My Freya

My Freya
BAB 54



♦️Rumah Pemakaman♦️


"Ya... Kali aja, kamu mau bantu istri kamu buat kabur dari sini Daffin, soalnya sejak kemarin istri kamu gak mau nikah sama kamu kan" Ucap Ambu Nuri.


"Deg...."


Seketika kata-kata itu begitu menusuk hingga ke hati Freya dan Daffin.


"Enggak atuh Ambu." Jawab Daffin kikuk.


"Ya sudah kalau begitu kalian berangkat sore ini ke makam orang tua si eneng, terus besok pagi kita pulang sama-sama buat mempersiapkan acara Nikahan kalian di kampung." Ucap Abah Halim menjelaskan.


"Iya Abah" jawab Daffin.


Pagi itu Daffin langsung pergi ke Kantor, dia langsung menyelesaikan semua pekerjaannya dan memilah beberapa Pekerjaan Ringan yang sekiranya bisa dia kerjakan dari jarak jauh dan bisa dia bawa pulang ke kampung, Setalah itu sisanya dari beberapa pekerjaan berat Daffin tahan hingga beberapa minggu kedepan.


Sore hari sekitar pukul 16.00 Daffin bergegas untuk pulang dengan membawa setumpuk perkerjaan.


Sesampainya di Apartemen Daffin hanya beristirahat sebentar lalu berpamitan bersama Freya untuk pergi berjiarah ke makam keluarga Freya.


Di dalam mobil.


"Daffin.." Panggil Freya.


Daffin menghentikan gerak tangannya yang hendak menyalakan mesin mobil.


"Ada apa?" jawab Daffin.


"Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, ke adaan di desa nenekku masih belum aman untukku, jadi Daffin sebaiknya kita tidak usah pergi ke sana" ucap Freya.


"Freya jangan hawatir, semua akan baik-baik saja, niat kita baik untuk berjiarah ke makam keluargamu, pasti tidak akan terjadi hal yang buruk pada kita hem.." Jawab Daffin menenangkan.


"Tapi Daffin Pak Hasan dan ibu susi bilang masih banyak orang-orang asing yang hilir mudik di sekitar mereka bahkan dengan berani mereka bertanya dan mencari informasi tentang diriku dan keluarga pak Hasan pada warga setempat." Ucap Freya


"Aku takut kehadiranku saat ini di ketahui orang-orang suruhan keluarga pamanku dan mereka pasti tidak akan segan untuk melukai semua orang yang mereka tau dekat denganku." Ucap Freya lagi sedikit cemas.


"Freya.. Tenanglah kita akan melakukan penyamaran, dan dengan penyamaran ini mereka pasti tidak akan mengenali kita." Ucap Daffin.


"Percayalah semua akan baik-baik saja." Ucap Daffin lagi.


Freya pun mengalah dia hanya mampu pasrah dan berdoa semua semua orang bisa selamat dan tidak terluka oleh orang-orang suruhan pamanmya.


Daffin pun membawa laju mobilnya ke tempat pemakaman keluarga Freya.


Sesampainya di sana, Freya langsung menghubungi pak Hasan dan ibu susi melalui sambungan telepon.


Daffin memarkirkan mobilnya dekat dengan salah satu rumah warga yang tak jauh dari puing-puing rumah nenek Liliana Yee yang sudah terbakar dan sudah di robohkan.


Tanah yang sebelumnya berdirikan rumah nenek Liliana Yee, kini berubah menjadi bangunan Rumah sederhana berisikan pemakaman kedua orang tua dan nenek Freya.


Daffin dan Freya pun turun dari dalam mobil setelah sebelumnya mereka bedua melakukan penyamaran menjadi pegawai perkebunan nenek Liliana Yee yang kini di kelola Freya dengan bantuan pak Hasan dan ibu susi istrinya.


Perlahan tapi pasti Freya dan Daffin memasuki area rumah pemakan keluarganya, di sana berdiri sebuah pagar besar yang menjadi pintu masuk rumah pemakaman tersebut.


"Pagarnya tidak berubah" Ucap Freya dalam hati.


Freya dan Daffin pun melangkah memasuki gerbang tersebut dan kini hati Freya terasa nyeri melihat bangun sederhana tak jauh dari gerbang utama.


