
Josh POV
Hari ini aku benar benar merasa kesal dan lelah karena pemikiranku sendiri karena mimpi. Aku mencoba melepas lelahku dan aku mengambil sebuah tikar dan berjalan ke sebuah taman yang memang aku desain untuk melepas lelahku. Setelah sampai di taman aku membentangkan tikarku dan aku mulai rebahan di situ. Karena aku masih menganthuk aku pun tertidur sangat lelap bahkan aku sampai tidak menyadari Olivia sudah didekatku. Aku tidak tahu apa yang dilakukan sebelumnya. Aku tersadar ketika sesuatu menyentuh bibirku. Ketika membuka mataku aku melihat sosok wanita yang tidak ingin aku temui. Aku spontan mendorongnya dan pergi meninggalkannya. Entahlah, aku merasa Olivia begitu cantik dan menggoda. Mimpi itu tiba tiba muncul dibenakku.
" Tuan....!!" Aku mendengar teriakkan Olivia yang mengejarku, namun aku tidak peduli.
Aku tiba di ruanganku lalu duduk di kursiku dan tidak lama kemudian Olivia masuk ke dalam ruangku dan aku masih tidak mempedulikannya.
" Tuan, maafkan kelancanganku karena aku sudah tidak bisa menahannya " Ucap Olivia dengan wajahnya yang begitu sedih dan khawatir. Ketika aku melihat ekspresi wajahnya, benar benar cantik.
akhhh.... ada apa dengan diriku, kenapa perasaanku seperti ini. Aku benar benar benci pada diriku sendiri.
" Kamu ke sini ingin periksa kan?, duduklah di sana " Ucapku sambil menunjukkan tempat pemeriksaan.
" Baik " Jawab Olivia pelan
Aku mulai melangkah mendekati dirinya. Dadaku berdetak begitu kencang. Dia benar benar cantik dan menggoda padahal pakaian yang dikenakan cukup simple dan tidak terbuka.
" A-apa perlu aku buka baju, tuan?" Tanya Olivia
" Tidak!" Jawabku sedikit meninggikan suaraku dan membuatnya agak terkejut.
" A-apa tuan marah padaku karena aku menciummu?" tanyanya padaku dan wajahnya hampir menangis.
" iya aku sangat kesal dengan apa yang kamu lakukan! Sebenarnya apa maumu hah?!" Aku yang sudah mulai emosi
" aku menyukaimu tuan, sangat sangat menyukaimu, sejak tuan menolongku di bar waktu itu" dia menjawab dengan tegas dan menatap lurus ke arahku.
" Itu hal biasa, kita memang harus tolong menolong kan ?!" ucapku
" Tapi buat aku, hal itu luar biasa" balasnya
" Kamu cantik, bukankah kamu bisa mendapatkan banyak pria yang kamu inginkan?" tanyaku padanya
" Mereka hanya menginginkan tubuhku, bahkan ketika aku kesusahan mereka melihatku saja tidak dan sangat suka merendahkanku" Jawabnya padaku
" Tuan bahkan membelaku dan mengobatiku tanpa meminta aku untuk membayarnya" Lanjutannya.
" Apakah dengan aku melakukan hal seperti itu, lantas kamu mengejarku?" tanyaku padanya.
" Bagiku itu tidak biasa tuan, tuan berbeda dengan pria yang aku temui semua sama tapi tuan berbeda." Ucapnya membuat aku merasa agak senang karena ak beda dari pria lain.
" Tu....tuan sudah tahu tentang diriku? apa tuan takut padaku?” tanyanya padaku
" Tidak! aku tidak takut sama sekali padamu, tapi harusnya kau yang takut padaku nona?!" tanyaku padanya.
" Ke-kenapa aku harus takut dengan tuan?" tanya Olivia padaku
Aku mendekati Olivia dan aku menatapnya dengan tajam.
" Aku seorang pemburu vampir dan serigala!" Ucapku menakuti dia dan memang dulu aku seorang pemburu vampir dan serigala untuk balas dendam kedua orang tuaku. Namun aku berhenti memburu semenjak aku mengenal Archilles yang mati matian melindungiku waktu itu.
Dan aku heran, bukannya takut dengan perkataanku, dia malah memelukku dengan erat.
" Kalau tuan ingin membunuhku, aku rela mati ditangan tuan" Ucapnya membuat aku terkejut.
" Kau.... !!" wanita ini membuatku mati gaya.
" Aku tidak pernah memeluk seseorang seperti ini, tuan biarkan aku memelukmu dan tuan juga boleh kok memelukku " Ucapnya
" Aku juga rela tuan menyentuhku bahkan membunuhku" lanjutnya
" Lepaskan!!" Pintaku padanya.
" Tidak!! " tolak dia
" Nona, jangan memaksakan sesuatu yang orang lain tidak menyukainya... karena bukannya orang itu menyukai tapi malah lebih membencimu! " Ucapku padanya
Dan berlahan lahan dia melepaskan pelukkannya dan terlihat sangat sedih.
" tuan apakah membenciku?" tanya padaku
" Tidak!" jawabku singkat
" terima kasih karena tidak membenciku dan baiklah aku pergi" ucapnya dengan wajah sendu menahan untuk tidak menangis.
Wajah yang seperti itu membuatku tidak bisa menahannya ingin menyentuhnya.
Ketika Olivia hendak pergi spontan aku menariknya lalu menciumnya.