My Freya

My Freya
BAB 22



♦️Darah♦️


"Freya..." Panggil Daffin, "Itu Freya..." ucap Daffin lagi seraya berlari ke arah Freya dan menghampirinya.


"Ya Ampun Freya" ucap Daffin kaget saat melihat bagian punggung Freya sudah di penuhi darah bahkan di lantai pun nampak sudah basah karena darah dari tubuh Freya.


"Freya bertahan lah" pinta Daffin.


Dengan cepat Daffin membuka ikatan di tangan dan kaki Freya.


"Daffin itukah kau?" tanya Freya dalam hati.


"Ini mimpikah, kau ada di sini, menolongku?" tanya Freya masih dalam hati.


"Freya kau bisa mendengarku?" tanya Daffin sembari menepuk-nepuk pelan pipi kiri Freya.


"Daffin..." Panggil Freya lirih tapi masih dapat di dengar oleh Daffin.


"Ayo kita pergi dari sini Freya, bertahanlah" pinta Daffin.


Freya hanya tersenyum saat Daffin menarik tubuh Freya dan mencoba menggendong tubuh Freya di punggungnya.


Setelah Freya dirasa aman di punggungnya, Daffin pun mulai berdiri dan mengstabilkan langkah kakinya dengan beban berat tubuh Freya di punggungnya.


Daffin melangkahkan kakinya mencoba menuruni tangga namun langkah kakinya terhenti tatkala dia melihat sudah tidak ada jalan lagi untuk keluar dari lantai satu, Daffin juga melihat api begitu membara di tambah asap hitam begitu menggumpal di bawah sana.


Akan sangat berbahaya jika Daffin memaksa masuk dan menerobos api dan gumpalan asap di bawah sana, jika itu dilakukannya mungkin yang akan terjadi adalah, dia dan Freya akan mati terlebih dahulu karena kehabisan nafas di sebabkan oleh asap tebal nan hitam, lalu terpanggang hidup-hidup dalam ketidak sadaran, mengerikan.


"Tidak bisa, sudah tidak ada jalan" ucap Daffin, latas dengan cepat ia kembali ke atas ke lantai dua rumah nenek Liliana.


Sejenak Daffin mengitari setiap sisi di lantai dua dilihatnya sisi di bagian sebelah kanan dari ruang lantai dua mengarah ke arah kolam renang di bawah sana.


"Ini mungkin gila tapi sepertinya masih bisa di coba" ucap Daffin dalam hati tatkala dirinya mendapatkan ide untuk melompat dari lantai dua ke terjun ke dalam Kolam di bawah sana.


Terlebih dahulu Daffin menaruh Freya di lantai yang aman dan tidak terbakar api, dengan cepat dia menggeser sebuah kursi yang juga belum terbakar api karena kursi itu berada di bagian tengah ruangan.


Daffin menggesernya hampir dekat dengan pagar pembatas lantai dua yang kini sedang di lahap api


Setelah dirasa memungkinkan untuk di jadikan sebuah pijakan, Daffin pun kembali menggendong tubuh Freya di punggungnya.


Pertama-tama Daffin memastikan keadaan Freya cukup aman di punggungnya, lalu dia memfokuskan ke kuatan otot dan tenaga di ke dua pergelangan kakinya


"Kau pasti bisa Daffin, kau pasti bisa, Bismillahhirohmannirohim." ucapnya pada diri sendiri.


"Huh" teriak Daffin seraya menghembuskan Napasnya kasar.


"Satu, Dua, Tiga, ucap Daffin dan berlari sangat kencang menginjak kursi yang telah dia susun di samping pagar pembatas lantai dua lalu menginjak sisi pembatas tersebut terakhir Daffin pun melakukan lompatan bebas, menjatuhkan dirinya dan juga Freya ke dalam kolam renang di bawah sana.


"Bur....." Suara riak air dari dalam kolam.


Daffin dan Freya pun jatuh ke dalam kolam renang.


"Huh... huh..." terdengar nafas yang memburu dari bibir Daffin dan Freya bersamaan.


"Freya..." Panggil Daffin, seraya merangkul gadis itu ke dalam pelukannya.


"Daffin" Panggil Freya setelah kembali mendapatkan kesadarannya karena terkena air.


