My Freya

My Freya
BAB 29



❤️Drama baru Riana❤️


Di hari-hari berikutnya perkembangan kesehatan Freya mulai semakin membaik, hal itu menjadi suatu kebahagian untuk Daffin.


Daffin dan Freya pun banyak menghabiskan waktu luang bersama, setiap pagi Daffin akan pergi bekerja dan di waktu sore hingga malam Daffin selalu menemani Freya dan membatu gadis itu melewati hari-harinya yang cukup berat dalam masa pemulihan luka dari fisiknya dan luka dari batinnya.


Freya sama sekali tidak keberatan dengan kehadiran Daffin di sisinya, dia justru sangat bahagia bisa selalu bersama Daffin, dan Freya akan merasa sedih dan merasa risau bila tidak melihat Daffin di sisinya.


Di setiap pagi kala Daffin pergi bekerja, rasanya Freya ingin cepat memutar waktu agar bisa lebih cepat bertemu dengan Daffin.


Melihat kebersamaan Freya dan Daffin yang semakin hari semakin dekat membuat Edwin sahabat Daffin semakin merasa was-was dan hawatir.


Bukan karena cemburu atau iri dengan kedekatan Daffin dan Freya melainkan khawatir dengan keselamatan sahabatnya Daffin. Mengingat kehidupan Freya yang masih dihantui orang-orang jahat di sekitarnya.


Apalagi saat ini ada beberapa yang sedang mencari keadaan Freya dengan terang-terangan, Edwin sendiri tidak tau siapa mereka karena yang pasti Edwin bisa menyimpulkan bahwa mereka adalah orang-orang yang pasti ingin menyakiti atau membunuh Freya.


Baik Daffin, Edwin, Pak Hasan, Ibu Susi, dan para pekerja, benar-benar merahasiakan keberadaan Freya dari semua orang.


Beruntung para penjahat itu hingga kini tidak mengetahui keberadaan Freya yang masih di rawat di rumah sakit.


♦️Di Belgium (Belgia)♦️


Paman Marvin, Bibi Riana, dan sepupunya Gisel, kini mereka sudah kembali ke Belgium, mereka datang dengan membawa luka di tubuh mereka sisa dari kejahatan mereka pada Freya, dan kedua orang tua Freya juga pada nenek Freya selama di Indonesia.


Tak hanya itu mereka kembali dengan sebuah Drama besar yang akan mereka ciptakan melalui kebohongan yang akan mereka katakan pada semua orang.


Riana kembali dengan menggunakan Kusri Roda sedangkan paman Marvin kembali dengan luka lebam di tubuhnya dan Gisel juga kembali dengan membawa luka tembak di perutnya.


Jangan tanya bagai mana Paman Marvin mendapatkan luka lebam ditubuhnya, itu semua karena Riana yang melakukannya.


Riana tidak terima kaki kanannya menjadi cacat, setelah mendapatkan hasil yang sama dari setiap dokter yang dia kunjungi baik di Indonesia atau pun di luar Negri, mereka mengatakan hal yang sama bahwa Riana tidak akan pernah bisa berjalan normal kembali seperti sedia kala karena luka tembak yang dia derita di lututnya.


Riana melampiaskan amarahnya pada paman Marvin alhasil laki-laki itu banyak memiliki luka lebam di tubuhnya.


Kali ini semua orang tengah berkumpul di ruang keluarga kediaman Tuan besar Emmanuel Paul Leo dan istrinya Nyonya besar Amanda Yee atau kita kenal rumah orang tua Freya.


Di antara mereka adalah paman Marvin, bibi Riana, Gisel juga ada Tuan Anthony yang merupakan Asisten Kepercayaan Tuan Besar Emmanuel, dan Taun Gilbert Seorang pengacara yang di tugaskan untuk menjaga semua aset kekayaan milik Tuan Emmanuel Paul Leo.


Tuan Anthony dan Tuan Gilbert adalah orang yang cukup berpengaruh besar di dalam keluarga Taun Besar Emmanuel.


Riana yang penuh dengan kelicikan pun harus benar-benar hati-hati dalam menghadapi dua laki-laki tangguh tersebut, Karena mereka benar-benar lebih mengerikan dari pada Tuan Emmanuel sendiri.


"Tuan-Tuan kami mengundang kalian datang ke sini karena kami ingin menyampaikan berita yang sangat menyakitkan, mengenai kakakku Emmanuel dan kaka Ipar Amanda juga Keponakan kecilku Freya." Ucap paman Marvin.


