
♦️Rencana makan malam Gisel dan Jhon♦️
"Kamar ini sempit sekali.." ucap Freya pelan. Kala melihat kamar Daffin yang memang cukup sempit.
Dengan satu tempat tidur yang posisinya berdekatan dengan tembok dan jendela kamar, lalu di sampingnya ada lemari yang berukuran sedang dan di samping lemari ada ruang kamar mandi, sementara di bagian depan tempat tidur ada sebuah nakas berukuran sedang yang di atasnya ada sebuah TV LED, dan di sampingnya ada sebuah meja belajar yang sekarang mungkin beralih fungsi menjadi meja kerja, di samping meja kerja ada dua buah jendela yang berdekatan dengan ranjang tempat tidur.
Freya melihat seksama pemandangan di luar jendela sangat indah ada sebuah hamparan sawah yang membentang.
"Indah" ucap Freya."
Freya pun membuka koper milik Daffin, untuk mengambil pakaiannya, Freya tidak memiliki banyak pakaian setelah insiden kebakaran waktu lalu, jadinya semua barang dan pakaian milik Freya, Freya satukan dengan pakaian milik Daffin, karena barang bawaan milik Freya hanya sedikit.
Di ambilnya satu setel pakaian miliknya lengkap dengan pakaian dalamnya, lalu di bawahnya pakai tersebut masuk ke dalam kamar mandi.
"Trak..." Suara pintu terbuka.
Freya melihat isi dari kamar mandi milik Daffin dari ambang pintu, seraya berkata...
"Sempitnya mana gak ada Bathtub lagi." Ucap Freya, saat melihat isi dari dalam kamar mandi.
Di sana ada satu kloset duduk, ada juga shower untuk mandi dan cermin yang terhubung dengan Washtapel, dan lemari Penyimpanan peralatan mandi.
"Rumah Daffin benar-benar berbeda dengan Apartemen milik Daffin." ujar Freya mengeluh.
Dengan terpaksa Freya pun masuk ke dalam kamar mandi dan mulai ritual membersihkan diri.
Freya terlahir dari keluarga yang berada dan bisa di bilang kaya raya, dia adalah anak tunggal dalam keluarganya.
"Anak manja" kata itu selalu tersemat dalam diri Freya yang mana semua hal yang Freya inginkan selalu terpenuhi tanpa terkecuali.
Hidup dari keluarga kaya dan memiliki segalanya membuat Freya tidak pernah mengenal arti hidup sederhana atau pun orang tidak punya.
Dan kini dirinya harus di tuntut hidup sederhana dan bahkan tidak punya apa-apa. Jangankan rumah mewah, uang pun Freya harus pandai mengirit, mengingat saat ini dia hidup dari warisan mendiang Neneknya.
Walau pun Nenek Liliana Yee meninggalkan harta yang lebih dari cukup banyak untuk Freya, mulai dari tabungan berupa uang dan perhiasan juga tanah perkebunan yang cukup luas.
Tapi Freya sadar bahwa dia tidak bisa menghambur-hamburkan semua harta warisan dari Neneknya itu, Mengingat saat ini Freya hidup sendiri tanpa rumah dan tanpa keluarga, di tambah Freya yang sekarang memiliki tanggung jawab untuk menjalankan usaha perkebunan milik Neneknya.
Ada banyak orang yang bergantung hidup di tanah perkebunan milik neneknya, semua hal itu yang menjadi sebagian besar alasan bagi Freya untuk hidup hemat dan cermat.
Sedangkan alasan yang lainnya adalah, agar Freya bisa kembali ke negaranya Belgia untuk membalaskan Dendam orang tua dan neneknya, pada Keluarga pamannya Marvin.
Dari itu Semua harta warisan dari Nenek Liliana Yee harus Freya manfaatkan sebaik mungkin, itulah yang Freya pikirkan saat ini sebelum menjadi istri dari Daffin Al Fawaaz.
"Segarnya..." Ucap Freya seraya mengerikan rambutnya yang bahasa.
Sejenak Freya mengamati pantulan dirinya lewat cermin seraya berkata...
"Freya... Saat ini kau sudah menikah, apa yang akan kau lakukan Setalah ini?" tanya Freya pada pantulan dirinya di cermin.
Namun seperti orang gila Freya hanya berbicara sendiri dan tidak mendapatkan jawabannya.
Freya nampak termenung memikirkan jawaban dari pertanyaan yang dia buat sendiri.
"Ini membuatku pusing dan lapar." Ucap Freya yang memang tidak kunjung mendapatkan jawaban.
"Akan ku pikirkan nanti saja" ucap Freya lagi.
♦️BELGIA♦️
"Kak Jhon, orang tuaku ingin bertemu denganmu, Mommy bilang dia mengundangmu untuk makan malam bersama malam ini, apa kak Jhon bisa..." Ucap Gisel.
"Malam ini aku ada acara penting, tapi untukmu akan ku batalkan acara tersebut." Ucap Jhon.
"Benarkah Terima kasih kak Jhon, kau yang terbaik, Mommy dan Daddy pasti senang mendengarnya." Jawab Gisel.
"Sama-sama Gisel" ucap Jhon penuh maksud.
"Baik sebentar aku akan kirimkan pesan pada Mommy sekarang juga." Jawab Gisel gembira.
"Ya lakukanlah..." Jawab Jhon.
Gisel pun mengambil ponsel miliknya dan langsung menghubungi Mommynya lewat sambungan telepon.
"Tut...Tut...." telepon tersambung .
"Hallo mommy." Ucap Gisel saat Riana mengangkat telepon dari Gisel, sembari sesekali melirik pada Jhon yang juga sedang menatap dirinya.
"Hallo sayang ada apa?" tanya Riana.
"Mommy, kak Jhon setuju untuk makan malam bersama malam ini" ucap Riana senang.
"Benarkah" jawab Riana yang juga ikut senang saat mendengarnya.
"Kalau begitu Mommy akan memesan Restoran mewah untuk malam ini." Sambung Riana bahagia.
"Baiklah mom, Mommy urus semuanya aku akan membawa kak Jhon malam ini." Jawab Gisel.
"Tentu saja sayang selagi kita punya uang semua itu bisa di atur." Ucap Riana.
"Baiklah mom aku menyayangimu" ucap Gisel.
"Mommy juga sayang." jawab Riana.
.... Telepon terputus...
"Selesai semua mommy siapkan" ucap Gisel pada Jhon.
"Kau terlihat bahagia." Ucap Jhon.
"Tentu saja aku bahagia, ini adalah makan malam berharga yang selalu aku dambakan, yaitu makan malam bersamamu dan orang tuaku" ucap Gisel antusias.
"Hey... Hey... Jangan terlalu bahagia, aku takut kau tidak bisa lagi berbahagia kedepannya.." ucap Jhon penuh maksud.
"Deg..." seketika Gisel langsung terdiam saat mendengar Jhon mengatakan hal tersebut.
"Maksudnya...." ucap Gisel penuh tanya.
"Hahaha... Kenapa kau serius sekali, maksudku kau jangan terlalu bahagia, karena setelah ini kau pasti akan selalu bahagia." Ucap Jhon menjelaskan maksud dari perkataannya.
"Oh... Hehhe... Aku hampir salah paham." Ucap Gisel yang sudah begitu buta akan cinta.
"Tidak apa Gisel..." Jawab Jhon seraya tersenyum penuh maksud.