"Ah...." teriak Freya meringis kesakitan karena luka tembak yang dia derita.


"Bertahanlah Freya kita akan pergi dari sini" pinta Daffin seraya menarik Freya perlahan ke arah sisi kolam.


"Ayo naik ke punggungku Freya kita pergi dari sini" pinta Daffin cepat.


"Tinggu Daffin, tunggu" pinta Freya seraya menarik lengan Daffin agar laki-laki itu mau melihatnya.


"Ada apa Freya, kita harus pergi ke rumah sakit secepatnya" jawab Daffin penuh hawatir.


"Daffin tas... Ada Tas di sana..." ucap Freya seraya menunjukan jarinya pada gundukan semak belukar yang tak jauh dari tempat mereka saat ini.


"Tas... Tas siapa?" tanya Daffin bingung.


"Daffin tolong ambil tas itu" pinta Freya lemah.


"Nanti saja Freya kita harus ke rumah sakit sekarang atau ke adaanmu akan semakin parah" Tolak Daffin.


"Tidak Daffin sekarang." Pinta Freya memelas.


"Baiklah kau tunggu di sini" jawab Daffin terpaksa.


Daffin pun berlari menghampiri semak belukar tersebut di carinya tas yang di minta Freya, karena panik Daffin sedikit kesulitan mencarinya, hingga setelah beberapa saat Tas yang di maksud Freya pun bisa di temukan.


Dengan cepat Daffin menghampiri Freya, terlihat Freya sudah begitu lemah dan setengah sadar,


"Freya bertahanlah" pinta Daffin untuk yang ke sekian kalinya.


Sejenak Daffin membuka ponselnya dan mencoba memesan sebuah mobil dari aplikasi, sembari menunggu si Driver menerima pesanannya Daffin menggendong Freya kembali di punggungnya tak lupa dia juga membawa tas yang di pinta Freya sebelumnya.


Dengan susah payah Daffin mencoba membawa Freya ke luar dari kobaran api yang membakar bangunan Rumah nenek Liliana,


Dengan sisa kesadarannya dan mata buramnya Freya bisa sedikit melihat tiga makam milik ke dua orang tuanya dan neneknya yang kini tengah di lewatinya.


"Mommy, Daddy, Nenek." Panggil Freya dalam hati sebelum akhirnya Freya benar-benar tak sadarkan diri.


Daffin merasakan tubuh Freya semakin terasa berat, "Freya aku mohon bertahanlah" pinta Daffin.


Daffin terus berlari hingga akhirnya dia telah berhasil ke luar dari gerbang rumah nenek Liliana.


Daffin tak berani melihat ke belakang, yang dia fikirkan saat ini adalah bagaimana caranya agar bisa cepat sampai di rumah sakit untuk mengobati luka yang di dapatkan Freya saat ini.


Daffin merasakan ponselnya bergetar pertanda driver mobil online pesanannya telah menirima pesanan yang dia pinta,


Daffin menunggu di tepi jalan tak lama mobil pun datang, dengan cepat Daffin memasukkan Freya ke dalam mobil dan meminta supir untuk membawanya ke rumah sakit.


"Pak Cepat ke rumah sakit terdekat." Pinta Daffin.


"Baik" jawab si sopir.


Sang supir pun mengerti dia langsung membawa laju mobilnya ke rumah sakit terdekat.


"Freya hey... Bertahanlah, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit." Pinta Daffin lembut.


Namun Freya tak menjawab, bahkan wajah Freya sudah mulai pucat dan memutih.


Melihat itu Daffin benar-benar ketakutan, tangannya bergetar air matanya tak kuasa ia bendung lagi.


"Freya bertahan lah.. Jangan tinggalkan aku" ucap Daffin parau.


Daffin berusaha menggosok-gosok ke dua telapak tangan milik Freya secara bergantian, menyalurkan rasa hangat, berharap hal itu akan berhasil, tapi di detik berikutnya Daffin harus di sadarkan dengan darah segar yang sejak tadi terus keluar dari punggung ramping milik Freya.


"Darah" ucap Daffin lirih saat melihat darah segar di telapak tangannya kala Daffin menyentuh punggung Freya.