My Heart Is Only For You

My Heart Is Only For You
Story 66



🌹 Bangunlah Suamiku 🌹


.


.


.


πŸŽ‘πŸŽ‘πŸŽ‘


Sudah tiga hari Luan tak sadarkan diri, Sarah tak henti-hentinya berdoa untuk kesembuhan Luan dan juga tak pernah lelah menemaninya. Sarah menggenggam erat tangan suaminya itu.


"Suamiku tercinta, kekasih halalku, biarkanlah kesengsaraan pergi bersama hembusan angin. Sekarang bangunlah dan kembalilah kepadaku. Aku menangis bukan karena, aku adalah wanita yang lemah. Namun, aku menangis bila aku memikirkan akan kehilangan dirimu untuk selamanya. Suamiku, maafkan aku yang lalai akan tugas-tugas dan kewajibanku sebagai seorang istri selama ini. Aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu. Sungguh aku menyesal telah mengizinkan mu pergi ke luar negri hari itu. Aku tidak tahu jika kau akan senekat ini untuk melindungiku. Bagaimana aku harus membalas kebaikan mu, jika kamu saja tidak bangun. Sayang bangunlah! Aku akan berusaha menjadi istri yang lebih baik lagi sayang. Tolong, buka matamu dan panggil namaku. Ya Rabb, jika engkau mengizinkan, tolong satukan kami kembali."


❇❇❇


Hara mengusap bahu Sarah untuk menenangkan hatinya. "Sarah, yakinlah dia akan kembali kepadamu."


Sarah menoleh dan memeluk Hara dengan erat. "Hara, aku takut dia akan pergi untuk selamanya."


"Jangan bicara seperti itu Sarah, tenanglah! Semua nya akan kembali seperti semula. Sarah, badan mu terasa panas sekali. Coba aku lihat," ucap Hara sambil memegang kening Sarah.


"Aku baik-baik saja, Hara," jawab Sarah.


"Tidak! Kamu demam tinggi Sarah. Apa kamu melupakan kesehatanmu sendiri selama ini?"


"Aku tidak memiliki semangat hidup lagi, Ra."


"Apa kamu bilang? Sarah hentikan! Jika kamu tidak semangat bagaimana Luan bisa semangat untuk kembali lagi, untuk sadar lagi. Hah! Aku tidak ingin kehilangan sahabat-sahabatku ingat itu. Aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu sekarang."


"Tidak perlu, Ra."


"Aku tidak akan mendengar alasanmu lagi," ujar Hara sambil pergi ke ruangan dokter.


Dokter pun memeriksa keadaan Sarah.


Berbicara menggunakan bahasa inggris yang saya artikan.


"Nyonya harus makan dan minum dengan teratur. Jika terlambat lagi, maka nyonya akan dehidrasi dan berdampak buruk bagi kesehatan nyonya. Jangan menyepelekan penyakit nyonya. Saya akan memberikan vitamin untuk nafsu makan ya," ujar dokter tersebut.


"Nah, dengar kata-kata dokter itu, Rah," sahut Hara.


Tiba-tiba Lucas menarik tangan Hara dan membawanya ke taman dekat rumah sakit.


❇❇❇


"Kakak lepaskan! Ada apa? Jika mau bicara kan bisa bicara di dalam."


"Kenapa kau berisik sekali di dalam rumah sakit? Kau mau mempemalukan aku ya?"


"His, aku hanya menyuruh Sarah untuk tidak terlambat makan dan minum. Kakak tahu tidak dia itu demam tinggi tadi."


"Perhatian sekali! Apa kau tidak memperhatikan ku juga?" tanya Lucas sambil menopang dagunya.


"Disaat seperti ini, jangan bicara yang tidak penting. Aku selalu memperhatikan semua sahabatku, termasuk dirimu."


"Hanya sahabat? Aku tidak mau. Aku mau yang lebih dari seorang sahabat."


"Apa? Kakak ingin membuatku bertengkar dengan Adel ya? Kakak kan tahu Adel yang menyukai kakak selama ini."


"Adel? Hahaha, dulu iya. Tapi, sekarang dia sudah bersama Leo tuh."


"Apa? Adel dan Leo jadian? Kapan? Mengapa aku tidak tahu kabar terbaru apapun?"


Lucas pun menatap wajah Hara dan menyibakan rambutnya. "Makanya lain kali jangan hanya fokus kepada Sarah saja, sekali-kali lirik lah aku yang mencintaimu sejak pertama kali melihatmu."


Lucas tersenyum dan meninggalakan Hara yang masih duduk ditaman. Hara terdiam sejenak karena terkejut dengan ucapan Lucas.


"Apa yang dia katakan barusan? Dia jatuh cinta kepadaku?"


