My Freya

My Freya
BAB 13



❤️ Pilu ❤️


Daffin dan Freya memutuskan untuk kembali kerumah nenek Freya, Daffin mengambil alih kemudi mobil dan Freya duduk di sampingnya.


Freya nampak murung setelah melihat Marvin paman nya, kejadian pembunuhan kedua orang tuanya dan neneknya kini kembali berputar di ingatan Freya.


"Freya..." Panggil Daffin, tapi tak ada sautan dari Freya.


"Freya? " Panggil Daffin lagi tapi Freya masih bergeming.


Melihat Freya yang termenung, Daffin pun menghentikan laju mobilnya di pinggir jalan dan memanggil Freya lagi.


"Freya? Hey... Freya?" Panggil Daffin dengan nada sedikit meninggi, hingga Freya pun terlonjak karena kaget.


"Yah, Daffin ada apa?" tanya Freya setelah tersadar dari lamunannya.


"Aku memanggilmu sejak tadi" jawab Daffin.


"Maaf Daffin aku...., tadi aku tidak mendengar mu" ucap Freya merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, jangan melamun, dan jangan memikirkan apapun dulu okh, buang semua pikiran burukmu" pinta Daffin.


"Ingat kamu tidak sendiri, aku dan Edwin siap membatu kapan pun untuk kamu" Ucap Daffin.


Mendengar itu Freya sangat terharu karena ternyata masih ada yang peduli dengannya saat ini, tapi di detik berikutnya Freya merasa kebaikan Daffin, akan menjadi sebuah bahaya bagi Daffin sendiri bila dia dekat dengan Freya.


"Jika paman Marvin tau Daffin ada untuk menolong ku, aku takut paman Marvin akan melakukan hal buruk padanya, aku harus menjaga jarakku darinya." Ucap Freya Dalam hati sambil memandangi netra hitam di kedua bola mata milik Daffin.


"Terimakasih Daffin, kau dan Edwin banyak membantu ku" ucap Freya lembut.


"Jangan pikirkan itu, kita pulang?" Ajak Daffin.


Freya hanya mengangguk sebagai jawaban.


Setelah beberapa lama mereka sampai di rumah, Daffin dan Freya pun di sambut dengan begitu banyak pertanyaan dari Edwin, Nindy, Pak Hasan dan ibu susi Istri pak Hasan.


Dengan terpaksa Freya dan Daffin pun menceritakan semua yang terjadi, pada Edwin, Nindy, Pak Hasan dan Istrinya.


"Itu artinya selama ini mereka masih ada di Indonesia?" tanya Edwin.


"Melihat keberadaan paman Marvin sepertinya mereka memang masih ada di Indonesia" jawab Freya sedikit risau.


Menjelang malam Daffin, Edwin dan Nindy pun bersiap untuk pulang, karena Nindy terus saja merengek ingin pulang, dan Freya pun mengizinkan mereka pergi.


"Freya kalau ada apa-apa langsung telepon aku atau Edwin" pinta Daffin untuk kesekian kalinya sebelum dia masuk kedalam mobil.


"Iya" jawab Freya untuk kesekian kalinya juga.


Daffin, Edwin dan Nindy, pak Hasan dan istrinya pun berpamitan untuk pulang.


"Non, kami pulang dulu, non gak papa sendiri lagi?" tanya pak Hasan.


"Gak papa kok pak" jawab Freya ramah.


"Non mending tinggal di rumah bapak aja yuk walau kecil tapi non gak sendiri" ajak pak Hasan lagi.


"Enggak pak terimakasih, Freya gak papa kok sendiri" tolak Freya selembut mungkin.


"Ya sudah non kita pamit dulu ya, kalau ada apa-apa, non langsung ke rumah bapak ya" pinta pak Hasan lagi.


"Iya pak" jawab Freya.


Setelah pak Hasan pergi Freya bergegas masuk kedalam kamarnya dan menutup semua pintu dan jendela, lalu mengurung diri di kamar rahasianya.


Di malam hari Freya benar-benar tidak bisa tidur, dia terus memikirkan hal terburuk yang mungkin terjadi pada dirinya,


Pikirannya serasa enggan untuk tidak berpikir berlebihan membuat hati Freya resah dan gelisah.


Rasa takut pun kembali menghantam dirinya, ini bukan tentang nyawanya melainkan tentang keselamatan Daffin, Edwin pak Hasan dan keluarganya.


Dengan begitu sadar Freya sangat ketakutan jika terjadi hal buruk pada mereka semua hanya karena mereka telah membatu dan menolong Freya dari kejahatan Keluarga Pamannya.


Semua itu begitu mengusik pikiran Freya hingga pagi tiba, Freya benar-benar tidak tidur malam itu.


