
πΉRaihlah Tanganku...πΉ
β₯β₯β₯
Dr. Antonio mengajak keluarganya ke rumah sakit untuk menjenguk Ny. Juliana. Namun, dia melarang Sarah untuk ikut karena kondisinya belum pulih betul. Dr. Antonio sengaja tidak memberitahu Sarah dan melarang siapapun dirumahnya untuk tidak memberitahu Sarah, agar Sarah tidak panik dan membuat batinnya terguncang.
Pesan Dokter yang merawat Sarah diluar negri memang, agar selalu menjaga Sarah jangan sampai dia mendengar kabar yang akan membuatnya merasa sedih dan terpukul.
Akhirnya Dr. Antonio pergi ke rumah sakit bersama Ny. Madona dan Adelia saat Sarah masih tidur. Tak lama kemudian, Sarah pun terbangun. Semua makanannya sudah tersedia dikamarnya, jadi dia tidak perlu turun ke bawah.
Sarah melihat phonselnya untuk memastikan kabar dari Luan. Namun, tidak ada pesan apapun dari Luan. Dia merasa aneh, dia fikir bahwa Luan tidak mungkin ingkar janji padanya. Dia sangat paham betul bagaimana sifat Luan. Dia mencoba menghubungi Luan. Namun, phonsel Luan tidak aktif.
"Pasti ada sesuatu yang tidak beres, mungkin terjadi sesuatu kepada Luan. Tapi apa? Luan tidak mengabariku sama sekali. Atau jangan-jangan Luan bertengkar dengan ayahnya? Tidak! Itu tidak boleh terjadi. Aku harus segera menyusul ke rumahnya," gumam Sarah.
Sarah pun menelfon Hara untuk meminta bantuan.
"Hallo, Hara apa kamu bisa menolongku?"
"Dengan senang hati, Sarah. Apa yang bisa ku bantu?"
"Aku ingin ke rumah Luan, tolong aku ya."
"Baiklah, tunggu aku sampai dirumah mu, Sarah."
"Aku akan menunggumu, Hara."
Sarah pun menutup telefonnya. Dia bersiap-siap dibantu oleh pembantunya dan segera menunggu Hara didepan rumahnya.
***
Satu jam kemudian, Hara sudah sampai dirumah Sarah dan segera membantu Sarah masuk ke dalam mobil karena Sarah masih kesulitan untuk berdiri. Hara dan Sarah akhirnya sampai di rumah Luan.
"Rah, kok sepi ya?"
"Iya, aku juga tidak tahu. Biasanya pelayannya sudah sibuk kalau ada tuan rumahnya. Coba kita tanya satpamnya aja."
"Permisi, Pak? Apa Luan ada didalam?" tanya Sarah kepada Pak Satpam dirumah Luan.
"Ehh, Nona Sarah. Semuanya dirumah sakit, Non. Setelah kejadian kemarin, Nyonya tiba-tiba pingsan dan kemungkinan penyakitnya kambuh lagi," ujar Satpam tersebut.
"Apa? Kenapa tidak ada yang mengabariku, Pak?" ujar Sarah.
"Kejadian, Pak? Kejadian apa?" sahut Hara.
"Kemarin tuan Piter dan tuan muda Luan bertengkar, saya juga tidak tahu masalahnya. Tapi, sepertinya sangat serius sehingga membuat Nyonya besar pingsan," ujar Pak Satpam.
Sarah langsung terkejut. "Luan? Dia benar-benar nekat memperjuangkan cintaku, Hara. Dia pasti bertengkar dengan ayahnya karena Luan memaksa untuk menikah denganku. Hara, ini semua salahku."
Hara langsung menenangkan Sarah. Hara takut Sarah akan terpukul. "Sarah! Sarah berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Luan mencintaimu Sarah, dia melakukan itu karena cintanya, bukan karena dirimu."
"Tidak Hara, ayo kita menyusul Luan. Aku takut dia akan memaksa lagi kepada ayahnya. Ayo kita ke rumah sakit sekarang."
Sarah terus memaksa ingin menyusul Luan.
***
Dirumah sakit, Dr. Antonio berbicara kepada J. Piter.
"Aku berusaha mengendalikan hatiku. Namun, sesaat emosi menguasaiku dan akhirnya terbongkarlah rahasia yang bertahun-tahun ku pendam. Aku lampiaskan semua kekesalanku kepada anak malang itu."