"Dulu di sana ada bangunan rumah nenek yang begitu besar, tapi kini berubah menjadi rumah sederhana yang berisikan makam Mommy, Daddy dan Nenek" Ucap Freya dalam hati sendu.


Daffin yang melihat Freya termenung langsung saja mengambil tangan kanan Freya dan menggenggamnya erat.


Freya sedikit terperanjat saat merasakan tangannya di genggam lembut oleh Daffin, namun rasanya hati Freya sedikit tenang saat Daffin memegang tangannya.


Pak Hasan pun membuka kunci rumah dan meminta Daffin dan Freya untuk cepat masuk ke dalam rumah pemakaman.


Freya dan Daffin pun langsung memasuki rumah pemakan keluarga Freya sesampainya di dalam Freya tak langsung melihat makam keluarganya, tapi Freya melihat sebuah ruangan cukup luas dan hanya beralaskan karpet berukuran sedang, nampak bagian depan rumah pemakan tersebut seperti sebuah ruang tamu tanpa kursi dan meja.


"Non, uang yang non Freya kasih ke bapak sama ibu, kami buat untuk rumah pemakaman ini, maaf jika disain rumahnya kurang bagus." Ucap Pak Hasan.


"Gak papa kok pak, justru Freya berterima kasih karena bapak sama ibu, sudah mau bersusah payah dalam menjaga makam keluarga Freya." jawab Freya.


"Ini mah belum sebarapa di bandingkan kebaikan yang di lakukan oleh nyonya liliana Yee dan Tuan Hideyosi pada kami non, jadi jangan sungkan." Jawab pak Hasan membuat Freya terenyuh mendengarnya.


"Oh ya non selain ruang tamu ini, ada dua kamar kosong, salah satunya sering bapak sama ibu pake buat sholat kalau habis dari ladang, terus ada satu kamar mandi dan juga ada dapur ala kadarnya." jelas pak Hasan lagi.


Freya nampak tersenyum senang mendengarnya lalu melihat satu persatu ruangan yang ada di rumah pemakan tersebut.


"Non mohon maaf sebelumnya, tanpa sepertujuan non Freya bapak membangun satu bangunan kecil di samping rumah pemakaman ini, untuk bapak jadikan lumbung padi, dan penyimpanan semua hasil panen, karena lumbung yang sebelumnya di rusak oleh orang-orang tak di kenal yang nyariin non Freya dua bulan lalu" ucap Pak Hasan merasa tidak enak hati.


"Tidak apa pak, Freya tidak keberatan, justru Freya yang harusnya mengucapkan terima kasih dan juga memohon maaf karena sudah membuat bapak dan ibu harus terlibat dalam masalah keluarga Freya yang cukup berbahaya." Ucap Freya juga merasa tidak enak.


"Jangan sungkan Non, bapak dan ibu senang bisa membantu dan bapak juga minta maaf karena tidak bisa membatu lebih." Jawab pak Hasan.


"Ini sudah lebih dari cukup, terima kasih, pak hasan dan ibu susi." Ucap Freya.


"Sama-sama Non Freya jangan merasa sungkan untuk selalu meminta bantuan bapak dan ibu" Ucap Pak Hasan dan ibu susi bergantian.


Freya hanya mengangguk pelan sembari menyeka air matanya.


"Non di balik pintu besar itu adalah tempat pemakaman keluarga Non Freya." Ucap Pak Hasan.


Freya pun melihat sebuah pintu besar yang di tunjukkan oleh pak Hasan, tanpa menunggu lama lagi Freya pun melangkah pergi ke depan pintu besar tersebut.


Dengan hati berdegup kencang perlahan Freya membuka salah satu daun pintu tersebut.


" Clak.. " Suara pintu terbuka.


Nampaklah sebuah ruangan terbuka bagikan sebuah taman di belakang rumah.


Pemakan itu nampak indah dengan hiasan bunga hidup yang berwarna warni, begitu segar dengan silkulasi udara yang sangat luas, selain itu pemakaman itu juga begitu bersih dengan bebatuan yang sengaja di bias melingkar di samping makam sehingga nyaman untuk di duduki.


Pemakaman itu benar-benar di baut sangat indah bagaikan taman bunga, sekilas orang lain pasti tidak akan mengira bahwa tempat itu bukanlah sebuah pemakaman, melainkan taman bunga.


"Mommy, Daddy, Nenek, Freya pulang." Ucap Freya dengan nada bergetar.