
❤️Berhasil selamat❤️
"Freya bertahan lah.. Jangan tinggalkan aku" ucap Daffin parau.
Daffin berusaha menggosok-gosok ke dua telapak tangan milik Freya secara bergantian, menyalurkan rasa hangat, berharap hal itu akan berhasil, tapi di detik berikutnya Daffin harus di sadarkan dengan darah segar yang sejak tadi terus keluar dari punggung ramping milik Freya.
"Darah" ucap Daffin lirih saat melihat darah segar di telapak tangannya kala Daffin menyentuh punggung Freya.
"Pak bisa tolong lebih cepat lagi, saya mohon" pinta Daffin semakin panik.
"Baik pak" jawab sopir tersebut.
Daffin terus berusaha membuat Freya sadarkan diri tapi tidak berhasil, hingga setelah beberapa saat mobil yang di tumpangi Daffin dan Freya pun sampai di sebuah rumah sakit umum.
Sang Driver mobil online pun langsung turun dari dalam mobil dan meminta bantuan pada para perawat rumah sakit.
"Emergency tolong" teriak Driver tersebut.
Para perawat yang berjaga pun langsung berlarian mengambil bankar pasien, Daffin keluar dari dalam mobil dengan memangku Freya di kedua tangannya dan Para perawat itu pun bergegas membantu membaringkan Freya di atas bankar pasien.
Setelah memastikan Freya ada di tempat yang aman Daffin pun mengambil tas milik Freya tak lupa dia membayar jasa mobil online pesanannya melalui Aplikasi dompet digital,
"Terimakasih pak" ucap Daffin setelah memastikan telah membayar ongkos jasa dari sang Driver tersebut.
"Pak.. Pak tunggu ini terlalu banyak" ucap Driver tersebut mencoba Menahan kepergian Daffin.
Daffin sengaja membayar lebih ongkos jasa mobil online tersebut, sebagi bentuk terimakasih karena sang Driver telah membantu dirinya membawa Freya ke rumah sakit.
"Tidak pak, itu untuk bpk." Jawab Daffin sekedarnya lantas dia berlari ke dalam rumah sakit mengejar kepergian Freya yang sudah di bawa masuk ke dalam rumah sakit terlebih dahulu oleh para perawat.
IGD, ke sana lah para perawat membawa Freya masuk, untuk di lakukan penanganan pertama yang Seriyus oleh dokter dan para perawat.
Lama Daffin menunggu di luar ruangan sejak tadi tangan dan mulutnya tak henti berdoa dan berzikir, meminta pertolongan, keselamatan dan kesembuhan untuk Freya.
Setelah hampir satu tengah jam seorang Dokter pun akhirnya ke luar dari dalam ruang IGD.
"Dokter?" Panggil Daffin tak sabaran.
"Bagai mana ke adaannya? Apa dia baik-baik saja? " tanya Daffin beruntun.
"Oprasi pengangkatan peluru sudah berhasil tapi pasien kehilangan banyak darah saat ini, jadi kami harus melakukan transfusi Darah sebanyak 4 labu."
"Keadaan pasien sangat buruk sekali, jika satu menit lagi saja anda terlambat membawanya ke rumah sakit dan terlambat mendapatkan penanganan medis, saya bisa pastikan pasien mungkin tidak bisa tertolong."
"Deg..." Mendengar itu tangan Daffin kembali bergetar.
"Tapi Syukurlah anda datang tepat waktu hingga kami pun bisa melakukan pertolongan pertama dengan cepat pada pasien."
"Saat ini keadaan pasien sudah berhasil ke luar dari masa kritisnya tapi, kami masih tetap harus melakukan pengawasan kepada pasien mengingat sebelumnya pasien telah kehilangan banyak darah." Jelas dokter panjang lebar.
"Alhamdulillah, terimakasih dokter" jawab Daffin mulai merasa tenang.
"Pak sebaiknya anda juga harus mendapatkan perawatan, karena dari suara anda saya bisa mendengar kalau anda pun sepertinya tidak dalam ke adaan baik-baik saja." saran dokter.
"Iya Dokter, dada saya terasa sesak, mungkin karena asap kebakaran yang saya hirup." Jawab Daffin.
"Kalau begitu ayo kita lakukan perawatan." Pinta sang dokter.
"Iya Dok" jawab Daffin.
Sebelumnya Dokter melakukan rongsen terlebih dahulu, pada tubuh Daffin dari atas kepala hingga ujung kaki, untuk memastikan tidak ada luka dalam yang tidak terdeteksi dan berpotensi mengakibatkan kerusakan atau rasa sakit di kemudian hari.
