
❤️Demi keselamatan Freya❤️
Pukul 09:00 pagi Edwin pergi menemui pak Hasan, tujuan pertamanya adalah rumah nenek Freya, karena dia tidak tau rumah pak Hasan ada di mana, sesampainya di rumah nenek Freya, nampak banyak orang berkumpul memandangi rumah mendiang nenek Liliana yang kini sudah hangus terbakar,
Dapat Edwin lihat rumah yang mulanya begitu indah dan megah, kini telah hancur dan nampak begitu mengerikan.
Besar dan Dahsyatnya kebakaran semalam di buktikan dengan Tiada yang tersisa lagi dari rumah itu selain dari pondasi-pondasi rumah dan dinding rumah yang mungkin sekarang sudah rapuh akibat tragedi kebakaran semalam.
Banyak orang berdatangan walau hanya sekedar penasaran dan ingin melihat puing-puing rumah nenek Liliana, ada juga yang masih berusaha membantu memadamkan sisa api dan asap yang belum padam.
"Astagfirullah, kerusakan separah ini, Daffin kau harus bersyukur karena Alloh masih menyelamatkan hidupmu, jika Alloh tidak menyelamatkanmu maka bisa di pastikan kau pasti tidak selamat saat ini." Ucap Edwin merasa ngeri dalam hati.
Edwin mengitari orang-orang yang ada di sekitaran dengan matanya, dia mencoba mencari keberadaan pak Hasan di tengah banyaknya orang-orang yang berkumpul saat itu.
Lalu pandangannya tertuju pada seorang laki-laki yang nampak termenung dan menatap kosong bangkai rumah nenek Liliana, terlihat di sampingnya ada seorang wanita yang kini tengah menangis tersedu-sedu, yang sekarang sedang di tenangkan oleh orang-orang di sekitarnya.
Edwin mengenal keduanya, karena keduanya adalah orang-orang yang kini sedang dia cari dan hendak dia temui.
"Pak Hasan, ibu Susi, di sana rupanya mereka" ucap Edwin.
Edwin pun melangkahkan kakinya berusaha menemui pak Hasan, dengan cepat dia menghampiri pak Hasan dan menyapanya.
"Pak Hasan?" Panggil Edwin.
"............" Namun pak Hasan tak menjawab.
"Pak.." Panggil Edwin lagi seraya menepuk pelan pundak kiri pak Hasan.
Nampak pak hasan terperanjat kaget, dilihatnya ada seorang pemuda yang dia kenal sebagai teman baru nona Freya.
"Den..." Panggil pak Hasan dengan suaranya yang parau dan bergetar karena menahan tangis.
Dapat Edwin lihat pak Hasan napak tertekan, syok dan tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.
Tubuhnya memang terlihat kuat dan bugar, namun sorot mantannya menunjukkan isi hati dan pikirannya yang tak bisa membohongi Edwin dia terlihat hancur dan terpukul melihat rumah nenek Liliana yang sudah hangus terbakar saat ini.
"Den... Non Freya dan rumah ini semalam......, tapi... Sekarang...." Ucap pak Hasan tak karuan.
Suaranya bergetar saat mencoba menjelaskan kalau Freya dan rumah nenek Liliana semalam baik-baik saja, tapi sekarang tiba-tiba sudah hancur dan hangus terbakar.
Pak Hasan ingin mengatakan hal itu pada Edwin tapi tiba-tiba pak Hasan merasa lidahnya begitu kelu dan sangat sulit kata-kata itu untuk keluar dari dalam mulutnya.
Edwin cukup mengerti dengan keadaan pak hasan saat ini, wajar saja saat ini dia merasa sedih dan sulit untuk percaya dengan keadaan yang dia lihat secara mendadak.
"Non... Freya juga tidak ada..... mereka bilang.... Non... Non Freya.... sudah.... Sudah...." Ucap pak Hasan terbata seraya menundukkan wajahnya, dia bahkan tidak sanggup lagi melanjutkan perkataannya lagi, karena di detik berikutnya terdengar isakkan tangis yang keluar dari mulut laki-laki itu, pertanda pertahanannya kini sudah roboh dan tak bisa di bendung lagi.
" Hiks.... Hiks....." Isak tangis pak Hasan.
Pak hasan nampak berulang kali menghapus air matanya namun lagi-lagi air mata miliknya kembali mengalir tanpa dia minta.
"Pak Hasan tenanglah, ada hal penting yang ingin saya bicarakan dengan bpk, apa bpk bisa ikut saya sebentar." Pinta Edwin seraya berbisik pelan, karena Edwin tidak mau jika ada yang mengetahui atau pun mendengar perkataan dirinya dan pak Hasan saat ini.
"Maaf Den tapi saat ini saya tidak bisa, saya harus mencari keberadaan non Freya dan jika dia memang sudah tiada seperti yang orang-orang katakan, saya harus menemukan jasadnya, Hisk... Hiks.... " Ucap Pak Hasan kembali menangis dengan kata-kata sendiri.
