
❤️Melawan Troma dan Rasa takut❤️
"Selesai" ucap Freya.
Setelah melihat semua jenis sayuran hasil panen telah di bungkus dalam kantong kresek berukuran sedang dan siap di bagikan pada sebagaian warga yang tinggal tidak jauh dari rumah mendiang nenek Liliana.
Awalnya Freya merasa kesulitan dalam membatu memasukan hasil panen kedalam kantong kresek.
Ingatan buruk tentang dirinya yang di buang menggunakan kantong kresek besar, tergambar jelas di pelupuk matanya.
Dengan sekuat tenaga Freya mencoba menghilangkan rasa tromanya pada kantong kresek yang ada di hadapannya dan... Berhasil, Freya bisa menyentuh kantong kresek yang tepat berada di hadapannya dan mulai mencoba berdamai dengan seluruh rasa takut yang mendera sepenuhnya pada hati dan pikirannya.
Freya merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat, dadanya sesak, jantungnya berdetak lebih cepat, dan keringat dingin membasahi tubuhnya.
Melihat hal itu Ibu Susi dan Pak Hasan pun menjadi hawatir dengan keadaan Freya.
"Non jika sakit istirahat saja, biar saya dan istri yang mengerjakan semua ini" ujar pak Hasan.
"Tidak pak, saya baik-baik saja, ini hanya masalah kecil, dan saya bisa mengatasinya." Ucap Freya menenangkan.
"Saya tidak boleh takut pada apapun." Ucap Freya lagi.
Pak Hasan dan ibu susi pun hanya bisa diam seraya memperhatikan keadaan Freya.
Pak Hasan dan bu susi mencoba mengajak Freya bersenda gurau, agar Freya bisa merasa sedikit tenang.
Hal itu pak Hasan lakukan, Karena pak Hasan sadar betul Freya sedang berusaha menghilangkan rasa tromanya atas kejadian naas yang menimpa dirinya dan keluarganya beberapa minggu lalu.
"Malang sekali nasib anda nona Freya." Ucap pak Hasan dalam hati.
"Baiklah ayo kita bagikan" ajak Freya karena melihat semuanya siap hantar.
"Non mau ikut?" tanya pak Hasan.
"Iya, Ayo." Jawab Freya.
"Tapi non wajah non Freya terlihat pucat ibu sedikit hawatir dengan keadaan non kalau non Freya ikut, takutnya keadaan non Freya tidak baik-baik saja saat di perjalanan" ucap Ibu susi.
"Bagaimana kalau non di rumah saja, nanti ibu buatkan sedang jahe buat non" ucap Ibu Susi mencoba mencegah Freya ikut.
"Saya rasa istri saya ada benarnya non, non Freya istirahat saja, biar saya sendiri yang pergi mengantarkan semua hasil panen untuk warga." Ucap pak Hasan.
Freya sejenak diam tak menjawab dan berusaha Mengendalikan irama detak jantungnya yang ia rasa berdetak lebih cepat dari biasanya.
" Baiklah saya di rumah saja, pak Hasan di temani ibu saja untuk membatu membagikan semua ini pada warga." Ucap Freya setalah beberapa saat.
"Tidak non saya bisa sendiri, biar istri saya di sini saja, menemani non Freya." Ucap Pak Hasan.
"Iya non saya di sini saja sama non Freya," jawab ibu susi.
"Baiklah kalau begitu, terserah bpk sama ibu saja." Ucap Freya.
Pak Hasan nampak terlihat lega mendengarnya, karena sejujurnya pak Hasan sangat mengkhawatirkan keadaan Freya, dia sudah menganggap Freya seperti putrinya sendiri.
"Kalau begitu saya masuk dulu." Ucap Freya, berpamitan.
"Iya non" jawab pak Hasan dan ibu susi berbarengan.
"Kasian non Freya, dia napak tertekan sekali, tapi berusaha untuk tetap kuat di depan kita." Ucap ibu susi.
"Tertekan, Itu sudah pasti bu, siap juga yang mau kehilangan orang-orang yang kita sayangi sekaligus secara bersamaan, tidak ada bu, bpk juga gak mau."