Dr. Antonio memegang pundang J. Piter. "Apa kau masih mencintai Sintia? Piter, aku tahu bagaimana cintamu kepadanya. Tapi, itu sudah bertahun-tahun yang lalu dan dia sudah lama pergi. Biarlah itu menjadi kenangan masa mudamu. Jangan sakiti Luan hanya karena dia anak dari laki-laki yang kau benci."
"Kau tidak tahu bagaimana besarnya cintaku kepadanya, Ton."
"Dia sudah lama meninggal dunia, ikhlaskan dia! Jangan membebaninya dengan perasaan cinta dimasa lalu. Lihatlah istrimu yang selalu mendampingimu disaat kalian susah dan senang. Dia selalu merawat anak-anakmu dengan tulus, walau dia tahu kau tidak mencintainya. Piter, istrimu berjuang untuk tetap bertahan hidup bersamamu. Setidaknya perbaikilah dirimu yang sekarang. Hargailah orang-orang disekitarmu."
Dr. Antonio pun memeluk sahabatnya itu, untuk menenangkan hatinya. Dr. Antonio tahu bagaimana sifat J. Piter sejak dulu.
***
Luan sedang duduk di depan rumah sakit, dia merenung penuh kebimbangan. Apakah dia harus pergi meninggalkan seorang ibu yang selama ini sudah membesarkannya, atau meninggalkan gadis yang ia cintai.
Sarah dan Hara sampai dirumah sakit dan segera masuk kedalam, Sarah melihat Luan sedang duduk sendirian. Dia segera mendorong kursi rodanya untuk menghampiri Luan. Hara pun pergi meninggalkan mereka berdua dan masuk untuk menjenguk ibu Luan.
"Kenapa kamu tidak memberitahuku?" ujar Sarah kepada Luan.
Luan pun terkejut dan menoleh kebelakang. "Sarah! Bagaimana kau tahu aku disini?"
"Jawab pertanyaanku dulu, Luan!" ucap Sarah sambil menahan air matanya.
"A_aku tidak ingin membebanimu dengan masalahku."
"Kenapa? Kenapa kamu menyimpannya sendiri? Kamu mencintaiku kan? Seharusnya kita berbagi kesedihan bersama. Jangan menyembunyikan apapun dariku. Apa kamu habis bertengkar dengan ayahmu karena diriku, dan membuat ibumu sakit kembali."
"Bukan! Bukan karena dirimu Sarah."
"Luan, jangan berbohong. Aku cukup tahu diri dan mengerti situasi ini. Luan, aku ingin kamu kembali kepada ibumu dan berhenti memperjuangkan ku. Jangan membuat ibu Juliana sedih karena kehilangan dirimu. Ibu Juliana itu sudah seperti ibuku sendiri. Walau kita nantinya tidak jadi menikah tapi, aku sudah tenang jika tidak ada pertengkaran lagi di dalam keluargamu. Luan, minta maaflah pada ayahmu dan kembalilah pada ibumu. Jangan hiraukan perasaanku, tidak akan terjadi apapun padaku, aku berjanji padamu. Aku berjanji, Luan."
Sarah dengan sekuat tenaga berusaha bersikap tenang didepan Luan, agar Luan percaya bahwa, dia baik-baik saja. Walau sebenarnya hatinya sakit melepaskan Luan. Seorang laki-laki yang ia kagumi dan cintai sejak kecil. Sosok pria yang menjadi idola baginya. penghibur dikala sarah merasa kesepian dengan tingkah Luan yang konyol. Sarah sedang berusaha melawan perasaannya sendiri.
Luan pun berlutut dan memeluk Sarah dengan erat. akhirnya tangis mereka pecah, cinta mereka sama-sama sedang diuji.
"Luan, raihlah tanganku... jadikan pundakku sebagai tempat untukmu bersandar dan melepaskan semua beban kesedihanmu. Biarlah aku yang mengalah, lebih baik aku yang sakit dari pada melihat pria yang kucintai terluka. Luan, jika kita perpisah nanti, ingatlah aku sebagai wanita bodoh yang selalu mengejar cintamu. Luan, tanpa kita bersama pun, aku sudah berhasil mendapatkan cinta yang ku impikan selama ini. Aku akan bahagia dengan membawa cintamu dihatiku. Luan, aku menyayangimu dan akan selalu mencintaimu sampai akhir hayatku."
πBersambung... π
###
.
.
.
Hai Readers... π πππ
Aku sudah berusaha semampuku agar kalian masuk dan menghayati ke dalam ceritanya. Semoga kalian menyukainya. π
π Jangan lupa like π dan vote sebanyak-banyaknya ya.
Terima kasih. π
πΉ~l Miss You~πΉ