
Marcos segera kembali ke tempatnya dengan buru buru. Ada amarah dalam dirinya karena rencana yang selama ini dia susun sebagian telah sia sia.
'Sial, apakah benar Steve masih hidup?! bisa bisa rencana yang sudah aku susun secara matang akan hancur seketika' batin Marcos
Marcos melaju dengan sangat kencang agar cepat sampai dan melihat sendiri apakah yang bersama ayahnya Alarick benar benar saudaranya Steve.
Di kastil Alarick
"Nak, kamu benar benar sangat mirip ayahmu" ucap Alarick
" Terima kasih kakek, berkat latihan dari kakek, aku bisa berubah sesuka hati " Ucap sang cucu yaitu Archilles
" aku tidak menyangka kamu belajar dengan cepat, Nak " ucap Alarick senang
"Tapi .... apakah ini akan berhasil memancingnya?" Ucap Archilles pada kakeknya.
" Sebentar lagi kamu akan melihatnya" Ucap Alarick
" tetaplah berwujud seperti itu, aku ingin tahu bagaimana reaksinya dan kamu juga dapat memastikan pembunuh Ayahmu" lanjut Alarick
" Baik kek " Ucap Archilles
" Kakek harap Marcos tidak terlibat, namun jika dia benar benar terlibat aku sendiri yang akan membunuhnya!" Ucap Alarick
" Kenapa mereka kejam dengan saudara sendiri?" tanya Archilles sedih
" Saat itu kami benar benar sangat bahagia " Ucap Archilles sedih dan menggenggam tangannya dengan erat.
Alarick yang mendengar itu pun merasa bersalah karena gagal menjadi orang tua yang baik bagi anak anaknya.
" Maafkan kakek, ini karena kakek tidak bisa mendidik anak kakek dengan baik" Ucap Alarick sambil memeluk cucunya
" Sebenarnya Marcos bukan saudara kandung ayahmu, aku menemukannya waktu dia masih kecil dan ayahmu dengan sangat senang menerima dia sebagai saudaranya" Cerita Alarick
" Bagaimana dia tahu kalau dia bukan dari keluarga kakek?!" tanya Archilles
" Entahlah, bagaimana dia bisa tahu itu?! bahkan dia terang terangan ingin menjadi pemimpin di sini" jawab Alarick
" Ayahmu sebenarnya tidak peduli tentang kedudukan, bahkan dia mau mengalah dan menyerahkan tempat ini pada Marcos" ucap Alarick
" Suatu ketika dia pura pura baik dan itu membuat ayahmu begitu senang dan Marcos mengajak ayahmu pergi ke pesta rakyat untuk berjudi, namun Steve menolak dan dia hanya melihat dari jauh " Ucap Alarick
" Ayahmu menghilang dan aku benar benar sibuk mencarinya. Sepertinya itu sudah menjadi rencana awal untuk menghancurkan hidup Steve. Namun aku menyadari rencana mereka dan aku langsung mengambil alih pimpinan di sini" Lanjut Alarick
" Steve pulang dengan wajah begitu sedih dan pertama kalinya aku melihatnya menangis karena begitu mencintai ibumu nak" lanjut Alarick dan Archilles masih setia mendengarkan sang kakek
" Apakah kakek pada waktu itu juga menentang hubungan ayah dan ibu?" tanya Archilles
" Tidak, aku tidak melarangnya! karena aku melihat ayahmu yang begitu tersiksa merindukan ibumu dan kakek tidak tega melihat ayahmu seperti itu" jawab Alarick
" Aku datang ke rumah Caesar, untuk meminta ibumu menemui Ayahmu, namun Caesar melarangku bahkan jika aku kembali atau ayahmu datang akan segera membunuh kami" Lanjut Alarick
" Makanya kakek, salah paham dengan kakek Caesar gara gara dia mengatakan seperti itu" ucap Archilles
" Benar, waktu itu Marcos datang dan mengatakan kalau Caesar berhasil membunuh Steve" balas Alarick
" Waktu itu memang kakek Caesar marah hanya meminta ibu kembali dan tidak terlihat ingin membunuh ayah, namun tiba tiba ada anak panah yang mengarah ke kakek Caesar, ayah sepertinya tahu dan menghalangi anak panah itu dengan tubuhnya" Archilles yang menceritakan kejadian yang sebenarnya
" Bahkan waktu itu ayah meninggal dipangkuan kakek Caesar dan sebelum meninggal meminta untuk merawat aku" lanjut Archilles
" Aku benar benar merasa bersalah pada Caesar bahkan memburunya selama bertahun-tahun" Ucap Alarick sedih
" Tuaaaan....!!!" tiba tiba ada suara teriakkan dari seorang asisten