
❤️Menginap❤️
Freya mengeluarkan mobil milik neneknya dan memanaskan mobil tersebut.
Hari ini Freya berencana menyimpan semua harta berharga milik Neneknya di salah satu bank.
Hal ini Freya lakukan karena dia merasa bank bisa menyimpan semua barang berharga milik neneknya dengan aman.
Freya kembali masuk ke kamar rahasia dan mengambil semua barang berharga dari dalam brankas, untuk dia pindahkan ke bank, dia juga membawa serta kaset-kaset video kenangan keluarganya untuk di amankan.
Kini brangkas dan kotak kaset di kamar rahasia telah kosong.
Pertama-tama Freya mendatangi salah satu kantor catatan sipil untuk membuat kartu tanda penduduk terlebih dahulu, karena dia sudah tidak memiliki kartu identitas dan paspor, hal ini akan sangat berbahaya bagi dirinya jika dia tinggal di negara Asing tanpa identitas dan tanpa paspor.
Freya membuat ulang kartu identitasnya dan merubah status kependudukannya menjadi warga negara Indonesia.
Awalnya Freya sedikit kesulitan mengingat Freya adalah warga negara asing, namun dengan uang yang dimiliki Freya dari neneknya yang dia temukan dalam brangkas, dengan menggunakan uang itu semua menjadi mudah,
Freya pun mendapatkan kartu identitas dengan nama barunya, dia menambahkan nama belakang keluarga Mommynya di belakang nama Daddynya menjadi "Ara Leo Yee".
Pukul 14.00 Freya tiba di salah satu bank, dan memasuki bank tersebut, setelah mendapatkan no urut Freya pun menemui salah satu staf bank dan mulai mengatakan tujuannya.
"Permisi saya hendak meminta layanan Safe deposit box" Pinta Freya.
Safe deposit box merupakan penyimpanan dokumen dan surat berharga yang ada di bank. Metode penyimpanan merupakan cara yang sangat aman untuk menyimpan surat berharga dan dokumen.
Pada safe deposit box, dokumen penting Anda akan disimpan di dalam lemari besi, baja, atau beton. Keamanan untuk membuka dokumen pun dijaga dengan sangat ketat menggunakan sensor gerak, kamera video, detektor panas, atau perangkat keamanan lainnya sesuai kebijakan bank masing-masing.
Freya memilih model penyimpanan kelas A di mana pelayanan keamanan yang di berikan merupakan ke amanan tingkat tinggi.
Setelah melakukan proses pembayaran Freya pun di persilahkan menyimpan sendiri barang berharga miliknya dalam Brangkas bank.
Freya mengeluarkan surat-surat penting milik neneknya dari dalam tasnya, mulai dari surat rumah, surat tanah dan perkebunan, dan surat wasiat dari neneknya, lalu beberapa kotak perhiasan, serta kaset-kaset yang berisikan Video-video kenangan yang dikumpulkan nenek dan kakeknya, tak lupa dia juga menyimpan rekaman cctv pembunuhan orang tua dan neneknya, juga kode Sandy rahasia milik Daddy Emmanuel yang Freya tulis ulang secara rahasia.
Semua itu Freya simpan dalam sebuah kotak yang di sediakan pihak Bank setelah menekan kode Password Freya pun menyimpan kotak tersebut ke dalam brangkas dan menguncinya dengan berbagai lapis ke amanan.
Kini Freya mulai merasa tenang karena semua barang penting di hidupnya sudah dia amankan.
Hari sudah semakin sore freya yang lelah memilih makan di salah satu tempat makan di pinggir jalan sambil meratapi kehidupannya saat ini.
Usai makan Freya membawa laju mobilnya kembali kerumah neneknya, sesampainya di sana Freya melihat dua laki-laki dan satu wanita yang berdiri tegap di depan rumahnya.
Dari ke tiganya dua laki-laki yang Freya rasa kenal, sedangkan satu wanita tidak dia kenal, kini ketiganya tengah tersenyum pada Freya yang sudah turun dari mobil.
"Hai?" sapa Daffin.
"Hai, kalian di sini? kenapa tidak memberi tahuku? apa kalian sudah lama di sini?" tanya Freya beruntun.
"Lumayan untuk merasa bosan" keluh wanita yang bersama mereka.
