My Freya

My Freya
BAB 36



❤️Gagal Pergi❤️


"Baiklah, aku pergi, tapi.... Freya setelah orang tuaku pulang, maukah kau kembali tinggal bersamaku." Pinta Daffin penuh harap, rasanya Daffin tidak sanggup bila harus jauh dari Freya.


"Deg...."


"Daffin" ucap Freya lirih, saat dirinya mendengar penuturan Daffin yang meminta dirinya untuk tinggal bersama kembali setelah orang tua Daffin pulang.


Freya tidak menjawab dia merasa bimbang dengan perasaannya, di sisi lain ada rasa hangat menyentuh hatinya, tapi di sisi lain ada juga rasa takut menyelimuti hatinya.


Setelah diam sesaat Freya pun tersenyum dengan lebar, menutupi kebimbangan hatinya.


"Pergilah Daffin." Pinta Freya.


Daffin pun pergi membawa laju mobilnya ke tempat orang tuanya berada, sesampainya di sana Daffin melihat Ambu (Ibu) nya sedang duduk seraya mengipasi badannya dengan sebuah kertas brosur motor yang entah dia dapat dari mana.


Di sisi lain tak jauh dari samping Ambu Daffin melihat Abah (Ayah) nya sedang duduk di tepi jalan dia sedang berusaha menghidupkan kembali motor kesayangannya yang di berinama Jamrud.


Daffin memberhentikan mobilnya di depan motor sang Abah, nampak Ambu dan Abah hanya bersikap biasa saja saat melihat mobil Daffin berhenti di dekat mereka, karena mereka tidak mengenali mobil baru milik Daffin.


Drap... Suara pintu mobil tertutup,


Daffin turun dari mobilnya di panggilnya dua orang yang paling dia sayangi. "Ambu? Abah?" Panggil Daffin.


"Daffin?" jawab si Ambu senang.


"Budak Ambu anu pang kasepna (Anak Ambu paling tampan)" ucap si Ambu seraya menerima uluran tangan Daffin yang menyalaminya dengan mencium punggung tangan Ambu.


Ambu pun tak kalah bahagia melihat suatu-satunya putra kesayangannya yang kini berdiri di hadapannya.


"Abah" Panggil Daffin,


Daffin pun juga mencium punggung tangan Abahnya.


"Daffin gimana kabar kamu nak? Sehat?" tanya Ambu antusias.


"Daffin sehat Ambu Alhamdulillah" jawab Daffin.


"Terus kenapa atuh kamu teh gak pulang-pulang ke rumah Daffin, Ambu teh jadi khawatir." Tanya Ambu.


"Terus kamu juga kalau di telepon angkatnya lama pisan, sekali nya ngobrol cuman sebentar." Protes Ambu begitu panjang.


"Maaf Ambu Daffin agak sibuk saat ini jadi belum sempet pulang," jawab Daffin merasa bersalah.


"Ya sudah sekarang Ambu sama Abah naik mobil dulu, Daffin sudah panggil orang dari bengkel langganan Daffin buat bawa si Jamrud (Nama motor Abah) ke bengkel." Ucap Daffin.


"Bisa di percaya gak tuh bengkelnya" Tanya Abah hawatir.


"Bisa Abah bengkelnya temen Daffin kok" jawab Daffin.


"Daffin, mobil kamu mana?" tanya Ambu.


"Ini mobil Daffin Ambu." Jawab Daffin.


"Kamu beli mobil baru Daffin?" tanya Abah dan Ambu bergantian.


"Duh.. Gawat Ambu sama Abah kan gak tau kalau aku sempat kena begal beberapa bulan lalu" ucap Daffin dalam hati.


"Mobil lama rusak Ambu jadi Daffin ganti baru mumpung cicilannya belum lunas" jawab Daffin berbohong.


"Rusak? Kok bisa kirain Ambu mah mobilnya bagus" ucap Ambu.


"Sudahlah, ayo cepetan Ambu sama Abah masuk ke dalam mobil di sini panas" ucap Daffin mengalihkan pembicaraan.


"Daffin hati-hati si jambarud (Nama motor Abah) bisi di curi sama orang" ucap Abah mengingatkan.


"Enggak akan abah aman kok Daffin jamin" jawab Daffin meyakinkan.


Tak berselang lama dua orang dari bengkel langgan Daffin pun datang, mereka membawa motor Abah si Jamrud untuk di bawa kebengkel.


