My Freya

My Freya
BAB 35



❤️Orang tua Daffin❤️


Pagi Hari yang cerah kini Freya sedang duduk di salah satu mesjid di ibu kota di temani Daffin, dan Edwin. Di sana ada juga lima orang yang duduk menyambut kedatangan Freya, Daffin dan Edwin, tiga di antaranya adalah laki-laki dan dua lagi perempuan, Freya tidak tau siapa mereka, tapi yang jelas Daffin dan Edwin memanggil mereka dengan sebutan Ustadz dan Ustadzah, yang artinya lima orang asing di hadapannya adalah pemuka agama dalam Agama Islam.


Di masjid itu Freya kembali mengucapkan Dua kalimah Syhadata dengan di saksikan beberapa orang yang ahli dalam Agama Islam, Freya pun kini benar-benar menjadi seorang muslimah (Panggilan Untuk seorang perempuan dalam agama Islam) seutuhnya.


Freya kembali menangis karena rasa bahagia, dan kini ada dua orang muslimah yang tengah memeluknya dan menenangkan Freya, kedua Ustadzah itu benar-benar menyambut Freya dengan baik saat dirinya benar-benar menjadi Mualaf (sebutan untuk orang yang baru masuk muslim)


Menjelang siang Freya di ajari bagai mana caranya wudhu dan Sholat bahkan Freya mulai melaksanakan sholat pertamanya di waktu Dzuhur dengan di Bimbing para ustadzah.


Mulanya Freya sangat kesulitan karena Agama islam identik dengan bacaan Arab sedangkan dirinya tidak bisa membaca tulisan Arab.


Lalu para Ustadzah itu pun memberikan sebuah buku Panduan tatacara Wudhu dan Sholat, beserta bacaannya untuk Freya, tak hanya itu Freya juga di berikan buku dasar ilmu fiqih, Freya sangat senang menerima semua buku-buku tersebut.


Freya melihat lembaran tiap lembaran di buku itu, sedikitnya Freya bisa membaca setiap bacaan karena terdapat tulisan latin dalam bahasa Indonesia yang memudahkan Freya untuk membaca dan menghapal semua bacaan dalam gerakan Wuhdu dan Sholat.


Beruntungnya Freya sangat menguasai cara membaca, menulis dan cara berbicara bahasa Indonesia dengan baik, sebagai warga negara asing Freya tidak kesulitan dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia.


Pukul 14.00 siang Freya, Daffin dan Edwin pun berpamitan untuk Pulang, pada lima orang pemuka agama islam di ibu kota dari laki-laki dan perempuan.


Saat perjalanan pulang semua nampak baik-baik saja hingga beberapa saat sesampainya mereka di parkiran apartemen milik Daffin, Daffin di kagetkan dengan sebuah telepon masuk dari ibu kandungnya.


📲Panggilan Masuk di ponsel Daffin📲


"Hallo Assalamualaikum Ambu?" Jawab Daffin melalui sambungan tlpn.


"Waalaikum salam Daffin budak Ambu pang kasepna (Anak ibu yang paling ganteng), ****** Ambu Daffin ieu Ambu aya di kota tapi motor si abah malah mogok atuh Daffin ****** Ambu sekarang." Pinta Ambu Nuri yang tak lain adalah Ibu kandung Daffin.


"Apa... Ambu ada di kota?" tanya Daffin tak percaya.


"Iya atuh Ambu teh ada di kota, ini Ambu sama Abah mau ke rumah kamu Daffin, tapi motor si abahna kalah (Malah) mogok pika sebelen." Jawab Ambu Nuri dalam bahasa Sunda.


"Ya udah Ambu tunggu di sana Daffin jemput Ambu sama abah ya" Pinta Daffin.


"Iya atuh sok cepetan." Jawab Ambu Nuri.


"Iya Assalamualaikum" ucap Daffin.


"Waalaikum salam" jawab Ambu Nuri.


📞Sambungan tlpn terputus📞


"Kenapa Daf, si ambu sama si Abah mau ke sini?" tanya Edwin menerka.


"Iya nih merek sudah sampe kota tapi katanya motor abah mogok, jadinya gue harus jemput mereka dulu." Jawab Daffin.