"Hus, kau ini kalau bicara bisa lembut sedikit?" Protes Edwin.
"Maaf" jawab Freya merasa tidak enak hati.
"Tidak masalah, kami datang karena merasa khawatir, dan kami berniat ingin membuat makan malam bersama di rumahmu kalau kau tidak keberatan tentunya?" tanya Daffin.
"Tentu, aku tidak keberatan sama sekali, aku justru malah senang, dan aku minta maaf karena lagi-lagi harus merepotkan kalian." ucap Freya tidak enak hati.
"Repot apanya tentu saja kami senang bisa membantu" jawab Daffin dengan senyuman karismatiknya.
"DEG..."
Freya sedikit tersihir dengan senyuman itu, ya senyuman yang sangat menawan dan menenangkan hati siapapun yang melihatnya.
"Ehem..." Suara deheman wanita yang bersama mereka menyadarkan Freya dari rasa kagumnya terhadap Daffin.
"Kau habis dari mana? Kenapa baru pulang?" kami tadi sempat berpikir terjadi hal buruk padamu" tanya Daffin beruntun.
"Aku dari kantor catatan sipil, lihat aku sudah dapatkan kartu identitasku" Jawab Freya seraya menunjukkan ktp barunya.
"Syukurlah sekarang kau menjadi warga indonesia" ucap Edwin.
"iya...." Jawab Freya.
"Hai, Kenalkan namaku Nindy" sapa wanita itu dengan wajah yang terlihat kesal.
"Hai Nindy salam kenal namaku Freya, aku adalah orang di selamatkan oleh Daffin dan Edwin." jawab Freya.
Sejenak mereka berjabat tangan tapi Freya merasakan rasa ketidak sukaan Nindy kepadanya.
"Mari masuk" ucap Freya sambil membuka kunci pintu rumah.
"Maaf rumahnya sangat berantakan aku belum sempat merapihkan semuanya" ucap Freya saat pintu rumah sudah terbuka dan mereka semua masuk ke dalam rumah.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita langsung ke dapur saja, dan kita mulai memasak karena aku sudah sangat lapar, apa boleh?" tanya Edwin.
"Tentu saja boleh, kalian sudah tau di mana letak dapurnyakan masuklah anggap saja rumah sendiri." Jawab Freya.
"Baiklah kalau begitu ayo?" ucap Edwin.
"Aku akan membersihkan diriku sebentar di kamar" ucap Freya dan diangguki semuanya.
Freya terburu-buru masuk kedalam kamar pribadinya dan mulai membersihkan diri.
Setelah membersihakan diri Freya turun ke dapur dan melihat semua hidangan sudah tersedia di atas meja.
"Wah semuanya sudah siap maaf aku terlalu lama di kamar jadi tidak sempat membantu memasak" ucap Freya merasa tidak enak hati.
"Tidak masalah, ayo kita makan" ucap Daffin.
Melihat Daffin bersikap baik pada Freya membuat hati Nindy tidak suka melihatnya, dan Freya jelas melihat gurat ketidak sukaan itu di wajah Nindy.
Setalah makan mereka berempat pergi ke ruang tamu dan mengobrol di sana sampai akhirnya mereka di sadarkan dengan hujan yang tiba-tiba turun dengan begitu derasnya.
"Hujan" ucap Daffin.
"Sepertinya sangat deras" jawab Edwin.
"Ya ampun bagaimana kita bisa pulang, apalagi tempat ini sangat jauh dari rumah." keluh Nindy.
"Tidak apa kalian bisa menginap di sini, di sini ada banyak kamar kosong." ucap Freya ramah.
Sejenak suasana hening tercipta diantara mereka setelah Freya berbicara.
"Kau tidak keberatan?" tanya Daffin mencairkan suasana.
"Tentu saja tidak" jawab Freya ramah.
"Tapi aku tidak mau" protes Nindy.
"Bukan kah di sini pernah terjadi pembunuhan, ah... Aku tidak mau tidur di sini." Protes Nindy lagi.
Mendengar itu hati Freya terasa terkoyak lagi, rasa sakit yang di hatinya belumlah pulih tapi kini sudah di ungkit orang lain.
"Nindy" panggil Daffin sedikit membentak karena merasa tidak enak pada Freya.
"Maaf Freya Nindy tidak bermaksud...."
