
"❤️Bertemu pak Hasan dan ibu susi❤️
"Daffin?" Panggil Freya lemah.
"Iya..." Jawab Daffin lembut.
"Terimakasih" ucap Freya di iringi airmata yang perlahan kembali mengalir dari kedua pelupuk matanya.
"Freya, lupakan semua yang telah terjadi, mulai sekarang kau harus fokus pada kesehatanmu sendiri, agar bisa cepat sembuh, seperti sedia kala." Ucap Daffin.
Freya hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban
"Sebaiknya sekarang kau istirahat, dan tolong berhentilah menangis." Pinta Daffin seraya menghapus air mata Freya dengan jari tangannya.
Freya kembali menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Daffin terus menemani Freya sepanjang hari, dia benar-benar mengawasi setiap perkembangan kesehatan Freya.
Hari pun mulai berganti tak terasa empat hari sudah Freya sudah sadar dari tidur panjangnya selama sepuluh hari kemarin. Dan kini keadaan Freya pun mulai membaik.
Hari ini Freya ke dagangan dua orang tamu yang ingin bertemu dengan dirinya sejak lama, tapi baru bisa bertemu dengan Freya saat ini.
Mereka adalah pak hasan dan ibu susi, Freya pun menyambut hangat kedatangan keduanya, dia juga sangat senang karena bisa bertemu lagi dengan Pak Hasan dan ibu susi.
Daffin memberikan ruang untuk Freya, pak Hasan dan ibu susi, dia meninggalkan mereka bertiga agar mereka bisa berbicara bebas tanpa harus merasa terganggu dengan kehadiran dirinya.
Pak Hasan pun mulai menceritakan semua hal yang terjadi setelah kejadian kebakaran itu terjadi.
Pak Hasan juga mengatakan tentang makam kosong milik Freya dan tentang kebohongannya dalam memanipulasi kematian Freya yang dia buat atas permintaan Daffin dan Edwin.
Freya pun tak mempermasalahkan hal itu, karena dia merasa Daffin sudah melakukan hal yang benar dalam melindungi dirinya.
Freya tidak tau harus melakukan apa lagi untuk membayar semua kebaikan Daffin pada dirinya.
Terakhir pak Hasan pun menceritakan tentang banyaknya orang asing yang berdatangan untuk menanyakan tentang kebenaran kematian Freya.
Banyak di antara orang-orang yang berdatangan, mereka adalah orang-orang berwarga negara asing, berkulit putih, berambut pirang dan memiliki warna mata yang berbeda-beda. Ada juga di antara mereka datang dengan kulit hitam, bertubuh besar, dan berambut hitam.
Pak Hasan dan ibu susi bahkan sampai harus bersembunyi karena terlalu banyak yang mencari mereka untuk menanyakan tentang hal yang sama yaitu mengenai kebenaran mengenai kematian Freya. Sepertinya mereka benar-benar tidak percaya akan berita mengenai kematian Freya, yang pak Hasan dan para pekerja katakan.
Freya sangat merasa bersalah mendengar semua penuturan pak Hasan dan ibu susi yang masih terus berjuang hingga saat ini untuk membantu dirinya agar dapat selamat dari kejahatan paman dan bibinya juga sepupunya.
"Terimakasih pak Hasan dan ibu susi kalian sudah begitu baik pada saya, bahkan kalian harus sampai bertaruh nyawa dalam melindungi saya." Ucap Freya benar-benar merasa bersalah.
"Non jangan hawatir dan jangan bersedih, kami benar-benar Ihlas dalam membantu non Freya, karena bagi kami non Freya sudah seperti keluarga sendiri." Jawab Pak Hasan tulus
Freya hanya tersenyum menanggapi perkataan pak Hasan, hatinya tidak bisa berbohong dia benar-benar merasa bersalah, dan merasa berhutang budi pada semua orang yang sudah membantu dirinya dan menyelamatkan dirinya berulang kali, terutama Daffin dia benar-benar tidak tau harus bagai mana membalas jasa laki-laki itu.
