsung memeluk wanita yang sudah dipenuhi uban itu. "Hum... Jane kangen banget sama Nenek," Rengeknya.
Neneknya bingung kenapa Jane berubah menjadi manja kepada dirinya, pedahal dulu selalu bersikap dewasa di depannya.
"Deandra..." Tutur sang nenek setelah melihat keberadaan Dean di depan sana yang sekarang tersenyum manis kepadanya.
Nenek Puspa mengendorkan pelukkan dari Janessa. la melepas pelukkan itu dan langsung menghampiri Dean. " Ya Tuhan... Kamu benar Dean? Nenek kira salah liat," Ucapnya, ia meraih bahu Dean yang sebatas kepalanya untuk segera ia peluk. Dean mengerti, ia men-sejajarkan dirinya agar bisa dipeluk oleh nenek Puspa.
Bukan hanya pengasuh Nenek Puspa ternyata yang hari ini banyak terkejut. Ternyata Jane juga sedang mengalaminya, ia sampai menganga melihat nenek nya lebih memilih Dean, yang ia tidak ketahui sejak kapan mereka dekat.
"Nenek.." Rengek Jane sampai menghentak-hentakkan kakinya. Sungguh ia kesal dengan Dean dan neneknya secara bersamaan.
"Kamu bilang mau nyamperin pacar mu di Jogja?!" Janessa merasa dibodohi oleh Dean, ia juga menyayangkan dirinya yang terlalu percaya kepada anak itu. la bersumpah jika dirinya tidak akan percaya semudah itu lagi kepada Dean.
Sekarang mereka sedang menikmati teh hangat diruang keluarga. Nenek Puspa baru mengetahui jika sebelumnya Dean dan Janessa dekat. Itu pun karena Deandra baru menceritakan nya barusan.
Jane mendengus, ia memutar bola matanya jengah. "Deandra Malik! Kamu sadar siapa yang cucunya disini?"
"Astagaa... Jangan pada ribut, bicarakan baik-baik kan bisa!" Tutur Nenek Puspa. Nenek Puspa menatap cucu kandungnya itu dengan lirih.
"Jane! Nenek tau kalau kamu pernah salah memilih pasangan. Nenek harap kamu bisa menjaga pilihan kamu yang ini," setelah mengatakan itu, ia langsung menoleh kearah Dean yang duduk bersampingan dengan Jane.
"Dan kamu! Nenek rasa, kamu udah sangat lama mengurung diri karena seorang wanita yang Nenek yakin tau orangnya siapa," Dean menatap nanar kepada Wanita yang sudah dipenuhi uban itu.
Ini lah yang Deandra inginkan dari sesosok nenek. Tetapi ia tidak pernah merasakan hal itu, dan baru merasakan nya setelah kehadiran Nenek Puspa yang mampu mengubah cara pandangnya.
Nenek Puspa meraih tangan Jane dan Dean secara bersamaan. Lalu menyatukan tangan itu dengan kedua tangan nya menjadi penyatu.
"Nenek harap setelah ini kalian bisa berbahagia. Nenek akan selalu merestui dan mendoakan kebahagiaan kalian." Tuturnya, ia tersenyum dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Deandra dan Janessa refleks saling bertatapan. Mereka tersenyum lega lalu mengulurkan tangan untuk memeluk nenek Puspa secara bersamaan. Bagi nenek Puspa, tidak ada yang lebih membahagiakan selain menyatukan kedua orang yang saling menyayangi. Apalagi Janessa yang notabene adalah cucu nya sendiri, dan Dean yang ia sudah cukup mengenal karakter anak itu. la cukup yakin jika Jane akan bisa hidup bahagia jika Dean disampingnya.
"Kamu harus tau kalau ini tempat favorit aku selama tinggal di Jogja." Dean memberitahu Janessa tentang semua tempat yang ia pernah kunjungi dibusan. Sekarang mereka sedang mengobrol berdua ditempat biasa Dean sering menenangkan pikirannya dulu. Janessa juga mengakui jika tempat itu sangat nyaman, ia sampai menutup kedua matanya lalu menghirup udara segar dengan rongga hidungnya.
