My Freya

My Freya
BAB 39



❤️Melamar❤️


"Daffin, kenapa tidur di atas lantai?" tanya Freya namun tak dapat jawaban dari Daffin.


Freya pun mencoba membangunkan Daffin dari tidurnya karena rasa bersalah kini telah menusuk dan mendobrak seluruh relung di hati Freya kala melihat Daffin tidur di atas lantai beralaskan sajadah yang tipis.


"Daffin... Bangun...." Panggil Freya pelan.


"Daffin...." Panggil Freya lagi dan kali ini berhasil membuat laki-laki itu terbangun dari tidurnya.


"Daffin kenapa kau tidur di lantai?" tanya Freya dengan suara yang bergetar menahan tangis penuh rasa bersalah.


"Hem... Freya.... " jawab Daffin tercepat karena tenggorokannya terasa serak.


Daffin pun beranjak dari posisi tidurnya dia sedikit mengucek matanya yang masih terasa sepat dan perih karena cahaya lampu yang menusuk matanya.


"Freya..." Panggil Daffin lagi tapi lagi-lagi Daffin tidak bisa melanjutkan kata-katanya karena tenggorokannya terasa sakit.


Daffin pun beranjak lalu berjalan ke arah meja kecil dekat ranjang lantas dia pun mengucurkan air putih dari dalam dispenser ke dalam gelas, dengan cepat Daffin pun menenggak air putih tersebut hingga tandas.


Setelah dirasa tenggorokannya baik-baik saja Daffin pun menghampiri Freya yang masih duduk termenung di atas lantai.


"Hey kenapa duduk di sana kemarilah." Pinta Daffin seraya mendudukan dirinya di sisi ranjang.


Freya pun menurut dia duduk di samping Daffin.


"Daffin kenapa kau tidur di lantai?" tanya Freya lagi mengulang pertanyaannya.


"Tidak apa-apa" jawab Daffin sembari tersenyum.


"Apa tidurku mengganggumu?" tanya Freya lagi.


"Tidak Freya...." Jawab Daffin tapi terpotong.


"Lantas kenapa?" potong Freya, kini suaranya terdengar bergetar.


"Freya sebaiknya kita sholat subuh dulu yu..." Ajak Daffin, karena waktu sudah menunjukkan waktu sholat subuh.


"Tapi aku ingin tau kenapa kau tidur di lantai." tanya Freya kekeh.


"Aku akan menjawabnya setelah kita sholat subuh ya" Jawab Daffin.


Freya yang kesal pun memilih masuk ke dalam kamar mandi terlebih dahulu dengan rasa marah dan kesal bersamaan.


Daffin dapat melihat Freya sedang marah dan tersinggung karena dirinya memilih tidur di lantai dari pada di atas ranjang bersama Freya.


Tapi Daffin punya alasan kenapa dia sampai harus tidur di atas lantai dan meninggalkan Freya yang saat itu sudah tertidur sangat lelap.


Freya keluar dari kamar mandi dengan wajah yang di tekuk, Daffin gemas sendiri melihat tingkah Freya yang sedang marah pada dirinya.


Daffin pun masuk kemar mandi dan mengambil wudhu latas dengan cepat menggunakan sarung dan Kopiah miliknya.


Mereka pun mengambil posisi untuk sholat berjamaah bersama dengan Daffin yang menjadi imam nya.


Setelah selesai sholat, Freya pun kembali menanyakan hal yang sama, karena sebelumnya Daffin memang belum menjawab pertanyaan dari Freya.


"Daffin kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa kau tidur di atas lantai?" tanya Freya untuk yang kesekian kalinya.


Daffin pun tersenyum latas menjawab "Tidak apa-apa Freya, aku hanya sedang menjaga dirimu dan diriku" jawab Daffin tenang.


"Diriku?" tanya Freya bingung.


"Apa tidurku menganggumu Daffin?" Sambung Freya bertanya.


"Tidak Freya sungguh, aku benar-benar tidak terganggu, hanya saja....." Daffin sejenak menjeda pembicaraannya.


"Daffin katakanlah... Atau aku akan pergi dari sini saat ini juga." Ancam Freya, karena merasa hatinya sudah tidak baik-baik saja saat ini.


"Freya..." Ucap Daffin tercekat,


"Bukannya tidak mau mengatakannya Freya, tapi aku malu jika harus jujur padamu" ucap Daffin dalam hati.


"Tidak Freya jangan..." Pinta Daffin, seraya menarik tangan gadis itu untuk duduk kembali di sampingnya.


