
π Bersepeda Keliling Desa π
.
.
.
ππΌπ
Kring ... Kring ... Kring ...
Bunyi bel sepeda, dari depan rumah nenek Sarah. Sarah pun segera berjalan perlahan tanpa menggunakan tongkatnya lagi. Dia sudah mulai belajar berjalan, dengan pelan-pelan.
Sesampainya diluar, dia terkejut melihat suaminya sedang berdiri sambil memegang bel sepeda, untuk memanggil istrinya keluar. Sambil tersenyum Luan pun mengisyaratkan agar Sarah naik sepeda bersamanya.
"Sayang, dari mana kamu dapat sepeda ini?" tanya Sarah penasaran.
"Tadi saat aku berjalan-jalan diarea persawahan, aku melihat ada seorang kakek tua yang menggunakan sepeda ini. Dan aku pun meminta izin meminjamnya, tentu aku memberikan sedikit tanda terima kasih untuknya."
"Hmm, itu baru suamiku tercinta. Baiklah, sekarang kita akan kemana, Tuan?"
Luan pun tersenyum. "Kita akan berkeliling desa ini, Nyonya."
Sarah pun segera naik sepeda dibonceng oleh Luan. Perlahan Sarah memegang pinggang Luan agar tidak terjatuh. Luan pun segera memegang tangan Sarah dengan satu tangannya.
"Tuanku, pegang kemudi dengan baik, nanti kita jatuh."
"Percayalah kepadaku nyonya, keselamatanmu nomor satu bagiku."
Sarah pun tersenyum, sambil memeluk erat tubuh Luan.
"Luan suamiku, aku telah memilihmu. Walau mungkin masih banyak yang lebih baik diluar sana. Namun, hati ini hanya ingin bersamamu. Aku tidak tahu mengapa aku tidak pernah menyerah sampai pada titik ini. Aku memilihmu, tanpa memikirkan segala resiko yang kemungkinan terjadi. Ketika cintaku bersenandung dalam untaian doa. Ku dekap erat tubuhmu dan tak kan ku lepas lagi. Hingga Tuhan mempersatukan kita. Luan, andai kau tahu, aku lebih memilih hidup didesa bersamamu. Walau hanya makan sepotong ubi berdua. Itu lebih baik dari pada melihatmu sengsara dikota tanpa tahu siapa orang tua kandungmu. Aku ingin menjadi obat dari setiap luka laramu."
β₯β₯β₯
"Nyonya? Apa yang kau pikirkan? Mengapa hanya diam saja?"
"Ahh! Tidak tuanku sayang. Aku hanya memikirkan andai kita tinggal didesa yang sejuk nan asri ini. Aku benar-benar akan sangat bahagia. Sayang setelah kau pergi ke luar negri, bolehkah aku masih tinggal disini?"
"Tentu, malah aku sangat senang jika kau bahagia disini. Hah! Udara disini sangat sejuk dan bagus untuk kesehatanmu."
Disepanjang perjalanan, mereka menikmati keindahan alam disekitar pedesaan itu. Luan dan Sarah juga bertemu dengan para petani yang hendak pergi ke sawah dan ke kebun.
Saat mereka sampai diarea persawahan, mereka berdua melihat anak kecil, yang sedang duduk sendirian sambil menunggu sesuatu.
"Hai, dek? Sedang apa disitu?" tanya Luan penasaran.
"Aku sedang memancing belut sawah, Kak. Kakak mau mencobanya?" jawab anak laki-laki itu.
"Bolehkah?"
"Boleh, Kak. Asal jangan merusak padinya saja," ujar anak laki-laki itu.
"Tunggu disini sebentar ya! Aku akan turun dan mencoba memancing bersama anak itu," ucap Luan kepada Sarah.
"Baiklah, aku akan menunggumu disini, Tuanku."
Luan pun segera turun ke sawah dan ikut memancing bersama anak kecil itu. Luan terlihat bahagia saat dia menarik pancingan nya namun, belut itu kembali terlepas. Sarah pun ikut tersenyum melihat tingkah Luan.
"Boleh kakak tahu namamu?" tanya Luan
"Namaku Bagas, Kak. Kakak siapa?"
"Nama kakak, Luan. Dan yang diatas itu bidadari kakak, namanya Sarah," ujar Luan sambil menatap wajah istrinya.
Karena jalan persawahan yang kecil dan sempit, Luan pun kesulitan menyeimbangkan diri. Saking senangnya, dia tidak sadar dan berjalan kebelakang, ternyata tidak ada pijakan dibelakangnya. Luan pun akhirnya jatuh ke bawah area sawah yang penuh lumpur. Membuat Sarah dan anak kecil itu tertawa terbahak-bahak. Semua baju dan tubuh luan penuh dengan lumpur.
Karena ditertawakan oleh anak kecil itu, Luan pun mengambil lumpur dan melemparnya ke arah anak kecil itu. "Haha, kalian berani menertawakanku ya? ini terimalah!"
Anak kecil itu membalas lagi, dan mereka pun saling melempar lumpur. Tanpa sadar, pemilik sawah itu melihat mereka dan kemudian berteriak.
"Kak, ada pemilik sawah ini. Ayo kita segera kabur!" ujar anak kecil itu dan segera berlari meninggal Luan.
"Hei, tunggu aku!"
Luan yang melihat pemilik sawah yang sedang marah itu, akhirnya ikut naik ke atas dan segera pergi.
"Sayang, cepat naik!"
Sarah pun segera naik ke sepeda itu lagi dan Luan pun segera mengayuhnya dengan cepat. Disepanjang perjalanan pulang Sarah terus menertawakan Luan. Hingga mereka sampai dirumah nenek Sarah pun, Sarah masih menertawakan suaminya.
Luan pun sangat malu. "Sayang, sudah diamlah, nanti nenek dan bibi juga ikut menertawakanku. Awas ya! Jangan sampai mereka tahu kalau aku habis terjatuh disawah."
"Hahaha, baiklah. Yasudah, cepat mandi sana! Badanmu sangat kotor."
"Iya, sayang. Peluk dulu sebentar, tanda perpisahan," ujar Luan yang sebenarnya hanya menjebak Sarah.
"Hmm, yasudah sini dong, kamu yang maju."
Luan pun maju menghampiri Sarah.
Plakkk ...
Sebuah pukulan yang mendarat dibahu Luan.
"Hei, kenapa malah memukulku?"
"Apa aku tidak tahu niatmu itu. Aku sudah tidak sebodoh dulu sayangku. Cepat sana mandi atau mau kupukul lagi?"
"Baik-baik, aku pergi."
Dengan cemberut, karena tidak berhasil mengerjai Sarah. Luan pun akhirnya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang penuh dengan lumpur.
π Bersambung ... π
###
.
.
.
Hai semua ... π
"Selamat Hari Ibu Kartini"
Semoga seluruh wanita didunia ini, diberikan kekuatan dan ketegaran seperti ibu kartini ya...
"Semangat" πππ
πJangan lupa like dan vote novel ini.
Sambil menunggu episode selanjutnya, kalian bisa mampir di novel sahabat saya.
Nama pena : Vhi_dheavy putri
Judul : Aku gendut
Nama pena : Adi kusma
Judul : Pendekar Elang putih
Nama pena : Bakasai
Judul : Sang Legenda
Terima kasih. π
π~ l Miss You ~π