
❤️Menjelaskan❤️
Sementara di ruang tamu Abah Halim sedang berusaha menghubungi putra semata wayangnya Daffin.
"Tut.... Tut...." di panggilan pertama Daffin nampak tidak menjawab.
"Tut... Tut... Tut..." panggilan kedua pun kembali terhubung dan Daffin akhirnya menjawab panggilan telepon dari Abah Halim.
"Hallo Assalamualaikum.." Ucap Daffin. Namun di jawab Abah Halim dengan nada yang menyentak di indra pendengaran Daffin.
"Daffin Abah minta pulang sekarang juga, ini perintah." Ucap Abah Halim dengan nada yang penuh amarah yang tertahan.
"Tlak..." panggilan pun terputus,
Abah Halim langsung menutup sambungan teleponnya dengan Daffin setelah mengatakan permintaannya dengan nada yang jelas dan akurat
♦️Kator Daffin♦️
Di dalam ruang kerja, Daffin nampak termenung sembari memandang ponselnya yang mulai meredup.
"Ada apa ini? Kenapa Abah terdengar sangat marah, dan menutup telepon secara sepihak? Kenapa perasanku jadi tidak enak" tanya Daffin dalam hati beruntun.
" Ada apa Daf??" tanya Edwin, yang melihat Daffin termenung.
"Entahlah, Abah barusan telepon minta aku untuk segara pulang, tapi... Ada yang aneh dari suaranya sepertinya Abah sedang sangat marah." Jawab Daffin.
"Apa jangan-jangan Abah sama Ambu tau tentang keberadaan Freya yang sedang bersembunyi di dalam kamarmu?" tebak Edwin.
"Deg...." seketika Daffin pun langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Ya Ampun Ed kalau itu sampai terjadi, matilah aku" ucap Daffin.
"Sebaiknya kita langsung pulang ke Apartemenmu sebelum abah benar-benar sangat marah." Pinta Edwin.
"Ya ayo..." Jawab Daffin cepat.
Daffin dan Edwin pun mulai merapikan barang-barang masing-masing, lantas dengan cepat keluar dari dalam kantor setelah menitipkan kantor pada Nindy sekretaris ke dua setelah Edwin.
Beruntung hari itu baik Daffin atau pun Edwin napak tak terlalu memiliki banyak pekerjaan, jadinya mereka berdua bisa pergi meninggalkan kantor saat itu juga.
♦️Di dalam Apartemen Daffin♦️
Freya kini sedang duduk di ruang tamu bersama Ambu Nuri dan Abah Halim, Freya benar-benar merasa seolah telah menjadi tersangka dalam suatu kejahatan besar.
Suasana nampak terasa sangat mencengkam, bahkan ketiganya merasa kalau ruangan itu sudah hampir kehabisan oksigen, padahal pintu ruptop sudah di buka dengan sangat lebar.
"Astagfirullah...."
"Astagfirullah...."
"Astagfirullah..." Suara Ambu Nuri yang sejak tadi terus berzikir, memohon ampun atas apa yang dia lihat dan dia saksikan.
Ambu Nuri nampak menahan marah yang amat terasa besar, dia juga berulang kali memijat kepalanya yang dia rasa terasa sakit, dan dia juga nampak mengelus dadanya yang terasa sesak secara bergantian menggunakan kedua tangannya.
Tak jauh berbeda dengan Ambu Nuri, Abah Halim pun merasakan hal yang sama. Raut wajahnya terlihat sangar dengan mata yang sedikit melotot, dan wajah yang terlihat tegang karena menahan marah.
"Huh"... Terdengar helaan nafas yang begitu dalam dari mulut Abah Halim.
"Siapa Namamu?" tanya Abah Halim dengan nada yang dia buat setenang mungkin, setelah sekian lama mereka diam.
Mendengar ayah Daffin bertanya pada dirinya membuat Freya sangat ketakutan, bahkan Freya merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat, keringat dingin pun dapat Freya rasakan mulai membasahi seluruh tubuhnya.
"Jawab siapa namamu?" ucap Ambu tak sabaran dengan nada marah dan kecewa.
