
πΉ Mempertemukan Sarah Dengan Luan πΉ
.
.
.
πΎπΎπΎ
Saat Hara sampai di desa, Sarah sedang menyapu di halaman rumah neneknya. Hara nampak ragu, untuk melangkahkan kakinya. Dia sangat tegang dan khawatir. Hara kebingungan apa yang harus dia katakan kepada Sarah.
Sarah terus menyapu sampai dia terkejut melihat Hara ada didepan gerbang. "Hara?" panggil Sarah.
Hara pun melambaikan tangannya dan masuk untuk menghampiri Sarah. Sarah langsung memeluk sahabatnya itu.
"Hara, bagaimana kamu tahu aku di sini?"
"Hahaha, aku khawatir dengan keadaanmu makanya aku meminta alamat rumahmu di desa, dari Kak Lucas."
Hara berusaha menahan tangis nya dan dia berpura-pura gembira, agar Sarah tidak panik dan curiga.
"Hara, aku baik-baik saja di sini. Malah aku sangat betah berada disini. Maafkan aku ya karena jarang menghubungimu."
"Iya, Sarah. Tidak apa-apa."
"Yaudah, ngobrolnya kita lanjut didalam yuk! Sambil aku buatkan teh untukmu ya?"
"Tidak usah repot-repot, Rah. Aku bisa buat sendiri."
"Hehe, yaudah yuk masuk! Anggap rumah sendiri ya?"
Sarah pun mengajak Hara masuk ke dalam rumah neneknya. Mereka duduk di ruang tamu sambil minum teh.
"Rah, aku kangen suasana luar negri. Bagaimana kalau kita jalan-jalan kesana lagi yuk besok?"
"Semoga jawabanmu sesuai dengan yang aku harapkan, Rah," gumam Hara.
Raut wajah Sarah menjadi sedih. "Kamu tahu kan kondisiku masih begini. Mungkin butuh waktu 1 sampai 2 bulan lagi aku baru kembali pulih. Apa tidak bisa ditunda dulu? Aku ingin sekali menemanimu kesana tapi bagaimana? Luan tidak akan mengizinkan."
"Aku yang akan meminta izin kepada Luan, ya? Sarah aku mohon! Aku benar-benar sampai terbawa mimpi ingin kesana lagi."
"Hmm, ada apa dengan Hara? Mengapa dia sangat ingin kesana?"
"Baiklah, aku akan menelfon Luan dulu, ya?"
Hara langsung panik. "Jangan! Jangan dulu, maksudku aku mau ke toilet dulu. Tunggu aku kembali ya? Jangan telefon Luan dulu. Di mana toiletnya, Rah?"
"Oh, di sebelah sana, Ra," jawab Sarah sambil menunjukan ke arah toilet.
Hara langsung berlari ke arah toilet.
βββ
Sesampainya didalam toilet, Hara langsung menelfon Lucas.
"Ihh, kenapa tidak diangkat sih? Ayo lah kak Lucas, angkat telefon nya."
Hara terus mencoba menelfon Lucas sampai berkali-kali, namun Lucas tidak juga mengangkat telefonnya. Hara pun mengirim pesan kepada Lucas agar menelfon nya balik. Karena sudah terlalu lama didalam toilet, akhirnya Hara kembali ke ruang tamu.
"Hara, kamu lama sekali abis ngapain?"
"Ahh! Biasa, Rah. Aku kebanyakan makan tadi jadi agak mules, hehe."
"Yaudah, aku telefon Luan sekarang, ya?"
"Ahh! Rah, cuacanya panas sekali ya? Tiba-tiba aku ingin minum yang segar-segar. Boleh buatkan aku minuman yang dingin?"
"Hehe, baiklah. Tunggu sebentar, ya?"
"Iya, Rah. Terima kasih."
Setelah Sarah pergi ke dapur Hara langsung menelfon Lucas lagi. Setelah mencoba berkali-kali, akhirnya Lucas mengangkat telefonnya.
"Hallo? Kamu dari mana aja sih? Aku dari tadi mencoba menghubungimu tapi kamu malah tidak menjawab telefonku."
"Kamu? Tumben sekali," jawab Lucas.
"Ahh! Ya ampun, maaf, Kak. Aku tidak sadar tadi karena panik."
"Tidak apa-apa, aku malah suka kamu tidak canggung lagi kepadaku."
"His, dia malah suka. Kak, Sarah ingin menelfon ke phonsel Luan. Kakak bisa kan berpura-pura jadi Luan dan menyetujui apapun yang aku katakan. Tapi lewat pesan saja, jangan diangkat kalau dia telefon."
"Baiklah, aku kebetulan memegang phonselnya."
"Hah! Syukurlah. Kak, sudah dulu ya? Sarah sudah kembali."
Hara pun segera menutup telefonnya.
"Hai, ini minuman dinginnya dan ini ada sedikit cemilan khas makanan desa untukmu."
"Wah, terima kasih, Rah. Oh iya, katanya mau menelfon Luan. Silahkan, Rah."
"Baiklah."
Sarah lalu menelfon Luan namun tidak diangkat.
Lucas mengirim pesan kepada Sarah melalui phonsel Luan.
