My Freya

My Freya
BAB 16



❤️Antara Sedih dan Kagum❤️


Pukul 6.30 pagi Freya dan pak Hasan kini sudah kembali ke rumah nenek Liliana, ibu susi menyambut mereka dengan hangat.


Ibu susi juga menyediakan minuman hangat dengan dua mangkok bubur ayam untuk Freya dan pak Hasan.


Dengan lahap Freya menerima dan memakan bubur ayam yang telah di sediakan ibu Susi, setelah melahap habis bubur ayam miliknya, Freya pun menunjukan semua yang dia dapatkan dari pasar pada ibu susi.


"Bu ini lihat banyak sekali titipan untuk nenek dari orang-orang yang ada di pasar, tapi sayang nenek sudah tidak ada jadi tidak bisa menerima semua ini." Ucap Freya getir.


Pak Hasan dan bu susi hanya bisa diam seribu bahasa, karena mereka sendiri bingung bagaimana harus bereaksi.


Tanpa Freya sadari ucapannya membuat suasana menjadi sangat canggung.


"Begini saja kita bagi dua semua oleh-olehnya, ayo bu" ajak Freya seraya mencairkan suasana.


"Baik non" jawab ibu susi sekedarnya.


Freya dan ibu susi pun membagi dua semua buah tangan yang Freya dapat dari pasar untuk neneknya, setelah selesai Freya pun memberikan setengah buah tangannya untuk pak hasan dan ibu susi untuk di bawa pulang.


"Ini buat ibu susi dan pak Hasan." Ucap Freya seraya memberikan setengah bagian buah tangan itu.


"Aduh non tidak usah, buat non aja di sini" Jawa ibu susi.


"Semua buah tangan ini terlalu banyak bu, lagi pula saya cuman sendiri, dari pada mubazir dan akhirnya terbuang sia-sia, mending juga kita bagi dua saja." jelas Freya.


"Tapi non" ucap ibu susi merasa tidak enak hati.


"udah gak papa, ayo terima bu" pinta Freya.


Sejenak ibu susi menoleh pada pak hasan untuk meminta Pendapatnya, pak hasan yang mengerti pun menganggukkan kepalanya pertanda menyetujui.


" Ya udah non saya terima, terimakasih non" ucap ibu susi setelah mendapatkan persetujuan dari pak hasan.


"sama-sama bu" ucap Freya senang.


"Pak hasan Freya mau istirahat sejenak, untuk hasil panen yang mau di kasih ke warga, kita lakukan nanti saja seteh agak siangan." Pinta Freya.


"Iya non gak papa, non istirahat saja dulu" jawab pak hasan.


"Kalau begitu kami pulang dulu non" ucap pak hasan lagi.


"Iya pak nanti ke senin lagi ya" pinta Freya.


"Iya non nanti kami datang lagi." Jawab pak Hasan dan ibu susi.


"Permisi non" ucap pak hasan dan ibu susi lagi.


"Iya pak, bu hati-hati" jawab Freya sambil tersenyum.


Setelah melihat pak hasan dan ibu susu pergi, Freya pun masuk ke dalam rumah, tapi langkah kakinya membawanya pada makam ke dua orang tuanya dan neneknya di halaman belakang rumah.


"Hai mom, dad, Nenek" Ucap Freya seraya mendudukkan dirinya di sela tanah pemisah antara makam nenek dan mommynya.


"Kalian lihat kemarin aku sudah memanen sayuran di kebun Nenek, hasilnya sangat banyak, ini kali pertama bagiku mengurus pertanian, jujur aku sedikit kewalahan, tapi berkat pak hasan dan ibu susi, semua terasa sedikit mudah."


"Dan kalian juga harus tau, malam tadi aku pergi ke pasar bersama pak hasan untuk menjual semua hasil panen dari kebun Nenek, tak kusangka banyak sekali orang yang menanyakan nenek, Nenek juga mendapat banyak salam dan bingkisan dari orang-orang di pasar, Freya sang kagum dengan nenek." Ucap Freya dengan senyum getir di bibirnya.


"Nenek dan kakek banyak di kagumi orang-orang, kalian benar-benar luar biasa, Freya sangat bangga memiliki nenek dan kakek seperti kalian, dan Freya juga sangat bangga telah terlahir dari Mom dan Daddy, kalian adalah keluarga Freya yang sangat berharga." Ucap Freya dengan suaranya yang mulai parau.


"Banyak yang Freya pelajari dari kegiatan panen kemarin, dan Freya sangat salut dengan perjuangan Nenek mengurus perkebunan ini sendirian walau pun tanpa kakek, Mommy dan daddy untuk membantu di samping nenek."


"Sekarang pun Freya sangat sadar kebun Nenek mampu memberikan kehidupan bagi banyak orang di desa ini."