Plak ... plak ...


Hara menepuk-nepuk pipinya. "Aww, sakit juga. Ternyata ini nyata. Berarti yang dia katakan tadi? Ahh, jangan Hara, jangan sampai kau juga mencintainya. Jika dia hanya mengerjaimu bagaimana? Aku sudah terbang ke awang-awang dan aku tidak mau terjatuh lagi nantinya."


Hara kemudian bangun dan segera kembali ke rumah sakit.


❇❇❇


Di luar ruangan, Hara, Leo dan Lucas terus menunggu perkembangan Luan. Hara melirik ke arah Lucas dan kemudian berbalik lagi. Pipinya menjadi merah seketika.


"Ya Tuhan, ujian macam apa ini? Kenapa ada ujian sesenang ini? Aku tidak mau kepedean tapi aku juga tidak mau mengelak dari kenyataan."


Lucas hanya tersenyum tipis melihat tingkah laku Hara. Leo yang berada ditengah-tengah mereka, sedikit demi sedikit memperhatikan gerak gerik mereka.


"Hmm, ada yang tidak beres nih. Mengapa tingkah laku mereka aneh sekali? Yang satu melirik kemudian tersenyum, yang satunya juga."


"Ehem."


Hara menggaruk kepalanya dan kembali bersikap biasa.


"Aduh, jangan sampai Leo tahu. Bisa berbahaya kalau sampai dia mengatakan tentang ini kepada Adelia. Bisa jadi bahan gosip nanti."


"Baiklah, cepat pergi," jawab Lucas.


"Hati-hati, Le," ujar Hara.


❇❇❇


Di dalam ruangan, Sarah yang masih lemas karena demamnya masih tinggi terus memegang tangan Luan dengan erat. Tiba-tiba, dia merasakan gerakan tangan Luan sedikit demi sedikit.


"Sayang, kau bangun?" Sarah mengusap wajah Luan.


Dengan perlahan Luan membuka matanya dan melihat istrinya ada di depan nya.


"Sayang," Luan berbicara lirih.


"Syukurlah, sayang, akhirnya kamu sadar. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kepadaku jika kamu tiada.Tunggu sebentar ya, aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu."


Sarah pun keluar untuk memanggil dokter.


"Sarah, mau kemana?" tanya Hara.


"Luan sudah sadar, Ra. Aku akan memanggil dokter."


"Tunggu di sini! Biar aku saja yang memanggilnya."


Hara lalu berlari ke ruang dokter.


"Luan sudah sadar?" tanya Lucas.


"Iya, Kak."


"Syukurlah, aku akan melihatnya."


Lucas lalu masuk ke dalam ruangan dan melihat keadaan adiknya.


"Dek, alhamdulillah kau sudah sadar."


"Kak, bagaimana dengan penjahat-penjahat itu?


"Ahh! Mereka semua sudah di dalam jeruji besi. Jangan kau khawatirkan mereka. Biar itu menjadi urusan ku dan pihak kepolisian. Aku jamin mereka selamanya akan membusuk di dalam penjara."


"Hmm, aku tenang sekarang."


"Penjahat? Kalian sudah tahu penjahatnya?" tanya Sarah.


Luan lalu menggenggam tangan Sarah yang berada di sampingnya. "Sayang, nanti akan aku jelaskan setelah kita sampai di rumah ya?"


"Baiklah."


Tak lama kemudian Hara dan dokter masuk ke dalam ruangan. Dokter pun segera memeriksa keadaan Luan.


"Syukurlah, anda sudah sadar dan melewati masa kritis. Ini sebuah keajaiban besar dari Tuhan. Tunggu satu hari lagi disini dan anda baru boleh pulang. Baiklah, saya permisi," ujar dokter itu sambil tersenyum.


"Terima kasih, Dok," ucap Sarah.


"Kak, keluarlah sebentar, aku ingin berduaan dengan istriku," ujar Luan.


"Hei, kau mengusir kakakmu. Hah! Giliran yang enak-enak kau tidak mengajak ku."


"Kak Lucas berhentilah menggoda mereka! Biarkan mereka memiliki waktu berdua. Ayo kita keluar," ujar Hara sambil menggandeng tangan Lucas untuk keluar dari dalam ruangan.


.


.


.


πŸ€ Bersambung ... πŸ€


###


.


.


.


Hai semua ... 😊


Bagaimana hubungan Lucas dan Hara?


Uhuyy... Nantikan episode berikutnya ya ...


πŸ‘‰ Jangan lupa like, komen dan vote novel ini. Jadikan novel favorit kalian juga ya ...


Terima kasih. πŸ™πŸ™πŸ™ Sayonara ... πŸ™†πŸ˜˜


🌹~l Miss You~🌹