My Freya

My Freya
BAB 33



❤️Hidayah❤️


"Di mana aku? kenapa begitu gelap?" ucap Freya, yang kini berjalan di tengah hutan yang gelap.


"Hutan? ini hutan?, kenapa aku berada di sini?" tanya Freya pada dirinya sendiri.


Freya terus berjalan lurus kedepan karena dia tak tahu arah, "Kenapa begitu gelap?" Tanya Freya lagi.


"Di mana ini? kenapa aku bisa ada di sini?" ucap Freya seraya terus berjalan ke depan hingga tampa sadar langkah kakinya membawanya hingga sampai ke ujung tebing jurang yang begitu tinggi.


Karena begitu gelap Freya bahkan tak mampu melihat pijakan kakinya hingga tampa di sadarinya Freya pun kehilangan pijakan di ujung tebing jurang yang tinggi.


"Ah......" Freya berteriak karena kehilangan keseimbangan pada pijakan kakinya dan membuat dirinya terjatuh di ke dalam jurang tersebut.


"Hap...." Freya memegang sebuah dahan pohon yang tumbuh dari sisi jurang.


"Tolong...." Pinta Freya saat dia berhasil memegang erat Dahan pohon itu dengan kedua tangannya.


Freya bergelantungan di dahan pohon tersebut, dia benar-benar tidak bisa naik ke atas badan dahan pohon tersebut.


"Panas" ucap Freya, Freya pun melihat sekelilingnya benar-benar tidak ada orang sama sekali selain dirinya seorang, namun Freya melihat ada sebuah cahaya jingga dari bawah jurang.


Freya pun melihatnya dengan seksama, dan seketika ke dua mata Freya pun membola karena rasa kaget dan takut yang menyerang secara bersamaan, di lihatnya yang ada di bawahnya adalah lava api yang menyala-nyala.


"Ahh...Tidak..... Tidak, seseorang tolong aku, tolong aku tidak ingin jatuh ke dalam sana." Ucap Freya menjerit histeris.


"Bluk... Bluk... Bluk..." Suara gelembung dari Lava api yang bergejolak, tepat beberapa meter berada di bawah kaki Freya.


"Tolong, aku mohon tolong aku... Tolong selamatkan aku..." Pinta Freya lagi.


Lama Freya bergelantungan di dahan pohon dalam jurang tersebut, tanpa ada satu orang pun yang datang untuk menolongnya.


"Tuhan... Siapa pun tolong aku, aku mohon aku tidak ingin jatuh ke bawah sana, tolong.. Selamatkan aku." Pinta Freya dengan sangat seraya menutup matanya.


Kali ini Freya benar-benar berusaha mempercayai adanya Tuhan di hatinya.


Tangan Freya sudah mati rasa tubuhnya sudah begitu lemas, matanya sudah begitu kabur karena air mata yang tak hentinya mengalir dari kedua pelupuk matanya.


Di detik berikutnya ke dua tangan Freya pun sudah tidak sanggup menopang seluruh badan Freya, dan Freya benar-benar pasrah jika dia benar-benar akan terjatuh ke dalam lava api tersebut seraya berkata...


"Tuhan jika engkau benar-benar ada, tolonglah aku, izinkan aku memilikimu" ucap Freya lantas Freya pun melepaskan genggaman ke dua tangannya dari dahan pohon yang ada di tepi jurang tersebut.


Tubuhnya sudah benar-benar mati rasa dan Freya pun pasrah karena dia sadar dia akan jatuh pada kobaran lava api yang menyala-nyala dengan begitu dahsyatnya.


Saat tubuh Freya terjatuh dan melayang di udara, Freya hanya berkata "Selamatkan aku" dalam hati.


Dan di detik berikutnya "Hap..." Freya merasa seseorang telah memegang tangan kanannya, hingga membuat Freya kembali terapung di udara.


"Pegang tanganku" pinta nya dengan begitu lembut.


"Siapa di sana?" Tanya Freya seraya berusaha mengangkat kepalanya ke atas, Freya berusaha melihat siapakah yang memegang tangannya.


"Silau..." ucap Freya.


"Siapa kau?" tanya Freya.


"Apa kau mau ikut denganku" dia bertanya penuh ke lembutan.


"Aku tidak bisa melihat wajahnya" ucap Freya dalam hati.


"Cahaya apa ini? Kenapa kau begitu bersinar?" tanya Freya beruntun. Namun tak ada jawaban.


"Suaramu begitu lembut, merdu dan menenangkan hatiku." Ucap Freya.


