
" kami mohon tuan, kami akan memperbaiki sikap kami...tolong jangan pecat kami " mohon kedua karyawan tersebut
" maafkan kami tuan" ucap manager wanita itu.
" Harusnya kalian meminta maaf pada Istriku bukan padaku " ucap dingin Ceres
" Nona, kami mohon maaf ... kami menyesal atas perbuatan kami" ucap kedua karyawan itu
" Aku sudah memaafkan kalian tapi aku tidak punya hak membantu kalian...karena aku hanya karyawan rendahan " ucap tegas Aleta
" Baiklah...kalian keluarlah... dan kemasi barang barang kalian" usir Ceres pada kedua karyawan tersebut.
Lalu dengan menyesal dan pasrah mereka keluar dari ruangan tersebut.
Aleta masih terduduk lemas badannya masih gemetaran. Dengan berlahan Ceres mendekati Aleta dan duduk di sebelahnya.
" Sejak kapan aku mau menjadi istrimu?! " Ucap Aleta sambil memalingkan wajahnya karena malu pada Ceres
" Hmmm.... sejak aku menciummu " Jawab Ceres santai
" Walau itu ciuman pertamaku...tapi alasanmu tidak masuk akal " Ucap Aleta
mendengar itu Ceres sangat senang karena bisa mendapatkan ciuman pertama Aleta.
" Apa kamu tidak ingin memiliki suami seperti aku? " tanya Ceres membuat wajah Aleta begitu panas dan dadanya berdebar dengan kencang mendengar pertanyaan Ceres
" T-tuan bolehkah aku pulang dan hari ini anggap saja aku tidak masuk" Ucap spontan Aleta dan hendak pergi melangkah. Akan tetapi belum sempet melangkah tangan Aleta ditarik oleh Ceres dan Aleta terjatuh dipangkuan Ceres.
" I-ini memalukan! " ucap Aleta sambil menutupi mukanya.
" Kenapa harus malu, kamu belum menjawab pertanyaanku, nona Aleta" Ucap Ceres berbisik dekat telinga Aleta.
" Lepaskan aku" teriak Aleta dengan mendorong tubuh Ceres
" Tidak! sebelum kamu menjawab pertanyaanku yang tadi" ucap Ceres sambil menggoda Aleta
" Aku tidak kenapa kenapa... lihat kan" ucap santai Ceres
" dan apa yang kuinginkan darimu....hmmm... mungkin tubuhmu " lanjut Ceres
" A-apa maksudmu ingin t-tubuhku?! Dasar mesum! lepaskan aku " Aleta benar benar kesal dan malu dengan apa yang dikatakan Ceres dan Ceres begitu senang dapat menggoda Aleta.
Tiba tiba Aleta terdiam dan terpaku ketika Ceres dengan santainya mencium bibir merah Aleta dan ciuman itu berlahan lahan turun ke leher Aleta
" ahh....h-hentikan!!!" Aleta yang tak pernah mengalami hal seperti ini benar benar merasa takut dan tubuhnya tidak berhenti bergetar. Aleta mendorong tubuh Ceres dan segera berlari ke keluar meninggalkannya.
' Kenapa tuan Ceres seperti itu?! ' batin Aleta sambil lari keluar dan pulang ke rumah
Dan di ruangan Ceres masih terpaku dia.
" hahahah...apa yang telah kulakukan?!...gadis itu jadi takut padaku " Ceres merasa frustasi dia menarik narik rambutnya
" bodoh sekali aku! " Dan Ceres merutuki perbuatannya.
Hari menjelang sore Aleta datang menemui ibunya dan memeluk erat sambil menangis sesegukan.
" Kamu kenapa sayang, anak ibu yang cantik tidak biasanya menangis begini?!" ucap bibi Eli
" Aku hanya ingin memeluk ibu sebentar " ucap Aleta yang masih menangis dipelukkan ibunya.
" Baiklah...ibu akan memelukmu sayang" bibi Eli memeluk Aleta dengan hangat sehingga akhirnya tertidur di pangkuannya
Bibi Eli melihat bekas memar di pipinya dan beberapa bekas merah di leher dan dadanya.
" Apa yang terjadi padamu anakku?! selama ini kau tegar dan tidak takut apa pun, apalagi menangis seperti ini ?!" gumam bibi Eli sangat khawatir pada Aleta.
" Nanti aku akan tanya tuan Ceres, apa yang sebenarnya terjadi pada Aleta " ucap dalam hati bi Eli