Setelah itu dengan di bantu oleh perawat laki-laki Daffin pun membersihkan tubuhnya dari sisa darah milik Freya yang menempel di kulit tangan dan badan Daffin, Setelah bersih baru Daffin di beri baju khusus rumah sakit.
Kali ini Daffin bisa sedikit bernafas lega kala mendengar ke adaan dirinya baik-baik saja dan ke adaan Freya pun mulai menunjukkan kemajuan yang baik, walau gadis itu masih harus mendapatkan perawatan ekstra di ruang IC.
Karena pengeruh obat yang dia terima Daffin pun mulai tertidur di atas ranjang rumah sakit,
Pukul 08.00 bertempat di salah satu rumah sakit ternama di ibu kota.
Ruang VIP.
"Apa Kau bilang kakiku akan sulit di sembuhkan?"
"Kau bilang kaki kananku tidak akan bisa di gunakan berjalan dengan normal lagi?" teriak seorang wanita, histeris dan sangat marah.
Ya wanita itu adalah Riana, kini dia dan putrinya tengah berbaring di atas ranjang rumah sakit, di salah satu rumah sakit ternama di ibu kota, karena luka tembak yang mereka derita, akibat kejadian semalam.
Sebelumnya Riana menanyakan tentang ke adaan kakinya, berdasarkan gejala yang dia rasakan, Dokter pun menjelaskan keadaan kaki kanan Riana dan kemungkinan terburuk yang akan terjadi setelah pelepasan Gips pada lutut kakinya.
Tapi Riana tak terima dan marah besar, bahkan dia memaki dokter yang sudah menanganinya semalam.
"Kau sebut dirimu dokter tapi tidak bisa menyembuhkan kakiku, dokter macam apa kau ini Hah." Maki Riana pada dokter yang bertugas menanganinya.
"Maaf nyonya tapi tulang lutut anda sudah sangat remuk dan hampir hancur karena peluru yang menembus hingga ke sandi tulang, kami sudah melakukan penanganan yang terbaik untuk membantu proses penyembuhan, tapi dari analisa saya karena kerusakan yang anda derita di dalam lutut anda kemungkinan anda tidak bisa berjalan normal seperti sedia kala." tutur dokter tersebut menjelaskan panjang lebar.
"Kalau begitu sembuhkan kakiku cepat" pinta Riana sangat marah.
"Kami sedang berusaha nyonya."Jawab Dokter tersebut.
"Kau dokter bodoh dan tidak berguna."
"Bagai mana mungkin seorang dokter tidak bisa menyembuhkan kakiku dengan cepat" maki Riana lagi.
"Maaf nyonya kami sudah berusaha sebaik mungkin, dan bisa saya pastikan semua dokter di dunia ini pun akan mengatakan hal yang sama setelah melihat luka yang anda derita." Ucap Dokter tersebut masih sedikit bersabar.
"Kau menantangku, lihat saja aku akan pergi berobat pada dokter yang lebih handal darimu, dan jika aku bisa berjalan lagi, akan aku pastikan kau akan membusuk di penjara." Ucap Riana sadis.
"Ya anda bisa melakukannya jika itu bisa" jawab Dokter tersebut.
"Tuan saya permisi." Ucap Dokter berpamitan pada paman Marvin yang sejak tadi berusaha menenangkan Riana di sampingnya.
"Sialan kau.. Kau dokter sialan." Ucap Riana dengan berteriak memaki kepergian Dokter yang bertugas merawatnya.
"Sayang tenanglah, tenang kan dirimu" pinta paman Marvin.
"Kau bilang aku harus tenang setelah mendengar kata-kata dokter sialan itu Hah" jawab Riana dengan berteriak.
"Dia bilang kaki kananku hancur dan tidak bisa berjalan normal lagi, dia bilang dia seorang dokter tapi tidak bisa mengobati kakiku, dokter macam apa itu Hah...." Maki Riana lagi dengan nada yang tinggi karena kesal dan marah.
Dia tidak terima kalau kakinya harus pincang di kemudian hari.
"Ini semua karena keponakanmu si Freya sialan itu, aku berdoa semoga dia membusuk di neraka" umpat Riana lagi masih dengan nada tinggi dan marah.
Sementara paman Marvin dia hanya mampu menghela nafas dan tak berani melawan istrinya jika dia sedang marah dan murka seperti saat ini.