My Freya

My Freya
BAB 14



♦️Rencana Jahat ♦️


Setelah makan Daffin pun berpamitan untuk pulang, sebenarnya Daffin tidak ingin pulang karena merasa tidak tega meninggalkan Freya sendirian, tapi karena Freya pun sudah meminta untuk pulang, maka Daffin pun terpaksa meng iyakan untuk pulang.


"Baiklah aku pamit pulang, kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi aku" pinta Daffin.


Kini Daffin merasa terbiasa mengatakan hal itu dari mulutnya.


"Baiklah" jawab Freya sambil tersenyum manis.


Daffin pun membawa laju mobilnya untuk kembali pulang, tampa Daffin dan Freya tau ada sebuah mobil yang terparkir sambil terus mengamati rumah nenek Freya yang di tempati Freya saat ini.


"Laki-laki itu sudah pergi Bos" ucap salah satu laki-laki yang ada di dalam mobil.


Dalam mobil hitam tersebut ada dua orang pria yang sejak pagi mengintai rumah Freya.


Setalah Daffin pergi Freya kembali masuk ke dalam rumah dan mengunci setiap penjuru rumah, lalu dia kembali ke dapur dan membersihkan semua perkakas kotor setelah selesai Freya pun mengambil ponselnya dan mengecek Dompet Digital milik neneknya lalu mentrasfer sejumlah uang ke rekening Daffin dengan caption tanda terimakasih atas pertolongan Daffin dan biaya Rumah sakitnya saat dirinya menjadi korban percobaan pembunuhan dari keluarga pamananya.


"Tink.." Satu pesan masuk di ponsel Freya.


"Apa ini tidak terlalu besar Freya?" tanya Daffin.


"Tidak Daffin, justru aku ingin memberi lebih lagi atas pertolonganmu dan Edwin yang telah menyelamatkan nyawaku." balas Freya dalam pesan.


"Jangan kirim uang lagi, ini sudah lebih dari cukup" pinta Daffin dalam pesan singkatnya.


"Baiklah" balas Freya.


Dan tidak ada balasan lagi dari Daffin.


Sebenarnya Daffin tidak ingin menerima uang terimakasih dari Freya, tapi Daffin pun tidak bisa menolaknya karena tidak mau membuat Freya merasa tersinggung karena penolakannya.


Hari itu matahari saja belum terbenam tapi Freya sudah menutup semua tirai dan dia langsung masuk ke kamar rahasia neneknya.


Ya ini lah Freya, dia harus membiasakan dirinya dengan dua kamar, satu kamar pribadinya yang akan dia tempati jika ada orang asing di rumahnya, dan kamar rahasia neneknya yang akan dia tempati jika tidak ada orang asing di rumah yang dia tempati saat ini.


Malam hari pada saat Freya akan tidur, Freya mendengar pintu Gerbang berderit pertanda ada yang membukanya dan ada yang masuk ke dalam pekarangan rumah neneknya.


Suasana yang sepi membuat indra pendengaran Freya menjadi tajam, dari kamar rahasia nenek dan kakeknya Freya mampu mendengar semua suara apa pun walau hanya samar-samar.


Setalah mendengar pintu gerbang yang di buka mendadak perasaan Freya menjadi tidak gelisah, Freya bangun dari posisi tidurnya dan melihat dari monitor cctv, di lihatnya ada dua orang pria berpakaian serba hitam telah masuk ke dalam pekarangan rumahnya,


Bahkan sekarang mereka sedang berusaha untuk masuk ke dalam rumah.


"Siapa Mereka?" tanya Freya mulai merasa takut.


"Bagaimana mereka bisa masuk padahal aku sudah mengunci pintu gerbang, ya ampun bagaimana kalau mereka bisa masuk kemari." Ucap Freya sambil mulai gemetaran.


"Tidak Freya kamu tidak boleh takut, kamu harus berani." Ucap Freya menyemangati dirinya sendiri.


"Kamu tidak boleh mati konyol Freya, orang tua mu sudah mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan mu dan kamu tidak boleh menyia-nyiakan perjuangan mereka, kamu belum boleh mati Freya, sebelum kamu bisa membalas semua perbuatan jahat atas kematian orangtua mu dan nenek mu." tekad Freya untuk dirinya.


"Ya aku tidak boleh mati dulu, sebelum mereka semua mendapatkan balasan yang setimpal" ucap Freya lagi.