"Lihatlah mom, dad, orang-orang yang bekerja pada nenek, mereka sangat senang saat mendapatkan upah kerja harian mereka."


"Ini sungguh luar biasa" ucap Freya panjang lebar.


Suasana hening tercipta tatkala Freya tertunduk diam, badannya perlahan mulai bergetar, mulutnya terbungkam dan air mata terjatuh membasahi ke dua pipi mulusnya.


"Freya ingin di peluk kalian"


"Freya ingin bertemu"


"Freya rindu" ucap Freya lagi, dengan suaranya yang lirih bahkan hampir tenggelam dengan suara Isak tangisnya.


Isak tangis Freya pun tak kuasa dia bendung lagi, Freya menangis sendirian di samping makam orang tua dan neneknya.


Hening dan hanya suara isak tangis yang terdengar, cukup lama Freya menangis, meluapkan rasa sesak di dadanya sedikit demi sedikit melalui air matanya.


Siapa pun tolong peluk Freya, dia sedang rapuh dan membutuhkan uluran tangan untuk dia pegang erat-erat dan bahu untuk dia bersandar.


Tapi nyatanya kosong, tidak ada siapa pun di sana, bahkan tidak ada satu orang pun yang mungkin hanya untuk sekedar menepuk bahunya dan berkata "Ada aku di sampingmu," sungguh tidak ada, Freya benar-benar sendirian.


Setelah merasa sedikit lebih tenang Freya pun menghapus air matanya seraya menunjukan sebuah senyuman kepalsuan pada makam orang tua dan neneknya.


"Sudah siang, Freya mau tidur dulu, selamat beristirahat mom, dad, Nenek, Freya sayang kalian." Ucap Freya lalu pergi dari taman dan langsung masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.


Freya menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, bahkan Freya tidak membuka sepatunya dia langsung meringkuk dan terlelap.


Lama Freya tertidur mungkin karena terlalu lelah menghadapi semua kenyataan pahit yang datang secara tiba-tiba,


Dalam seumur hidupnya Freya tidak pernah menyangka akan kehilangan keluarganya sekaligus hanya dalam satu malam.


Pukul 11.00 siang Freya terbangun dari tidurnya, dia menggerakkan badannya yang terasa kaku dan memegangi kepalanya yang terasa pusing.


Di lihatnya jam dinding yang sudah menunjukan pukul 11.00 siang.


"Ya ampun aku tidur terlalu lama" ucap Freya.


"Huh..." Hembusan napas nestapa, Freya keluarkan dari mulutnya dengan kasar.


"Aku masih berharap ini hanyalah mimpi" ucap Freya, seraya menjambak rambutnya sendiri dengan ke kedua tangannya.


Freya pun menggelengkan kepalanya dan mencoba menyadarkan dirinya sendiri dari kenyataan, dia menepuk-nepikeun pipinya seraya berkata "Semangat tidak boleh lemah" ucap Freya pada dirinya sendiri.


Freya pun bergegas masuk ke dalam kamar mandi, lantas membersihkan dirinya lalu turun ke ruang tamu, dari sana dia dapat melihat pak hasan sedang duduk di depan teras bersama istrinya seraya berbincang hangat.


Freya pun menghampiri mereka dan Menyapa mereka.


"Pak Hasan, ibu susi, kenapa tidak masuk ke dalam rumah?" tanya Freya.


"Di luar enak non Adem" ucap pak hasan.


Freya menanggapi kembali dengan sebuah senyuman.


"Sayuran buat warga sudah di bungkus pak?" tanya Freya.


"Belum non kita nunggu arahan dari non Freya." Ucap pak Hasan.


"Ya ampun pak kenapa mesti harus menunggu saya, bpk sama ibu bisa langsung bungkus saja," ucap Freya.


"Takutnya salah non" jawab pak Hasan lagi.


"Pak, bu, terus lakukanlah semua hal dan  kebiasaan baik nenek semasa beliau hidup, jangan di hentikan Hanya karena sekarang beliau telah tiada."


"Saya kurang tau kebiasaan baik apa yang biasa nenek lakukan semasa beliau hidup di desa ini, karena saya jarang ada di samping beliau, dan hanya kalian lah yang tau, jadi teruskan saja, jangan pernah di hentikan kebiasaan baik itu, cuman hanya karena adanya saya saat ini."


"Saya memberikan kepercayaan penuh pada bpk dan ibu, untuk terus melestarikan kebiasaan baik nenek dan kakek untuk desa ini." Ucap Freya.


"Baiklah non kalau begitu, saya dan istri akan menjaga dan meneruskan hal-hal baik yang biasa mendiang nyonya liliana dan Tuan Hideyosi lakukan, untuk warga di desa ini." Ucap pak Hasan.


"Iya pak terimakasih, tolong selalu jaga nama baik nenek dan kakek." Pinta Freya dengan penuh harap.


"In syaa Alloh, non" ucap pak Hasan.