
❤️Siuman❤️
Satu minggu sudah Freya di rawat di rumah sakit umum, setelah insiden penembakan yang di lakukan oleh Riana dan keluarganya, juga insiden kebakaran hebat yang terjadi setelahnya, hal itu membuat Freya tak kunjung sadarkan diri dari tidurnya hingga saat ini, hal itu pula yang juga membuat Daffin semakin cemas di buatnya.
"Hey... Bangunlah, kau sudah tidur terlalu lama Freya." Ucap Daffin yang duduk di samping rajang pasien milik Freya.
Daffin dengan setia menemani Freya siang dan malam dia bahkan sampai membawa semua pekerjaannya ke rumah sakit.
Hal itu membuat Edwin sangat marah karena Daffin begitu sangat peduli dan penuh perhatian dengan keadaan Freya, padahal dia sudah berjanji tidak akan lagi mencampuri urusan kehidupan Freya lagi.
"Daf lo sudah janji sama gue, bahwa lo gak akan pernah mencampuri urusan Kehidupan Freya lagi, tapi lihat apa yang lo lakuin sekarang bro, lo malah membawa semua pekerjaan lo ke rumah sakit, hanya demi Freya." keluh Edwin berulang kali pada Daffin.
Daffin hanya diam tak menanggapi perkataan Edwin karena dia sudah begitu bosan berulangkali mendengar ocehan yang sama dari sahabatnya itu.
"Daffin jangan bilang kalau lo udah jatuh cinta sama Freya?" tanya Edwin kesal.
Daffin terperangah mendengar pertanyaan Freya, lalu dia mengalihkan pandangannya pada wajah Freya yang nampak pucat,
"Jatuh Cinta?" tanya Daffin seraya menatap intens wajah Freya.
"Mungkin iya, gue udah jatuh cinta Edwin, karena gue selalu merasa tidak tenang jika jauh dari dia, dan gue selalu memikirkannya saat gue sendirian" ucap Daffin jujur.
"Gue Sakit melihat dia tak berdaya seperti ini Ed, gue selalu ingin melindungi dia dan buat dia bahagia dengan tangan gue sendiri." Sambung Daffin lagi sendu.
"Daf... Lo sadar dengan apa yang lo katakan?" tanya Edwin menolak untuk percaya.
"Sangat sadar." Jawab Daffin tegas,
Daffin tak sedikit pun mengalihkan pandangannya dari wajah Freya, bahkan saat dia menjawab setiap pertanyaan yang di utarakan Edwin.
"Daffin,..... Tapi Freya..... Dia punya masalah Seriyus Daf, dan masalah ini bahkan bisa membahayakan nyawa lo Daffin." Ucap Edwin, berulang kali, Jengah.
"Itulah alasan kenapa gue selalu ingin melindungi Freya Ed, dan karena rasa itu juga, yang membuat gue tidak bisa meninggalkan dia bahkan satu detik pun." Ucap Daffin.
"Gue selalu ingin ada buat dia Ed, apa lagi di saat masa terburuk Freya seperti saat ini, gue selalu ingin ada di samping dia, mendampingi dia, dan menjaga dia Ed." Ucap Daffin lagi.
"Lo.... Benar-benar sudah di butakan oleh Cinta Daffin." Ucap Edwin kehabisan kata-kata lagi untuk membuat Daffin berhenti masuk terlalu jauh ke dalam hidup Freya.
Namun Daffin tak menanggapi dia sibuk beroda dalam hati berharap agar Freya bisa cepat sadar dan sembuh.
"Gue sendiri juga tidak tau kapan tepatnya dia mencuri hati ini, karena sekarang gue merasakan hati gue sakit saat dia sedih dan hati gue akan bahagia kala dia tersenyum dengan begitu manis." Ucap Daffin dalam hati, seraya memori otaknya berkelana ke masa-masa kemarin di mana itu adalah hari-hari kebersamaan dirinya dengan Freya yang cukup singkat.
Hari ke sepuluh Freya di rawat di rumah sakit umum, kini dia sudah mulai membuka matanya, kesadaran pun berangsur mulai dia dapatkan sedikit demi sedikit, Freya berusaha membuka kedua matanya.
Kedua mata indah itu berusaha dia buka dengan paksa, kala rasa sakit menusuk matanya karena penyesuaian cahaya yang perlahan menerobos masuk ke dalam matanya.
Sayup sayup dia mendengar suara seseorang di sampingnya, Terdengar suara itu mengalun begitu medu dan menenangkan hati.
Kini Freya bisa membuka matanya dia melihat ada seorang laki-laki duduk di samping ranjangnya.
Dia memegang sebuah buku yang cukup tebal seraya membaca buku tersebut dengan nada merdu, tapi ada hal yang aneh dari bacaan laki-laki tersebut karena dari setiap bacaan hanya terdengar kalimat Arab yang begitu asing di indera pendengaran Freya.