Napak dua orang berbaju hitam itu sedang kesulitan membuka pintu rumah nenek Freya, mereka secara bergantian mencoba membuka pintu rumah tersebut, melihat itu  Freya semakin cemas dan bingung harus berbuat apa,


"Ya ampun berpikirlah Freya kau harus berpikir, bagaimana pun aku harus mencegah mereka masuk." Ucap Freya.


Naluri seekor anjing pada saat melihat ada orang tak di kenalnya dia langsung menggong-gong keras, sampai-sampai kedua orang berbaju hitam itu mulai terlihat panik.


Ajing itu terus menggong-gong seperti memanggil teman-temannya dan benar saja, tak lama datanglah dua ekor anjing lagi dari arah yang sama,


Melihat itu kedua orang tersebut langsung lari terbirit-birit sambil di kejar tiga ekor anjing tersebut, sayangnya mereka beruntung dan bisa selamat dari kejaran tiga ekor anjing tersebut, karena mereka cepat masuk ke dalam mobil.


Kedua orang tersebut langsung pergi membawa laju mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Freya, sedangkan ketiga ekor anjing itu masih setia berjaga di luar rumah Freya.


"Terimakasih" ucap Freya pada ketiga anjing tersebut dari jarak jauh tentunya, karena Freya hanya melihat mereka dari layar monitor cctv rumah.


Melihat ketiga ekor ajing itu masih ada di halaman rumahnya Freya pun memilih tidur karena merasa situasi sudah mulai aman terkendali.


Pagi hari.


"Apa kalian gagal membunuh gadis itu" ucap seorang pria bertubuh gemuk yang ada di hadapan mereka yang tak lain adalah paman Marvin.


"Banar-benar tidak becus, percuma kau membayar mereka Marvin jika untuk satu tugas saja mereka gagal menjalankannya." Sindir Riana.


"Sepertinya kali ini kita harus bertindak kejam lagi, dan menyingkirkan gadis kecil itu dengan tangan kita lagi, sama seperti kita menyingkirkan orang tuanya." Ucap Riana.


"Tapi mom aku takut" ucap Gisel yang juga ada di sana.


"Gisel sayang jangan jadi penakut seperti Daddy mu" saran Riana.


Mendengar itu Gisel tak lagi bersuara dia hanya diam seribu bahasa.


"Kita harus segera menyingkirkan gadis itu agar kita bisa kembali ke Belgia, dan mengambil semua kekayaan mereka." Ucap Riana.


"Jangan sampai si pelayan bodoh dan si pengacara menyebalkan itu tau kalau gadis itu masih hidup, bisa gagal semua usaha kita selama ini dalam menyingkirkan Emmanuel dan Amanda, jika mereka tau." Ucap Riana.


"Dan aku tidak mau masuk penjara karena semua itu" ucapnya lagi.


"Lantas apa rencana mu?" tanya Marvin.


"Tidak ada rencana, kita akan mengulang pembunuhan gadis itu lagi, waktu itu dia selamat karena ada yang menyelamatkannya, tapi sekarang tidak lagi."


"Besok malam kita akan datang lagi kerumah itu dan membunuh gadis itu untuk yang kedua kalinya, dan kali ini kita harus memastikan sendiri gadis itu benar-benar mati di hadapan kita." Ucap Riana dengan jahatnya.


Gisel yang mendengarnya mulai merasa gemetar, kejadian di mana dia menusuk Freya dengan pisau terlintas di pikirannya, sungguh Gisel merasa tidak tenang setalah kejadian itu, dia berusaha sekuat tenaga mencoba untuk melupakan kejadian itu, tapi sayang dia tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Gisel sayang, kamu kenapa?" tanya Riana.


"Mom aku takut jika harus membunuh lagi" ucap Gisel jujur.


"Ya ampun Gisel jangan jadi penakut sayang, ini juga adalah satu-satu cara agar kamu bisa hidup dengan orang yang kamu cintai, apa kamu tidak ingin menikah dengan Jhon?" tanya Riana.


"Jika gadis itu hidup maka kamu tidak akan pernah bisa memiliki Jhon, dan kamu akan melihat Jhon di miliki gadis itu, kamu mau?" tanya Riana lagi.


"Tidak mom" jawab Gisel.


"Kalau begitu, bantu mom untuk melenyapkannya untuk selamanya." Ucap Riana.


Gisel hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, walau sebenarnya dia masih sangat ragu.