Freya masih bergelantungan di atas lava api yang berkobar dengan di pegangi oleh sebuah cahaya yang ada di atas kepalanya.


"Apa kau mau ikut denganku?" lagi-lagi pertanyaan itu dia ucapkan dengan begitu indah.


"Iya.. Aku mau ikut denganmu" ucap Freya dengan mantap tanpa rasa ragu dan di barengi derai air mata yang tiba-tiba membasahi wajahnya.


"Kalau begitu peganglah tanganku" ucap cahaya itu.


Freya menurut dia memegang erat tangan lembut berbalut cahaya, Freya bahkan tidak bisa melihat jelas bentuk tangan tersebut, tapi Freya bisa merasakan itu adalah sebuah tangan yang hangat dan lembut.


Cahaya itu pun menarik Freya ke atas, menjauh dari lubang lava api yang menyala-nyala, Freya merasakan tubuhnya begitu ringan saat dirinya melayang naik ke atas.


Freya tak melepaskan pandangannya dari cahaya tersebut dia benar-benar memegang erat sebuah tangan yang menggenggamnya lembut.


Cahaya itu menarik Freya kembali ke atas tanah yang dia pijak sebelumnya sesaat sebelum terjatuh dan menarik tubuh Freya hingga terduduk di atas tanah tepat di bibir tebing jurang.


Freya sangat ingin tahu siapakah yang sudah menolong dirinya saat ini, karena Freya benar-benar tidak dapat melihat wujud dari orang bercahaya tersebut.


"Siapa?" tanya Freya penuh tanya.


Lalu perlahan cahaya itu pun mulai mengecil, dan menyusut pada genggaman tangan kanan Freya, melihat itu Freya merasa ketakutan dia memegang genggaman tangan orang bercahaya tersebut karena tidak ingin kehilangan orang itu sebelum dia tahu siapakah dia.


Dan di detik berikutnya tangan dari cahaya itu pun berubah menjadi sebuah benda seperti buku dan perlahan cahaya itu pun mulai membias di pelupuk mata Freya hingga akhir Freya bisa melihat bentuk dari yang menyelamatkan dirinya dan cahaya itu adalah.



"Alqur'an" ucap Freya dengan tubuh yang bergetar, air mata yang mengalir deras dan bibir yang terkatup.


"Alqur'an" ucap Freya lagi seraya memeluk erat Alqur'an tersebut di dadanya.


"Alqur'an... Hiks... Hiks... Hiks...." Ucap Freya lagi dan lagi.


"Freya... Bangunlah, Hey .... Freya?" pinta Daffin seraya menepuk pelan pundak Freya yang tertidur di Sofa ruang tamu.


Daffin pikir Freya sedang dalam mimpi buruk karena tubuh gadis itu bergetar wajahnya pucat penuh keringat dan menunjukkan raut wajah yang gelisah, Daffin sangat hawatir melihatnya.


"Freya..." Panggil Daffin lagi karena Freya tak kunjung bangun dari tidurnya.


"Freya...." Panggil Daffin lagi dengan nada yang sedikit meninggi hingga membuat Freya terperanjat dan terbangun dari tidurnya.


"Daffin" jawab Freya terperanjat lalu dengan cepat dia bangun dari posisi tidurnya, nampak kesadaran Freya belum sepuhnya terkumpul karena di bangunkan dengan paksa oleh Daffin.


"Hah.... Hah... Hah...." terdengar suara nafas Freya yang tersengal, keringat benar-benar membasahi seluruh tubuh gadis itu.


"Hey tenanglah... Tarik napas perlahan" pinta Daffin dan di ikuti Freya.


Melihat Freya sudah lebih baik Daffin pun meninggalkan Freya sebentar untuk mengambil air minum di dapur, tak lama Daffin pun kembali dengan secangkir air putih di tangannya.


"Sepertinya mimpimu buruk sekali Freya?" Tanya Daffin yang kini sudah kembali duduk di samping Freya.


"Berikan Alqur'annya dan minumlah airnya" pinta Daffin seraya menyerahkan secangkir air putih di tangannya pada Freya.


"Alqur'an?" tanya Freya tak mengerti.


"Iya Alqur'annya berikan padaku, dan minumlah dulu airnya" pinta Daffin mengulang kembali perkataannya.


Freya sungguh tidak mengerti perkataan Daffin lantas dia pun menunduk seraya melihat kedua tangannya dan betapa kagetnya Freya saat melihat ke dua tangannya sedang mendekap erat sebuah Alqur'an di dadanya.