
♦️Bujukan Ibu Ratih♦️
Dan kali ini untuk pertama kalinya Abah Halim dan Ambu Nuri benar-benar meminta pertolongan pada keluarga Edwin, sudah jelas keluarga Edwin pasti harus siap membatu apapun dan bagai mana pun keadaannya.
Setalah merapikan warung dan mengamas sebagian mie ayam, bapak Medi dan ibu Ratih pun bergegas bersiap-siap, mereka mengganti baju terlebih dahulu.
Lalu dengan cepat mencari penghulu ke kantor urusan agama setempat dan membawa Penghulu tersebut ke apartemen Daffin.
Sesampainya di besmen Apartemen mobil Edwin dan Daffin berhenti secara berbarengan, Mereka keluar dari mobil masing-masing secara bersamaan.
"Loh Daf.. Ningan kamu ada di sini? Terus dari mana kamu teh?" tanya bapak Medi.
"Daffin habis dari toko emas pak, habis beli perhiasan buat maskawin, sama beli baju buat Nikah." Jawab Daffin.
"Jadi Daffin kamu teh beneran mau nikah?" tanya ibu Ratih memastikan kembali.
"Ya Alloh ibu, ini pak penghulu Nya juga sejak tadi sama kita kan, ibu masih aja nanya Daffin beneran mau nikah." keluh Edwin.
"Ibu mah berasa gak percaya aja atuh Daffin benar-benar mau nikah sekarang, atuh da meni ngadadak pisan (Mendadak banget)." Jawab ibu Ratih.
"Ibu kan Edwin udah jelasin semuanya di mobil tadi, alasan kenapa Daffin mau di nikahin cepat-cepat, masih aja gak percayaan." keluh Edwin lagi pada ibu kandungnya Ratih.
"Sudah... Kita masuk saja, lagian kita udah di tungguin dari tadi sama Ambu dan abah." Ucap Bapak Medi.
"Ah... Iya mari..." Jawab Daffin.
Mereka pun masuk ke dalam apartemen Daffin bersama-sama, sesampainya di dalam Apartemen, semua orang merasakan ketegangan yang tercipta di dalam ruangan tersebut.
Padahal di dalam hanya ada abah Halim saja, karena Freya dan Ambu berada di dalam kamar masing-masing.
"Assalamualaikum Aa... Maaf saya sama Ratih baru datang..." Ucap bapak Medi.
"Gak papa Medi, sok atuh masuk." Jawab Abah Halim.
"Ratih, tuh si Ambu aya di kamar, sok we masuk (Ratih Ambu ada di dalam kamar, masuk saja)" Ucap Abah.
"Iya.. A.. Saya temui teteh dulu" jawab Ibu Ratih.
"Bah Ini penghuuluhya." Ucap Edwin.
"Silahkan duduk pak penghulu, maaf ya acara pernikahannya mendadak." Ucap Abah Halim.
"Iya gak papah pak, lagi pula saya sudah biasa di minta datang secara tiba tiba, ya namanya juga di ibu kota, pergaulan anak muda jaman sekarang sudah semakin bebas, dan masyarakat menganggap hal biasa jika hamil di luar nikah hingga harus di nikahkan secara mendadak, dan sembunyi-sembunyi." Ucap Pak penghulu.
Abah Halim dan bapak Medi pun langsung tercengang mendengar penuturan pak penghulu.
Daffin yang juga mendengar penuturan penghulu tersebut merasa tidak terima karena dirinya benar-benar tidak melakukan hal yang di ucapkan pak penghulu tersebut.
"Mohon maaf pak penghulu, calon istri saya dia tidak sedang hamil, dan kami pun tidak pernah melakukan hubungan terlarang dalam agama islam, asal bapak tau saya dan calon istri saya bukan seorang pen zina, jadi Tolong hati-hati saat berucap." Jawab Daffin tegas, membuat penghulu tersebut langsung kelabakan.
"Oh... Bukan.... maaf maaf, habisnya... biasanya yang menikah secara terburu-buru seperti ini ya sudah seperti itu...." ucap Pak penghulu kelabakan.
"Jangan samakan saya dengan mereka." Ucap Daffin sedikit menahan emosi.
Sementara di dalam kamar Ambu menangis sejadi-jadinya, dia terus menahan air matanya sejak kejadian ini terjadi, tapi kini saat melihat ibu Ratih ada di sampingnya Ambu Nuri pun tak kuasa menahan tangis.
"Ratih... Teteh gak nyangka Daffin... Duh Astagfirullah..." ucap Ambu Nuri terbata.