Tidak ada apapun dalam benak pak Hasan saat ini selain satu hal yaitu Penyesalan, dia benar-benar menyesal karena semalam meninggalkan Freya sendirian dan dia benar-benar menyesal tidak memaksa gadis itu untuk tinggal dengan dirinya di rumahnya, jika saja semua bisa dia ulangi, mungkin saat ini dia masih bisa melihat Non Freya satu-satunya keluarga majikannya yang masih hidup saat ini.
Tidak ada yang tau betapa bahagianya pak hasan saat melihat Freya masih hidup dari masa insiden pembantaian keluarga Nyonya Liliana.
Saat itu pak Hasan harus terpuruk dan hancur sehancur-hancurnya saat melihat orang yang paling berjasa dalam hidupnya, telah ia temukan sudah tak bernyawa lagi.
Dan kini untuk yang ke dua kalinya pak Hasan harus kembali mengalami hal yang sama, rasa sakit dan hancur saat melihat nona Freya juga kini telah tiada untuk yang ke dua kalinya, bahkan rasa sakit dan hancur saat ini lebih sakit lagi dan lebih hancur lagi, karena semua peninggalan nyonya Liliana semasa hidup juga harus ikut lenyap dari pandangan mata pak Hasan saat ini.
"Pak Hasan saya mohon, ikutlah dengan saya sebentar ini tentang Freya." Bujuk Edwin lagi seraya berbisik pelan di dekat telinga pak Hasan dan matanya mengawasi semua orang, agar semua orang tidak mendengar dan merasa curiga dengan apa yang akan di katakan oleh Edwin pada pak hasan.
"Non...."
"Syut...." Potong Edwin kala pak Hasan akan menyebutkan nama Freya.
"Baiklah Den." Jawab pak Hasan mulai merasakan sedikit harapan.
"Ikut saya pak" ajak Edwin melangkah terlebih dahulu meninggalkan kerumunan banyak orang.
Pak Hasan pun mengikuti langkah Edwin yang juga diam-diam pergi meninggalkan kerumunan.
Edwin membawa pak Hasan masuk ke dalam mobilnya, dan pak Hasan pun mengikuti.
Melihat pak Hasan sudah ada di dalam mobilnya Edwin pun membawa laju mobilnya ke tempat yang lebih tenang dan tidak banyak orang berlalu lalang.
"Den..." Panggil pak Hasan.
"Sebentar pak" jawab Edwin seraya memastikan wilayah sekitar mereka sudah benar-benar aman.
"Pak Hasan, seberapa dekat pak Hasan dengan Freya?" tanya Edwin terlebih dahulu.
"Saya memang belum begitu dekat dengan non Freya, tapi saya sudah menganggap non Freya seperti keluarga saya sendiri." Jawab pak Hasan.
"Anggaplah kalau saya percaya pak, dan saya harap bpk tidak menodai kepercayaan saya dan Daffin teman saya, dalam hal menjaga Freya." ucap Edwin.
"Saya tidak akan mengatakan apapun untuk membuktikan kesetiaan saya pada keluarga nyonya Liliana, tapi akan saya buktikan kesetiaan saya pada keluarga nyonya liliana dengan tindakan saya." Jawab pak Hasan.
"Kalau begitu buktikanlah pak." Tantang Edwin.
"Dengan apa?" tanya Pak hasan tanpa rasa ragu.
"Melindungi Freya." Jawab Edwin.
"Akan saya lakukan" jawab pak Hasan tegas.
"Saat ini Freya masih hidup, semalam teman saya Daffin berhasil menyelamatkan Freya dari kejahatan keluarga pamannya, orang yang sama yang sudah membuhun orang tua dan nenek Freya."
"Deg..."
"Mereka lagi pelakunya" jawab pak Hasan geram.
Ada rasa bahagia kala Pak Hasan mendengar kalau Freya masih hidup dan ada rasa marah juga Emosi, kala pak Hasan juga mendengar bahwa orang yang mencoba membunuh Freya adalah orang yang sama yang sudah menghilangkan nyawa Nyonya Liliana dan juga putrinya berserta menantunya.
"Sekarang mereka ada di rumah sakit umum, keadaan Freya masih sangat buruk dan belum sadarkan diri hingga saat ini, mungkin butuh waktu lama agar Freya bisa sembuh kembali."
"Dan agar Freya bisa sembuh dengan baik dan aman, tanpa ada acaman dari orang-orang jahat itu lagi, maka kami membutuhkan bantuan pak Hasan." Ucap Edwin mencoba menjelaskan.
"Katakanlah apa yang harus saya lakukan?" tanya pak Hasan.
"Yang harus Pak Hasan lakukan adalah mengatakan pada semua orang bahwa Freya sudah tiada, termasuk pada orang asing yang mungkin pastinya akan datang untuk mencari tau apa Freya masih hidup atau memang sudah benar-benar tiada."
"Untuk itu pak Hasan harus membuat sebuah makam kosong, untuk membuat agar semua orang percaya bahwa Freya benar-benar sudah tiada." Pinta Edwin penuh penekanan.