My Freya

My Freya
BAB 49



❤️Gaun Pengantin❤️


"Sudah lah Neng saran ibu, terima saja pernikahan ini, ibu jamin Neng, hidup kamu akan bahagia, ibu sudah mengenal Daffin dari dia kecil, ibu juga sudah mengamenal abah sama Ambu dari sejak lama, mereka orang yang sangat baik."


"Kamu tidak akan menyesal Neng jika menikah dengan Daffin." jelas ibu Ratih.


Freya nampak termenung mendengar penuturan ibu Ratih, hatinya begitu bimbang.


"Sekarang sebaiknya kamu pakai bajunya ya terus ini Ibu liat ada alat kecentilan (make up) kita pake ala kadarnya ya karena ibu gak terlalu bisa merias pengantin." Jelas ibu Ratih.


"Sok atuh di pake bajunya" Pinta ibu Ratih lagi sambil memberikan satu paper bag berukuran Sedang dan Freya pun menerimanya dalam keadaan bimbang.


"Mau ganti di sini Neng?" tanya Ibu Ratih.


"Di kamar mandi saja" Jawab Freya sendu.


Bu Ratih pun menata semua alat Meka up di atas meja rias milik Daffin.


Freya masuk ke dalam kamar mandi dia mengunci pintu kamar mandi tersebut.


"Apa yang harus aku lakukan untuk menggagalkan pernikahan ini" ucap Freya pada dirinya sendiri seraya menatap pantulan dirinya yang ada di dalam cermin.


"Kalau sampai Aku menikah dengan Daffin, lalu paman Marvin dan bibi Riana mengetahui pernikahanku, maka mereka pasti akan menargetkan kejahatannya pada semua keluarga Daffin." Ucap Freya mengutarakan ketakutannya pada dirinya sendiri.


"Apa yang harus aku lakukan, aku tidak ingin ada korban lagi, cukup keluargaku saja." Ucap Freya semakin ketakutan.


"Tok... Tok... Tok...." Freya terperanjat saat mendengar pintu kamar mandi yang diketuk dari luar.


"Neng kok lama, cepat atuh pernikahannya bentar lagi mau di mulai." Ucap Ibu Ratih.


"I... Iya sebentar." Jawab Freya.


"Ya ampun bagai mana ini...." ucap Freya lagi semakin gusar.


"Neng cepat ya jangan lama-lama di kamar mandi, pamali." Ucap Ibu Ratih lagi dari luar kamar mandi.


"Iya.. Bu sebentar lagi selesai kok" ucap Freya berbohong.


Setelah beberapa saat sudah tidak terdengar lagi suara ibu Ratih berteriak dari luar kamar mandi.


Dengan cepat Freya membersihkan dirinya, untuk mendingankan isi kepalanya yang terasa buntu karena pernikahan ini.


Setalah selesai membersihkan diri, Freya pun mengeluarkan baju pengantin yang ada di dalam paper bag, Baju itu nampak terlihat mewah dan Anggun dengan aksen barukat di bagian tangan, dada hingga memanjang ke bagian bawah, di tambah layer kedua di bagian luar yang trasparan juga memasang aksen barukat di bagian leher dan pinggiran kain yang memanjang hingga ke lantai.



"Cantik" ucap Freya yang terpesona dengan baju pengantin yang dia kenakan.


Perlahan Freya pun keluar dari dalam kamar mandi, ibu Ratih nampak terkagum melihat Freya yang terlihat begitu cantik menggunakan baju pengantinnya yang berwarna putih padahal Freya belum menggunakan riasan apapun di wajahnya.


"Masyaa Alloh Cantiknya." Ucap Ibu Ratih.


Freya sedikit tersipu malu saat ibu Ratih memuji dirinya.


"Ayo sini kita rias wajahmu" pinta ibu Ratih, Freya pun hanya mengangguk kepalanya sebagai jawaban.


Dengan patuh Freya duduk di atas kursi meja rias, dan dengan telaten ibu Ratih memoles wajah Freya dengan semua make up yang tersedia, setelah selesai merias wajah Freya ibu Ratih pun memakaikan Freya kerudung pasmina berwarna putih.


"Neng mau pake kerudung?" tanya Ibu Ratih ragu-ragu.


"Boleh bu.. Tapi saya tidak bisa memakainya." Jawab Freya.


"Ibu pakein ya?" ucap ibu Ratih.


