
♥️Isyarat Restu♥️
Dengan hati berdegup kencang perlahan Freya membuka salah satu daun pintu tersebut.
" Clak.. " Suara pintu terbuka.
Nampaklah sebuah ruangan terbuka bagikan sebuah taman di belakang rumah.
Pemakan itu nampak indah dengan hiasan bunga hidup yang berwarna warni, begitu segar dengan silkulasi udara yang sangat luas, selain itu pemakaman itu juga begitu bersih dengan bebatuan yang sengaja di bias melingkar di samping makam sehingga nyaman untuk di duduki.
Pemakaman itu benar-benar di baut sangat indah bagaikan taman bunga, sekilas orang lain pasti tidak akan mengira bahwa tempat itu bukanlah sebuah pemakaman, melainkan taman bunga.
"Mommy, Daddy, Nenek, Freya pulang." Ucap Freya dengan nada bergetar.
Freya melangkahkan kakinya mendekati tiga makam keluarganya, lalu Freya menghentikan langkah kakinya kala melihat satu makam yang Freya rasa begitu asing, Freya melihat nisan dari makam tersebut tapi sayang tidak ada nama siapapun di batu tersebut.
"Makam siapa ini?" tanya Freya pada pak Hasan.
"Itu.... Non..." Ucap Pak Hasan kebingungan.
"Itu makam atas namamu Freya..." Jawab Daffin.
"Apa?" Jawab Freya kaget.
"Saat kejadian kebakaran waktu lalu, aku meminta pak Hasan untuk membuat makam kosong atas namamu, agar semua orang yang masih berusaha menyakitimu tau kalau kamu sudah meninggal, dengan begitu mereka pasti akan berhenti mencarimu." jawab Daffin menjelaskan.
"Deg...." Freya terperangah dia tidak menyangka Daffin bisa berbuat sejauh itu untuk dirinya.
"Maaf Freya aku tidak bermaksud..." ucap Daffin terhenti kala Freya memotong perkataan Daffin.
"Tidak apa Daffin aku berterima kasih atas semua bantuanmu" ucap Freya, memotong pembicara Daffin.
"Jangan sungkan Freya, sekarang aku adalah suamimu, dan kau adalah tanggung jawabku di dunia dan akhiratku." Jawab Daffin.
"Suami?" ucap Pak Hasan terkaget.
"Iya pak Hasan saya dan Freya sekarang sudah menikah, maaf tidak memberitahu sebelumnya karena kami baru menikah secara Agama." Ucap Daffin merasa tidak enak hati.
"Tapi, Kami akan mengadakan resepsi pernikahan di kampung saya pak, kalau bapak dan ibu ada waktu luang, kami mengundang bapak dan ibu untuk hadir, untuk tanggal resminya akan kami beritahu lagi nanti." sambung Daffin.
"Alhamdulillah... Saya turut senang mendengarnya, sekarang non Freya tidak sendirian lagi, ada Den Daffin yang akan menjaga non Freya dalam suka dan duka." Jawab pak Hasan ikut senang.
"Bapak doakan semoga pernikahan kalian selalu dalam lindungan Alloh, Penuh kebahagian, di limpahi banyak rejeki baik itu anak atau pun materi, dan semoga selalu ada dalam sakinah mawwaddah warohmah Aamiin" sambung pak Hasan mendoakan.
"Aamiin pak terima kasih." Jawab Daffin.
Freya hanya tersenyum mendengar perkataan pak Hasan yang terlihat bahagia mendengar kabar pernikahan dirinya.
"Andai pak Hasan tau aku sendiri masih di buat bingung dengan pernikahan ini." Ucap Freya dalam hati.
Lantas Freya pun mengambil tempat duduk di di atas sebuah batu berukuran sedang, Freya melihat seksama ketiga makam milik keluarganya.
"Freya rindu kalian semua, Freya harap kalian selalu bahagia dan selalu bersama di atas sana." Ucap Freya lagi.
"Maaf karena Freya baru bisa datang berkunjung, tapi doa Freya selalu untuk kalian semua." Ucap Freya dengan tersenyum penuh kesedihan.
"Mommy, Daddy, Nenek jangan hawatir Freya pasti akan membalaskan Dendam kalian pada para penjahat itu, Freya tidak akan membiarkan mereka berbahagia di atas penderitaan kita." Ucap Freya dalam hati.
