My Freya

My Freya
BAB 21



❤️Hanya ingin melihatmu❤️


"Asap?" ucap Freya lirih.


Freya benar-benar kehabisan tenaga bahkan untuk menggerakkan jarinya saja dia sudah tidak mampu.


"Apa aku benar-benar akan mati sekarang?" tanya Freya dalam hati, saat melihat api dengan cepat merambat masuk dan membakar setiap sudut rumah mulai dari lantai satu, yang perlahan mulai naik ke lantai dua.


"Kenapa rasanya takut sekali, Mommy, Daddy, Nenek, bagaimana ini Freya takut." Ucap Freya.


Hisk... Hiks... Hiks.... "Tolong siapa pun tolong aku, Hiks... Hiks... Aku... Aku takut sekali." Ucap Freya terisak pilu.


"Uhukk.. Uhuk..." Freya mulai terbatuk-batuk karena asap yang mulai terhisap masuk ke dalam rongga dadanya.


"Sepertinya aku benar-benar akan mati malam ini" ucap Freya pasrah.


"Daffin... Daffin Tolong aku satu kali ini lagi, aku mohon." Pinta Freya menjerit dari dalam hatinya ketakutan.


Sematara itu, Daffin sebenarnya sudah sampai di halaman rumah nenek Freya, namun Daffin menghentikan langkah kakinya kala matanya melihat ada dua mobil yang terparkir di halaman rumah,


Daffin berpikir mungkin Freya sendang kedatangan tamu atau keluarga jauh yang sedang berkunjung.


Namun di detik berikutnya Daffin merasakan ada hal yang aneh, di mana dia merasa bahwa apa yang dia lihat saat ini hampir sama seperti apa yang terjadi di dalam mimpinya tadi.


"Apa jangan-jangan ini mobil para penjahat itu?" tanya Daffin pada dirinya sendiri.


Daffin berniat masuk ke dalam rumah namun dia urungkan saat melihat seorang laki-laki yang Pernah dia lihat sebelumnya, berjalan keluar dari dalam rumah dengan terburu-buru, karena laki-laki itu nampak membawa seorang wanita yang terlihat lemah di pangkuannya.


Melihat itu lantas dengan cepat Daffin pun bersembunyi.


"Bukanlah laki-laki itu pamannya Freya?" tanya Daffin dalam hati.


Laki-laki itu memasukan wanita yang dia pangku masuk ke dalam salah satu mobil yang terparkir di halaman rumah nenek Freya.


Tak lama dua orang laki-laki keluar dari dalam rumah dengan menopang satu perempuan yang nampak terluka dengan darah di bagian lutut wanita tersebut.


Lantas dua orang laki-laki itu kembali masuk ke dalam rumah secara berulang membawa empat orang laki-laki yang sudah tak berdaya dari dalam rumah.


"Deg..."


"Freya" ucap Daffin lirih.


"Aku harap kamu baik-baik saja di dalam sana" ucap Daffin dalam hati.


Daffin masih mencari jalan untuk bisa masuk ke dalam rumah nenek Liliana dan menyelamatkan Freya.


Namun Daffin harus di baut diam tak berkutik lagi, tatkala melihat dua orang laki-laki tadi tengah menyiramkan bensin di setiap dinding penjuru rumah nenek Liliana, dan hal yang paling sadis lainnya adalah dia melihat wanita yang terluka di bagian lutut kini menyalakan sebuah korek api dan melemparkan korek tersebut ke dinding rumah milik nenek Liliana.


Secuil Api yang wanita itu lemparkan dengan cepat menyebar dan membesar, melahap dinding rumah karena minyak tanah yang di siramkan oleh para penjahat itu sangat banyak hingga tak butuh waktu lama untuk secuil api yang di pantikkan untuk membakar dan kini membara dengan begitu dahsyatnya.


"Ayo kita pergi" Perintah Riana saat melihat api sudah begitu besar dan sudah memastikan bahwa tidak mungkin bagi Freya untuk selamat lagi kali ini.


