
♥️Rencana Resepsi Pernikahan♥️
Taun Anthony dan Taun Gilbert adalah dua orang kepercayaan Daddy Emmanuel, saat ini mereka berdua sedang berusaha mengambil kembali harta milik Tuan besar mereka, dan menyelidiki dalang dari kematian Tuan besarnya dan keluarga Tuannya.
"Baik Tuan" jawab semua bawahannya melalui sambungan telepon.
"Tidak akan aku biarkan kalian bersenang-senang terlalu lama menggunakan harta milik Emmanuel..." ucap Laki-laki misterius itu.
"Aku tidak akan membiarkan harta Emmanuel jatuh di tangan orang-orang serakah seperti kalian" ucap Laki-laki misterius itu lagi.
♦️Pulau tempat berlibur Gisel dan Jhon♦️
"Kak Jhon?..." Panggil Gisel.
"Hemmm" jawab Jhon yang sedang berdiri memandangi Keindahan pemandangan di luar jendela kamar.
"Mau kah kau menikah denganku?" tanya Gisel to the point.
"Heh... Kau sedang melamarku?" tanya Jhon tak menyangka.
"Iya kak Jhon, aku sudah sangat mencintaimu sejak lama, dan kita juga sudah melewati banyak siang dan malam di ranjang yang sama, aku rasa tidak ada salahnya lagi bagi kita untuk menikah bukan?" Ucap Gisel meminta.
"Kau benar Gisel, tapi, kita baru satu bulan bersama, bukankah ini terlalu cepat jika kita menikah sekarang?" jawab Jhon dengan teratur.
"Tapi kak Jhon..." ucap Gisel tertahan.
"Aku... Ingin menikah denganmu" sambung Gisel.
"Jangan hawatir Gisel, kita pasti akan menikah, tapi aku harus meminta izin orang tuaku dulu, seperti yang kau tau saat ini orang tua ku sudah menetap di German, jadi butuh waktu bagiku untuk memperkenalkanmu secara resmi pada mereka." Jawab Jhon penuh misteri.
"Ini tidak akan lama, percayalah" ucap Jhon mencoba meyakinkan.
"Sungguh..." tanya Gisel yang merasakan sebuah harapan besar.
"Tentu saja, kau cukup bersabar sebentar lagi, kita pasti akan menikah." Ucap Jhon.
"Aku harap kita bisa menikah secepatnya kak Jhon, karena aku sudah tak sabar ingin menjadi Istrimu" ucap Gisel bersemangat.
"Bersabarlah sayang." jawab Jhon.
♦️Jakarta Indonesia♦️
Pagi Hari di Apartemen Daffin,
Kini Ambu Nuri, Abah Halim, Daffin dan Freya sedang sarapan bersama, suasana begitu canggung dan hening.
Sesekali Abah dan Daffin berbincang menanyakan seputar pekerjaan Daffin, tapi Setalah itu suasana kembali hening dan canggung.
Suasana Canggung ini berasal dari Ambu Nuri yang sejak duduk di meja makan dia bahkan tidak mengatakan sepatah kata pun.
"Daffin...." Panggil Ambu setelah diam cukup lama.
"Iya Ambu" jawab Daffin cepat.
"Ambu Minta kamu ambil Cuti panjang dan kita bawa istri kamu ke Kampung terus kita kita ulang pernikahan kalian di sana." Pinta Ambu Nuri mutlak.
"Apa harus Ambu?..." Tanya Daffin sedikit risau.
"Harus atuh Daffin, kamu teh anak Ambu satu-satunya, masa nikah harus sembunyi-sembunyi seperti ini." Ucap Ambu Nuri.
"Lagian ni ya Daffin.... Sudah menjadi keharusan, dan juga sudah menjadi bagian dari tradisi di kampung kita, kalau nikah itu harus di umumkan, salah satu caranya dengan di rayain, biar semua orang di kampung tau kalau kamu sudah menikah, dan ke depannya tidak akan menimbulkan pitnah bagi kamu dan istrimu." Ucap Ambu lagi panjang lebar.