"Iya teteh, saya juga gak nyangka tapi saya mah percaya sama Daffin kalau dia emang cuman nolongin gadis itu, soalnya si cep Edwin oge bilangnya Daffin cuman nolongin." Ucap Ibu Ratih.
"Tapi tetap saja atuh Ratih, moal aya anu percaya (Tidak ada yang akan percaya) kalau mereka benar-benar tidak memalukan apapun." Ucap Ambu sambil menangis.
"Tapi... Caranya Tidak dengan seperti ini atuh Ratih... Bukan pernihan yang seperti ini yang teteh harapkan untuk Daffin, anak teteh satu-satunya." keluh Ambu Nuri sambil menangis.
"Ya mau bagaimana lagi atuh teh, semua sudah terjadi, kita hanya bisa berpasrah diri sama Alloh saja sambil memohon pertolongan." Ucap ibu Ratih berusaha menguatkan Ambu Nuri.
"Ya Alloh ampuni dosa hambamu ini ya Alloh." Ucap Ambu Nuri lagi sambil mengelus dadanya yang terasa sesak karena kejadian ini.
Saat Ambu Nuri dan ibu Ratih sedang berkeluh kesah terdengar suara pintu yang di ketuk dari luar.
Tok... Tok... Suara pintu kamar di ketuk.
"Ibu..." Panggil Edwin.
"Aya naon cep? (ada apa cep?)" Tanya ibu Ratih.
"Ibu kata pak penghulu pengantin wanitanya di suruh siap-siap" ucap Edwin.
"Ratih sama kamu aja, teteh mah mau cuci muka dulu biar gak keliatan habis nangis." Ucap Ambu Nuri.
"Ya udah atuh teh saya ke kamar Daffin dulu ya." Ucap Ibu Ratih.
"Iya sok..." jawab Ambu.
Ibu Ratih pun masuk ke dalam kamar Daffin setelah mengetuk pintu kamar terlebih dahulu.
Di dalam kamar Daffin, ibu Ratih melihat ada seorang gadis yang begitu cantik, wajahnya nampak gusar dan terlihat cemas.
Ibu Ratih masuk ke dalam kamar sambil membawa dua paper bag berisikan Baju gamis berwarna putih dengan kerudung pasmina dan beberapa alat make up.
"Neng... Calon istrinya Daffin?" tanya ibu Ratih.
"Euleh-euleh meni geulis pisan.." Sambung ibu Ratih.
Freya hanya mengangguk sambil tersenyum kaku.
"Saya Ratih ibunya Edwin." Ucap ibu Ratih lagi memperkenalkan diri.
Freya nampak mulai tersenyum saat tau bahwa wanita di hadapannya adalah Ibunya Edwin.
"Nyonya tolong saya... Saya tidak mau menikah dengan Daffin nyonya..." Pinta Freya pada ibu Ratih.
"Kenapa gak mau atuh Neng..." tanya ibu Ratih.
"Kamu tuh harusnya bersyukur, Si Daffin teh mau bertanggung jawab sama kamu, dan mau nikahin kamu." Ucap ibu Ratih lagi.
"Tapi saya tidak bisa menikah dengan Daffin, saya punya alasan sendiri untuk tidak menikah dengan Daffin." Jawab Freya.
"Neng.. Kalau kamu gak nikah sama Daffin, nanti Daffin yang akan menanggung malu jika orang lain sampai tau kalau Daffin menyimpan seorang wanita yang bukan muhrim di dalam rumahnya."
"Daffin di kenal anak yang baik, dia juga di kenal dengan orang yang jujur, banyak yang mau menikah dengan Daffin apa lagi sekarang dia sudah kaya, sudah sukses di ibu kota, sudah bisa mengangkat harkat derajat orang tuanya juga."
"Dan kalau semua orang tau Daffin tidak menikahi wanita yang ada di dalam rumahnya itu akan merusak reputasi Daffin, dan mungkin juga akan merusak kepercayaan orang lain padanya."
"Kasian atuh Daffin Neng, belum lagi si Abah sama Ambu yang juga akan menanggung malu dan jadi bahan gunjingan semua orang, apa kamu tega melihat mereka hancur secara bersamaan?" tanya ibu Ratih.
"Sudah lah Neng saran ibu, terima saja pernikahan ini, ibu jamin Neng, hidup kamu akan bahagia, ibu sudah mengenal Daffin dari dia kecil, ibu juga sudah mengamenal abah sama Ambu dari sejak lama, mereka orang yang sangat baik."
"Kamu tidak akan menyesal Neng jika menikah dengan Daffin." jelas ibu Ratih.
Freya nampak termenung mendengar penuturan ibu Ratih, hatinya begitu bimbang.