"Iya.. Maaf ya merepotkan." Jawab Freya merasa tidak enak.


Ibu Ratih pun mulai memasangkan kerudung di kepala Freya dengan perlahan, setelah selesai ibu Ratih memasangkan mahkota berukuran sedang di atas kepala Freya yang sudah di balut dengan kerudung sebagai sentuhan akhir dari riasan tangannya.


"Masyaa Alloh Tabarokalloh cantik sekali." Ucap Ibu Ratih terkagum-kagum dengan penampilan Freya.


"Tok... Tok ... Tok... Bu ini Edwin." Ucap Edwin.


Terdengar Edwin mengetuk pintu kamar milik Daffin.


"Sebentar ya Neng ibu tinggal dulu.." Pinta ibu Ratih meninggalkan Freya untuk membuka pintu kamar.


Ibu Ratih pun berjalan ke arah pintu dan membuka pintu perlahan, "Ada apa?" tanya ibu Ratih.


"Pernikahannya mau di mulai ibu, Freya di minta untuk di bawa keluar sama bapak penghulu." Ucap Edwin.


"Iya sebentar lagi" jawab Ibu Ratih.


"bu jangan lama-lama" pinta Edwin lagi.


"Iya... Iya..." Jawab ibu Ratih.


Ibu Ratih pun kembali menutup pintu kamar, dan menghampiri Freya.


"Ayo Neng kita keluar, katanya acara pernikahannya mau di mulai." Pinta ibu Ratih.


"Sekarang..." Jawab Freya kembali merasa bimbang.


"Iya atuh sekarang..." Jawab ibu Ratih.


"Tapi bu tunggu, aku bulum siap." ucap Freya mencoba mengulur waktu.


"Neng... Percayalah kamu tidakkan menyesal menikah dengan Daffin, jadi jangan ragu ya." Pinta ibu Ratih mencoba meyakinkan Freya.


Freya terdiam dia bingung harus mengatakan apa, karena sejujurnya dirinya benar-benar tidak ingin menikah sekarang, yang dia inginkan adalah membalas kejahatan keluarga pamannya dan merebut kembali apa yang sudah mereka rampas dari keluarga Freya.


"Ayo Neng Bismillah.. Niat kan ibadah karena Alloh ta'ala." Ucap Ibu Ratih lagi.


Dengan terpaksa Freya pun akhirnya ikut keluar dari dalam kamar milik Daffin dengan di aping oleh ibu Ratih di sisi kanannya.


"Clak..." pintu kamar pun terbuka.


Nampak ibu Ratih keluar dari dalam kamar terlebih dahulu, lalu di ikuti oleh Freya setelahnya.


Terlihat semua orang sudah berkumpul di dalam ruang keluarga, Freya benar-benar tidak mengenali mereka semua kecuali Abah Halim, dan Ambu Nuri yang merupakan orang tua Daffin, di sana juga ada Edwin sahabat baik Daffin dan Freya tidak mengenali empat orang orang asing yang ada di sana, tiga di antaranya laki-laki dan satu perempuan.


"Ayo Neng maju" pinta Ibu Ratih yang melihat Freya hanya diam terpaku.


"Ah... Iya bu.." Jawab Freya, lantas melangkahkan kakinya menghampiri semua orang.


"Masyaa Alloh cantiknya." Ucap seorang wanita yang tidak Freya kenali.


Sesampainya di dekat sofa tempat semua orang berkumpul, Freya terpesona melihat Daffin yang menggunakan baju berwarna putih, sebagai baju pengantinnya dan celana putih dengan hiasan sarung yang dia pasang di pinggangnya yang memanjang hingga ke paha, Daffin juga nampak menggunakan Kopiah berwarna Hitam yang menambah kesan mempesona bagi siapa saja yang melihatnya.



Tidak hanya Freya yang terpesona dengan penampilan Daffin, Daffin juga terpesona melihat penampilan Freya yang nampaknya begitu cantik dan anggun.


Freya pun duduk di samping Daffin, sesekali mereka saling curi pandang, membuat semua orang merasa gemas melihat tingkah mereka yang nampak malu-malu tapi mau.


"Baiklah karena ke dua pengantin sudah berada di sini, mari kita mulai saja proses Ijab qobulnya." Ucap bapak penghulu.


"Deg.... Tunggu dulu, aku benar-benar akan menikah sekarang?" tanya Freya dalam hati.