"Jika hukum negara tidak bisa menghukum kejatan mereka, maka Freya akan membalaskan kejatan mereka dengan tangan Freya sendiri, meski pun harus Freya tukar dengan nyawa, Freya akan melakukannya." Sambung Freya dalam hati dengan penuh dendam di hatinya.
Freya terperanjat saat merasakan setuhan lembut di punggungnya, lalu Freya melihat tangan siapakah yang menyentuh punggungnya.
" Daffin.. " Panggil Freya saat melihat laki-laki itu mengambil tempat duduk di sampingnya dan mengusap lembut punggungnya.
"Mommy, Daddy, Nenek, Freya lupa mengatakan kalau Freya.... Sekarang sudah menikah... Tapi Freya sangat bingung jika harus melanjutkan pernikahan ini, lantas bagai mana dengan Dendam yang akan Freya balaskan pada para penjahat itu." Ucap Freya dalam hati karena tidak ingin Daffin sampai mendengarnya.
"Assalamualaikum..." Ucap Daffin Setalah mengambil tempat duduk di samping Freya.
"Perkenalkan Mommy, Daddy dan Nenek dari Freya, sebelumnya kita belum pernah berjumpa, maka dari itu izinkan saya untuk memperkenalkan diri, nama saya Daffin Al Fawaaz, mohon maaf mungkin agak terlambat untuk mengatakan ini tapi, saya datang ingin meminta Restu dari kalian karena saya sudah menikahi putri kalian." Ucap Daffin lembut.
Freya terperangah mendengar penuturan Daffin yang meminta restu atas pernikahan mereka kepada kedua orang tua Freya dan Nenek Freya.
Nampak senyum merekah di bibir Daffin kala Daffin berbicara di depan tiga makam keluarga Freya.
"Dia tersenyum..." ucap Freya dalam hati saat melihat Daffin tersenyum penuh kehangatan.
Tanpa Freya sadari dirinya pun kini ikut tersenyum.
"Saya mungkin bukan laki-laki kaya raya dan bukan juga laki-laki hebat yang berpangkat dan berlimu banyak tapi, Mommy, Daddy dan Nenek dari Freya, mohon restui saya untuk menjadi suami dari Freya dan izinkan saya untuk menjaga Freya di seumur hidup saya." Ucap Daffin lagi.
"Saya tidak akan menjanjikan apapun Daddy, Mommy dan Nenek dari Freya, tapi akan saya buktikan bahwa saya layak untuk menjadi suami dari putri kalian. Maka dari itu tolong restuilah kami." Ucap Daffin panjang lebar.
Lalu tiba-tiba angin berhembus sedikit kuat menerbangkan bunga-bunga dari tangkainya dan menjatuhkannya tempat di sekitar makam hingga menghujani Daffin dan Freya dengan bunga-bunga yang terbawa angin, entah mengapa baik Daffin, Freya, dan pak Hasan yang melihatnya, mengartikan bahwa Daddy Emmanuel, Mommy Amanda dan Nenek Liliana Yee, seolah memberikan restu mereka melalui Hembusan angin dan bunga-bunga yang berjatuhan menghujani mereka burdua.
"Bunganya beterbangan" ucap pak Hasan lirih.
Freya pun menadahkan kedua telapak tangannya menerima kelopak bunga-bunga yang berjatuhan di kedua telapak tangannya.
"Apa artinya ini...." ucap Freya dalam hati. "Apa kalian ingin mengatakan, kalau kalian merestui pernikahan ini?" tanya Freya masih dalam hati.
Seolah Mommy, Daddy, dan Nenek, kembali menjawab melalui isyarat alam, Freya merasakan sebuah sentuhan lembut dari Hembusan angin yang menerpa tubuhnya.
"Deg...." Freya merasakan tiba-tiba hatinya terasa hangat, padahal angin masih berhembus cukup lembut meniupkan kelopak bunga-bunga dari tangkai-tangkainya.
"Mommy, Daddy, Nenek.... Hiks... Hiks..." Ucap Freya yang kini sudah tidak sanggup menahan air matanya lagi.
Freya menundukkan kepalanya lantas menangis dalam diam.
Daffin yang melihat Freya menangis pun kini menarik Freya ke dalam pelukannya dan mengelus lembut punggung Freya.
"Lihat lah Freya, aku rasa keluargamu merestui pernikahan kita." Ucap Daffin penuh keyakinan.