
Pagi itu sebuah senyuman terukir di wajah Elea karena perasaan bahagianya.
" Waaahhh.... hari ini sepertinya suasana di kamar ini penuh dengan bunga " sindir Aleta
Elea yang mendengar perkataan Aleta begitu tersipu
" Mana bunganya? " kilah Elea dengan bertanya
" Aleta... aku ingin jalan jalan... dan beli buah" lanjut Elea
" Aku tanya sama tuan Ceres dulu ya? " tanya Aleta dan Elea pun menyetujuinya.
" Bagaimana tuan? " tanya Aleta pada Ceres
" Biar nona Elea disini saja, Tuan sudah melarang saya untuk tidak membawa nona keluar kastil karna diluar berbahaya dan musuh tuan bisa saja mengincar nyawa nona Elea" Jelas Ceres
" Aku hanya ingin keluar saja...aku bosan berada di kastil ini... tidak jauh tuan...hanya mencari toko buah terdekat saja" pinta Elea.
" Maaf nona saya tidak mengijinkan anda keluar dari kastil ini...saya akan membelikan buah yang anda inginkan nona" Jawab Ceres tegas
" Aku tidak mau! " teriak Elea kesal dan langsung membaringkan tubuhnya agak kasar.
Tiba tiba Aleta menarik tangan Ceres dan berjalan keluar kamar Elea.
" Tuan!!... " panggil Aleta dengan nada kesal pada Ceres
" Kenapa?! " balas tanya Ceres
" Jangan bikin nona kesal atau bikin stres dia...itu tidak baik buat janinnya" ucap Aleta
" Lalu saya harus bagaimana? ini demi menjaga nona dan bayinya juga!... Asal nona Aleta tahu.... ibu tiri nona Elea sudah keluar dari penjara... tuan takut kalau dia balas dendam dan mencelakai nona dan anaknya! " ucap Ceres membuat Aleta bingung
" B-bagaimana bisa ibu tirinya bisa dengan mudah keluar dari penjara?!" tanya Aleta
" Bagaimana tuan mengetahui masalah ini dengan detail? " tanya Aleta yang ingin tahu kebenaran penjelasan Ceres tadi.
" dengan menempatkan mata mata dirumah musuh, bahkan apa yang kamu lakukan setiap hari dan kebiasaanmu aku bisa tahu" Ucap Ceres dengan senyum miringnya.
" Apa maksudmu?! " Tanya Aleta
" Sudahlah... ayo kita membeli buah untuk nona Elea" ajak Ceres dan diangguki oleh Aleta
****
Rose yang saat itu sudah dibebaskan oleh Olivia meminta untuk mengunjungi anaknya Jenny disalah satu rumah sakit jiwa di kota itu dimana Jenny dirawat. Setelah tiba di sana, Rose begitu terpukul dengan keadaan yang dialami anak kesayangannya. Tangisannya Rose pecah melihat kondisi Jenny yang begitu menyedihkan.
" J-Jenny....." panggil Rose yang pelan oelan mendekati Jenny, namun Jenny tidak peduli, dan tidak menoleh sama sekali. Jenny yang berada di kamarnya terus memukul batal guling nya yang berada di tempat itu.
" aku orang jahat....kalian benar, aku orang jahat.... dan ibuku lebih jahat... hiks....hiks...." kata kata itu terus keluar dari mulut Jenny
Rose hanya bisa menangis dan memeluk Jenny dari belakang.
" Aku benci mamaku...karena membuat aku jadi orang jahat... aku benci dia...sangat benci dia...hahahhah" mendengar kata kata itu Rose tersentak dan hatinya sangat sakit dan menyadarinya bahwa dirinya memang jahat, tapi Rose tidak mau dibenci anaknya.
" Jangan benci mama, Jen... mama mohon " ucap Rose pada Jenny yang sudah menangis mendengar ucapan tersebut dan Rose semakin erat memeluk Jenny.
" mama?..." ucap Jenny tiba tiba, membuat Rose kaget saat Jenny yang dia rindukan memanggilnya mama
" I-iya nak, ini mama" jawab Rose
" Pergi mama dari sini, aku benci mama... mama jahat...pergi" Jenny meronta untuk melepaskan pelukkan Rose. Bahkan Jenny berteriak teriak dengan keras sampai para perawat datang untuk menenangkan.
" Aku tidak mau punya mama yang jahat...pergi...aku tidak mau punya mama jahat...pergi" teriak Jenny terus menerus terdengar sampai sebuah suntikkan menancap di lengannya dan membuat Jenny perlahan tenang dan tertidur.
Betapa hancurnya hati Rose mendengar kata kata yang dilontarkan padanya dan dia sangat frustasi.