My Freya

My Freya
BAB 60



❤️Undangan dan gelang emas❤️


"Doa dari orang tua tidak perlu di minta Daffin, Abah dan Ambu akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua, semoga Alloh selalu mengabulkan doa kita semua Aamiin" jawab Abah Halim.


"Aamiin.🤲" ucap Daffin dan Ambu.


Sementara Freya dia hanya tertunduk bingung, pikirannya selalu kosong dan gamang kala mendengar atau pun membahas pernikahan dirinya dan Daffin.


"Apa yang kau pikirkan Freya? Dan sebenarnya apa maumu?" tanya Freya pada dirinya sendiri dalam hati.


Sejak malam itu suasana rumah keluarga Daffin sudah mulai terasa hangat dan nyaman untuk Freya, di tengah kesibukan mempersiapkan acara pernikahan, Freya pun turun tangan ikut membantu berjualan di warung kelontong milik Ambu Nuri dan Abah Halim.


Ya Ambu Nuri dan Abah Halim sudah lama menjadi pedagang terhitung dari semenjak mereka menikah, mereka membuka toko kelontong yang serba ada, sejak dulu Ambu Nuri sudah berjualan di samping rumahnya, dan Abah Halim berdagang sayuran keliling menggunakan motor Jambrud kesayangan Abah, motor itu selalu menemani perjalanan Abah Halim dari semanejak Abah dan Ambu baru menikah.


Motor Jambrud bisa di gunakan dengan berbagai fungsi yang pertama menjadi motor biasa dan yang kedua bisa jadi motor multifungsi, selain untuk berjualan sayur juga biasa di gunakan untuk pergi ke pasar bersama Ambu.


Dulu Abah dan Ambu hanya pedagang kecil yang sederhana, banyak orang yang selalu memandang rendah keluarga mereka.


Ditipu, di hina, di fitnah sudah menjadi hal biasa dalam hidup Abah Halim dan Ambu Nuri, sungguh perjuangan yang tidak mudah bagi Abah dan Ambu dalam memajukan usaha mereka.


Semua perjuangan mereka tak sia-sia, kini mereka pun sudah mampu mengembangkan bisnis mereka di beberapa bidang, yang pertama warung kelontong di samping rumah mereka, lalu usaha pembuatan kicimpring, dan usaha pembuatan siomay.


Semua usaha Abah dan Ambu tidak lepas dari perjuangan Daffin, karena berkat modal besar yang di berikan Daffin, usaha Abah Halim dan Ambu Nuri pun semkian membaik.


Dari sana, mereka pun mulai bisa meronopasi rumah yang mereka tempati saat ini, dulu rumah mereka begitu kecil dan bahkan nyaris rubuh, itulah mengapa mereka selalu jadi bahan hinaan ejekan oleh orang-orang tertentu.


Kini rumah Abah Halim dan Ambu Nuri sudah terlihat bagus dan besar, walau menurut Freya rumah itu masih berukuran kecil.


Lalu Abah Halim dan Ambu Nuri juga memperluas warung mereka, warung itu dulu hanya berukuran sepetak kaca di mana posisinya yaitu kaca jendela yang di buka lebar lantas di jadikan warung kelontong,


Tapi sekarang warung kelontong itu sudah menjadi warung besar yang serba ada dan memiliki ruangan khusus sendiri di samping rumah Abah Halim dan Ambu Nuri,


Lalu di samping warung kelontong ada satu ruangan lagi, yang Abah Halim dan Ambu Nuri buat menjadi pabrik pembuatan Kicimpring dan juga Siomay.


Usaha kicimpring dan juga siomay masih terbilang baru, itulah kenapa mereka masih belum memiliki banyak pegawai yang bekerja di pabrik kicimpring dan siomay milik Abah Halim dan Ambu Nuri.


Posisi Semua ruangan itu memanjang kesamping dan saling terhubung dengan rumah Abah Halim dan Ambu Nuri.


"Sayang kemarilah" pinta Daffin pada Freya.


"Deg..." Freya selalu merinding saat Daffin memanggil dirinya dengan sebutan sayang.


Mungkin karena Freya belum terbiasa atau karena dirinya belum Sepenuhnya menerima pernikahannya dengan Daffin.


"Lihat, apa kau suka bentuk undangannya?" tanya Daffin, menujukan selembar undangan pernikahan mereka yang Daffin buat sendiri.