[ "Istriku tercinta, aku sedang sibuk sekali. Bagaimana kalau lewat pesan saja." ]
"Tumben dia tidak mengangkat telefonku. Biasanya, sesibuk apapun dia akan mengangkatnya. Terus kenapa dia memanggil istriku? Sikapnya tidak seperti biasanya. Apa dia sedang mengerjaiku? Biasanya juga manggil nama dulu."
[ "Sayang, aku ingin pergi ke luar negri menyusulmu bersama Hara. Apakah kamu mengizinkan?" ]
[ "Iya sayang, aku mengizinkan. Cepat ya! Aku tidak sabar." ]
[ "Aku akan mengemas pakaianku dulu dan besok baru berangkat." ]
[ "Baik, sayang. Hati-hati ya!" ]
Hara pun penasaran dengan percakapan mereka di pesan. Hara menjadi pucat dan was-was.
"Hmm, bagaimana, Rah? Apa Luan mengizinkan?" tanya Hara sambil mencubit pahanya sendiri saking takutnya.
"Sarah, maafkan aku! Hanya ini cara agar kamu tidak jatuh sakit, saat mendengar kabar Luan disana. Aku tidak tahu bagaimana reaksimu nanti saat melihat Luan. Aku juga tidak tahu apakah kamu akan memaafkanku karena, sudah berbohong kepadamu. Tuhan, bantu aku! Aku melakukan ini untuk membantu sahabatku."
"Hara, Luan mengizinkan aku kesana. Tapi, sikapnya aneh sekali. Tidak biasanya dia mengizinkan ku kesana begitu saja."
"Ahh, mungkin dia sangat merindukanmu, Rah. Ayo, kubantu membereskan pakaianmu."
"Baiklah."
Sarah dan Hara kemudian pergi kekamar, untuk menyiapkan pakaian yang akan dibawa besok.
βββ
Keesokan harinya, Sarah dan Hara berangkat ke bandara untuk pergi ke luar negri. Sesampainya di luar negri, Hara menelfon Lucas untuk menjemput mereka.
Lucas, Hara dan Sarah pun pergi ke apartemen Luan, untuk menaruh barang-barang mereka. Setelah sampai di apartemen Sarah bingung karena tidak menemukan Luan disana.
"Kak, dimana Luan?" tanya Sarah kepada Lucas.
"Ahh! Dia, ada disuatu tempat. Sebaiknya kau istirahat dulu saja, ya? Kan kalian baru saja sampai."
"Iya, Rah. Kita istirahat dulu, ya?"
Sarah sudah merasa tidak enak. Hatinya berkecamuk antara mengikuti saran Lucas untuk istirahat atau pergi mencari Luan.
"Aku akan menelfon Luan, untuk menanyakan keberadaan nya," ujar Sarah.
"Jangan!" ucap Lucas dan Hara, bersamaan.
Lucas dan Hara saling melihat satu sama lain.
"Sarah, aku akan membawamu kepada Luan. Namun, berjanjilah apapun yang kamu lihat atau yang terjadi disana kamu hanya boleh diam. Diam saja dan tenang ya?"
Sarah semakin kebingungan. "Maksudnya apa, Kak?"
"Aku tidak bisa menjelaskan namun, ayo kita menemui Luan."
"Baik, Kak."
Lucas, Sarah dan Hara pun pergi ke rumah sakit. Sarah dibuat semakin bingung, mengapa dia dibawa ke rumah sakit.
Setelah sampai didepan ruangan tempat Luan di rawat. Lucas membuka pintu dan menyuruh Sarah masuk.
"Masuklah dan ingat pesanku tadi. Diam saja, hanya diam."
Dengan perlahan, Sarah melangkahkan kakinya masuk kedalam, Lucas pun menutup kembali pintu itu. Lucas, Hara dan Leo cemas menunggu di luar ruangan. Sesekali Hara mengintip karena khawatir Sarah pingsan.
Langkah Sarah terhenti, saat melihat Luan berbaring dengan penuh luka lebam. Kaki Sarah gemetar, tangannya menyentuh pipi suaminya itu dengan ketakutan.
"Sayang, apa yang terjadi denganmu?" Sarah menangis pilu. Dia menundukan kepalanya karena tidak tega melihat wajah Luan.
Sarah menangis sambil menggigit bibir bawahnya agar tangisannya tidak didengar oleh sahabat-sahabatnya yang menunggu di Luar. Sarah membenamkan kepalanya di dada Luan sambil terus menangis. Sarah mendengarkan setiap detak jantung dan merasakan denyut nadi Luan. Sarah ingin memastikan bahwa suaminya masih hidup dan akan kembali kepadanya.
.
.
.
π Bersambung... π
###
.
.
.
Hai semua... Apa kabar? π
Sesuai janjiku kemarin ya... ada pengumuman pemenang kuis.
Tara.... Siapakah dia?
.
.
.
Selamat untuk "Kak Letisha Vatar" Karena sudah menjawab dengan lengkap dan benar. πππ
Hadiah ditanggung pemenang. Horee... πππ Ehh salah ya, hadiah akan diberikan kepada pemenang di grup chat ya... Hehehe π ππ canda dikit.
πTerima kasih untuk semua kakak-kakak yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk menjawab kuis kemarin. Dan tenang saja, akan ada kuis-kuis lagi di episode berikutnya. Jadi, selalu ikuti kelanjutan novel ini ya...
πππ
πΉ~l Miss You~πΉ