Sejenak Daffin melirikkan matanya pada Freya yang nampak diam seribu bahasa.
Daffin bukannya tidak setuju dengan permintaan Ambu, bahkan Daffin juga ingin memberikan pesta pernikahan yang sangat meriah bagi dirinya dan Freya yang sekarang sudah menjadi istrinya.
Tapi masalah terbesarnya adalah Freya masih belum menerima pernikahan ini, hal itu yang membuat Daffin sangat sedih dan cukup ragu untuk merayakan pesta pernikahan seperti yang Ambu ucapkan.
"Daffin setuju saja Ambu, tapi?..." Jawab Daffin terpotong.
"Pokoknya harus setuju titik, ini mah bukan permintaan Ambu Daffin, tapi ini perintah dari Ambu mutlak untuk kamu Daffin, ingat surgamu selamanya ada di kaki orang tua, jadi bicaralah dengan istrimu dan buat dia mengerti, bahwa pesta pernikahan ini sangat penting untuk Ambu dan Abah di kampung." Ucap Ambu tidak bisa terbantahkan.
Freya yang sejak tadi begitu setia mendengarkan pembicaraan antara Ambu Nuri dan Daffin sungguh tak berani sedikit pun untuk berbicara atau pun memotong pembicaraan mereka.
"Oh ya Daffin, sore ini kita pergi jiarah ke makam orang tua istri kamu" Ajak Abah Halim.
"Deg..." Seketika hati Freya berdebar mendengarnya.
"Di mana mereka di makamkan?" tanya Abah Halim lagi.
"Jangan..." ucap Freya dengan cepat, membuat Abah Halim dam Ambu Nuri langsung terlonjak kaget.
"Kenapa jangan?" tanya Ambu Nuri penuh tanya.
"Kitakan mau Jiarah, mau berdoa kenapa...." sambung Ambu Nuri terpotong.
"Ambu.... Maksud Freya, Abah sama Ambu gak usah ikut soalnya tempatnya jauh dan jalannya juga rusak parah." Ucap Daffin berbohong.
"Ya gak papa atuh... Emang kenapa kalau jauh, Ambu sama Abahmah tidak ada masalah dengan jarak yang jauh dan jalan yang rusak." Jawab Ambu Nuri.
"Ambu... Em..." Daffin nampak berpikir mencari alasan.
"Gini maksud Daffin sama Freya... Hem... Bukannya Penikahan Daffin dan Freya mau di rayain ya di kampung, untuk itu Ambu sama Abahkan pasti membutuhkan banyak tenaga dan pikiran, karena pastinya akan banyak yang harus di persiapkan, yakan?..." Jawab Daffin panjang lebar.
"Jadi untuk jiarah ke makam orang tua Freya biar kita berdua saja yang berangkat." sambung Daffin lagi.
"Kalian gak lagi merencanakan hal yang burukkan?" tanya Ambu Nuri sedikit curiga.
"Ya ampun Ambu rencana buruk apa coba? Gak atuh gak ada yang seperti itu." Jawab Daffin mencoba meyakinkan.
"Ya... Kali aja, kamu mau bantu istri kamu buat kabur dari sini Daffin, soalnya sejak kemarin istri kamu gak mau nikah sama kamu kan" Ucap Ambu Nuri.
"Deg...."
Seketika kata-kata itu begitu menusuk hingga ke hati Freya dan Daffin.
"Enggak atuh Ambu." Jawab Daffin kikuk.
"Ya sudah kalau begitu kalian berangkat sore ini ke makam orang tua si eneng, terus besok pagi kita pulang sama-sama buat mempersiapkan acara Nikahan kalian di kampung." Ucap Abah Halim menjelaskan.
"Jangan lupa sekarang ke kantor ambil cuti yang lama..." Sambung Ambu Nuri.
"Iya Ambu, Abah.." Jawab Daffin.
Seketika Daffin dan Freya bisa bernapas lega karena Abah Halim dan Ambu Nuri tidak jadi pergi ke makam orang tua dan nenek Freya.