"Langsung ke intinya saja Tuan Marvin." Ucap Tuan Anthony penuh penekanan.


"Heu.....heu....." Tiba-tiba Riana perpura-pura menangis untuk menutupi kebodohan suaminya yang kadang sulit di andalkan dalam hal berbohong.


"Kakak Emmanuel, Kak Amanda dan Keponakanku Freya sekarang sudah meninggal Antony, heu....eu..heu..." Jawab Riana seraya berpura-pura menangis.


Jangan tanya tentang ekting Riana benar-benar sangat sempurna bahkan meyakinkan.


"Apa?" ucap Taun Anthony tak percaya.


"Tidak mungkin" ucap Tuan Gilbert juga tak percaya.


"Itu benar, lihatlah kami saat ini, tubuh kami penuh luka, aku... Lihat aku... Aku duduk di kursi roda, tidak bisa berjalan dengan Normal lagi sekarang, karena luka tembak yang aku dapatkan di lutut kaki kananku membuat lututku remuk dan tidak bisa di sembuhkan lagi,"


"Dan... Dan lihat suamiku, tubuhnya penuh lebam, dan lihat juga ke adaan putri ku Gisel dia pun terluka sama sepertiku, dia juga mengalami luka tembak di are perutnya." Ucap Riana sembari menunjukkan satu persatu luka di tubuhnya, dan di tubuh paman Marvin juga Gisel pada Tuan Anthony dan Tuan Gilbert.


Riana benar-benar pandai bersandi wara dia menguasai semua Drama yang sedang dia perankan.


"Katakan apa yang sudah Tejadi?" Tanya Tuan Anthony seraya mengepalkan kedua tangannya marah.


"Awalnya Kami berniat memberikan kejutan kepada Kakak ipar Emmanuel, dan kakak ipar Amanda juga pada Freya, kami datang tanpa pemberitahuan ke rumah ibu Liliana, tapi sesampainya kami di sana, kami menemukan rumah mereka sedang diserang oleh banyak pencuri, dan para pencuri itu yang melakukan ini semua, mereka membunuh Kakak ipar Emmanuel, kakak Ipar Amanda, Ibu Liliana Juga Freya."


" Tak sampai disitu mereka juga menyakiti kami, hingga kami terluka seperti saat ini, dan para penjahat itu juga membakar habis rumah ibu Liliana." Ucap Riana menjelaskan sebuah kebohongan besar pada Tuan Anthony dan Tuan Gilbert.


" Kami benar-benar beruntung karena bisa selamat dari para penjahat itu berkat bantuan orang-orang di desa, tapi keluarga Kakak Ipar mereka tidak selamat heu...heu.....heu...." Ucap Riana lagi sambil menangis.


"Kami benar-benar tidak bisa menyelamatkan mereka heu....heu....heuuuu." Ucap Riana lagi Histeris


Paman Marvin dan Gisel pun turut ikut berpura-pura menangis dari tempat duduk mereka masing-masing.


" Lihat, ini adalah bukti kejahatan para pencuri itu, dan ini juga adalah bukti surat ke matian yang sudah di buatkan oleh pihak negara Indonesia." ucap Riana sembari memberikan bukti-bukti palsu yang dia rekayasa bersama oknum polisi-polisi yang telah mereka suap dengan banyak uang tentunya.


Tuan Anthony mengambil semua bukti palsu tersebut dan melihatnya baik-baik, benar-benar seperti nyata dan bahkan Tuan Anthony pun di buat percaya oleh semua bukti tersebut.


Begitu pun dengan Tuan Gilbert dia juga di buat percaya dengan melihat semua bukti kematian Taun Besar Emmanuel nyonya Besar Amanda dan Nona Muda Freya.


"Bagai mana dengan para penjahat itu sekarang?" tanya Anthony.


"Tentunya sudah di penjara, dan di hukum oleh polisi Indonesia." Jawab Riana.


"Taun Gilbert, sebelum meninggal Kakak Ipar Emmanuel sempat berpesan pada suamiku Marvin bahwa dia harus menjaga perusahan milik kakak ipar, kata-kata itu di ucapkan kakak ipar Emmanuel sebelum dia meninggal dunia ini di pangkuan suamiku Marvin. Bukan begitu sayang? " ujar Riana pada Tuan Gilbert dan suaminya Marvin.


" Iya... Itu benar, kakak sempat mengatakan bahwa dia memintaku untuk menjaga perusahaannya setalah kakak Tiada." Jawab paman Marvin berbohong.