"Aku sudah melihat sendiri Freya terluka karena luka tembak yang dia miliki di punggungnya, aku pun sudah melihat kalau dia sudah tidak berdaya lagi, dan kali ini aku juga sudah membakar rumah yang di tempati Freya, sangat kecil kemungkinan kalau dia akan selamat dari kobaran api ini" ucap Riana dalam hati.


"Sekarang aku bisa tenang mengambil alih seluruh harta keluarga Emmanuel Paul Leo." Sambung Riana lagi dalam hati,


Dia nampak tersenyum lebar dan gurat kebahagian pun terpancar begitu jelas, saking begitu bahagianya dia juga bahkan bisa sedikit melupakan rasa sakit pada lututnya karena luka tembak yang dia miliki.


Daffin kini sudah melihat dua mobil para penjahat itu telah pergi dari halaman rumah nenek Liliana.


Namun sayang ternyata api sama besarnya seperti di bagian pintu depan.


"Ya Alloh bagi mana ini?" tanya Daffin pada dirinya sendiri.


Daffin pun berlari dan menceburkan dirinya ke dalam kolam renang yang tak jauh dari tempat dia berdiri untuk membasahi seluruh tubuhnya, setelah itu, Daffin pun beranjak dan kembali ke pintu belakang, dengan sekuat tenga dia mencoba membuka pintu dan jendela rumah, namun Daffin masih mendapati kesulitan.


Daffin juga tidak bisa masuk melalui jendela karena dari bagian dalam tertutup teralis besi yang begitu kokoh.


Sejanak Daffin mengambil nafas dan menenangkan rasa panik yang mendera dirinya, lantas dia pun melihat tiga gundukan makan mendiang keluarga Freya tak jauh dari tempat dia berdiri.


"Apa kalian bisa membatu ku?" tanya Daffin asal.


"Bodoh mana mungkin" ucap Daffin yang kini sudah kembali mendapatkan kewarasannya.


"Bismillah ya Alloh tolong hambamu ini" ucap Daffin dan dalam satu kali tendangan Daffin pun kini telah berhasil membuka pintu belakang rumah.


"Berhasil." Ucap Daffin dalam hati.


Dengan cepat Daffin mencari keberadaan Freya.


"Freya kau di mana?" Panggil Daffin berteriak.


Uhuk.. Uhukkk... Uhuk.. Daffin terbatuk-batuk kala memasuki bagian belakang rumah, asap hitam telah membuat pandangan mata Daffin pedih dan kabur.


"Freya... Freya kau di mana?" Panggil Daffin lagi.


Daffin berusaha masuk semakin dalam ke dalam rumah.


"Freya... Freya..."


Sayup sayup Freya dapat mendengar suara seseorang memanggilnya.


"Suara siapa itu? Apa itu suara malaikat?" tanya Freya dalam hati getir.


"Daffin.... Aku akan tiada malam ini, aku ingin melihatmu untuk yang terakhir kalinya, hanya sekali, sekali saja aku mohon, datanglah dalam mimpiku." Ucap Freya dalam hati.


"Freya?" Panggil Daffin untuk yang ke sekian kalinya.


Daffin mencari hampir di setiap ruangan di lantai satu tapi tak kunjung menemukan keberadaan Freya, dia pun berlari dan mencoba mencari di lantai dua,


"Freya?" panggil Daffin lagi.


Namun masih tak ada jawaban dari Freya.


Dengan sudah payah Daffin berhasil naik ke lantai dua, dengan pandangan buram karena asap Daffin dapat melihat seseorang yang tergeletak di lantai.


"Freya..." Panggil Daffin, "Itu Freya..." ucap Daffin lagi seraya berlari ke arah Freya dan menghampirinya.


"Ya Ampun Freya" ucap Daffin kaget saat melihat bagian punggung Freya sudah di penuhi darah bahkan di lantai pun nampak sudah basah karena darah dari tubuh Freya.


"Freya bertahan lah" pinta Daffin.


Dengan cepat Daffin membuka ikatan di tangan dan kaki Freya.


"Daffin itukah kau?" tanya Freya dalam hati.


"Ini mimpikah, kau ada di sini, menolongku?" tanya Freya masih dalam hati.