
❤️Bimbing Aku❤️
"Sepertinya mimpimu buruk sekali Freya?" Tanya Daffin yang kini sudah kembali duduk di samping Freya.
"Berikan Alqur'annya dan minumlah airnya" pinta Daffin seraya menyerahkan secangkir air putih di tangannya pada Freya.
"Alqur'an?" tanya Freya tak mengerti.
"Iya Alqur'annya berikan padaku, dan minumlah dulu airnya" pinta Daffin mengulang kembali perkataannya.
Freya sungguh tidak mengerti perkataan Daffin lantas dia pun menunduk seraya melihat kedua tangannya dan betapa kagetnya Freya saat melihat ke dua tangannya sedang mendekap erat sebuah Alqur'an di dadanya.
Melihat itu Freya menangis sejadi-jadinya, dia tidak tau kenapa Alqur'an itu tiba-tiba ada di tangannya karena Freya sangat sadar betul bahwa saat dia tertidur tadi, dia tidak memegang Alqur'an tersebut.
"Hiks... Hiks... " Suara tangisan Freya.
"Freya ada apa? Kenapa kau tiba-tiba menangis seperti ini?" tanya Daffin beruntun.
"Tenanglah Freya" pinta Daffin.
Edwin yang baru keluar dari kamar mandi pun terkaget saat melihat Freya menangis tersedu-sedu di ruang tamu, Edwin pun bergegas menghanpiri Freya dan Daffin.
"Ada apa Daf, Kenapa dia menangis?" tanya Edwin penuh tanya.
"Gue juga gak tau Ed, tiba-tiba dia menangis seperti ini" jawab Daffin yang juga kebingungan.
"Gak mungkin tiba-tiba nangis kan?" tanya Edwin lagi,
"Beneran gak tau gue" jawab Daffin jujur.
"Freya lo kenapa, Daffin nyakitin elo?" tanya Edwin.
"Hus... Ngawur, gue gak ngapa-ngapain dia kok" jawab Daffin tak terima.
Freya tak menjawab dia masih menangis tersedu-sedu.
"Ya terus kenapa dia sampe nangis gitu, kaya orang tersakiti." Ucap Edwin penuh tanya.
"Tadi saat lo ke kamar mandi, gue liat dia tidur di atas sofa, terus gue lihat tidurnya gelisah banget bahkan tubuhnya sampe gemetar dan berkeringat, karena gue pikir dia lagi mimpi buruk ya gue bangunin dia lah, terus dia bangun setelah itu dia nangis seperti ini." Ucap Daffin menjelaskan.
"Hem... Beneran lo gak...." Tanya Edwin penuh curiga.
"Gue beneran gak ngapa-ngapain Ed lo jangan Suudzon sama temen lo sendiri." Jawab Daffin tak terima.
"Ya elo gak usah sewot juga Daf.." Jawab Edwin.
"Pikiran buruk lo tuh yang bikin gue sewot." Jawab Daffin kesal.
"Iya deh Sorry" jawab Edwin sekenanya.
"Freya lo kenapa?" tanya Edwin menanyakan pertanyaan yang sama.
"Daffin gak nyakitin Elo kan?" tanya Edwin lagi.
"Isst..." terdengar desitan kesal dari mulut Daffin karena temannya Edwin tak mempercayai dirinya.
Freya pun menjawab dengan menggelengkan kepalanya, yang berarti "Tidak".
"Terus kenapa elo nangis kaya gini? Bikin orang panik tau gak?" tanya Edwin lagi beruntun.
Namun Freya tak menjawab dia masih menangis tersedu-sedu.
"Hiks.. ... Hiks.. ... Hiks.." Suara tangisan Freya terdengar semakin nyaring.
Melihat itu Daffin dan Edwin pun sampai kebingungan di buatnya, mereka benar-benar tidak mengerti harus bagai mana lagi cara menenangkan Freya yang sejak tadi terus menangis karena Freya benar-benar tidak mengatakan sepatah kata pun dari mulutnya terkecuali suara isak tangisnya.
Daffin dan Edwin pun memutuskan untuk membiarkan Freya menangis sampai puas sampai dia lelah, karena jika dia sudah lelah menangis dan sudah puas mengeluarkan apa yang ada di dalam hati dan pikirannya lewat tangisan, Freya pada akhirnya pasti akan mengatakan apa yang membuat dia menangis tersedu-sedu seperti saat ini.
Lama Daffin dan Edwin menunggu dengan sabar sampai Freya benar-benar tenang dan berhenti menangis.
Freya bahkan telah menghabiskan setangah kotak tisu untuk menghapus air matanya dan ingusnya yang juga ikut keluar.
Setalah beberapa lama akhirnya Freya pun mulai tenang dan suara tangisan itu pun mulai mereda.
