My Freya

My Freya
BAB 11



❤️ Tragedi Pembunuhan 2 ❤️


"Jangan membuatku melakukan kekerasan kakak ipar tandatangani surat pernyataan ini dengan damai, maka kau dan seluruh keluargamu akan selamat." Perintah Bibi Riana.


"Kenapa kau melakukan semua ini Riana?" tanya Daddy Emmanuel mulai marah.


"Karena aku ingin harta kalian, jelas!" jawab bibi Riana.


"Apa kalian tidak malu meminta harta pada Daddyku?" tanya Freya dengan kesal.


"Freya sayang itu karena Daddy mu terlalu pelit dia hanya memberikan perusahan kecil pada pamanmu, bukankah itu sedikit keterlaluan." jawab bibi Riana enteng.


"Kecil kamu bilang, itu perusahan yang cukup besar" ucap Daddy Emmanuel.


"Perusahaan itu kacau karena Marvin tidak becus mengurus perusahaan itu." Sambung Daddy Emmanuel


"Intinya kami ingin perusahaan kakak ipar menjadi milik kami" jawab Aunty Riana.


"Kalian benar-benar serakah" ucap Nenek liliana Yee, yang sejak tadi menahan rasa geramnya.


"Diamlah nenek tua, kami tidak ada urusan denganmu" bentak bibi Riana.


"Hey jaga bicara mu dia ibuku" bentak mommy Amanda dengan suara yang tak kalah tinggi.


"Ya ampun kalian ini benar-benar sulit di ajak kerja sama ya, padahalkan kami cuma minta pengalihan atas kepemilikan harta kalian, tapi kalian begitu pelit sekali, padahal itu hanya satu tanda tangan saja, setelah itu kalian masih kami ijinkan mengelola semua harta dan aset seperti biasanya, begitu saja sudah sekali." keluh bibi Riana.


"Dasar wanita gila, siapapun di dunia ini pasti akan mati-matian mempertahankan harta mereka termasuk kami" ucap Mommy Amanda.


"Hah, aku mulai kesal hey kalian cepat kalian urus para wanita itu" perintah Riana.


Para Preman suruhan Riana mendekat dan menyakiti Nenek, Mommy dan Freya, kecuali Daddy Emmanuel.


"Lepaskan lepas..." ucap mommy Amanda, Freya dan Nenek liliana Yee.


"Hey apa yang kalian lakukan lepaskan mereka" bentak Daddy Emmanuel marah.


"Marvin kau sadar dengan apa yang kau lakukan ini hah, kau menyakiti istriku, Putri ku, dan ibu mertua ku." bentak daddy Emmanuel lagi.


"Kak jika kau tidak ingin mereka terluka tandatangani surat ini, maka semua ini akan selesai." Jawab Marvin.


"Selesai kau bilang, Marvin aku membesarkanmu sendirian, aku mengasuhmu, menyekolahkanmu dengan kerja kerasku tanpa aku tau siapa kamu sebenarnya tapi aku tetap mengangkat mu mejadi adikku dan bahkan memberikan namaku sebagai identitas mu dan... Dan ini.. Ini balasanmu padaku Marvin." Ucap Daddy Emmanuel sangat marah.


"Aku tidak memintamu membesarkan ku kak" jawab Marvin dengan wajah kesal.


"Apa kau bilang tidak minta, lantas jika aku tidak memungutmu dari tempat sampah, maka kau tidak akan berdiri sebar ini Marvin, dan mungkin kau akan mati karena kedinginan dan kelaparan saat itu." Jawab Daddy Emmanuel semakin marah.


"Sekarang lepaskan keluarga ku dan pergilah, maka aku akan memaafkanmu dan melupakan kejadian ini, cepat!" pinta Daddy Emmanuel dengan amarah yang membuncak.


"Tidak sebelum kakak ipar menandatangani surat ini" sela Riana.


"Aku tidak akan menandatangani apapun, lepaskan mereka cepat!" ucap Daddy Emmanuel sambil merobek habis surat pengalihan harta yang mereka bawa.


Melihat itu Riana sangat lah marah, dia dengan sengaja mengambil pistol dan menembakkan peluru ke arah Daddy Emmanuel.


"Dor..."


"Daddy..."


"Sayang..."


"Emmanuel..."


Ucap Mommy Amanda, Freya dan Nenek liliana bersamaan.


Daddy Emmanuel terjatuh ke lantai dengan darah mengalir dari dada sebelah kirinya, karena Riana menembaknya Daddy Garvin tepat di area jantung.


"Mar---vin, kau..... Kau... " Ucap Daddy Garvin sambil terbata di ujung napasnya dan tak bergerak lagi.


"Daddy... Daddy... Bangun Daddy" ucap Freya sambil berusaha melepaskan diri dari salah satu preman yang mencengkamnya kuat.


"Sayang... Tidak sayang... Bangunlah... Sayang.. Ahhh... " Jerit mommy Amanda frustrasi sambil berusaha melepaskan diri cengkaraman preman yang juga menahannya.


Freya menendang preman yang mecengkramnya dengan sekuat tenaga sampai dia terlepas dari preman itu dan langsung berlari ke arah Daddy nya.


"Daddy bagun Daddy, jangan tinggalkan kami, daddy... Ahhhh.... Ahhh.... Tidak daddy." teriak Freya histetis sambil memangku kepala Daddy Emmanuel di pangkuannya.


"Kalian benar-benar iblis, hidup kalian akan hancur, dan masuklah kalian kedalam neraka selamanya." Ucap Nenek liliana dengan lantang.


"Diam kau nenek tua" ucap Riana kalap.


Dor...


