
Tiga hari telah berlalu
" Tuan jangan.....ah " Suara mendesah seorang wanita terdengar disebuah kamar
" Olivia kamu sangat cantik " Ucap seorang pria sedang melahap bibir Olivia
" Tu...hufftt...an..huftt.. Josh....mmmm... hen...emm...tikan...hosh....hosh.." Ucap Olivia patah patah karena ciuma
" Aku sudah tidak bisa menahannya...bolehkah melakukannya? " Ucap Josh dan diangguki oleh Olivia..
dan.....
Kring...............rrrrrrr..... suara alarm jam berbunyi.
Josh terbangun dari mimpinya dan langsung mengambil posisi duduk.
'A-apa yang kuimpikan tadi?!, **** ini tidak masuk akal' Batin Josh dengan wajah yang merah karena membayangkan mimpinya tadi.
" Apa yang harus aku lakukan dan ini sampai terbawa mimpi, kenapa aku juga harus mengikuti rencana Marin dan Archilles?! Aghhhh....Sial, aku memang harus melakukannya untuk Elea" gumam Josh frustasi dan mengacak acak rambutnya.
Setelah dengan pikirannya Josh beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berangkat ke kliniknya.
Disisi lain
" Ayah, aku pergi dulu ya" Pamit Olivia
" kamu, mau kemana?! " tanya Dean
" Aku ingin menemui seseorang " Ucap Olivia
" Hmmmm...." balas Dean lalu mengabaikan Olivia.
Olivia pun mengabaikan Ayahnya dan pergi. Olivia pergi menuju ke Klinik Josh.
' Aku sangat senang, sebentar lagi ketemu dokter ganteng' Batin Olivia girang.
Olivia menghadang sebuah taksi lalu pergi ke klinik Josh.
Di Klinik
" Belikan aku Sandwich dan cappucino panas" ucap Josh
" Aku akan istirahat di taman " ucap Josh pada Marin
Lalu Josh mengambil tikar dan keluar ruangannya lalu berjalan menuju sebuah taman. Di sana Josh berjalan menuju sebuah pohon yang rindang dan di bawahnya tumbuh rumput yang tebal. Josh selalu pergi ke sana untuk menenangkan pikiran dan hatinya yang kacau seperti saat ini yang dirasakan. Josh mulai membentangkan tikarnya dan merebahkan tubuhnya yang terasa lelah. Tanpa disadari Josh, Olivia mengikutinya dari kejauhan dan melihat apa yang dilakukan oleh Josh.
Josh mulai melihat daun daun dan dahannya yang bergoyang tertiup air, matanya lama kelamaan mulai terpejam dan tertidur.
Olivia berlahan lahan mendekati Josh dan duduk di samping Josh.
Deg... deg ....deg...Debaran di dada Olivia semakin menjadi jadi ketika melihat Josh tertidur dengan jas kebesarannya warna putih dan memakai kemeja warna biru mudah dan celana hitam panjang.
" Astaga, Dokter Josh benar benar sangat tampan, aku benar benar menyukainya hingga dadaku ini berdetak lebih kencang" Guman Olivia yang mulai ingin menyentuh wajah Josh, Bahkan ingin menciumnya.
Perlahan tangan Olivia mendekati wajah Josh dan mengusapnya.
" Bagaimana kalau aku menciumnya? selagi dia masih tertidur" masih dengan gumam Olivia yang masih belum puas hanya mengusap usap wajah Josh.
Kemudian dengan perlahan dan ragu ragu Olivia mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibir Josh.
Marin yang sudah selesai membelikan pesanan Josh melihat kejadian itu dan tanpa sepengetahuan Olivia, Marin merekam kejadian itu.
Josh yang merasakan ada sesuatu di bibirnya pun berlahan membuka matanya seketika membulatkan matanya. Alangkah terkejutnya Josh dan secara spontan mendorong Olivia agak kasar.
" A-aapa yang nona lakukan padaku?!" ucap Josh agak marah
" Ma-aafkan aku tuan, aku tidak dapat mengontrol diriku karena melihat tuan yang begitu tampan" ucap Olivia menjelaskan.
" Kau!!..." Josh tiba tiba teringat mimpinya tadi pagi dan membuat wajahnya jadi merah.
' sial, kenapa harus mengingat mimpi tadi pagi ! ' batin Josh tersiksa apalagi melihat Olivia yang sekarang ini benar benar di hadapannya begitu cantik dan menggoda.
Josh hanya bisa menahan dan beranjak pergi dari tempatnya beristirahat dan meninggalkan Olivia.
' Apa yang aku lakukan, pasti tuan Josh membenciku....akhhhh.... kau bodoh Olivia sangat bodoh' gumam Olivia merutuki dirinya sendiri.