Freya pun melihat dengan teliti bentuk undangan pernikahan dirinya dan Daffin, di mana di sana tertulis dengan jelas nama dirinya dan ke dua orang tuanya, di bagian bawah ada nama Nenek dan kakeknyanya juga.


" Andai mereka masih ada, aku pasti akan senang membaca nama orang tua ku, juga nenek dan Kekekku yang tertulis dalam selembar undangan ini." Ucap Freya dalam hati.


"Bagus..." Jawab Freya jujur.


Freya tak mengatakan apapun dia hanya diam melihat satu persatu lembar kertas itu kini sudah terisi oleh bagian-bagian dari huruf-huruf yang tersusun rapih.


"Sayang jangan sedih, aku juga sudah membuat undangan untuk Ibu Susi dan Pak Hasan, juga beberapa para pekerja di kebun nenek kamu." Ucap Daffin mencoba sedikit menenangkan hati Freya.


"Bohong rasanya jika aku tidak merasa sedih Daffin, tapi aku bersedih pun tidak akan merubah kenyataan, kenyataan bahwa sekarang aku benar-benar sudah tidak memiliki keluarga lagi." Ucap Freya menguatkan hatinya.


"Hey siapa bilang kau tidak punya keluarga sayang, sekarang kau punya aku sebagai suamimu, kau juga punya Abah dan Ambu sebagai orang tuamu. Kau bukan orang lain lagi sayang, sekarang kita adalah keluarga, karena kau adalah istriku dan juga satu-satunya menantu di rumah ini." Ucap Daffin memberikan penjelasan.


Hati Freya rasanya begitu hangat kala mendengar kata-kata yang Daffin ucapkan untuk dirinya.


"Terima kasih Daffin, kau sudah mau menerima aku menjadi istrimu, padahal kau tau aku....." Ucap Freya terpotong.


"Jangan katakan apapun lagi sayang." Jawab Daffin memotong perkataan Freya.


"Kau hanya perlu menerima pernikahan ini, dan menerimaku menjadi suamimu. Aku tau Freya kau belum menerima pernikahan kita, dan aku tau kau juga masih belum menerimaku menjadi suamimu." Ucap Daffin perih.


"Deg..." Freya merasa tertampar keras mendengarnya.


"Tapi aku tidak akan memaksakan kehendakku pada dirimu, aku akan berusaha untuk selalu sabar menunggu, hingga kau benar-benar siap merima pernikahan kita dan juga menerimaku menjadi suamimu." Ucap Daffin lagi.


"Maaf Daffin..." Ucap Freya merasa bersalah.


Ditengah suasana ke canggungan antara Daffin dan Freya tiba-tiba, terdengar suara Ambu memanggil Freya dengan sebutan Khas orang sunda yaitu Eneng/Neng yang artinya anak perempuan.


"Neng..." Panggil Ambu Nuri.


"Ambu memanggil.. Aku pergi dulu." Ucap Freya mencoba untuk melarikan diri, dari suasana canggung antara dirinya dan Daffin.


"Em..." Jawab Daffin sekadarnya.


Freya pun ke luar dari dalam kamar dan menemui Ambu Nuri di ruang keluarga yang langsung terhubung dengan kamar Daffin.


"Ada apa Ambu?" tanya Freya.


"Sini duduk" pinta Ambu Nuri pada Freya.


Freya pun mendudukkan dirinya di samping Ambu Nuri, terlihat Ambu Nuri mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Lalu Ambu Nuri pun mengeluarkan sebuah gelang emas dari dalam dompet kecil.


Gelang itu napak terbungkus sebuah plastik khusus gelang emas, lalu Ambu Nuri pun mengeluarkan gelang itu dari dalam plastik seraya berkata.


"Tadi Ambu membeli gelang emas ini dari pasar, Ambu beli buat kamu Neng..." Ucap Ambu Nuri sambil menarik tangan kiri Freya dan memasangkan sendiri gelang tersebut di pergelangan tangan Freya.


"Tuhkan benar dugaan Ambu, pasti bakal bagus di pake menantu Ambu." Ucap Ambu Nuri setelah selesai memasangkan gelang emas tersebut di pergelangan tangan Freya tanpa Izin dari Freya.


"Ambu ini..." ucap Freya terpotong.


"Suka, gak Neng?" tanya Ambu Nuri memotong perkataan Freya.