Freya menelan salivanya berulangkali dia juga meremas ke dua tangannya yang kini sudah basah karena keringat.
"Jawab" pinta Ambu marah sedikit membentak Freya.
"Ambu tenang sedikit, kendalikan amarahmu" pinta Abah Halim pada istrinya.
Ambu Nuri pun terpaksa terdiam penuh kecewa.
"Nama saya Freya...." Jawab Freya dengan nada yang bergetar.
"Ayo Freya kau harus berani menjelaskan semuanya pada orang tua Daffin, jangan sampai diammu membuat hubungan Daffin dan orang tuanya rusak karena dirimu." Pinta Freya dalam hati pada dirinya sendiri.
"Saya berasal dari Belgia." Jawab Freya lagi.
"Tolong jangan marahi Daffin Tuan dan nyonya" pinta Freya membuat Ambu Nuri dan Abah Halim sedikit terkesima, tapi semua itu hanya sesaat karena rasa marah di hati mereka kembali menyala.
"Saya dan Daffin tidak memiliki hubungan apapun, kami sungguh tidak pernah melakukan apapun." Ucap Freya mencoba sedikit berani untuk mulai menjelaskan jalan cerita tentang dirinya dan Daffin.
"Lantas kenapa kamu ada di dalam kamar Daffin?" tanya Ambu tidak bisa menahan diri, rasanya mulut Ambu Nuri sudah sangat gatal ingin mengomel panjang kali lebar.
"Ambu tenanglah biarkan dia menjelaskan semuanya terlebih dahulu." Pinta Abah Halim lagi dan Ambu Nuri pun kembali terpaksa diam, karena suaminya.
"Daffin orang yang sangat baik Tuan, Nyonya dia dan Edwin banyak sekali membatu saya, saya memiliki banyak hutang budi pada mereka bedua terutama pada putra kalian Daffin." Ucap Freya sedikit menjeda ucapannya.
Freya nampak mengambil nafas panjang untuk menenangkan hati dan pikirannya, butuh banyak keberanian dan ke kuatkan hati bagi freya untuk menceritakan luka yang belum kering bahkan masih basah di dalam hatinya, guna menjelaskan semuanya ke pada orang tua Daffin agar orang tua Daffin tidak sampai salah paham pada Daffin putra mereka.
"Pertemuan pertama saya dengan Daffin adalah sebuah tragedi yang mengerikan bagi saya, dan Daffin datang sebagai Penolong dalam hidup saya, dia seperti malaikat yang tuhan kasih untuk menolong saya hingga sekarang." Ucap Freya mencoba mulai menjelaskan.
Freya kembali menceritakan semuanya bahkan kejadian yang hampir merenggut nyawa Daffin sendiri, saat dia menolong Freya dari insiden kebakaran di rumah nenek Liliana Yee, karena ulah paman dan bibinya yang kembali berusaha membunuh dirinya.
Freya tidak menutupi apapun dia menjelaskan segalanya tanpa tersisa hingga kejadian saat ini.
Ambu Nuri dan Abah Halim yang mendengar cerita Freya pun merasa iba dengan apa yang telah menimpa gadis yang kini tengah tertunduk sambil menangis di hadapan mereka.
Tak sedikit pun Ambu Nuri dan Abah Halim mendengar gadis itu menceritakan keburukan putra mereka Daffin, Freya terus memuji dan mengatakan bahwa hanya dirinyalah yang bersalah dalam hal ini.
"Saya sudah menceritakan semuanya, jadi Tolong maafkan Daffin Tuan dan nyonya, dan jangan marah padanya, dia tidak bersalah dalam hal ini, sayalah yang justru banyak menyulitkan Daffin hingga saat ini." Ucap Freya berusaha meyakinkan orang tua Daffin.
"Saya berjanji setelah ini saya akan pergi dari kehidupan Daffin, dan saya tidak akan menyusahkan Daffin lagi." Ucap Freya lagi.
"Siapa yang memberikanmu hak untuk membuat janji seperti itu, dan menentukan hasil dari kejadian ini." Ucap Abah Halim penuh penekanan.
"Kita akan menunggu Daffin datang dan mendengar penjelasan darinya." Ucap Abah Halim lagi.