"Tidak masalah, dia memang benar di rumah ini, orang tuaku dan nenekku baru saja terbunuh, dan siapapun pasti akan takut melihat rumah ini." Jawab Freya memotong perkataan Daffin.
"Tuh kan Daffin lebih baik kita pulang saja yah ayo, tidak usah menginap" bujuk Nindy.
"Nindy jaga bicara mu" ucap Daffin kesal.
"Tapi Daffin... " Protes Nindy.
"Ya ampun Nindy kau tidak lihat di luar hujan begitu derasnya, jika kita memaksakan untuk pulang, yang ada kita yang tidak akan selamat di perjalanan." Ucap Edwin yang juga ikut kesal.
"Kalau lo mau pulang lo pulang aja sendiri Nindy, karena gue sama Daffin akan menginap di sini." Jawab Edwin lagi.
"Edwin..." Bentak Nindy menggerutu.
"Kalau tau lo hanya akan mengacau harusnya lo tuh gak usah maksa ikut tadi" keluh Edwin lagi.
"Baiklah ayo kita tidur" ucap Edwin bersemangat walau sebenernya dia juga sedikit takut.
"Aku akan tunjukkan kamarnya, mari." Ajak Freya dan mereka pun beranjak dari tempat duduknya.
"Kalian mau di lantai bawah atau lantai atas" tanya Freya sambil melangkah.
"Di bawah saja" pinta Nindy.
"Kau yakin?" tanya Freya sambil menghentikan langkahnya.
"Karena semua keluargaku di bunuh di lantai bawah tepat di ruang keluarga, di sana." Ucap Freya sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah ruang keluarga yang tertutup rapat.
"Ahhh..." Nindy menjerit sambil memeluk lengan Daffin karena ketakutan atas ucapan Freya yang menurutnya sangat mengerikan.
Sebenarnya hati Freya selalu merasa kebas jika melihat ruang keluarga yang kini sengaja dia kunci rapat-rapat.
Daffin memperhatikan raut wajah Freya yang sedang sekuat tenaga menahan air matanya, Daffin juga melihat jelas kedua bola mata Freya yang berkaca-kaca.
"Kamu apa-apan sih" Protes Daffin sambil berusaha melepaskan tangan Nindy dari lengannya.
"Tau Nih" ucap Edwin sambil berusaha menjauhkan tangan Nindy dari Daffin.
"Ya ampun Daffin aku takut" protes Nindy setelah tanganya terlepas dari Daffin.
"Jangan jadi penakut deh" jawab Edwin sok berani.
"Jadi kalian mau pilih kamar di lantai bawah apa di lantai atas?" tanya Freya lagi.
"Di mana pun tidak masalah asalkan nyaman" ucap Daffin.
"Di atas aja" ucap Nindy, wajahnya sudah memucat karena ketakutan.
"Baiklah mari" ucap Freya kembali memandu jalan.
Di lantai dua ada lima kamar, dua di antaranya Freya kunci dan tidak membolehkan siapapun masuk kedalamnya selain dirinya, yaitu kamar orang tuanya dan kamar neneknya.
"Untuk Daffin dan Edwin kamar kalian di ujung sana, untuk nona Nindy di sebelah sini, dan ini kamarku jadi bila kalian membutuhkan bantuanku, aku ada di kamar ini." tutur Freya.
"Maaf jika kamarnya agak berdebu karena aku belum sempat membersihkannya." Ucap Freya lagi.
"Terimakasih" ucap Daffin.
"Tentu, semoga kalain nyaman" ucap Freya, sambil melangkah masuk ke dalam kamarnya.
"Daffin aku tidurnya bareng kamu ya, soalnya aku takut kalau harus tidur sendirian" pinta Nindy.
"Ya ampun Nindy lo mau tidur sama cowo, kalau nanti terjadi apa-apa gimana?" ucap Edwin.
"Kalau sama Daffin aku gak papa, terjadi apa-apa juga gak papa." Jawab Nindy ganjen.
"Ya ampun kau ini benar-benar wanita saraf" ucap Edwin.
Sedangkan Daffin dia memilih pergi ke kamar dari pada harus meladeni ocehan Nindy.
Sayup-sayup Freya masih mendengarkan keributan dari luar kamarnya, hingga akhirnya keheneningan pun tercipta.