"Tempatnya nyaman," Gumam Janessa, menikmati susana malam dikota Jogja.
"Tunggu! Jadi selama kamu disini, kamu hanya kekampus, ikut Brayen nyanyi di Cafe, dan kesini?" Janessa mulai menyadari jika Dean hanya menceritakan dirinya hanya pernah mengunjungi tempat-tempat itu.
Melihat Deandra yang hanya menjawab dengarn anggukkan membuat Jane tersenyum dalam hati. "Jadi benar apa yang bilang Brayen kalau kamu gak pernah bisa move on dariku? Ck! Bilangnya ada pacar baru di Jogja," Cibir Jane, dalam hatinya ia bersyukur jika Dean tidak benar-benar memiliki kekasih. Meskipun dirinya sempat kesal karena telah dibohongi.
Deandra tidak menanggapi cibiran dari Jane. la memegang kedua bahu Janessa dan langsung memutarnya untuk segera berhadapan langsung dengannya. Sejurus mereka saling bertatapan tepat ke manik mata. Dean tersenyum, ia memegarng kedua tangan Jane.
"Aku gak pernah nyangka kalau kita bakal di persatukan lagi kayak gini. Kamu tau, kalau aku hampir ingin ngelupain kamu setelah liat kamu sama anak kecil itu," Lirih Dean, ia tersenyum kecut, lalu mengela nafas pelan." I love you.." Ujarnya yang lebih terdengar berbisik.
Jane mengembangkan senyuman nya, ia menatap Dean nanar. "Aku juga mencintaimu..."
Senyum Dean mengembang, ia mendekatkan wajahnya kepada wajah Janessa. dalam waktu sekejap ia sudah berhasil menyatukan bibirnya dengan bibir Jane.
Tangan Deandra refleks memegangi tengkuk Janessa membuat empunya memeluk pinggang Dean. Ciuman Deandra yang lembut tapi terlihat agresif secara bersamaan membuat Jane kewalahan. la sampai mengambil nafas beberapa kali, tapi Dean yang memang tidak memberikan jeda masih tetap berusaha membuat wanita itu panas dingin.
Bagi Jane ciuman Dean selalu bisa membuatnya melayang. Bahkan ia sampai sesekali meringis menerima ke agresifan dari Deandra.
Deandra berniat menurunkan ciumannya di leher Jane, tetapi dengan cepat Janessa menahan dadanya membuat Dean seketika sadar dengan perbuatannya. Mereka lagi di tempat umum sekarang, siapa saja bisa melihat kelakuan nakalnya nanti dan itu pasti akan sangat memalukan, pikir Jane.
Hal itu membuat Dean mengalihkan kecupannya ke kening Janessa penuh sayang. Seolah-olah ia menyampaikan rasa cintanya lewat kecupan itu. Janessa hanya bisa menutup kedua matanya, lalu tangannya terulur untuk memeluk pinggang Dean.
Deandra mengakhiri kecupannya, dan langsung memeluk Jane. Mereka berpelukkan dengan penuh kebahagiaan sekaligus rasa haru karena tidak menyangka akan dipersatukan kembali. Terutama bagi Deandra yang sangat sadar dan mengira jika orang yang ia cintai telah bahagia bersama orang yang menjadi pilihan nya. Begitu juga dengan Jane, yang hampir menyerah mencari keberadaan Dean.
Jane juga banyak merutuki dirinya sendiri baginya menyesal saja tidak cukup untuk menebus semua kesalahan nya kepada Dean dan dengan semua pelajaran ini Jane berjanji ia tidak akan mengulang kesalahan yang sama, ia juga menyadari jika dirinya sangat membutuhkan Deandra untuk berada disampingnya. Sangat sadar telah mencintai Deandra, yang dulu sering membuatnya kesal saat dirinya sempat menjadi Kepala Sekolah di tempat Deandra bersekolah.