
Marcos melaju ke sebuah pegunungan dan di pegunungan itulah Marcos ingin menghabisi Archilles.
" Sebentar lagi kita akan sampai " ucap Marcos sambil tersenyum menyeringai
" ...... " Archilles hanya diam tidak berkata sedikitpun
Tidak lama kemudian Marcos menghentikan laju kendaraannya.
Di pegunungan inilah Marcos selalu menjebak musuh musuhnya dan mengakhiri hidup musuhnya.
Archilles mengikuti Marcos dengan santai tanpa berbicara sama sekali dan tiba tiba
Bruuuukkkk..... Marcos membanting tubuh Archilles dan mengunci pergerakan Archilles
" Siapa kau sebenernya? " tanya Marcos
" Harusnya kamu tahu siapa aku! " balas Archilles
" Apa benar kau Steve?! " tanya lagi Marcos
"Bagaimana kamu melihatku?! " tanya Archilles
" Mana mungkin kau Steve, dia sudah mati ditanganku sendiri" Ucap Marcos
" Jadi kamulah yang membunuhnya?! " Tanya Archilles yang sudah geram
" Benar... akulah yang membunuh Steve dan Istrinya .... hahahahahaha" Ucap Marcos sambil tertawa terbahak bahak
" Akhirnya aku menemukanmu! " ucap Archilles
" Sekali lagi aku bertanya padamu! Siapa kamu sebenarnya?! " bentak Marcos geram
Archilles bukannya menjawab malah tertawa dan mulai menyerang balik Marcos.
" K-kau.....!" ucap singkat Marcos yang terdorong pukulan Archilles
'Sial! siapa sebenarnya dia?! kenapa kekuatannya begitu besar' batin Marcos
"Jadi kamu ingin tahu siapa aku?!" tanya Archilles yang merubah wujudnya menjadi manusia dengan wajahnya yang memakai topeng
" Benar!!! Siapa kau sebenarnya?!" jawab Marcos
" Aku adalah malaikat pencabut nyawamu! " teriak Archilles yang langsung melesat menyerang Marcos.
Namun Archilles dihadang beberapa anak buah terkuat Marcos. Akan tetapi Archilles dengan santainya membantai mereka dengan sekali serangan.
" A-apa?! bahkan anak buahku dengan mudah dibunuh dengan sekali serang!" Gumam Marcos
" Kau mungkin bisa membunuh anak buahku tapi kau belum tahu kekuatanku sebenarnya!" Ucap Marcos sombong
" kalau begitu keluarkanlah kekuatanmu tuan Marcos" tantang Archilles
" Sombong sekali kau.... baiklah aku tidak akan segan segan mengambil nyawamu!" ucap Marcos lalu dengan membabi buta menyerang Archilles tanpa berhenti.
Akan tetapi semua serangan Marcos dapat ditepis semua oleh Archilles. Pada akhirnya Marcos kelelahan dan kehabisan tenaganya. Archilles hanya mendapatkan luka luka kecil di tubuh.
" hahahaha....kenapa?! sudah kelelahan kah?" ucap Archilles menyeringai
' sialan ...kenapa bisa dia menghindari semua seranganku... aku harus menggunakan kekuatan terakhirku...aku tidak mau mati ditangannya' batin Marcos
" Sekarang giliran ku!!" teriak Archilles
" sial!! " Ucap Marcos menghindar dari serangan Archilles
Namun Marcos tidak bisa menghindar selamanya karena serangan terus menerus dan kejaran dari Archilles membuat Marcos kewalahan menghadapi Archilles.
Archilles akhirnya mengeluarkan pukulannya dan membuat Marcos terpental dan menabrak beberapa pohon hingga akhirnya menabrak sebuah tebing.
" ke-kenapa kau begitu kuat, sebenarnya siapa kau?!" tanya Marcos tertatih tatih
" Paman...kamu harus mati ditanganku " Ucap Archilles sambil memegang leher Marcos
" Ke-kanapa kau memanggilku paman?!" tanya Marcos lagi
" Wah .... paman tidak mengenali ponakan sendiri, amat sangat disayangkan" Jawab Archilles
" Asal paman tahu, aku datang menemui paman untuk balas dendam kematian ke dua orang tuaku yang paman bunuh " lanjut Archilles
" Ja-jadi k-kau ... anak dari Steve? ...uhuk..uhukk " tanya Marcos lagi
" Benar sekali paman " Jawab Archilles yang sudah mulai mencekik Marcos
" T-tolong lepaskan aku, ampuni aku, kasihanilah aku pamanmu !" mohon Marcos
" Apakah paman ketika membunuh ke dua orang tuaku punya belas kasihan, hah?!" bentak Archilles.
" I-tu tidak semuanya yang merencanakan aku, tapi pamanmu Dean yang menjadi otak pembunuhan Steve dan Anna" Jelas Marcos.
" Baiklah, terima kasih paman sudah memberi tahu aku, tapi maafkan paman keponakanmu ini tetap harus membunuhmu, karena kebahagiaanku waktu itu telah kalian renggut " Bisik Archilles ditelinga Marcos dan dengan ganasnya Archilles menggigit leher Marcos dan menghisap darah Marcos sampai habis tak tersisa lalu membuangnya begitu saja.
" Paman Dean aku akan segera membunuhmu juga! " ucap Archilles dengan mengepal tangannya dengan erat.