Setelah itu Daffin Pun membawa laju mobilnya untuk kembali ke apartemen miliknya.


Sementara Freya kini dia sedang menunggu ke datangkan Edwin yang akan membawanya pergi dari Apartemen Daffin.


Freya menunggu dengan perasaan cemas "Ke mana Edwin, lama sekali" ucap Freya tak karuan.


Setelah lama menunggu akhirnya Edwin pun datang dia masuk ke dalam apartemen Daffin dan menghampiri Freya.


"Freya ayo aku sudah mendapatkan tempat tinggal semestara untukmu." Ucap Edwin.


"Iya Ayo" jawab Freya.


"Enggak ada yang ketinggalan kan?" tanya Edwin.


"Enggak, lagi pula barang milikku hanya sedikit dan semua sudah ku kemas dengan baik" jawab Freya.


"Baguslah Ayo..." Ajak Edwin.


"Em..." Jawab Freya.


Freya dan Edwin pun keluar dari Apartemen milik Daffin, Langkah Freya dan Edwin harus terhenti tatkala melihat Daffin, Ambu dan Abah sudah keluar dari dalam lif.


"Ya ampun cepet banget si mereka datangnya, kok udah di sini aja" ucap Edwin.


"Bukan mereka yang cepet Edwin tapi kamu yang kelamaan datangnya." Jawab Freya, yang merasa kesal sejak tadi Karena harus menunggu Edwin begitu lama di dalam Apartemen.


"Kita pergi dari sini Freya" ajak Edwin.


"Tapi ke mana?" tanya Freya karena apartemen milik Daffin berada di paling ujung gedung.


"Kita kembali ke apartemen Daffin." Ucap Edwin seraya menarik koper milik Freya.


"Apa? Itu tidak mungkin." jawab Freya.


"gak ada lagi cara Freya." Ucap Edwin.


Freya mau tak mau mengikuti langkah Edwin kembali masuk ke dalam Apartemen milik Daffin.


"Freya untuk sementara kamu sembunyi dulu di kamar Daffin, ayo cepet masuk." Pinta Edwin sesampainya mereka di dalam Apartemen.


"Mana bisa nanti kalau ketahuan gimana?" tanya Freya.


"Ya jangan sampai ketahuan Freya." Ucap Edwin.


"Freya kembali ingin menolak namun tiba-tiba pintu apartemen terbuka dan nampak lah sosok Ambu Nuri, Ibu kandung Daffin terlihat Masuk ke dalam Apartemen.


" Ya ampun Gawat," ucap Edwin.


" Edwin" Panggil Freya.


"Masuk Freya cepetena masuk ke kamar Daffin sebelum ketahuan." Ucap Edwin seraya mendorong tubuh Freya masuk ke dalam kamar Daffin.


Trap... Suara pintu kamar Daffin yang di tutup.


"Win win..." Panggil Ambu pada Edwin.


"Ambu, Abah kalian datang ke kota...." Jawab Edwin yang pura-pura tidak tahu kalau Ambu dan Abah Daffin akan datang.


Edwin pun menghampiri Ambu Nuri dan Abah Halim seraya mencium punggung tangan ke duanya.


"Ambu sama Abah datang karena kalian gak pulang ke kampung selama tiga bulan ini," jawab Ambu seraya mendudukkan dirinya di atas sofa ruang tamu di susul oleh abah yang juga duduk di samping Ambu.


"Orang tua Edwin kan udah pada tinggal di kota Ambu jadi ngapain pulang ke kampung." Jawab Edwin.


"Euleh-euleh... Winwin (Panggilan Ambu untuk Edwin) kamu teh jangan ngomong kaya gitu, kudu inget kamu teh lahir di kampung ulah sok poho ka kampung win." jawab Ambu kesal.


"hehe... Iya.. Iya.. Nanti kita pasti pulang kok Ambu" jawab Edwin sekenanya.


"Telepon Ibu kamu Win, kasih tau Ambu ada di kota gitu cepetan" pinta Ambu.


"Jam segini si ibu lagu sibuk atu Ambu, kan sama si ibu juga di sini buka warung kaya Ambu di kampung." jawab Edwin.


"Iya telpon aja dulu nanti kalau udah enggak sibuk suruh temuin Ambu di sini." Pinta Ambu semangat.


"Iya nanti Edwin telepon Ibu sama bapak" jawab Ediwin.