"Daffin?" ucap Freya dalam hati.
Daffin masih belum menyadari bahwa saat ini Freya sudah sadar dan mampu membuka matanya dari tidur panjangnya.
Daffin masih begitu khusyu membaca ayat demi ayat dari Alqur'an yang dia pegang dengan kedua tangannya.
Freya masih belum memiliki tenaga untuk menggerakkan badannya dan dia juga masih ingin terus mendengar suara merdu Daffin yang sedang membaca sebuah buku tebal yang Freya sendiri tidak tau buku apa itu.
"Jadi suara Daffin kah yang selalu aku dengar di setiap siang dam malam ku, dan apa yang dia baca, sebuah Doa kah tau hanya Syair Arab yang sering di bacakan orang-orang?" Tanya Freya dalam hati.
"Tapi yang ini berbeda ini begitu menenangkan sampai rasanya aku ingin menangis" ucap Freya lagi masih di dalam hati.
"Clak..." Perlahan air mata Freya mengalir dalam diam kala dirinya mendengar lantunan ayat suci Alqur'an yang sedang di bacakan oleh Daffin di sampingnya.
Sejenak Daffin menoleh pada wajah Freya yang dia kira masih belum sadarkan diri, tapi pada saat mata itu melihat, dia begitu terperangah tak percaya karena gadis yang dia nantikan kini telah membuka matanya lengkap dengan air mata yang membasahi kedua matanya yang indah.
Mulut Daffin masih membaca bacaan Alqur'an tapi tapi kedua matanya menatap tak percuma apa yang dia lihat,
Di detik berikutnya Daffin pun sadar kalau Freya sudah sadarkan diri saat ini, Daffin menutup Alqur'an di tangannya seraya membaca "Shodaqollohul'Adzim" ucapnya lantas di ciumnya bagian depan Alqur'an tersebut lalu di taruhnya Alqur'an tersebut dengan penuh ke Hati-hatian di atas menjadi nakas di sampingnya.
Semua yang di lakukan Daffin tak luput dari pandangan Freya, Freya sendiri merasa aneh dengan apa yang di lakukan Daffin.
"Kau sudah sadar Freya?" tanya Daffin.
Freya hanya mengerejepkan matanya sebagai jawaban,
"aku akan panggilkan dokter sebentar," ucap Daffin sambil menekan salah satu tombol yang berjejer di dinding tepat diatas ranjang pasien milik Freya.
"Sebentar lagi Dokter akan datang" ucap Daffin.
"A... I... R" pinta Freya dengan suara lirih yang terbata.
Daffin hampir tidak mendengar suara Freya, "Katakan lagi Freya aku tidak bisa mendengarmu?" pinta Daffin, seraya sedikit mendekatkan daun telinganya dengan bibir Freya.
"A... I.... R" ucap Freya lagi.
"Air, kau mau minum, baik sebentar ya" pinta Daffin.
Daffin nampak limpung dia terlihat bingung bahkan hanya sekedar untuk mengambil air minum saja Daffin sampai lupa mengambil gelas untuk menampung air.
Freya yang melihatnya hanya mampu tersenyum samar dengan tingkah Daffin.
Daffin kembali dengan satu gelas berisi air putih di dalamnya lengkap dengan satu sedotan untuk membantu Freya meminum air putih tersebut dengan mudah.
"Ini airnya" ucap Daffin seraya membatu Freya meminum air tersebut dari posisi tidurnya.
Freya meminum habis air tersebut, Melihat itu Daffin berucap "Mau Tambah lagi?" tanya Daffin. Freya menggelengkan pelan kepalanya sebagai jawaban.
"Baiklah" ucap Daffin,
Tak lama Dokter pun datang bersama satu perawat wanita di belakangnya dengan cepat mereka melakukan serangkaian pemeriksaan pada Freya.
"Alhamdulillah keadaan Pasien sudah membaik, luka jahitan di punggungnya pun sudah mengering, mungkin inilah cara Alloh menyembuhkan pasien, dengan membuat pasien tidur cukup lama, agar pasien tidak merasakan sakit dari luka di punggungnya" ucap Dokter.
"Walau demikian tetap saja, pasien masih harus mendapatkan perawatan ekstra dan masih di larang untuk bergerak terlalu berlebihan karena pasien masih dalam masa pemulihan." Ucap Dokter lagi.
"Mulai sekarang minum obatnya secara teratur ya" pinta Dokter.
Freya hanya mengangguk lemah karena tubuhnya masih belum mendapatkan cukup tenaga bahkan hanya untuk sekedar berucap.
"Baiklah kalau begitu saya permisi." Ucap Dokter.
"Terimakasih dokter." Jawab Daffin.
Daffin kembali duduk di samping Freya seraya berucap Syukur pada Alloh yang sudah mengabulkan doa-doanya untuk kesembuhan Freya.