My Heart Is Only For You

My Heart Is Only For You
Story 75



Terpaksa Harus Meninggalkan Mu


.


.


.


🍏🍏🍏


Sebagai seorang pemain bola yang sudah terikat kontrak dengan sebuah clubs besar, Luan terpaksa harus kembali ke luar negeri dan meninggalkan Sarah di tanah air.


Sarah mendukung penuh keputusan suaminya walau dia sejujurnya merasa berat untuk melepaskannya. Sebelum keberangkatan Luan ke luar negeri, Luan mengajak istrinya untuk menginap di hotel.


Kali ini misinya harus berhasil tanpa gangguan. Namun Sarah menolak ajakan Luan untuk menginap di hotel. Sarah memilih ingin mengunjungi neneknya di desa.


Terjadi perdebatan kecil pagi itu.


"Sayang, 2 hari lagi aku harus kembali ke luar negeri. Bagaimana jika kita menginap di hotel saja? Kita tidak bisa bebas di sini," ucap Luan menggerutu.


"Gak, aku ga mau menginap di hotel sayang. Aku ingin mengunjungi nenek ku di desa. Bagaimana kalau kita ke sana besok sebelum kamu pergi ya?"


Huh! Sebenarnya aku ingin melanjutkan misi kita. Tapi yasudah lah apa boleh buat. Sebagai seorang suami yang baik aku harus mengalah. Lagi pula udara di desa sangat dingin. Cocok juga untuk melakukan misi ini. Hah! Aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah bayi kecilku.


"Baiklah, sayang."


Luan akhirnya mengalah dengan keputusan istrinya dan mengikuti kemauannya.


❇️❇️❇️


Keesokan harinya mereka berangkat ke desa. Sarah sangat senang karena sudah sangat merindukan neneknya.


Aku berharap semoga umur nenek bertambah panjang. Karena aku ingin mengenal kan buyutnya sebelum beliau tutup usia. Aku tahu Luan juga sangat menginginkan seorang bayi mungil. Apalagi orang tuanya dan orang tuaku yang belum memiliki cucu. Lucas dan adelia belum menikah. Jadi aku dan Luan adalah harapan pertama dari keluarga kami. Hah! Mengapa aku jadi gugup begini. Semoga saja aku bisa memberikan keturunan untuk keluarga kami.


Dr. Antonio dan J. Piter sudah berpesan, Jika Sarah memiliki anak nanti, Sarah dan Luan harus bergantian menginap di rumah mereka. Karena mereka ingin sekali selalu berada di dekat cucu mereka.


Adelia juga mengatakan bahwa dia akan berbagi kamar dengan keponakan mungilnya itu. Begitu juga dengan Lucas dia akan membelikan banyak sekali mainan untuk keponakan nya nanti.


Kembali kepada Sarah, ia menoleh ke arah Luan yang sedang menyetir mobilnya menuju ke desa. Dia menelan ludahnya saat membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam.


Bayangan seorang bayi dan harapan keluarganya selalu terngiang di kepalanya. Jujur saja dia takut untuk hamil. Sewaktu ia kecil dulu ia selalu mengunjungi ayahnya di rumah sakit dan melihat banyak sekali ibu-ibu yang sedang hamil.


Perut mereka membesar setiap bulannya. Sarah menjerit membayangkan jika perut itu akan meledak.


"Aaaaaaaaaahhhhhhhhhhh..."


Ciiiiiitttt... Brukk...


Luan mendadak menghentikan mobilnya karena terkejut mendengar jeritan istrinya.


"Sayang! Ada apa? Kamu ini kenapa?"


"Luan, aku takut hamil."


"Hahaha, apa? Kamu takut hamil? Kita sudah sah menjadi suami istri untuk apa kamu takut hamil sayang. Ada-ada saja kamu ini."


Plak... Plak... Plak...


Sarah memukul-mukul bahu Luan.


"His! Kamu tidak mengerti sayang. Bukan masalah itu. Aku takut perut ku akan semakin buncit dan membesar. Ba-bagaimana rasanya ada seorang janin di dalam tubuhku ini? Pasti akan sakit sekali. Dan aku pernah melihat seorang ibu yang melahirkan kan kemudian meninggal dunia. Aku takut Luan, aku takut."