"Dan pastinya non Freya pun juga tidak pernah menginginkan hal ini"
"Non Freya berusaha kuat di depan Kita, itu hanya sebuah kepura-puraan saja, nyatanya dia pasti sangat sedih dan terpukul."
"Jika bpk jadi non Freya mungkin bpk tidak akan bisa kuat."
"Di usia yang sangat muda non Freya Kehilangan seluruh keluarganya dengan secara tiba-tiba, dan terasing di negara orang lain, tanpa kerabat dan sanak saudara yang mendukung, bukankah itu menyakitkan,"
"Nauzubillah pak, semoga keluarga kita selalu di lindungi Allah SWT." Ucap ibu susi, seraya mengucap doa.
"Aamiin." Jawab pak Hasan.
"Kalau begitu bpk pergi dulu bu." Ucap pak Hasan.
"Iya pak hati-hati di jalan" jawab ibu Susi.
Di dalam rumah, Freya berjalan limpung, langkah kakinya sedikit terseok-seok, dia memegang dadanya yang terasa sedikit sesak,
Freya berusaha masuk ke dalam kamarnya, sesampainya di kamar Freya duduk di atas ranjang dan mencoba menenangkan seluruh tubuhnya.
"Huh"... (Menghembuskan napas)
"Huh...." (Menghembuskan nafas untuk yang kedua kali)
"Huh...." (Menghembuskan nafas untuk yang ke tiga kali)
Freya mencoba mengatur nafasnya lagi dan lagi Freya juga mencoba memejamkan mantannya "Tenang, tenang.... " Ucap Freya pada dirinya sendiri.
Setelah beberapa saat Freya pun mulai bisa bernapas dengan lega seperti biasanya, dan detak jantungnya pun sudah mulai berangsur kembali normal.
"Kau harus kuat Freya, jangan lemah jangan! dan jangan takut" pinta Freya pada dirinya sendiri, berusaha untuk Tegar.
"Aku pasti bisa, aku bisa, jangan lemah Freya jangan lemah." Ucap Freya lagi, mencoba menenangkan diri.
Saat Freya sedang memenangkan diri, terdengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok tok tok... (Suara ketukan pintu)
"Non ibu boleh masuk?" tanya ibu susi dari luar kamar.
"Masuk bu pintunya tidak di kunci" jawab Freya.
"Ceklak" (Suara pintu terbuka.)
"Non maaf mengganggu ibu bawa wedang jahe, non mau coba" tanya ibu susi seraya menawarkan segelas wedang jahe yang dia bawa di atas nampan.
"Boleh bu sini saya coba" jawab Freya.
Bu susi pun berjalan masuk ke dalam kamar milik Freya, dia memberikan segelas wedang jahe ke tangan Freya, dan Freya pun menerimanya dengan ke dua tangannya.
"Sini bu duduk" ajak Freya seraya menepuk sisi kasur di sebelahnya.
"Enggak non ibu berdiri saja" tolak bu susi.
"Gak papa bu sini duduk dekat Freya." Ajak Freya lagi.
"Baik non" ucap ibu susi sambil mendudukkan dirinya di atas ranjang empuk milik Freya.
"Sruputt...." terdengar suara saat Freya mencoba minum wedang jahe buatan ibu susi.
Di tegukkan pertama Freya mulai merasakan semua rasa tegang di dalam saraf kepalanya mulai terasa sedikit tenang, dan Freya merasa kepalanya sedikit lebih ringan.
Di tegukkan kedua Freya juga merasa tubuhnya mulai kembali bertenaga, dan Freya juga merasakan ke dua tangan dan kakinya kini terasa hangat setelah sebelumnya terasa sangat dingin.
"Enak" ucap Freya.
"Alhamdulillah, kalau non suka" ucap ibu susi.
"Dan sekarang aku juga merasa tubuhku sudah jauh lebih baik." Ucap Freya.
"Syurlah ibu senang mendengarnya non." Jawab Ibu susi lagi.
"Terimakasih ibu, kalau tidak ada bpk dan ibu Freya tidak tau harus berbuat apa" ucap Freya terlihat sendu tapi bibirnya menunjukkan senyuman getir di iringi ke dua bola mata yang sudah mulai berkaca-kaca.