Freya membuka laci paling bawah dari meja nakas di samping ranjangnya, di sana ada tas ransel milik Freya yang sempat dia selamatkan sebelum terjadinya penyerangan dan kebakaran pada malam itu.
Freya membuka retseleting bagian utama dari tas ransel miliknya, di ambilnya setengah uang milik neneknya yang dia ambil dari dalam berangkas dan uang hasil panen dari kebun milik neneknya pula, untuk dia serahkan pada pak Hasan.
"Pak Hasan aku ada sedikit uang, boleh saya merepotkan pak Hasan untuk yang kesekian kalinya lagi?" pinta Freya merasa tidak enak hati.
"Katakan saja Non, jangan merasa ragu saya akan melakukan apa saja yang saya bisa untuk membantu Non Freya." Jawab pak Hasan, semakin membuat Freya merasa malu.
"Tolong gunakan uang ini untuk menjaga makam orang tua saya dan nenek saya pak, saya mohon buatlah semacam pagar atau tembok pembatas dan atap rendah untuk menjaga makam Mommy, Daddy, dan nenek agar tidak mudah di sambangi dan di usik orang asing lagi." Pinta Freya.
"Dan sisa uangnya tolong gunakan untuk membeli benih baru untuk perkebunan nenek, jangan sampai perkebunan nenek hancur dan bangkrut hanya karena malah ini terjadi."
"Saya memberikan kepercayaan penuh pada pak Hasan dan ibu susi, untuk mengurus dan menjaga perkebunan milik nenek juga menjaga makam keluarga Freya." Pinta Freya panjang lebar.
"Untuk saat ini hingga beberapa minggu ke depan, saya masih harus bersembunyi dulu, sampai keadaan saya benar-benar membaik, dan dari saat ini hingga saya benar-benar sembuh, saya akan sangat banyak merepotkan pak Hasan dan ibu susi." Pinta Freya lagi.
Sejenak pak Hasan dan ibu susi saling pandang, mereka jelas siap membantu Freya dalam hal apapun, tapi mereka sedikit ragu untuk mengambil uang yang sedang di berikan Freya pada pak Hasan, karena baik pak Hasan maupun ibu susi sama-sama memikirkan bahwa Freya juga pasti akan sangat membutuhkan uang tersebut untuk biaya penyembuhan dirinya selama di persembunyian, apa lagi jumlah uang yang coba di berikan Freya terlihat sangatlah banyak.
"Non kami janji akan menjaga perkebunan dan makam keluarga non Freya, non Freya tidak usah hawatir untuk itu, jadi non simpan saja uang ini dan gunakan untuk memenuhi kebutuhan non Freya selama berada di tempat persembunyian nantinya." Jawab pak Hasan.
"Tidak bisa seperti itu pak, bpk harus menerima dan menggunakan uang ini untuk makam keluarga saya dan melanjutkan perkebunan nenek."
"Jika bpk tidak mau menerimanya saya akan menganggap bahwa bpk tidak mau membantu saya dalam menjaga perkebunan nenek dan menjaga makam keluarga saya." Ucap Freya panjang Lebar.
"Tolong pak Ambillah" pinta Freya penuh harap.
"Bailah non, saya terima uang ini untuk membangun tembok dan dinding pagar di makam keluarga non Freya dan untuk melanjutkan usaha di perkebunan nyonya liliana" Jawab pak Hasan mengalah.
Pak Hasan pun mengambil uang Cash yang jumlahnya tidak sedikit itu dari tangan Freya, dan meminta istrinya untuk menyimpan uang tersebut ke dalam tasnya.
Terakhir Freya memberikan dua buku catatan penghononoran para pekerja, pada pak Hasan dan ibu susi.
"Terimakasih pak hasan ibu susi" ucap Freya.
"Sama-sama Non" jawab pak Hasan dan ibu susi bergantian.