Satu peluru di tembakkan tapat di kepala nenek liliana, dan nenek liliana pun langsung jatuh kelantai dengan bersimbah darah.


"Terkutuklah kalian semua" ucap Nenek liliana di akhir nafasnnya.


"Tidak mommy..... " jerit mommy Amanda sambil terkulai lemas, dengan reflek preman yang memegang Mommy Amanda pun melepaskan mommy Amanda.


"Mommy... Tidak mommy Ahhhh, bangun mommy, demi aku demi Freya mommy Ahhhh.. Haaaaa... Mommy hiks hiks hiks.."


Freya begitu syok melihat Neneknya  berisimbah darah dan sudah tak bernyawa,


"Nenek... Nenek..." Ucap Freya lirih.


Freya tertegun dengan air mata yang mengucur semakin deras.


Marvin dan Gisel yang melihatnya pun sebenarnya gemetar ketakutan atas ulah Riana yang membunuh dua orang sekaligus tanpa belas kasih, tapi mereka pun tidak berani melakukan apapun.


"Riana dasar iblis kau, kau membunuh suamiku dan Mommyku" ucap mommy Amanda degan amarah yang sudah menguasai dirinya.


Dengan nekat mommy Amanda mendekati Riana, dengan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun, Mommy Amanda berusaha merebut pistol dari tangan Riana hingga terjadilah perbutan pistol di antara mereka.


Riana yang marah mencoba mengarahkan pistolnya ke arah Mommy Amanda, tapi mommy Amanda sekuat tenaga merebut pistol tersebut, dan....


"Dor...." Satu tembakan mengenai salah satu preman yang berdiri tak jauh dari mereka.


Mommy Amanda terus mengarahkan potolnya kearah para preman sehingga tiga dari meraka tewas tertembak pistol yang berusaha direbut mommy Amanda dari Riana.


Marvin, Gisel, dan ke dua preman yang masih tersisa, mereka memilih berlindung agar tidak terembak pistol yang di tembakkan tidak tentu arah oleh Riana dan Mommy Amanda.


Sedangkan Freya hanya mematung karena terlalu syok dengan keadaan yang dia lihat.


"Freya..." Panggil mommy Amanda, tapi Freya tidak menjawab.


"Freya" bentak mommy Amanda lagi sambil masih berusaha merebut pistol dari tangan Riana.


"Mommy" ucap Freya yang tersadar dari semua situasi yang ada.


"Lari nak, lari sayang, pergi dari sini" pinta mommy Amanda.


"Tidak mommy, kita akan pergi bersama." Tolak Freya.


"Tidak sayang, pergilah dan berjuanglah untuk hidup, demi Mommy, Daddy dan nenek, pergi sayang ini perintah mommy." Ucap Mommy Amanda lagi sambil teriak.


"Tapi... Mommy."


"Pergi!, cepat!" bentak mommy Amanda.


Dengan berat hati Freya pun berdiri dan berusaha untuk pergi, saat Freya hampir mencapai pintu ruang keluarga terdengar suara tembakan yang menggelegar di telinganya.


Dor.... Satu tembakan mengenai perut mommy Amanda.


"Mommy" Teriak Freya sambil berbalik.


"Pergi, pergi nak... Mommy mohon hiks... Hiks... " Ucap mommy Amanda lagi.


"Dor..." Tembakan kedua kembali di tembakkan oleh Riana tepat di kepala mommy Amanda.


"Mommy... Hiks hiks.." Ucap Freya sambil berjalan mundur.


Dengan hati hancur Freya berusaha lari sekuat tenaga dari rumah Neneknya setelah melihat sendiri seluruh keluarganya dibunuh di hadapannya sendiri, tapi sayang gisel yang sudah bersiap menarik Freya dan menusuk Freya dengan pisau dapur yang dia bawa.


"Jeb...." Satu tusukan mengenai perut Freya.


"Gisel" ucap Freya tidak menyangka.


Gisel pun mencabut kembali pisau dari tubuh Freya dan menjatuhkannya di hadapan Freya.


"Maaf Freya aku hanya ingin orang tuaku bahagia dan aku juga ingin kak Jhon menjadi milikku." Ucap Gisel sambil menjauh dari Freya yang mulai mengeluarkan darah dari perutnya.


"Bagus Putriku kamu berhasil menusuknya dengan pisau, ini baru Putriku." Puji Riana.


"Sekarang, biar mommy yang menyelesaikan sisanya" ucap Riana sambil mengarahkan pistolnya ke arah Freya.


Dengan sekuat tenaga Freya berlari sambil menahan luka di perutnya.


"Crak... Crak..."


"Ah sial pelurunya habis, semua ini gara-gara si Amanda sialan itu." Ucap Riana.


"Hey kalian kenapa diam saja cepat kejar dia dan habisi dia terus kalian buang mayatnya." Ucap Riana dengan bengisnya.


Sedangkan Gisel yang mendengarnya hanya menahan rasa gemetar di sekujur tubuhnya karena merasa takut.


Freya berlari dan terus berlari tak tentu arah, karena luka di perutnya membuat Freya kehabisan tenaga dan jatuh, tak lama para preman pun datang dan mengkap Freya.


Freya sudah kehabisan tenaga untuk melawan dia hanya bisa pasrah saat kedua preman tersebut mengikat tangan dan kakinya, lalu memasukkan dirinya dalam sebuah kantong kresek berukuran besar, lantas membuang dirinya di tempat pembuangan sampah.


Dan dari saat itulah Freya bertemu dengan Daffin dan Edwin yang sudah menyelamatkan dirinya.


♦️Flash Back Off ♦️