"Lalu harus bagaimana lagi sayang? Itu memang sudah kodrat seorang wanita. Aku saja harus rela di potong burung ku waktu kecil. Tapi itu tidak lama sayang sakitnya hanya sebentar. Tidak sampai berbulan-bulan."


Plak... Plak... Plak...


"Hamil dengan di sunat beda sayang. Jangan di samakan! Hamil itu 9 bulan lamanya. Dan belum lagi saat melahirkan nanti. Aahhhhhhh... Aku tidak sanggup membayangkan nya," ujar Sarah sambil menutup wajahnya.


"Sama saja sayang."


"Sama dari mananya?"


"Hmm, tapi itu kan hanya sebentar sakitnya."


"His! Dasar wanita. Selalu ingin menang sendiri. Walau sudah ku jelaskan tetap saja tidak mau mengerti. Sabar lah Luan, kau adalah kaum laki-laki harus lebih banyak mengalah. Wanita memang di ciptakan dengan khusus dan berbeda. Mereka di berikan suatu kelebihan. Yaitu lidah yang tajam dan cerewet."


"Baiklah sayang. Sekarang tenanglah! Aku tidak bisa menyetir jika kamu menjerit seperti tadi."


"Ya, maafkan aku! Aku tidak bisa menahan rasa takutku."


"Kamu boleh protes nanti saja setelah kita sampai di desa sayang."


"Iya, baiklah. Aku akan diam."


Sarah menggambil bantal kecil di belakang dan di dekapnya dengan erat. Luan kembali melanjutkan perjalanan nya ke desa.


❇️❇️❇️


Setelah sampai di desa Sarah langsung menghampiri neneknya. Sarah mencium pipi neneknya dan memeluknya dengan erat.


Luan menurunkan barang-barang yang di bawanya dan masuk ke dalam rumah nenek Sarah.


Mereka melepas rindu dengan bercanda tawa. Sarah lalu menceritakan kegelisahan nya kepada neneknya. Neneknya tertawa dengan cerita yang Sarah ungkapkan. Lalu beliau memberi wejangan walau dengan gemetar karena usia nya yang sudah renta.


"Cucuku sayang, kau tahu aku hanya memiliki satu anak yaitu ibumu. Dan kau tahu apa yang aku rasakan saat kau lahir dulu? Rasa bahagia itu bukan main. Aku tak bisa menggambarkan betapa senangnya diriku kala itu. Kau seperti sebuah semangat di kala kesunyianku. Sayangnya kakekmu belum sempat melihat mu. Tapi aku yakin dia juga melihatmu dari surga. Itu lah mengapa kedua orang tua mu dan orang tua Luan sangat menginginkan seorang cucu. Mereka sangat kesepian sayang."


"Begitu ya nek. Lalu jika aku mati saat melahirkan?"


"Sayang... Kelahiran, jodoh, dan kematian itu sudah di tentukan oleh yang maha kuasa sebelum manusia itu lahir. Mereka sudah memiliki garis hidup masing-masing. Jadi jangan takut sayang. Semua orang pasti akan mengalami kematian."


"Baiklah nek. Aku akan mencoba mengumpulkan keberanian ku. Nenek, berjanji lah bahwa nenek akan menunggu buyut nenek lahir. Jangan tinggalkan aku sendiri nek. Nenek tahu aku sangat menyayangimu lebih dari diriku sendiri."


"Nenek akan mencoba menjaga kesehatan nenek. Namun nenek tidak bisa berjanji untuk bisa hidup lebih lama sayang."


Sarah menangis sambil memeluk neneknya dengan erat. Dia benar-benar belum siap kehilangan nenek yang ia cintai sejak kecil. Nenek yang selalu merawatnya menggantikan ibunya yang sudah meninggal dunia.


.


.


.


πŸ€ Bersambung... πŸ€


###


.


.


.


Apa kabar semua... 😊


Hmm, menurut kalian yang sudah merasakan nya. Lebih sakit melahirkan atau di sunat?


Hahaha.... πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Galau kan jawabnya...


Sudah lah lupakan pertanyaan gurauan itu.


Nantikan terus episode MHIOFY selanjutnya ya...


Jangan lupa like, komen dan vote sebagai bentuk dukungan kalian. 😘


Terimakasih. 😊


🌹~I Miss You~🌹