
๐Tiket pertandingan๐
"Hei! Kau mau kemana?" tanya Luan kepada Sarah didalam mobilnya.
"Aku mau masuk ke rumah ku, kan kita sudah sampai," jawab Sarah sambil membuka pintu mobil.
"Apa kau tidak mau memberiku sebuah Ciuman di pipi Hmm," ucap Luan sambil menunjuk pipinya.
"Ahh! Tidak mau."
Luan ceberut sambil memalingkan wajahnya. "Baiklah, kalau tidak mau."
"Ahh! Baik - baik, gitu aja marah."
"Sarah!" panggil Dr. Antonio.
Sarah pun terkejut. "Ayah!" ucap Sarah.
"Paman!" sahut Luan yang sama terkejutnya dengan Sarah.
"Ayo cepat masuk kedalam rumah! Sudah jam berapa ini?" ujar Dr.Antonio sambil menunjukan kearah jam yang ada ditangannya.
"Iya, Ayah. Huuuffttt... untung aku belum sempat mencium pipinya," gumam Sarah.
Sarah dan Luan pun keluar dari dalam mobil.
"Selamat malam paman?" sapa Luan dengan tenang namun, dalam hatinya sangat berdebar.
"Malam Luan. Pasti orang tua mu juga sudah menunggu mu di rumah kan?" ucap Dr.Antonio.
"Hus! Mas jangan begitu. Nak, Luan, silahkan masuk dulu," ujar Ny.Madona.
"Terima kasih Bibi, tapi aku pamit saja. Oh iya paman, aku punya sedikit hadiah buat paman dan keluarga. ltu pun jika kalian mau menerima nya. Sebentar aku ambil dulu," ujar Luan sambil menggambil sesuatu dari dalam mobilnya.
"Minggu depan, saat musim panas tiba. Aku akan bertanding diluar negri, Paman. Jika paman memiliki waktu luang. Tolong ajak Bibi, Sarah dan juga Adelia untuk menonton pertandinganku," ucap Luan.
"Oh terima kasih, nanti akan kami rundingkan dulu bisa atau tidaknya untuk menonton pertandinganmu," ujar Dr.Antonio.
"Baik paman, bibi, ku pamit dulu!" ucap Luan kepada orang tua Sarah.
"lya, Nak Luan. Hati - hati dijalan ya," ujar Ny.Madona.
Sarah dan keluarga nya pun masuk ke dalam rumah.
***
Di dalam kamar, Sarah masih memikirkan tentang tiket pertandingan yang diberikan Luan kepada ayahnya.
"Hmmm, kira - kira ayah mau tidak ya nonton pertandingan Luan? Tapi, serba salah juga kalau ayah tidak bisa, berarti aku juga tidak boleh nonton. Tapi kalau ayah bisa, aku juga tidak bisa menghampiri Luan atau bertemu seenaknya di Luar negri. Huuufftttt bagaimana ini?" ujar Sarah.
Saat Sarah sedang merenung tiba-tiba suara phonselnya berbunyi.
"Hah! Dari Luan? Apa dia sudah sampai? Cepat sekali," ucap Sarah.
"Hallo?"
"Aku sedang memikirkan tiket pemberian mu. Kira - kira apa ayah bersedia menonton nya ya?"
"Mungkin ya atau mungkin juga tidak."
"Ya iyalah jawabannya kan memang cuma dua, antara ya dan tidak. Kamu ini bercandanya gak Lucu."
"Aku berharap ayahmu bersedia menonton pertandingan itu. Tapi aku juga tidak akan memaksanya jika dia sibuk."
"Sebenarnya aku sedikit ragu, jika ayah bisa nonton, karena jadwal pekerjaan nya padat sekali."
"Ayo lah, jangan patah semangat. Semoga saja ayah mu bisa nonton. Aku akan lebih semangat lagi jika kalian semua menonton."
"lya, semoga saja bisa. Semangat!"
"Semangat."
***
Keesokan hari nya, Sarah memberanikan diri untuk menanyakan langsung kepada ayahnya, bagaimana keputusan ayahnya tentang menonton pertandingan Luan .
"Ayah ... Bagaimana keputusan ayah?"
"Keputusan apa, Sayang?"
"Keputusan menonton pertandingan Luan, Yah."
"Hmm, sepertinya ayah sangat sibuk akhir - akhir ini. Pasien ayah meningkat, ayah tidak bisa memastikan. Tapi, nanti akan ayah fikirkan lagi."
"Ya, baiklah ayah."
"*H*mm ... Seperti yang ku duga. Ayah pasti sibuk sekali. Mungkin aku hanya bisa bermimpi untuk menonton pertandingan Luan secara Langsung, tidak mungkin aku pergi sendiri. Ayah dan ibu tidak akan mengizinkan bahkan walau aku mengajak Adel sekalipun," gumam Sarah.
๐Bersambung...๐
###
.
.
.
Selalu semangat ya Readers... ๐๐
Semoga kalian selalu sehat dan ceria. ๐
Jangan lupa like ๐ dan vote sebanyak-banyaknya. ๐
Terima kasih.๐
๐น~l Miss You~๐น