"Baiklah akan aku katakan alasannya tapi jangan pergi." Pinta Daffin.


"Sebenarnya aku sedikit malu mengatakannya tapi... Akan aku katakan." Ucap Daffin.


"Kita sudah sama-sama dewasa Freya dan aku laki-laki yang normal di tambah, aku juga memiliki ketertarikan khusus padamu dan semua itu hampir membuatku hilang kendali Freya, sungguh aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman. Jawab Daffin menahan malu.


"......." Freya hanya diam membisu mendengar penuturan Daffin.


Hening...... Baik Daffin mau pun Freya kini sama-sama diam seribu bahasa.


"Freya.... Maukah kau menikah denganku?" tanya Daffin to the point, memecah keheningan.


"......" lagi-lagi Freya tak menjawab dia hanya membisu.


Daffin menatap lekat wajah gadis yang sudah memporak pondakakan hatinya entah sejak kapan tapi rasa itu ada dan nyata di dalam hati Daffin.


Ini bukan sebuah perasaan sesaat tapi ini benar-benar perasaan yang tulus yang dia miliki untuk gadis yang kini tengah duduk di sampingnya.


"Daffin kau sadar dengan ucapanmu?" tanya Freya terlihat shok.


"Sangat sadar Freya.... Aku benar-benar ingin menikah denganmu dan hidup denganmu" jawab Daffin.


"Tapi kenapa Daffin?" tanya Freya tak percaya.


"Kau jelas tau hidupku sedang tidak baik-baik saja, bahkan mungkin saja saat ini nyawamu akan dalam bahaya karena telah banyak menolongku, membayangkannya saja rasanya aku tidak sanggup." Ucap Freya sendu.


Daffin menggenggam lembut tangan Freya, dia juga mengangkat dagu Freya yang tertunduk lesu.


Kedua bola mata mereka beradu dan menunjukan perasaan yang hanya di mengerti oleh masing-masing.


"Karena aku mencintaimu Freya, aku ingin hidup denganmu Freya karena Alloh." Jawab Daffin tegas.


"Aku tidak peduli dengan kemarin atau masa lalumu Freya, karena aku hanya ingin hidup dengan masa depanmu dari mulai hari ini, esok dan seterusnya dalam mahligai pernikahan yang di Ridhoi Alloh dalam sakinah mawwaddah warohmah." Ucap Daffin penuh kesungguhan.


" Deg... "


Dada Freya bergemuruh matanya terasa panas dan air matanya pun tak kuasa dia bendung lagi.


" Tidak Daffin.... Jangan" tolak Freya dan Daffin pun cukup kecewa mendengarnya.


"Kau berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku, aku bahkan baru memeluk islam dan belum mengerti banyak hal tentang islam, di tambah kehidupanku yang semberaut dan berada pada ketidak pastian."


"Aku merasa tidak pantas untukmu Daffin, kau begitu baik padaku, sampai aku tidak tau dengan apa harus membalas budiku padamu Daffin." Ucap Freya sembari mulai menangis.


"Freya tatap aku..." Pinta Daffin mengabaikan semua yang ditakan Freya tadi.


Freya menggelengkan kepalanya tanda menolak.


"Freya tatap aku pinta Daffin lagi seraya menarik dagu gadis itu pelan hingga kedua bola mata mereka beradu saling menatap satu sama lain.


"Apakah kau pernah menaruh hati untukku Freya?" Tanya Daffin.


"......" Freya tidak menjawab.


"Jawab Freya, apakah kau pernah menaruh perasaan untukku di hatimu Freya?" Tanya Daffin lagi.


Freya mengalihkan pandangannya ke arah lain sekuat tenaga dia mencoba menghindari tatapan mata Daffin.


"Freya?....." Panggil Daffin lagi.


"Mari kita menikah Freya, aku bukan laki-laki kaya dan bukan juga laki-laki hebat yang berpangkat dan berlimu hebat."


"Aku hanya laki-laki biasa dari kampung yang sedang berusaha merintis sebuah usaha kecil di ibu kota, yang tak sengaja jatuh hati pada seorang wanita hebat, kuat dan tangguh dalam menghadapi semua kesulitan dalam hidupnya."


"Mungkin aku tidak akan bisa memberikan harta atau kemewahan untukmu Freya, dan aku hanya mampu memberikan sebuah keluarga dalam kesederhanaan."


"Menang terdengar tidak menjanjikan tapi inilah aku Freya, dan hanya ini yang aku punya, apakah kau mau hidup dengan ku Freya, dengan apa adanya diriku?" tanya Daffin Bersungguh-sungguh.