"Gue titip Freya sama lo dulu ya" pinta Daffin.


"Et... Gak Bisa Daf, di rumah gue kan ada Ibu sama bpk lagi jualan, duh mana boleh." tolak Edwin.


"Terus gimana donk, gue juga gak mungkin bilang sama ambu kalau Freya tinggal bareng gue kan" ucap Daffin sedikit berbisik.


"Daffin" Panggil Freya.


"Iya..." Jawab Daffin.


"Sepertinya aku sudah bisa tinggal sendiri sekarang, jadi kau tidak usah hawatir, kamu jemput orang tua mu dan aku akan berkemas pergi." Ucap Freya, karena merasa tidak enak hati pada Daffin.


"Tapi Freya... Mana mungkin...., Dia luar masih sangat berbahaya untukmu, aku..." ucap Daffin terpotong.


"Jangan hawatir aku pasti bisa menjaga diriku sendiri kok" jawab Freya meyakinkan.


Mendengar itu Daffin dan Edwin pun merasa bersalah, apa lagi keadaan Freya masih sangat mengkhawatirkan.


"Baiklah sambil kau berkemas aku akan berusaha mencari tempat tinggal di sekitar sini untukmu." Jawab Edwin pada Freya.


Mendengar itu sebenarnya Daffin tidak setuju, tapi mengingat orang tuanya akan datang dengan berat hati dia pun harus Menyetujuinya, lagi pula Daffin sadar Freya juga sudah terlalu lama tinggal dengannya, dan itu akan menjadi masalah besar jika orang tua nya mengetahuinya.


"Baiklah kalau begitu aku masuk untuk berkemas" ucap Freya.


"Tunggu..." Ucap Daffin.


"Apa boleh seperti ini" ucap Daffin lagi.


"Daffin, orang tua mu menunggu, jangan hawatir aku akan baik-baik saja, lagi pula aku juga sudah terlalu lama tinggal di rumahmu, mungkin sekarang memang saat yang tepat untuk aku tinggal sendiri dan tidak merepotkanmu lagi." Jawab Freya.


"Tapi Freya kau sungguh tidak merepotkan....." Ucap Daffin terpotong.


"Aku tau Daffin kamu sudah begitu baik padaku tapi, aku merasa sudah terlalu banyak memiliki hutang budi padamu Daffin, bahkan aku pun sampai bingung bagai mana harus membalas setiap ke baikan yang sudah kamu berikan padaku." Jawab Freya memotong perkataan Daffin.


"Freya...." Ucap Daffin tapi terhenti tatkala ponselnya kembali berdering menunjukan, menunjukkan ada satu nama yang kini kembali menghubunginya untuk yang kedua kalinya.


📞📲 Ambu❤️ 📲📞..... (panggilan masuk)


Daffin belum menjawab telepon dari Ambunya dia masih bingung dengan keberadaan Freya, di sisi lain dia tidak ingin Freya tinggal jauh dari dirinya, tapi di sisi lain untuk saat ini orang tua nya akan datang dan Freya pun tidak bisa tinggal lagi bersamanya untuk saat ini.


"Daffin pergilah orang tua mu sedang membutuhkan mu, ingat orang tua itu jauh lebih penting dan lebih berharga dari apapun." Pinta Freya dengan penuh senyuman.


"Baiklah, aku pergi, tapi.... Freya setelah orang tuaku pulang, maukah kau kembali tinggal bersamaku." Pinta Daffin penuh harap, rasanya Daffin tidak sanggup bila harus jauh dari Freya.


"Deg...."


"Daffin" ucap Freya lirih, saat dirinya mendengar penuturan Daffin yang meminta dirinya untuk tinggal bersama kembali setelah orang tua Daffin pulang.


Freya tidak menjawab dia merasa bimbang dengan perasaannya, di sisi lain ada rasa hangat menyentuh hatinya, tapi di sisi lain ada juga rasa takut menyelimuti hatinya.


Setelah diam sesaat Freya pun tersenyum dengan lebar, menutupi kebimbangan hatinya.


"Pergilah Daffin." Pinta Freya.