Pagi hari Freya turun kelantai bawah, Freya melihat setiap sudut rumah besar itu napak sangat sepi, dan hal itu membuat hati Freya terasa pilu.


"Daddy, Mommy, Nenek, Freya kangen.... Freya ingin di peluk kalian, Freya kedinginan hiks... Hiks... Hiks... Peluk Freya mom, dad, nenek, peluk Freya." Ucap Freya sambil terisak.


Freya mendudukan dirinya di atas tanah dan meratapi nasibnya di samping makam keluarganya.


"Freya lelah mom, harus nya mom tidak pernah meminta Freya untuk hidup, Freya ingin ikut mom, dad, freya ingin ikut kalian.... aahhhhhh..... Hiks hiks..." Jerit putus asa Freya.


"Nenek tolong bawa Freya nek, bawa Freya bersama nenek, jangan tingalkan Freya sediri seperti ini, Freya takut nek, mom, Dad, Freya takut sendiri, Hiks.... Hiks..." ucap Freya sambil terisak pilu.


"Ahhhhh..... Kenapa kalian semua ninggalin Freya, bukankah ini terlalu menyakitkan.... Hiks... Hiks...."


"Mom... Freya ikut, bawa Freya mom" ucap Freya penuh dengan derai airmata.


Karena terlalu lama Freya mengis Freya pun tanpa sengaja tertidur di atas makam Daddynya.


Sore hari Freya terbangun dia melihat dirinya ada di dalam kamar miliknya, Freya merasa kaget karena seingkatnya dia tidur di makam keluarganya.


"Kau sudah bangun?" tanya seseorang dari arah pintu yang terbuka.


"Daffin kau di sini?" tanya Freya kaget.


"Iya, kamu tidak mengangkat telepon dariku, aku jadi cemas lalu aku datang kemari dan menemukanmu tertidur di makam orang tua mu, melihat pintu belakang tak terkunci, jadi aku bisa masuk, dan aku membawa mu kemari." Jelas Daffin.


"Terimakasih Daffin, untuk kesekian kalinya aku menyusahkan mu lagi." Ucap Freya merasa tidak enak.


"Hey,.. Jangan bicara begitu, sebaiknya kau bersihkan dirimu, lalu kita makan ini sudah sore dan kau pasti belum makan sejak tadi kan?." Ajak Daffin.


Freya hanya bergeming melihat bagaimana Daffin selalu memperlakukannya dengan sangat baik.


"Ayolah sejak tadi aku menunggumu bangun dan sekarang aku merasa sangat lapar, jadi cepatlah bersihkan dirimu." Pinta Daffin lagi.


"Ah... Kau belum makan?, harusnya kau tidak menunggu ku dan makan saja lebih dulu" seru Freya.


"Sudahlah, jika kau terus bertanya maka aku akan semakin lapar" ucap Daffin sambil menunjukkan wajah berpura-pura sedih.


Melihat itu Freya hanya terkekeh dibuatnya,


"Kau ini" ucap Freya.


"Baiklah aku akan mandi, jadi keluarlah dari sini" pinya Freya.


"Baiklah, jangan lama okh." Jawab Daffin.


"Iya" jawab Freya.


Lalu Daffin pun pergi dari kamar Freya, meninggalkan Freya dengan sejuta tanya di hati dan pikirannya.


Freya melangkah kakinya ke kamar mandi dan membersihkan dirinya, dengan cepat karena tidak mau membuat Daffin menunggu lebih lama lagi.


Setelah selesai Freya langsung turun dan menemui Daffin di meja makan, nampak Daffin sedang duduk sambil memainkan ponselnya.


"Maaf lama menunggu" ucap Freya sambil mengambil tempat duduk tepat di hadapan Daffin.


"Tidak masalah" jawab Daffin sambil tersenyum.


"Ayo kita makan" ajak Daffin.


Daffin dan Freya pun mulai memakan makanannya.


"Waw ini enak, kamu yang masak?" tanya Freya.


"Iya, apa kau suka?" jawab Daffin.


"Iya, ternyata kamu jago masak" puji Freya.


"Namanya juga anak rantau, ya mau gak mau harus belajar masak supaya bisa makan" jawab Daffin.


"Anak Rantau itu apa?" tanya Freya yang tidak mengerti.


"Anak Rantau itu anak yang hidup jauh dari orang tua dan keluarga lalu tinggal di kota atau negara Orang lain, untuk pergi bekerja, menimba ilmu dan sebagainya." Jelas Daffin.


"Anak Rantau" ucap Freya. "Aku mengerti" ucap Freya lagi sambil tersenyum dengan begitu manis.