
" Lepaskan ayah dan kakakku !!! " teriak Olivia dan menyerang Archilles dari atas namun langsung ditangkis oleh Archilles dan dengan cepat Archilles mencekik dengan kuat leher Olivia.
" aaakkhhh..... Le....pas....akh !!! " ucap Olivia tersendat sendat
"Archilles lepaskan Olivia paman mohon !! " Dean yang berjalan tertatih tatih dan memegang kaki Archilles memohon ampun untuk Olivia. Namun Archilles tidak bergeming sama sekali.
" Elea sekarang saatnya sadarkan Archilles " ucap Caesar dan diangguki oleh Elea.
Ketika hendak menuju ke Archilles Elea melihat Edward yang ingin menusuk Archilles.
Elea berlari menuju Archilles dan menangkis pisau Edward dan menggores sedikit bahu Elea. Archilles masih tidak bergeming sama sekali bahkan dia melempar tubuh Olivia dan menghantam tembok lantai lalu memukul Edward dengan kekuatan penuh hingga Edward terlempar jauh. Elea pun tidak luput dari kemarahan Archilles, dia menarik Elea dan memegang bahu Elea yang berdarah dan menggigitnya karena memang darah yang keluar dari bahu Elea sangat wangi jika tercium oleh kaumnya Archilles.
" Tu-tuan......aaaakhhh.... Sa-sakit " teriak Elea
Mendengar rintihan Elea, mata Archilles berubah menjadi biru kembali.
" Tu-tuan......... " panggil Elea dengan wajah tersenyumnya. Lalu Elea pingsan karena sebagian darahnya telah dihisap oleh Archilles. Terbelalaklah mata Archilles dan langsung melepaskan gigitannya.
" Elea bangunlah!! " teriak Archilles sambil mengguncang guncangkan badan Elea.
Lalu dengan segera Archilles membawa tubuh Elea dan kakeknya kedalam mobilnya lalu membawanya ke rumah sakit keluarga.
Beberapa saat kemudian Caesar dan Elea selesai dirawat lalu dibawa ke kamar masing masing.
" Maafkan aku Elea! " Archilles begitu merasa bersalah ketika melihat wajah Elea yang begitu pucat.
sudah dua hari berlalu namun Elea masih setia memejamkan matanya.
" Apa Elea belum sadar juga ? " tanya Caesar pada Archilles yang masih setia menunggu Elea untuk bangun.
" belum kek.... " ucap Archilles sedih
" Ini adalah kesalahanku kek " Archilles benar benar merasa bersalah dan wajah sedih terukir di wajahnya.
" Tapi aku takut kek...ketika dia sadar dia takut padaku dan menjauhiku " ucap Archilles sedih.
" Mudah saja...kamu hapus ingatannya " ucap Caesar.
" Tidak kek... aku tidak mau...aku ingin dia menerimaku apa adanya " tolak Archilles
" Apa kau benar benar mencintainya Archilles? " tanya Caesar
" Entahlah kek... perasaan apa yang kurasakan saat ini... yang aku tahu, aku tidak mau kehilangan dirinya." ucap Archilles pada Caesar yang mengerti maksud cucunya itu.
" Kakek akan kembali ke kamar.... masuklah siapa tahu dia sudah bangun" pamit Caesar pada cucunya.
Tidak lama kemudian Elea membuka matanya perlahan. Dia melihat atap atap langit dan memandang sekitar ruangan yang tidak ia kenali.
" Di-mana ini ? " tanya Elea bingung. Elea merasakan sakit pada salah satu bahunya.
" Aakh sakit! " Elea bangun dengan posisi duduk sambil memegangi bahunya yang begitu nyeri dan dia mencoba mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Ketika ingatan Elea kembali, tubuhnya kembali bergetar dan ketakutan saat mengingat Archilles yang berubah dan taringnya menancap di bahu Elea.
" Apakah semua nyata dan bukan mimpi?! " gumam Elea dengan air mata yang sudah mengalir membasahi pipinya dan badannya menggigil ketakutan.
"kenapa ini semua terjadi padaku?!... Ayah ibu .... Elea ingin ikut kalian saja! " Gumamnya lagi.
Ceklek ......... suara pintu kamar terbuka dan menampakkan seseorang ditakuti Elea.
Archilles dengan cepat mendekati Elea.
" Ja-jangan mendekat!! " teriak Elea. Archilles melihat tubuh mungil yang bergetar begitu ketakutan hatinya menjadi sangat tersiksa.
"Maaf.... " ucap Archilles dengan wajah sendunya. Elea tersentak dengan ucapan Archilles tersebut dan merasa sedih melihat wajah sendu Archilles.