Daffin dan Edwin pun hanya saling pandang dan berbicara dengan isyarat mata mereka.
Edwin memberikan isyarat kepada Daffin dengan kedua kornea matanya yang di tujukan pada Freya seolah berkata "Udah mulai tenang tuh, elo tanya gih" dia juga menaikkan ke dua alisnya yang berarti "cepetan." begitulah kira-kira artinya.
Daffin pun menjawab dengan hal yang sama dia mengangkat kedua alisnya seolah berkata "Elo aja" jawab Daffin.
Seolah tak terima Edwin pun menjawab kembali dengan membolakan matanya dan menunjuk Freya dengan kedua kornea matanya yang berarti "Elo aja Daf.. Cepetan tanya" jawab Edwin tak mau kalah.
Daffin tidak menggubris kode isyarat dari Edwin dia mengacuhkan apa yang di minta Ediwin. Melihat itu Edwin sangat kesal pada Sahabat tersebut.
Edwin pun menendang kaki Daffin seolah berkata. "Cepetan tanya." Pinta Edwin.
Raut wajah mereka menunjukkan perlawanan masing-masing, mereka sama-sama tidak berani bertanya pada Freya yang sudah mulai tenang dan tidak mengisi lagi.
Sementara Edwin dan Daffin saling berdebat dalam bahasa isyarat yang hanya di mengerti oleh mereka bedua, tiba-tiba terdengar suara lembut dari mulut Freya.
"Daffin" Panggil Freya.
"Eh... Iya... Ada apa Freya?" jawab Daffin penuh kehati-hatian.
"Daffin..." tanya Freya lagi sembari menunduk.
"Kau ingin sesuatu Freya?" Tanya Daffin bingung.
Freya pun mengangkat kepalanya dan memandang raut wajah Daffin yang penuh dengan tanda-tanya seraya berkata.
"Aku ingin menjadi islam Daffin." Pinta Freya dengan air mata yang kembali mengalir dari kedua matanya yang sudah membengkak karena terus menangis.
"Menjadi islam?, maksudnya kamu ingin masuk islam?" tanya Daffin tak percaya.
"Iya Daffin akun ingin belajar islam dan menjadi islam" jawab Freya lagi.
"Sungguh Freya?" Tanya Daffin memastikan.
"Aku bersungguh-sungguh Daffin." Jawab Freya dengan teguh dia bahkan menyeka air mata yang membasahi kedua pipi indahnya.
Edwin di buat terperangah mendengar penuturan Freya dia bahkan sampai membisu dan tak tau harus mengatakan apa, karena sebelumnya Freya dengan gamblang berkata dia tidak pernah percaya dengan adanya Tuhan dan tidak akan mempercayai Tuhan.
Tapi saat ini dia mematahkan ucapannya sendiri, dia juga nampak bertekad dengan ucapannya bahwa dia ingin memeluk agama Islam yang artinya mengakui bahwa dia percaya bahwa Alloh SWT adalah Tuhannya.
"Bimbing aku Daffin" pinta Freya dengan sangat.
Daffin pun terdiam sejenak dia bingung harus mengatakan apa.
"Freya aku senang kau ingin menjadi seorang muslimah dan menerima islam sebagai agamamu yang artinya kau mengakui Bahwa Alloh SWT adalah Tuhanmu saat ini."
"Aku sangat siap untuk membantumu dalam mempelajari islam, tapi untuk menjadi islam kau harus menemui seorang ulama, Kiyai atau Ustadz agar mereka bisa membimbingmu membaca dua kalimat syahadat dengan benar." jawab Daffin.
"Apa akan sangat sulit untuk menjadi islam?" tanya Freya.
"Tidak hanya cukup membaca dua kalimah Syahadat saja, maka kau sudah menjadi muslim seutuhnya." Jawab Daffin menenangkan.
"Dua kalimah syahadat? Seperti apa itu?" tanya Freya penasaran.
"Bacaannya seperti ini" ucap Daffin.
"Asyhadu" ucap Daffin.
"Asyhadu" di ikut Freya.
"An laa" ucap Daffin.
"An laa" di ikuti Freya
"Ilaha" ucap Daffin.
"Ilaha" di ikuti Freya.
"Illallah," ucap Daffin
"Illallah" di ikut Freya.
"Wa Asyhadu" ucap Daffin
"Wa Asyhadu" di ikuti Freya
"Anna" ucap Daffin
"Anna" di ikuti Freya
"Muhammadar" ucap Daffin
"Muhammadar" di ikuti Freya
"Rasulullah." Ucap Daffin
"Rosulullah." di kitu Freya.
Artinya : "Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu utusan (Rasul) Allah." ucap Daffin.
"Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu utusan (Rasul) Allah." di ikuti Freya dengan di bareng derai air mata yang kembali mengalir dari kedua matanya.
"Alhamdulillah" ucap Daffin,